
Disebuah apartemen mewah.
"Ukhh.. aku dimana?" Feng tersadar setelah beberapa hari tidak sadarkan diri. Ia merasakan sakit diseluruh tubuhnya sehingga untuk bergerak saja ia kesulitan.
Dia hanya mengamati sebuah ruangan tempatnya kini ia terbaring.
Dan tentu saja ia tidak mengenali tempat itu sama sekali.
"Eh, kau sudah sadar?"
Feng memperhatikan seorang wanita yang baru saja masuk menghampirinya dan duduk ditepi tempat tidurnya.
"Pangeran, bagaimana keadaanmu?"
Deg..
Apa dia bisa melihatku?
Bukanah ini di dunia manusia?
Dan bagaimana mungkin dia bisa mengenalku?
"Si..siapa kau?"
Wanita itu tersenyum, "Pangeran, kau tidak mengenalku?"
"....." Feng terlihat bingung.
"Ini aku, Yue'er. Sudah ingat?"
Mendapatkan jawaban dengan ekspresi semakin bingung membuatnya menghela nafas kasar.
"Pangeran, aku Yue'er. Pelayan setia nona YangMi. Aku gadis yang selalu berada didekat nona, bahkan kau juga menganggapku seperti adik. Karena kesetiaanku, aku pun merasakan kesedihan yang mendalam. Aku sampai menangisi kepergian nona selama bertahun-tahun. Apa sekarang sudah ingat siapa aku?" Yeu'er menjelaskan penuh harap.
Mendengar nama YangMi membuat dada Feng seketika terasa sesak.
"Jadi, kau adalah Yue'er?" mata Feng berkaca-kaca.
"Iya, ini aku!" jawabnya dengan mata yang berbinar.
"Uhuk..uhukk!" Feng memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Pangeran, minumlah!" Yue'er panik. Ia segera memberikannya segelas air.
"Apa kau tidak tau, kita tidak makan atau minum apapun yang ada didunia ini!" Feng menolaknya.
"Aku tau, tapi saat ini tubuhmu adalah separuh manusia. Jadi kau membutuhkan ini, sekarang minumlah!"
Separuh manusia?
Apa ini berarti Dewi Cahaya mengabulkan permintaanku?
Feng meneguk air itu beberapa kali, dan rasanya cukup menyegarkan.
"Sebenarnya ada apa Pangeran, kenapa kau bisa terjebak hidup didunia manusia dengan cara seperti ini?"
Bukannya menjawab, Fengying malah memberinya pertanyaan balik.
"Kau sendiri kenapa ada disini? Dan wajahmu itu, walaupun mirip dengan Yue'er yang dulu, tapi tetap saja sedikit berbeda. Sampai aku harus meyakinkan kalau kau memang Yue'er atau bukan."
Wanita itu tertawa, "Sekarang aku adalah manusia seutuhnya. Aku bisa sakit dan juga menua seperti manusia normal lainnya. Dan yang satu hal lagi, disini tidak ada yang mengenal Yue'er. Tapi Stella, sekarang namaku Stella."
"Stella? Lalu kenapa kau memilih untuk menjadi manusia seutuhnya?"
" Dunia cahaya dan dunia manusia pada dasarnya sama. Ada perdamaian, permusuhan, kebencian dan juga cinta. Hanya saja ruang dan waktunya berbeda. Aku memang sengaja keluar untuk melupakan semua yang terjadi didunia cahaya. Awalnya aku ingin menjadi manusia yang istimewa karena memiliki kekuatan diluar kemampuan manusia lainnya. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi kekuatan saja tidak cukup. Akhirnya aku menukarkan semua kekuatanku dengan uang. Dan ini lah hasilnya. Setelah beberapa tahun, aku berhasil mengembangkan usaha karaoke dan Club dengan baik. Walaupun aku sudah tidak punya kekuatan apa-apa, tapi sekarang uang adalah kekuatanku." ucapnya panjang lebar disela sesapan rokoknya.
"Jadi, sekarang kau punya kekuasaan?"
__ADS_1
"Tentu saja, orang-orang mengenalku sebagai bos. Sekarang aku bisa melakukan apa saja yang aku inginkan." ucap Stella dengan mengepulkan asap rokok dari mulutnya.
"Sekarang ceritakan bagaimana kau bisa seperti ini?" imbuhnya dengan mematikan rokoknya dalam asbak.
"Aku.. Sebenarnya ini semua karena Yang Mi."
"Putri? Apa maksudmu?" Stella terkejut.
"Ya, Yang Mi telah bereinkarnasi. Saat ini dia masih menjadi gadis remaja. Aku ingin suatu saat membawanya kembali kedunia cahaya. Aku tidak akan membiarkannya pergi untuk kedua kalinya." ucap Feng menjelaskan.
"Jika itu benar, aku ingin sekali bertemu dengannya. Setelah kau pulih, bawa aku menemuinya. Aku berjanji akan membantumu untuk mendapatkannya."
"Benarkah?"
"Tentu saja, sekarang aku bisa melakukan apapun dengan kekuasaanku."
Jadi Yue'er yang sekarang adalah manusia?
Lalu aku bagaimana?
"Sudahlah pangeran, jangan terlalu banyak berfikir. Sekarang istirahat dan nanti baru pikirkan apa rencanamu setelah ini."
"Terimakadih Yeu'er."
"Stella, panggil aku Stella, oke?"
"Baiklah, Stella."
Dan selama pemulihan, Feng tinggal bersama Stella di apartemennya.
* * *
Luna menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Sudah beberapa hari Feng tidak muncul. Batu gioknya pun tidak pernah bersinar lagi.
"Kau kemana Feng? Kau bilang akan menjagaku? Kenapa kau malah pergi?" racaunya dengan menatap langit-langit.
"Satya selalu menggangguku, setiap hari ada saja kelakuannya yang menjengkelkan!" ia bercerita sendiri.
"Dan tadi di cafe Devin, dia mempermalukan aku lagi. Dia minta ijin langsung pada Devin agar membiarkan aku duduk menemaninya makan. Sudah seperti binatang peliharaan menunggu tuannya makan saja."
"Aaaaa.. aku malu sekali semua teman-teman membicarakan aku dengannya..!" racaunya lagi sambil berguling-guling.
"Tapi setelah dipikir-pikir, Satya itu memperlakukan aku dengan sopan. Tadi dia juga mengajakku makan, tapi akunya saja yang menolak."
"Sebenarnya apa sih yang Satya inginkan dariku?"
Ditengah lamunannya, suara ketukan pintu membuatnya beranjak dari tempat tidur.
"Iya tunggu, gak sabaran banget sih?" dumalnya sambil membukakan kunci.
"Hai?"
Luna masih terperangah dengan kedatangannya, orang itu sudah nyelonong masuk begitu saja.
"Hey, mau apa kau datang kesini?" tanya Luna kesal.
"Aku ingin menginap disini, boleh kan?" tanyanya percaya diri.
"Tidak boleh!" jawab Luna tegas.
"Itu tidak baik dan akan menimbulkan gosip. Lebih baik kau pulang saja Satya, bukankah rumahmu itu lebih bagus?"
Ya, orang yang seenaknya itu adalah Satya.
"Aku gak mau pulang! Setidaknya biarkan aku beristirahat sebentar disini." jawab Satya lemas sambil merebahkan diri di sofa.
"Kau dan mama mu bertengkar lagi ya?"
Pemuda itu tak menjawab, ia malah menutupi matanya menggunakan lengannya.
Tidak perlu bertanya lagi, kalau Satya seperti itu berarti dia sedang punya masalah.
__ADS_1
Entah kenapa Luna mulai terbiasa dengan kelakuan Satya yang terkadang tak bisa ditebak.
"Baiklah, aku ijinkan tapi sebentar saja. Setelah kau sudah merasa tenang, kau harus pulang!" ucap Luna lebih tegas.
"Kamu gak mau dengar ceritaku dulu?" tanya Satya sedikit mengangkat lengan yang menutupi matanya.
"Ceritanya nanti saja, kamu gak boleh lama-lama disini. Ini sudah malam."
"Ya sudah lah." balas Satya kembali ke posisi semula.
Luna pun kembali ke kamarnya meninggalkan Satya sendiri diruang tamu sempitnya.
Drrrt drrt drrt
Ponsel Luna bergetar.
Saat gadis bermata kebiruan itu melihat layar ponselnya, matanya sedikit berbinar.
"Halo Ayah?" sapanya girang.
"Bagaimana keadaanmu nak?" tanyanya diseberang sana.
"Aku baik Ayah, keadaan Ayah bagaimana?"
Luna bisa mendengar suara ayahnya yang terbatuk-batuk. "Ayah sakit?" tanyanya cemas.
"Tidak nak, Ayah hanya kurang enak badan. Uhukk-uhukk..!"
"Ayah?" Luna semakin khawatir mendengar suara ayahnya yang semakin serak.
"Nak, Ayah tau beberapa bulan ini ibu tirimu tidak mengirim uang. Nanti besok Ayah akan mengirimkan uang untukmu."
"Jangan pikirkan soal itu Ayah. Aku...."
Kalimatnya terhenti saat Luna mendengar suara ibu tirinya yang berteriak marah-marah.
"Apa katamu? Mau mengirimi anak itu uang? Kau harus sadar diri, untuk mengobatimu yang sakit-sakitan saja membutuhkan uang banyak. Kenapa kau masih mengurusi anak itu yang bahkan bukan darah dagingmu sendiri?" teriak ibu tirinya.
Degg
Aku bukan darah daging Ayah?
Luna menutup mulutnya yang terperangah. Matanya sudah menitikkan air mata tanpa ia sadari.
Panggilan masih berlangsung dan Luna masih bisa mendengar pertengkaran mereka.
"Cukup Ramona, Luna tidak boleh tau tentang hal ini, uhukk uhukk."
"Biarkan saja, dia hanya benalu dikeluarga ini!"
"Cukk..!"
Braakk
Terdengar suara kepanikan diseberang sana. Luna semakin cemas ketika ibu tirinya berteriak histeris menyuruh ayahnya untuk bangun.
Apa yang terjadi dengan Ayah?
Aku harus pulang!
Sambil menangis Luna mengambil jaket dan dompetnya. Dengan buru-buru dia keluar kamar dalam keadaan panik.
"Kamu kenapa Luna?" tanya Satya yang juga panik melihat keadaan Luna.
"Ayah, aku harus pergi menemui Ayah!" jawabnya sambil tersedu-sedu.
Tanpa mempedulikan Satya, Luna langsung berlari keluar.
"Tunggu Luna, aku ikut!" teriak Satya dengan mengejar langkah Luna.
..................
__ADS_1
Jangan lupa Like n Komen ya