
-ditempat lain-
"aku tidak mau kek, aku akan tetap disini menemani kakek..!"
Tolak Devin saat Abimana memintanya kuliah diluar negeri setelah ia lulus nanti.
"tapi kamu harus tetap pergi, kakek sudah mempersiapkan pendidikan kamu sejak kamu masih kecil. Universitas terbaik dan fasilitas nomor satu. Kamu adalah satu-satunya penerus keluarga ini. Kakek ingin semua yang terbaik untukmu..!" ucapnya dengan menepuk bahu Devin yang duduk disampingnya.
"tapi kek, aku ingin selalu berada disamping kakek. Aku juga punya cafe yang harus aku jaga. Lagipula, negara ini juga memiliki banyak universitas bagus yang tidak kalah dengan yang diluar sana.Aku tidak mau meninggalkan kakek. Aku mohon jangan terus memaksaku kek..!" pinta Devin yang memohon dengan menggenggam tangan Abimana.
Laki-laki tua yang masih terlihat gagah itu mendesah pelan "Devin cucuku, kelak seluruh aset keluarga ini adalah tanggung jawabmu. Kakek ingin mempersiapkan kamu agar lebih kuat untuk menghadapi persaingan didunia perbisnisan yang saat ini masih kakek jalani. Untuk itu, kakek mau kamu jauh lebih kuat dari orang tua ini..!" ucapnya menegaskan.
Kalau bukan Devin, siapa lagi?
Pemuda tampan itu satu-satunya penerus keluarga. Abimana yang seharusnya sudah pensiun diusia senjanya terpaksa masih aktif.
Walaupun Devin sudah belajar bisnis sejak dibangku menengah pertama, tapi itu belum cukup kuat untuk memimpin perusahaan besar milik kakeknya.
Sekuat apapun Devin menolak, meski berat jika harus meninggalkan semua yang ada dinegara ini, Devin harus setuju dengan apa yang diinginkan sang kakek.
Mungkin itu memang yang terbaik untuknya.
tok tok
perhatian keduanya teralihkan kearah pintu
"masuklah..!" ucap Abimana memberi izin
Sekertaris Abimana menyampaikan bahwa ada orang utusan dari negara SS ingin bertemu dengannya.
"kakek pergi dulu ya..!" pamitnya dengan menepuk bahu Devin lagi sebelum ia berdiri.
"iya kek, aku juga harus ke cafe..!"
Devinpun beranjak bangun setelah Abimana pergi meninggalkan dirinya seorang diri.
Mata Devin menyapu ruangan yang dulu sempat ditempati ayahnya setelah sang kakek lengser.
Namun karena sebuah kecelakaan memaksa Abimana kembali menduduki kursi kebesarannya sebelum Devin siap untuk mengemban tugasnya.
Kaki Devin tergerak melangkah menuju meja kerja dimana sebuah bingkai memamerkan gambar dua orang yang saling mencintai hingga akhir hayatnya.
Ia meraih bingkai itu dan menatapnya lekat.
Mata pemuda yang mirip dengan mata laki-laki didalam gambar itu berkaca-kaca. Dua orang yang sangat ia sayangi tersenyum bahagia dengan saling memeluk.
Dada Devin terasa sesak, kenangan bersama orang tuanya yang hanya sebentar nyaris pudar dalam memorinya karena usianya yang masih sangat kecil. Tapi kasih sayang yang mereka berikan masih ia rasakan sampai saat ini.
Rindu....
Apalagi mengingat dia memiliki seorang adik yang belum ia lihat sama sekali. Dan butiran kristal di matanya luruh begitu saja.
drrttt... drrttt
Getaran ponsel disakunya membuyarkan lamunan tentang orang-orang terkasihnya.
Ternyata hanya pesan dari operator yang menawarkan promo paket data.
Devin menyeka jejak air matanya dan meletakkan lagi ponselnya kedalam saku. Namun bersamaan dengan itu, matanya menangkap sebuah berkas yang ada dimeja kerja kakeknya.
__ADS_1
" bukankah ini Luna??" gumamnya dengan memegang lembaran kertas berisi biodata lengkap dengan sebuah foto seorang gadis yang jelas dia kenali.
ada apa ini?
kenapa kakek punya biodata Luna??
🌻🌻
Tergopoh-gopoh Luna memasuki cafe Devin melalui pintu belakang
"selamat pagi..!" ucap Luna pada beberapa pegawai yang ada didalam sana.
"pagi Luna..!" jawab mereka bersamaan lalu bergerak kembali pada tugas masing-masing
"kau?? kenapa baru datang??" tanya salah satu karyawan seniornya
"aku ada urusan tadi, jadi sedikit terlambat..!" jawabnya sambil memakai seragam dan mengenakan apron yang bertuliskan nama cafe tempat ia bekerja.
"ada urusan? huh, jangan mentang-mentang kau teman mas Devin, kamu bisa seenaknya ya..!" wanita yang bernama Sari itu melipat tangannya didada
"kamu itu cuma pegawai bantuan, jangan sampai terlambat lagi!"
"iya mbak, lain kali aku tidak akan terlambat lagi..!"
ini semua gara-gara Satya, kalau saja tidak ada dia mungkin aku tidak akan terlambat
"cepatlah, tidak ada waktu untuk melamun..!" bentak Sari yang membuat Luna mengerjap kaget..
"i..iya mbak..!"
Sari hendak pergi, namun Luna yang memanggilnya membuatnya kembali berbalik.
Mata Luna seketika membulat saat Sari tiba-tiba mendekat dengan tatapannya yang tajam..
dia kenapa??
apa aku salah bicara??
"kenapa, heum?? kau ingin mencari perlindungan mas Devin begitu??" pertanyaannya bernada tidak suka.
"jangan sok cantik kamu, selera mas Devin itu sekelas nona Freya, bukan gadis sepertimu..!"
tapi memang sekarang dia keliatan 'agak' cantik sih..
AGAK lho ya.. batin Sari
"ti..tidak mbak, aku hanya ingin tau!" jawab Luna terbata
siapa juga yang mau membandingkan aku dengan Freyya.. gumam hati Luna
"kalau begitu jangan banya bicara, cepatlah bekerja..!!"
"i..iya mbak..!"
Secepat kilat Luna ngacir kedepan dengan membawa buku menu dan pulpen sebelum Sari mengeluarkan tanduknya.
Wanita itu tidak kalah menyeramkannya dengan Maura CS.. begitu fikir Luna.
Menjelang siang cafe lebih ramai dari biasanya.
__ADS_1
Walaupun Luna bekerja hanya diakhir pekan , tapi dia cukup telaten dalam melayani setiap pelanggan.
Walaupun tidak berwajah cantik, tapi keramahan dan senyum manisnya cukup membuat pelanggan disana menyukai gadis bermata kebiruan itu.
kenapa gadis jelek seperti dia banyak disukai pelanggan..??
Sari memperhatikan Luna dari kejauhan.
Tanpa ia sadari, ada Devin juga yang memperhatikan Luna sudah sedari tadi berada diluar cafe.
Melihat Luna yang tengah sibuk bekerja dan sangat bersemangat membuat kedua sudut bibir Devin terangkat keatas.
Luna memang gadis yang ajaib, kakek saja bisa sampai tertarik padanya..
gumam Devin masih dengan senyum menawannya.
Namun tiba-tiba..
praangg....
Devin terkejut, ia melihat Luna yang gelagapan meminta maaf tapi dia tetap bertahan diposisinya memperhatikan dari kejauhan..
"maaf nona, saya tidak sengaja..!" ucap Luna penuh penyesalan dengan menyeka tumpahan jus dicelana pelanggannya.
"oh.. tidak apa ini bukan salahmu, saya yang tidak melihat kamu lewat,..!" balasnya terlihat tidak marah sama sekali..
Luna membalas senyuman pelanggan itu lalu membersihkan kekacauan yang baru saja terjadi. Namun tanpa diduga, Sari yang juga mempsrhatikannya malah menarik tangan Luna dan membawanya keruangan karyawan.
kurasa ini waktu yang tepat memberinya pelajaran..
tidak ada Devin disini, tidak akan ada yang melindunginya sekarang
"bisa kerja yang bener gak sih??" dia marah..
"ma.. maaf mbak, tapi itu bukan salahku..!" Luna membela diri
"hallah, kau yang menumpahkannya, bagaimana bisa kau bilang itu bukan salahmu??"
"tapi dia sendiri yang____"
"ayo jawab terus, berani kamu ya??"
Karena gemas dan sudah terlanjur kesal, Sari melayangkan tangannya mengarah wajah Luna membuat gadis itu meringis bersiap menerima tamparan..
"apa yang kamu lakukan?"
Sari terkejut mendengar teriakan dan merasakan nyeri ditangannya oleh cengkraman seseorang.
Seketika Sari terperangah..
"m..mas Devin??"
bersambung
🍀🍀
jangan lupa tinggalkan jejak dengan Like n Komen ya..
yang ngasih vote semoga rizkinya dilancarkan aamiien.. 😅
__ADS_1