
"Sat.. gue udah beresin itu cewek.. hadiahnya apaan nih..??" tanya Gio pada Satya yang tengah sibuk dengan game onlinenya sambil rebahan
"beresin apaan..??" tanyanya datar..
"elaah.. lupa dia..!! Luna, Sat.. Luna..!" serunya mengingatkan dan Satya hanya mengOh tanpa memalingkan pandangannya dari ponsel..
"emangnya Luna lo apain Gi?" sahut Dion yang juga berada disana..
"yaa.. cuma ngasih peringatan kecil laah.. seperti yang Satya bilang, iya gak Sat..?" tanyanya mengkonfirmasi pada temannya yang hanya bergumam sebagai tanggapan..
"ati-ati loh, jangan keterlaluan lo Gi, anak orang tuh..!" timpal Bian yang sama asiknya seperti Satya..
"tenang aja, gue cuma ngunciin dia digudang doang kok..!" jawabnya santai
"apa?? gila lo,, bisa keluar nggak tu cewek..?" tanya Bian tidak santai..
"secara ni ya, sekolah kan sepi. bakal ada yang nolongin dia gak tuh??" sambung Dion.
Walau matanya fokus pada ponsel, tapi telinga Satya dapat menangkap dengan jelas pebincangan teman-temannya dengan terus menyimaknya.
"tenang aja, tar sejam lagi gue tengokin deh. watir amat sih lu pada..!"
"bukan gitu ya Gi, harusnya lo pake cara lain, toh cuma peringatin dia doang kan. Sebenarnya tu cewek baik kok, tapi rada-rada gimana ya..? Devin aja care banget sama dia.." ujar Dion yang bingung dengan ucapannya sendiri
"dan yang gue denger sih ya, tu cewek takut gelap tau, emang lu gak takut apa dia kenapa-napa..? kalo terjadi sesuatu sama dia gimana coba??" Bian kembali mengingatkan..
"santai woyy,, Satya aja gak kenapa-napa..!" bantahnya mulai merasa dipojokkan teman-temannya.
"berisik banget sih lu pada..!" ucap Satya yang bangun dari rebahannya dan beranjak mengambil jaket dan kunci mobilnya.
"mau kemana lo??" tanya Bian heran..
"cari makan..!!" jawab Satya singkat.
"tumben banget si lo, biasanya juga nyuruh kita,,!" sambung Dion yang tak ditanggapi sama sekali..
Satya terus berlalu tanpa mempedulikan ocehan teman-temannya yang bingung dengan sikapnya yang berbeda.
****
Hari mulai gelap..
Dalam perjalanannya yang entah ingin pergi kemana, fikiran Satya dipenuhi sesosok wajah yang berputar-putar membentuk bayangan wajah polos Luna.
Ada rasa khawatir yang menyelimuti perasaannya.
Sebelumnya dia tidak pernah berurusan dengan wanita seperti sekarang ini. Dan sekalinya berurusan, Satya malah terjebak dalam sekumpulan rasa.
Rasa khawatir, takut dan juga perasaan bersalah..
"arghhh.. sial..!" umpatnya yang langsung membelokkan mobilnya memasuki area sekolahnya.
Awalnya satpam sekolah tidak mengijinkan, karena tak ada yang boleh masuk jika tak ada kegiatan apapun. Namun karena Satya memaksa dengan beralasan ada hal yang sangat penting sehingga satpam terpaksa mengijinkannya..
Satya berlari menyusuri koridor sekolah dan terus berlari kearah belakang sekolah menuju satu tempat yang ia tuju...
GUDANG
Semoga dia sudah pergi, semoga dia baik2 sajan, semoga tidak terjadi apa2 dengannya..
rapalnya saat terfokus menyusuri lorong menuju gudang.
Dan seperti dugaannya, Satya terbelalak saat melihat ternyata pintunya masih terkunci diluar..
"OH tidakk..!!" pekiknya yang kemudian membuka kunci dan segera mendobraknya
BRAAKKKK
Sosok gadis yang ia cari tengah terkulai tak berdaya dengan wajahnya yang terlihat sangat pucat..
__ADS_1
"Luna.. bangun Luna..!!" ucapnya dengan menepuk-nepuk pipi Luna khawatir, namun tak ada reaksi apapun yang Luna tunjukkan.
Dan tentu saja, Satya tidak melihat adanya Fengying yang sedari tadi menemani Luna.
***
"bagaimana dok..?" tanya Satya tergesa-gesa saat dokter baru saja keluar setelah melakukan pemeriksaan pada Luna.
"untung saja cepat dibawa kemari, kalau tidak, pasti gadis itu akan memasuki masa kritis dan itu sangat berbahaya!" jawab sang dokter dengan membenarkan letak kacamatanya yang merosot..
"memangnya dia kenapa dok??"
"dia dehidrasi parah dan juga ada masalah lambung yang sepertinya sudah lama. pola makan gadis ini nampaknya kurang baik.!"
Satya terdiam, kenapa dia seceroboh ini mempercayakan hal kecil pada Gio yang berakibat masalah besar. Kalau saja dirinya terlambat sedikit saja, mungkin akibatnya akan lebih fatal..
"sebaiknya kamu menjaganya, dalam beberapa hari kedepan dia harus tetap dalam pengawasan kami..!"
dokter itu menepuk bahu Satya dua kali sebelum ia pergi untuk tugas yang lain..
Dan saat ini, disamping tempat tidur Luna kini Satya berada.
Entah apa yang membuatnya jadi peduli pada Luna. Mungkin rasa bersalahnya yang hampir melayangkan nyawa gadis ini.
Ditatapnya lekat wajah Luna yang tidak cantik, berbagai pertanyaan muncul kala menatap wajah Luna yang masih setia menutup mata.
Apa yang sebenarnya dimiliki gadis ini?
Dia hanya gadis biasa yang bodoh dan jauh dari kata cantik. Apa menariknya??
Tapi kenapa Devin begitu peduli padanya?
Rasanya tidak mungkin hanya karena ada rasa kasihan..
Satya sangat mengenal Devin, tidak mungkin dia bersikap baik berlebihan jika bukan karena ada sesuatu..
Fikiran Satya masih berputar-putar tentang itu-itu saja. Satya mengusap wajahnya dengan gusar hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi.
***
Luna terbangun, ia mengerjapkan matanya berulang kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya..
"aww...!" pekiknya saat merasakan tangan kanannya yang terasa sakit..
Ternyata ada jarum infus yang menancap disana..
Luna duduk dan memperhatikan keadaan tubuhnya saat ini..
"apa yang terjadi denganku..?"
belum tersadar dengan keadaannya, tiba-tibaa...
HUAAAAA....!!!
""AAaaaaa..!" teriak Luna terkejut dan segera menutup wajahnya dengan telapak tangan...
ternyata Luna ketakutan dengan penampakkan yang muncul dengan tiba2..
Terdengar suara tawa puas yang membuat Luna mengintip dari sela jarinya..
"Fengying..??"
Sontak saja mata Luna membulat dan langsung menghadiahi Feng dengan timpukan bantal..
"dasar kamu ya,, aku hampir mati berdiri..!" racaunya yang masih mencoba menimpuki Feng meskipun tak kena..
"mana ada mati berdiri, kau itu duduk Luna..!" Feng masih terkikik sedangkan Luna dibuat semakin kesal olehnya..
"apa yang terjadi denganku..?" tanya Luna tidak santai..
__ADS_1
"kau ini sedang sakit parah, lebih baik tidur saja..!" ujar Feng yang tidak dimengerti oleh Luna.
"sakit parah apanya?? aku gapapa..! kalo aku sakit mana mungkin aku bisa marah-marah..!" bantahnya yang memang tidak merasakan apa-apa..
"tapi orang lain taunya kamu sakit Luna.., kalau bukan karena aku, pasti sekarang kau sudah terbujur kaku didalam gudang..!" ujarnya lagi menyombongkan diri..
Benar juga,, Luna mulai mengingat-ingat kejadiannya terakhir kali dia disekolah. Dan sekarang, kenapa dia ada dirumah sakit dan ditempatkan diruangan yang sangat bagus.
"Feng,, apa kau juga yang membawaku kesini..hm??" tanya Luna yang kini menurunkan nada bicaranya..
"eemmmm....!"
Sikap pura-pura berfikir Feng membuat Luna kembali kesal..
"haishh.. kenpa kau membawaku kesini?? siapa yang akan membayar semuanya?? kau fikir aku punya uang apa?? bahkan kau sendiri tak bisa memberiku uang yang banyak..!" Luna kesal karena berfikir keputusan Feng membawanya ketempat itu adalah kesalahan besar..
"hehh.. siapa yang membawamu kesini?? orang-orang akan heran kalo kamu tiba2 ada disini..! lagipula siapa yang mau menggendongmu kesini.."
ucap Feng acuh yang hampir mendapat timpukan dari Luna untuk kesekian kalinya..
"lalu siapa dong yang bawa aku kesini..? gimana cara aku bayarnya..??" Luna nampak frustasi mengingat ruangan yang ia tempati bukanlah kelas rendahan..
"sudahlah,, nanti kamu juga tau..!"
Luna kembali menjatuhkan tubuhnya ditempat tidur,, "sepertinya aku akan dapat masalah baru..!" gumamnya dengan raut wajah yang sudah dipastikan terlihat sangat mengenaskan..
"sudah,, jangan seperti itu.. wajahmu terlihat lebih buruk dari sebelumnya..!" goda Feng yang membuat Luna bebrdecak kesal..
"udah deh,, kalo ngomong suka bener kamu ya..!"
Feng tertawa..."apa kau lapar..?"
Mendengar itu Luna reflek terbangun sanking antusiasnya dengan mata yang berbinar.
"apa kau bisa mengeluarkan makanan yang enak-enak Feng?" tanya Luna dengan memasang wajah imutnya..
"tidak..!"
jawaban singkat Feng membuat Luna berdecih dan kembali terkulai lemas..
"aku memang tidak bisa memberikanmu secara langsung, tapi kau lihat saja, dalam hitungan tiga detik, makanan akan datang. asalkan kau diam dan jangan bergerak..!" titahnya yang kembali membuat Luna bingung
"maksudnya apa Feng..??"
"satu..!"
"Feng,, jangan membuatku penasaran..!"
"dua..!"
"Feng,, kamu______"
"tiga..!"
Sekejap mata Feng menghilang dari pandangan Luna, dan samar-samar Luna mendengar suara pintu terbuka yang membuatnya bergegas pura-pura seolah baru saja terbangun..
"kamu sudah sadar..??" tanya pemuda itu yang melihat Luna sedang menatapnya.
"ka..kamu..??" Luna menatap heran..
"apa?? nih aku bawain kamu makanan..!!"
"HAH..??"
bersambung
________________________________________
Like dulu dong bebs..
__ADS_1
jangan lupa kasih komentar ya..😙💕