The Perfect Cold Docter

The Perfect Cold Docter
BAB 17. Menyesali Nya


__ADS_3

Tara berangkat ke kantor dengan berjalan kaki selama 5 menit dari apartemen nya untuk mencari taxi. Sambil berjalan Tara mengoceh  sendiri karena telah terlalu bodoh mengungkapkan kalimat yang terakhir iya katakan pada Kheno.


"Tidak seharus nya aku melakukan semua itu tadi''.Dia menepuk jidat nya merasa kesal.


"Bagaimana jika dia tau bahwa aku benar-benar ingin di perdulikan oleh nya, lihat lah bahkan pria iblis itu tidak sedikit pun perduli pada ku. Astaga Tara kenapa kau begitu bodoh!"


Tinn Tinn Tinn


sebuah klakson mobil berdentin sehingga membuat Tara berhentih untuk mengoceh. Iya menoleh kan wajah nya pada mobil berwarnah putih yang berada tepat di samping nya. Tara memicingkan mata nya  untuk mengetahui siapa orang yang telah mengganggu rasa kesal nya pagi ini.


tidak lama pun pintu mobil terbuka pria berseragam seperti dokter berjalan menghampiri Tara.


"Dokter irvan…,kenapa dokter berada di sini?''


"Seharusnya aku yang bertanya kepada mu, kenapa kau mengoceh sendiri di pinggir jalan raya?''


"Aku tidak mengoceh, aku hanya merasa kesal saja pagi ini."


" Kesal pada siapa?"


''lagi pula jika aku kasih tau kau pasti tidak akan mengerti ini dokter''


" Benar juga, untuk apa aku tau. Hey tapi dengan kau mengoceh sendiri tanpa ada sebab semua orang pasti akan menganggap mu gila".


" lalu apa ada orang gila secantik ku". Ucap Tara terlalu pede.


"Hahaha kau terlalu percaya diri Tara. Oh iya apa kau sedang mencari taxi untuk pergi ke kantor?"


"yeah aku sedang menunggu taxi ".


" bagaimana jika aku yang mengantar mu pakai mobil ku". tawar irvan.


Tara segera menolak. "terimakasih atas tawaran mu dokter, tapi maaf aku tidak bisa"


"Tara apa kau menolak tawaran ku lagi, padahal jalan kita satu arah"


"Tapi aku tidak ingin merepotkan mu dokter''


"kenapa kau berkata seperti itu, kau tidak pernah merepotkan. Justru aku merasa senang jika kau tidak menolak ajakan ku untuk mengantar mu ''. Irvan memanyunkan bibirnya berharap kasian agar Tara mau ikut dengan nya.


Sedangkan Tara terkekeh pelan  ketika melihat ekpresi ajaib yang berasal dari Irvan agar diri nya mau ikut dengan nya.


"Jangan seperti itu, kau nampak seperti badut. Baiklah aku akan ikut dengan mu"

__ADS_1


"aku bukan badut! Aku seorang dokter.


tapi baiklah jika kau telah bersedia ikut dengan ku. Maka hari ini aku bersedia menjadi badut mu". dengan semangat Irvan membukakan pintu mobil nya untuk Tara.


"silakan masuk nona manis"


''terimakasih…''


*


*


*


*


*


*


*


*


" tidak usah menganggap ku seperti tuan putri dokter. Aku bisa membuka pintu mobil nya sendiri menggunakan tangan ku"


Irvan tersenyum. "Bisakah kau tidak usah memanggil ku dengan sebutan dokter, panggil saja nama ku Irvan''.


''mana mungkin aku dapat senormal itu memanggil mu dengan sebutan nama saja, aku rasa itu tidak pantas. Kau itu dokter, jadi sudah sepantasnya aku panggil dokter''


"Maksud ku jika aku sedang berada di rumah sakit maka kau berhak memanggil dokter. Dan jika aku sedang berada di luar kau harus memanggil ku Irvan saja. Kau mengerti maksudnya kan"


Gadis itu mencoba mengangguk paham. "Ok baik lah aku akan memanggil mu dok- eh maksud nya Irvan''


Clarisa saat itu sedang ada di pintu luar kantor. Sesungguh nya clarisa begitu senang karena hari ini Tara masuk kerja, Clarisa begitu kesepian saat Tara tidak masuk kerja. Ia segera berlari menghampiri Tara lalu memeluknya.


" Taraa...!! aku sangat merindukan mu!''


"sahabat ku, aku juga sangat merindukan mu"


Clarisa melepaskan pelukan nya. Mata nya beralih pada sosok pria yang kini sedang bersama Tara.


"Tara dia siapa, dan di mana su__

__ADS_1


Auwwwww!!."


Dengan cepat Tara mencubit lengan Clarisa karena sahabat nya itu hampir saja menyebutkan nama Kheno di depan Irvan. Kalaupun di pikirkan pernikahan Tara dengan kheno masih di rahasia kan terlebih dahulu.


"ada apa dengan mu". Ujar irvan yang bertanya kepada Clarisa.


Tara menjawab nya cepat.


"ini sahabat ku yang bernama Clarisa van"


"Lalu kenapa dia teriak?''


"ouh ini, dia cuma memberi tahu tadi kalau dia habis kesetrum di ruangan nya. Makanya dia seperti reflek kemudian menjerit aneh''


Clarisa mengangguk pura- pura mengiyakan bahwa dia habis kesetrum.


" kalau begitu kami berdua masuk kedalam dulu yah.terimakasih atas tumpangan nya tadi. Permisi irvan"


"Yeah sama-sama kalau begitu aku pergi dulu"


Di dalam ruangan Tara. Tara sudah jujur menjelaskan semua masalah pernikahan nya pada clarisa.


Clarisa merasa sangat kesal kepada kheno karena telah membuat jalan hidup sahabat nya menjadi begitu rumit. Dan ia juga cukup kesal pada Tara karena telah bodoh menerima pernikahan itu.


"Sudahlah. Tidak usah di pikirkan, hal yang aku lakukan ini sudah terlanjur, dan tidak bisa di cegah lagi"


"Bagaimana aku tidak kesal Tara, kau sahabat ku, aku tidak ingin kau terluka karena perbuatan pria yang tak bertanggung jawab itu''


Tara merasa jika sahabat mesum nya itu telah bijak dalam berpikir. pada akhirnya ia terkekeh pelan.


"Kenapa kau malah tertawa aku serius membicarakan ini!"


"Tidak , kau hanya terlihat lucu saja. Tumben sekali kau berpikir normal. Bukankah otak mu itu selalu di penuhi pikiran mesum. Lalu sekarang?''


''Taraaa kau ini bagaimana. Aku ini sedang memikirkan nasip mu dengan dokter itu!"


"terimakasih karena kau telah mengharwatirkan ku. Tapi tenang saja aku pasti bisa melewati itu semua". ujar nya menyakinkan Clarisa.


"Lihat saja jika sampai dia menyakiti mu maka aku tidak akan segan-segan memotong benda berharganya itu Dengan gunting rumput" Ujar clarisa mengancam.


Tara kembali tertawa mengakak.


" Wkwkwkwkw lihat lah kau kembali mesum lagi"

__ADS_1


"Yaaak Tara Viola berhentilah tertawa"


__ADS_2