The Tale Of A-Raziel

The Tale Of A-Raziel
Lidya, Suku Atar dan Perjanjian dengan Ra


__ADS_3

Dengan hati-hati, Raziel kembali merebahkan tubuhnya yang berbalut perban ke tempat tidur...dan terlelap...


Ting... tong.... Ting... Tong.....


Suara bel membangunkan Raziel. Dia melihat ke arah jam "ah... sudah jam 1 siang" ujarnya.... Sedikitpun menahan sakit, Raziel perlahan-lahan berdiri menuju pintu dan membukanya. Dari balik pintu, terlihat seorang gadis yang tidak terlalu tinggi, tubuh agak sedikit gemuk, namun wajahnya cukup cantik dengan rambut sebahu, tengah memegang nampan. "Selamat siang pak, saya Ana. Mau mengantarkan makan siang bapak" ujar gadis itu. Raziel hanya mengangguk.... Ana laku berjalan masuk kekamar dan meletakkan nampan yang sedang dia pegang diatas meja. Sesekali matanya melirik ke arah luka di dada Raziel yang berbalut perban.... "Mau saya tunggu selesai makan siang lalu dirapikan, atau nanti saya kembali untuk merapikan nya pak" ujar gadis itu sambil tersenyum.... Raziel hanya menggeleng mengisyaratkan dia tidak mau ditunggu... "Baiklah kalau begitu, 1 jam lagi saya kembali untuk merapikan makan siang bapak. Sekarang saya pamit dulu. Terimakasih pak" ujar gadis itu dengan senyum lebar dibibirnya seraya sedikit membungkuk. Raziel pun hanya merespon nya dengan mengangguk..... Raziel berjalan mendekati meja tempat makan siang terletak, lalu memandangi makanan tersebut.... "Ahh...bubur..?? apa iya penginapan seperti ini menyediakan makan siangnya bubur..??" ujar Raziel. "Yaudahlah... daripada nggak makan" sambungnya lagi....


Beberapa menit kemudian, makan siang yang disediakan sudah habis dimakan oleh Raziel. Lantas, dia berjalan ke arah balkon, lalu duduk menghadap ke arah lembah... Beberapa saat kemudian, suara bel kamarnya kembali berbunyi... "Hmm mungkin Ana, yang mau merapikan tempat makan itu" ujarnya... Raziel lalu membuka pintu, dan betul. Ternyata itu Ana. "Selamat siang pak, saya mau merapikan tempat makannya. Apa bapak sudah selesai makan" tanya gadis itu. Raziel hanya mengangguk. "Kalau begitu saya permisi masuk ya pak" ucap Ana seraya masuk dan berjalan ke arah meja makan. Sambil merapikan meja dan piring bekas makan siang Raziel, sesekali mata Ana kembali melirik luka di dada Raziel yang dibalut perban itu. Selesai merapikan meja dan sambil mengangkat piring, Ana pun memberanikan diri untuk bertanya "Emmm maaf Pak kalau saya lancang. Itu kenapa" sambil jari Ana menunjuk ke arah dada Raziel... Raziel tidak menjawab. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ana pun paham dengan maksud Raziel... lalu pamit keluar kamar.... Sesaat setelah Ana pergi, rasa kantuk pun merambat dimata Raziel, lalu dia beranjak ke tempat tidur, dan terlelap....


Gedung Kantor Walikota Aztec


"Kudengar, Long dan rekannya Jenny sudah tewas"... ujar seorang pria tua, berbadan tinggi, berkumis tebal dengan pakaian jas hitam dan dasi kupu-kupu itu.


"Begitulah informasi yang beredar. Tapi anehnya, tidak ada mayat disana. Yang ada hanya mayat-mayat anak buah Long." Balas seorang pria tua, berperut buncit yang juga berpakaian jas itu...


"Tapi ada beberapa saksi melihat, sosok tengkorak terbakar menebas Long, yang langsung berubah menjadi abu" lanjut si pria berperut buncit itu....


"Hmm... pihak polisi juga menemukan 2 buah anggrek merah di lokasi penemuan mayat anak buah Long" balas si pria berkumis tebal. Mereka adalah Edward dan Johnny. Edward adalah si pria tinggi berbadan kurus dan berkumis tebal. Dia adalah Walikota Aztec. Sedangkan Johnny pria yang berperut buncit adalah Wakil Walikota Aztec.

__ADS_1


"Aku jadi curiga, apa mungkin ini ada hubungannya dengan runtuhnya The Big Four" ujar Edward....


"Aku rasa tidak. Bisnis Long tidak ada hubungannya dengan dunia bawah. Untuk apa dunia bawah mencampuri, bahkan sampai harus menghabisi Long" balas Johnny. "Rumor yang beredar, si Keturunan Terakhir yang dipilih oleh Sang Dewa Api sedang berada di kota ini" sambung Johnny...


"Ya, aku juga mendengar rumor ini. Kalau memang betul dia sedang dikota ini, kematian Long dan Jenny pasti ada hubungan nya dengan dia" balas Edward. "Aku mengkhawatirkan kondisi kota jika memang dia ada disini" sambung Edward...


...........


Penginapan El's


Suara bel kembali berbunyi. Membangunkan Raziel dari tidurnya. Melirik ke arah Jam "Ah.... jam 8 malam. 2 hari ini tidurku agak lelap" ujarnya sambil berjalan ke arah pintu. Krek... Raziel membuka pintu. Dari balik pintu, Ana berdiri dengan makan malam ditangannya. "Selamat malam Pak, ini saya mau mengantarkan makan malam" ujar Ana dengan ramah. Raziel hanya mengangguk.... Ana kemudian masuk, berjalan ke arah meja. Meletakkan makan malam Raziel dan pamit keluar kamar. Raziel pun berjalan ke arah meja... "kira kira makan malamnya apa" ujarnya...


Dia pun membuka penutup piring itu, dan melihat sup tomat dengan sepotong roti... "Eh lumayan juga makan malamnya buat luka ku" sambung nya... Raziel pun lalu memakan makan malamnya dengan lahap.... Selesai makan, Raziel lantas mengganti pakaian nya, lalu beranjak keluar kamar....


.........


Di Taman kota Aztec

__ADS_1


"Hemm... duduk disini sebentar mungkin nggak apa-apa" Ujar Raziel... Di kursi taman, dari kejauhan Raziel merasakan ada seseorang sedang memperhatikan nya.... Pura-pura tidak tahu, lantas Raziel berjalan mengarah ke sebuah gang di taman tersebut dan menyatu dengan kegelapan... Sosok yang sedang memperhatikan Raziel pun bingung karena Raziel tiba-tiba menghilang dari pandangan nya. Sosok tersebut berlari, mencoba mencari disekitar taman... tiba-tiba sebuah tangan melingkar di lehernya. "Sedang mencariku"? tanya Raziel.... Perlahan-lahan, sosok itu melepaskan penutup kepalanya dan ternyata.... Raziel kaget tak mampu berkata kata.... "Maaf kalau saya membuntuti tuan" ujar Lidya.... "Huh....!!" hanya itu yang terdengar dari mulut Raziel... "Ayo duduk disitu tuan, ada hal yang mau saya cerita kan kepada tuan. Mungkin sudah saatnya tuan mengetahui nya"... Lidya lantas mengajak Raziel duduk di bangku taman kota Aztec....Diam beberapa menit, Lidya pun membuka pembicaraan " sebenarnya, dari awal tuan menginap, saya sudah menyadari siapa tuan sebenarnya." Raziel yang mendengar hal ini tampak sedikit kaget namun masih sanggup menyembunyikannya. "Tuan tidak usah takut. Ada sumpah keluarga yang harus saya jalankan" tambah Lidya. "Apa yang kamu ketahui tentang aku"? Raziel pun bertanya. Lidya merasa sedikit senang mendengar Raziel berbicara dengannya untuk pertama kalinya setelah beberapa hari.... " Ini pertama kalinya saya mendengar suara tuan berbicara kepada saya" ujar Lidya... Kelihatan jelas wajahnya yang sangat mempesona itu, mengekspresikan kebahagiaan....


"Hmmmm..." hanya itu respon Raziel. "Baiklah tuan, saya langsung saja. Saya Lidya. Keturunan suku Reyn. Ayah saya Edward Dayn, dan ibu saya Elen."..... " Sebentar... sebentar, kau bilang ayahmu Edward Dayn? maksudmu Walikota Aztec? kota ini ?" Tanya Raziel dengan penasaran... "Betul sekali tuan"... "Jangan bercanda. Anak Walikota mana mungkin bekerja di penginapan".... " Dengan segala hormat tuan, Penginapan itu peninggalan mendiang ibu saya. El's arti nya Elen".... Raziel pun terdiam mendengar penjelasan Lidya. "Lantas apa yang kau ketahui tentang aku"? tanya Raziel kembali.... " Di hari pertama tuan datang ke penginapan, saya melihat tanda "X" panjang itu dilengan kiri tuan" seraya Lidya menunjuk ke arah lengan Raziel. "Tanda itu merupakan tanda kebangkitan sisi Iblis Ra. Ayah sudah merasakan hal ini beberapa hari yang lalu"... " Lantas apa hubungannya denganku" tanya Raziel kembali...


"Hubungannya dimulai sekitar 500 tahun yang lalu... Suku Reyn yang kala itu nyaris punah akibat serangan dari pihak timur, mendapatkan pertolongan dari Suku Atar. Suku Atar, dengan bantuan Sang Dewa Api Ra, membantu kami dalam peperangan hingga akhirnya kami pun terbebas dari penjajahan pihak timur. Singkat cerita, Kami bersumpah untuk membalas kebaikan Suku Atar, kami akan mengabdikan diri kami sepenuhnya untuk melayani Ra dan Suku Atar. Kemudian, 20 tahun yang lalu ayah mendapatkan kabar buruk. Seluruh Suku Atar telah dibantai. Dengan beberapa orang dari Suku Reyn yang tinggal di kota ini, ayah berangkat ke Selatan menuju perkampungan suku Atar. Ayah menangis melihat perkampungan suku Atar telah rata dengan tanah... hatinya begitu hancur. Sumpah yang dulu diikrarkan oleh Suku Reyn, seakan akan tidak terpenuhi di garis keturunan ayah. Sambil memeriksa sekeliling, ayah mendapati 1 orang Suku Atar masih hidup namun kondisinya sekarat. Dengan suara pelan dan terputus-putus, Suku Atar yang tersisa mengatakan bahwa orang yang menyerang mereka menculik 1 orang bayi keturunan Suku Atar. Bayi itu telah dipilih oleh Ra untuk menjadi wadah Ra sesaat sebelum penyerangan itu. Ayah pun bersumpah kalau mengetahui dimana bayi itu, dia akan menjaga dan merawat nya.... Karena kami, Suku Reyn sudah bersumpah untuk melayani Suku Atar...... " belum sempat Lidya melanjutkan pembicaraan nya, Raziel menyela "Lantas, mengapa kau begitu yakin kalau aku adalah The Last Descendant"??


Lidya tersenyum manis, lalu sesaat kemudian dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya... Sebuah Bunga mawar kristal berwarna merah keluar dari dalam tas Lidya. Bunga mawar kristal itu mengeluarkan cahaya merah yang sangat indah...


"Tepat ketika tuan datang ke penginapan, saya melihat bunga kristal ini mengeluarkan cahaya. Dengan panik, aku pun memasukkan nya kembali kedalam tas. Seiring berjalan nya waktu, setiap kali tuan berada di dekat saya, bunga mawar kristal ini selalu bersinar".... "Terus, maksudnya apa"? tanya Raziel. "Ini adalah bukti sumpah kami kepada Suku Atar. Untuk memudahkan kami dikehidupan sehari-hari, Kepala Suku Atar dan Reyn menyatukan kekuatan kedalam bunga mawar kristal ini. Gunanya supaya bunga mawar kristal ini merespon kepada setiap garis keturunan Atar. dan hanya keturunan Reyn yang memegang bunga mawar kristal ini."..... "Huh....!!!" Raziel menghembuskan nafasnya... "Sekarang kau sudah tahu siapa aku. Lalu apa rencana mu selanjutnya" tanya Raziel.... "Saya tidak punya rencana apa-apa tuan. Saya hanya akan melayani tuan sampai tuan berkata BERHENTI" ujar Lidya sambil tersenyum...


Wajah Raziel tersipu malu. Dia tidak dapat menyembunyikan perasaannya ketika melihat senyuman Lidya yang begitu menawan... "Terserah... Yang pasti, kalau mencoba menghalangiku, aku tidak akan segan" ujar Raziel dengan dingin, mencoba menyembunyikan perasaan tersipu nya.... "Saya akan melayani tuan dengan baik" balas Lidya....


Tak terasa, jam, sudah menunjukkan pukul 10 malam. Lidya pun mengajak Raziel kembali ke penginapan untuk beristirahat, agar luka lukanya dapat pulih dengan cepat..... Mereka pun berjalan kembali ke penginapan.


Sesampainya di penginapan, Lidya pamit untuk beristirahat. Begitu juga dengan Raziel. Dia berjalan ke arah tangga menuju ke kamarnya di lantai 3 penginapan... Sesampainya dikamar, Raziel lantas merebahkan dirinya dan bergumam "Na...apa maksud dari ini semua... Kalau kamu masih ada, pasti kamu tahu sesuatu. Sayangnya kamu udah meninggalkan aku duluan Na..... " ujarnya dalam hati.... Raziel pun terlelap dalam lamunannya.....


.............

__ADS_1


__ADS_2