
Memasuki kamarnya di penginapan El's, Raziel pun melepas kostumnya, lalu menyimpan nya di peti kayu, begitu juga dengan kedua pedangnya. Bergegas ke kamar mandi, dan membersihkan dirinya. Jam menunjukkan pukul 8 malam. Beberapa saat kemudian, Raziel yang sudah selesai membersihkan diri pun menekan bel yang ada disamping tempat tidurnya. Tidak lama setelah itu, Lidya pun datang...
"Ngapain?" ujar Lidya dengan nada ketus
"Aku lapar. Bawain makan malam dong" ujar Raziel.
"Emangnya aku pembantu mu. Seenaknya aja nyuruh-nyuruh" ujar Lidya lagi dengan nada ketus.
"Yaudah deh kalau gitu. Aku minta tolong sama Ana aja"...
"Iya....iya... iya. Mau makan apa" ujar Lidya dengan ketusnya. Meskipun ketus, namun pesona Lidya tidak hilang. Justru semakin terlihat anggun, dibalut dengan wajahnya yang oval dan manis itu.
"Emmm kalau Ana yang menawarkan biasanya penuh senyum" ujar Raziel sedikit memanas-manasi Lidya
"Mau makan apa tuan"? terlihat Lidya dengan senyum terpaksa...
"ha..ha..ha. Apa aja. Yang penting enak" Raziel menjawab sambil tertawa.
"Yaudah tunggu sebentar"... Lidya pun meninggalkan Raziel dikamarnya, dan bergegas mengambilkan makan malam untuk Raziel.
Beberapa menit kemudian...
"Ini tuan makan malamnya" ujar Lidya dengan senyum terpaksa...
"Terimakasih. Boleh panggilin Ana buat nemanin aku makan?" terlihat Raziel semakin mengejek Lidya.
"Makan sendiri." Lidya tampak kesal lalu pergi meninggalkan Raziel.
Raziel lantas tertawa dan menarik tangan Lidya.
"Hahahaha jangan marah gitu. Ntar cantiknya hilang. Ayo sini, ada sesuatu yang mau aku bicarakan" ujar Raziel...
Dengan wajah ketus, Lidya pun mengikuti Raziel.
"Kita bicara di balkon saja" ujar Raziel kembali.
Mereka pun berjalan ke balkon, dan duduk di balkon.
"Mengenai pembicaraan kita waktu itu, aku sudah memutuskan"
"Emmm. Iya tahu. Kamu nggak mau bawa aku" Sanggah Lidya
"Bukan. Aku sudah memutuskan untuk membawamu." Ujar Raziel
"Ehh...?Ini serius? Kamu nggak bercanda kan?" tanya Lidya.
"Tidak. Aku serius." Ujar Raziel.
"Tapi 1 hal yang perlu kamu tahu, dunia luar tak seindah bayangan mu. Kamu akan tahu kerasnya dunia luar. Jadi persiapkan dirimu" sambung Raziel...
"Ya.Aku tahu. Aku sudah mempersiapkan diriku jauh sebelum aku menanyakan hal ini padamu". balas Lidya.
"Ya sudah kalau begitu. Aku mau istirahat dulu" ujar Raziel
"Ya. Selamat istirahat, dan selamat malam" balas Lidya
Lidya pun pergi meninggalkan Raziel di kamar nya.
___________
Keesokan harinya
Tampak wajah Lidya yang berseri-seri sedang duduk di meja resepsionis penginapan El's. Mengenakan baju berwarna merah, rambut diikat, Lidya tampak begitu anggun.
Beberapa saat kemudian, Raziel turun dan berjalan ke arah meja resepsionis.
__ADS_1
"Hey jelek, ikut denganku ayo" ujarnya kepada Lidya.
"Kemana"? tanya Lidya
"Ke lembah. Aku mau nyari udara segar" ujar Raziel
"Yaudah sebentar. Aku panggil Ana dulu buat gantikan aku"
"Ana... Ana" ujar Lidya
"Ya kak, kenapa"? Ana pun datang menghampiri Lidya
"Aku mau keluar dulu ama dia, kamu gantiin aku ya" ujar Lidya
"ok kak" jawab Ana
Raziel dan Lidya pun lantas pergi meninggalkan penginapan El's.
Sesampainya di lembah, mereka duduk ditempat biasa.
"Kemungkinan 2 minggu lagi aku akan ke dunia utara. Pegunungan The Mist" ujar Raziel
"Jauhnya" balas Lidya
"Ya. Persiapkan segala keperluan mu. Kita berangkat malam hari. Perjalanan dari sini ke pegunungan The Mist memakan waktu 5 hari." ujar Raziel lagi
Lidya hanya mengangguk.
"Kalau ditengah perjalanan nanti aku minta pulang gimana"? tanya Lidya
"Aku akan meninggalkan mu" jawab Raziel.
"Huhhhhh" jawab Lidya kesal
"Tenang saja. Aku akan mencari rute perjalanan kita yang dilewati banyak pedagang. Jadi kita bisa menumpang dengan mereka" ujar Raziel
"Nanti kau akan tahu"
"Terus kita kesana mau ngapain"? tanya Lidya lagi
"Ada seseorang yang mau aku temui"
"Oh...ok deh kalau gitu." balas Lidya
________________
Disisi Lain
Tampak Edward sedang membakar sebuah kertas berwarna coklat. Sesaat setelah Edward membakar nya, kertas itu berubah menjadi seekor burung kecil yang mengeluarkan cahaya, lalu melesat terbang tinggi. Beberapa menit kemudian, burung itu tiba di kota Alpha dan hinggap di pundak seorang laki laki paruh baya. Lantas, laki laki itu menangkap burung itu, dan seketika itu juga, burung kecil itu berubah menjadi huruf huruf yang membentuk kalimat....
"Kontrak Jeremy selesai."
Terpancar sebuah senyuman penuh kemenangan dari laki laki paruh baya tersebut.
"Akhirnya Jeremy. Dendam ku selama ini terbalaskan" ujar laki laki paruh baya itu. Disisi lain, Edward yang selesai mengirimkan pesan melalui burung kecil itu lantas bergegas keluar rumah dan pergi menggunakan mobilnya menuju Penginapan El's. Di tengah tengah perjalanannya, Edward melihat Raziel dan Lidya tengah duduk di lembah Aztec.
"Kebetulan merek ada disini" ujar Edward. Lantas Edward memutar kemudinya dan mengarahkan mobilnya ke arah Raziel dan Lidya yang tengah duduk di lembah Aztec.
Lidya pun mengenali bahwa itu mobil ayahnya
"Eh, itu mobil ayah. Kenapa dia disini"? ujar Lidya
Raziel tidak merespon.
Sesaat kemudian, Edward turun dari mobilnya dan menghampiri Raziel dan Lidya.
__ADS_1
"Beruntung bertemu disini. Jadi tidak perlu jauh jauh ke penginapan" ujar Edward
"Ada apa ayah? apa ada yang penting"? tanya Lidya
"Ah tidak. Ayah cuma mau melihatmu." jawab Edward
"Tumbenan ayah. Biasanya juga kalau bukan sewaktu laporan tentang penginapan, ayah nggak mau datang" jawab Lidya.
"Oh iya, Raziel udah bicara dengan kamu kan"? tanya Edward.
"Ya udah ayah."
"apa keputusan nya"? tanya Edward lagi
"dia setuju ayah"
"baiklah. Ziel, aku titipkan dia padamu. Jagalah dia" ujar Edward
"Serahkan padaku" jawab Raziel singkat...
"eh ayah... ayah"
"Ya Lidya, ada apa"? tanya Edward
"Tadi Raziel bilang, 2 minggu lagi kami akan berangkat ke Dunia Utara, Pegunungan The Mist" ujar Lidya
"Pegunungan The Mist ya"
"Ya ayah. Ayah tahu"? tanya Lidya
"Cuaca disana sangat dingin. Sebaiknya kamu bawa yang banyak baju hangat Lidya" ujar Edward
"Ok ayah. Aku akan menyiapkan segala sesuatu nya" tampak Lidya sangat bersemangat dan sangat gembira
"Ya sudah kalau begitu. Ayah mau kembali ke kantor" ucap Edward
"Bye ayah"......
Raziel hanya melihat Edward pergi tanpa mengucapkan kata kata apapun.
"Emmm Lidya" ucap Raziel
"Ya kenapa"?
"Siapa yang akan mengurus penginapan kalau nanti kita berangkat? aku tidak bisa memastikan berapa lama kita di sana, atau kemana tujuan selanjutnya. Kecil kemungkinan kita akan kembali ke kota ini sehabis dari pegunungan The Mist" ujar Raziel.
"Aku percayakan semuanya pada Ana. Dia sudah seperti keluarga buatku." Jawab Lidya
"Baguslah. Aku juga percaya kalau Ana mampu mengurus Penginapan lebih baik darimu" Balas Raziel
Sontak saja omongan Raziel memancing amarah Lidya
"Maksudmu apa? aku tidak becus ngurus penginapan"? tanya Lidya dengan nada meninggi
"Bu....bukan itu maksudku" ucap Raziel terbata-bata
"Terus apa? kau berpikir kalau Ana lebih baik dari aku"? tanya Lidya lagi dengan wajah merah padam
"Bu... bukan itu juga"
"Ah sudahlah. Lama-lama kamu ngeselin." ujar Lidya sambil beranjak meninggalkan Raziel
"Hey.... hahahaha tunggu dulu. Aku hanya bercanda" ujar Raziel sambil mengejar Lidya
Mereka berdua pun berjalan pulang kembali ke penginapan. Sepanjang perjalanan, Lidya tampak berjalan dengan cepat. Memperlihatkan kekesalan nya kepada Raziel. Sementara dibelakangnya, Raziel mengikuti sambil terus membujuk Lidya
__ADS_1
__________