The Tale Of A-Raziel

The Tale Of A-Raziel
Pertolongan Yang Tak Terduga


__ADS_3

Keesokan harinya, Raziel yang pingsan akibat menjelma menjadi sosok Iblis Ra pun terbangun di sebuah rumah kayu. Perlahan-lahan, Raziel turun dari tempat tidur, mengambil kedua pedangnya dan meletakkan nya dipunggungnya lalu berjalan sambil memperhatikan sekitar rumah.


"dimana aku"?? ujarnya...


Dari arah dapur, Raziel mencium bau rempah-rempah dan melihat asap tipis dari arah dapur. Begitu memasuki dapur, Raziel melihat sosok Thang sedang mengaduk-aduk ramuan yang sedang direbus di sebuah gentong.


"Ssssshhhhiiinnnggg..." terdengar Raziel mencabut pedangnya.


"Sudah simpan saja. Duduk dulu" Ujar Thang.


Mendengar hal ini, Raziel pun menyarungkan pedangnya dan berjalan mendekati Thang.


"Kau menolongku"? tanya Raziel


"Tidak juga." balas Thang


"Lantas mengapa? bukankah aku lawanmu"? tanya Raziel lagi


"Duduk dulu. Nanti aku ceritakan" ujar Thang


Merasa tidak ada ancaman dari Thang, Raziel pun duduk di ruang tengah, rumah kayu itu.


"Ini minum dulu. Teh ini membantu memulihkan tenaga mu" ujar Thang sambil menuangkan teh


"Hmmm" hanya itu reaksi Raziel


"Tadi malam, anak buahku menginformasikan bahwa keluarga Han telah terbunuh. Lantas aku bergegas kesana" ujar Thang


"Terus"? tanya Raziel


"Didepan pagar rumah Jeremy, aku melihat mu pingsan. Lantas aku membawamu kemari"


"Mengapa? bukankan aku adalah musuhmu? kau adalah orang Jeremy" tanya Raziel


"Sebenarnya, aku sudah gerah dengan Jeremy." balas Thang


"Tunggu dulu. Ada hal yang mengganggu ku" ujar Raziel


"Apa itu"?


"Aku pernah menerima kontrak di kota Cyber. Akibat keserakahan target ku, kota itu kini dilanda kemiskinan dan kelaparan. Banyak anak-anak kelaparan. Tapi, ketika aku menerima kontrak untuk membunuh Jeremy, kenapa kota ini terlihat begitu makmur? berbanding terbalik dengan kota Cyber"? tanya Raziel.


"Hmmm begitu. Sebenarnya, bisnis keluarga Han termasuk yang menguntungkan. Hanya saja, mereka memonopoli dunia dagang di kota ini. Termasuk penjualan senjata dan obat obatan terlarang. Siapa saja yang tidak tunduk pada peraturan keluarga Han akan menerima ganjarannya. Tentu saja hal ini berdampak buruk buat pedagang, namun berdampak baik buat perampok. Pedagang hanya mampu menjual dibawah harga standar. Sementara para perampok dapat membeli sesuai kemauan mereka. Namun dibalik itu, sistem pajak dikota ini tidak ada. Hal ini lah yang membuat penduduk kota ini sedikit tenang" ....


Begitu mendengar penjelasan Han, Raziel pun lantas mengerti mengapa kota Pearl berbanding terbalik dengan kota Cyber.


"Lalu, mengapa kau menolong ku"? tanya Raziel lagi


"40 tahun aku dibawah kendali keluarga Han. Bahkan, untuk membangun rumah kayu ku ini saja, aku harus membayar 50 ribu keping emas. Belum lagi, banyak pekerjaan kotor yang sudah aku lakukan. Hal ini bertentangan dengan hatiku. Aku hanya ingin hidup damai, dan berjualan teh. Tapi keluarga Han tidak pernah mengizinkan ku untuk berhenti. Aku sangat ingin melawan, tapi aku tahu kemampuan ku. Daripada aku mati konyol, lebih baik aku menerina kenyataan ini. Hingga akhirnya kau datang dan meruntuhkan garis keluarga Han. Untuk itu aku berterimakasih padamu" Ujar Thang


"Hmmm... Ternyata begitu" jawab Raziel lagi.


"Ngomong-ngomong soal tombak mu yang ku hancurkan"? tanya Raziel


"Lupakan saja. Dengan hancurnya tombak itu, berarti aku sudah bukan seorang petarung lagi. Aku akan fokus di kedai tehku" jawab Thang.


Sambil minum teh, mereka pun bercerita tentang kondisi kota Pearl.


__________


Kota Aztec, Penginapan El's


"Cccciiiiiittttt" terdengar suara ban mobil berdecit didepan lobby pintu masuk penginapan El's


"Ayah, mau ngapain dia"? ujar Lidya melihat ayahnya turun dari mobil


Sambil berjalan masuk, Edward pun lantas menemui Lidya yang tampak menghampirinya


"Ayah, ada apa? bukankah laporan penginapan sudah aku kirimkan semalam? apa ada yang salah?" tanya Lidya


"Oh tidak. Semuanya lengkap" balas Edward


"Terus ada apa ayah"? tanya Lidya lagi


"Apakah dia sudah kembali" tanya Edward


Lidya pun menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ini sudah lewat 1 hari. Apa yang terjadi? apakah dia gagal?" tanya Edward dalam hati.


"Ayo temani ayah minum teh. Ada yang mau ayah sampaikan padamu" ujar Edward.


"Ayo kita diminibar aja ayah" jawab Lidya


Mereka pun duduk di meja minibar penginapan El's agak jauh kesudut minibar.


"Begini Lidya. Kamu tahu kan, semenjak kedatangan dia, dan semenjak kejadian penculikan mu kemarin, ayah, selalu was-was. Ayah tidak bisa tidur dengan tenang" ujar Edward


"Terus?" tanya Lidya


"Ayah berencana menitipkan mu kepada Raziel. Biarlah dia yang menjagamu. Ayah yakin, disamping nya, ayah tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan mu" ujar Edward


"Eh...eh... ayah apa-apaan sih?? nanti siapa yang memperhatikan ayah"? tanya Lidya


"Tidak apa-apa. Ayah bisa jaga diri. Ayah lebih mengkhawatirkan mu Lidya" ujar Edward


Wajah Lidya terlihat sedikit senang namun ragu. Karena sebelum ayahnya menyampaikan hal ini, Lidya sudah lebih dulu menawarkan diri kepada Raziel.


"Yasudah terserah ayah. Tapi apa Raziel nya mau menerima ku ayah"? tanya Lidya


"kalau untuk itu tidak perlu kamu pikirkan. Ayah akan berbicara padanya" ujar Edward.


____________


Kota Pearl, Rumah Thang


"Baiklah, aku akan pulang. Terimakasih bantuanmu" ujar Raziel kepada Thang.


"Tunggu sebentar" sela Thang


Thang memegang tangan kiri Raziel, dan seketika itu juga, tanda "X" yang melintang di tangan kiri Raziel mengeluarkan asap.


Seketika itu juga Raziel menjerit kesakitan "Aaaarrrrrrrgggghhhhhh"


"Persis seperti dugaanku" ujar Thang


"Apa yang kau lakukan" ujar Raziel dengan marah


"Tenang saja. itu hanya reaksi penolakan dari tanda di tanganmu. Baiklah akan aku jelaskan. Didalam tubuh ku terdapat aliran Chi - Yin. Kita persempit, aura tubuh ku putih. Sementara aura tanda di tangan kiri mu itu Yang. Aura hitam. Ketika tadi aku mencoba mengalirkan aura ku ke dalam tanda itu, tanda itu menolak. Termasuk pedang mu yang ini" ujar Thang sambil menunjuk ke arah Zanka


"Memang tidak ada hubungannya denganku. Aku hanya mengingatkan mu. Jangan sampai sisi Iblis itu menguasai mu, dan bergabung dengan kutukan pedang mu. Kalau sampai itu terjadi, kau akan kehilangan dirimu untuk selamanya" ujar Thang


"Darimana kau tahu kalau pedang ku terkutuk"?


"Aku tidak tahu. Aku hanya merasakan nya. Aura gelap yang begitu kuat menyelimuti pedang mu" jawab Thang.


"Baiklah, terimakasih buat saranmu. Aku akan mengingatnya. Kalau aku begitu aku harus segera pergi" ujar Raziel


"Ini. Bawalah. Buat di jalan" Thang menyerahkan kotak berisi makanan dan teh kepada Raziel


"Terimakasih" ujar Raziel sambil keluar rumah Thang


"Beban mu sangat berat anak muda" ujar Thang dalam hati


Raziel pun beranjak pergi dan berjalan kembali ke kota Aztec...


"Ahhhh. Perjalanan pulang yang panjang" ujar Raziel....


Di pertengahan perjalanannya, Raziel beristirahat di sebuah pohon besar di sebuah hutan. Dia pun membuka kotak pemberian Thang, dan melihat nasi gulung dan teh. Lantas Raziel pun memakannya dan minum teh.


"Tidak kusangka lawanku akan menolong ku. Orang tua yang baik" ujarnya.


Selesai beristirahat, Raziel pun kembali melanjutkan perjalanannya.


_____________


Beberapa jam kemudian,


"Ahhhh udah sore. akhirnya sampai juga"


Ujar Raziel begitu melihat tulisan "Selamat Datang di Kota Aztec". Raziel pun melangkahkan kaki nya ke rumah Edward.


Sesampainya dirumah Edward Raziel menekan bel. Edward pun keluar dan menemukan Raziel sudah berdiri didepan pintu rumahnya.


"Oh, kau sudah kembali. Ayo masuk" ujar Edward

__ADS_1


Mereka berdua pun masuk kedalam rumah Edward.


"Ayo duduk. Teh?" ujar Edward


"Tidak usah" balas Raziel.


"Jeremy"?


"Tinggal nama. Termasuk Han, ayahnya"


"Begitu ya. Baiklah aku akan meneruskan informasi ini kepada si pemberi." ujar Edward


Raziel hanya mengangguk.


"Kalau begitu tunggu disini. Aku mau menunjukkan sesuatu" ujar Edward


Edward pun bergegas ke kamarnya, dan mengambil sebuah amplop coklat. Di sudut amplop coklat itu, terdapat pola melingkar membentuk seekor ular.


Sambil membawa amplop itu, Edward pun menghampiri Raziel dan menyerahkan amplop itu.


"Apa ini" tanya Raziel.


"Buka saja" jawab Edward


Raziel pun membuka amplop itu dan membaca isinya amplop itu.


"Kontrak Darah"


Kontrak darah merupakan sebuah kontrak khusus antara perantara dan eksekutor nya. Si perantara akan memerintahkan sesuatu kepada eksekutor nya dan sebagai gantinya, si perantara harus menyerahkan sesuatu yang berharga kepada si eksekutor. Si eksekutor tidak ada pilihan selain menerimanya.


"Apa maksudmu dengan ini"? ujar Raziel


"Melalui kontrak itu, aku ingin kau membawa dan menjaga Lidya. Semenjak aku kembali menjadi perantara, aku selalu mengkhawatirkan keselamatan nya. Untuk itu, aku mau kau menjaga nya"


Mendengar penjelasan Edward, dan Kontrak Darah ditangannya, Raziel tidak bisa menolak.


"Apa kau sudah yakin dengan keputusan mu"? tanya Raziel kepada Edward


"Aku sangat yakin, dan sangat percaya, kau mampu melindungi dan menjaga Lidya" jawab Edward.


"Baiklah kalau begitu" ujar Raziel.


Lantas, Raziel mengambil pedangnya dan menggoreskan sedikit ke Jarinya. Goresan kecil itu mengeluarkan darah. Lantas Raziel pun mengoleskan darah itu di atas kontrak itu.


"Aku memenuhi kontrak ini" ujar Raziel


"Dan aku akan menjaga Lidya dengan nyawaku" sambung nya


Edward pun tersenyum dan berkata


"Terimakasih"


"Kalau begitu aku kembali ke penginapan El's dulu" ujar Raziel


"Mau aku antar" tanya Edward.


"tidak usah. Aku mau jalan kaki saja"


Raziel pun meninggalkan rumah Edward dan berjalan menuju penginapan El's.


Sesampainya di penginapan El's, Lidya melihat Raziel yang masuk melalui pintu lobby pun terkejut.


"Loh, tumben lewat pintu. Selama ini lewat balkon"? ujar Lidya


Raziel hanya tersenyum.


"Bagaimana kostum barumu? nyaman kan"? tanya Lidya lagi.


"Lumayan." ujar Raziel


Tampak sedikit kekesalan diwajah Lidya...


"Mungkin nanti saja aku beritahu soal kontrak itu kepada Lidya" ujar Raziel dalam hati.


"Engg.... aku ke kamar dulu." ujar Raziel kepada Lidya


"Terserah mu" jawab Lidya sedikit kesal.

__ADS_1


Raziel pun beranjak menuju ke kamarnya.


____________________


__ADS_2