
Tidak terasa ternyata Raziel sudah memasuki hari ke-4 di penginapan El's. Rasa perih di dadanya membangunkannya dari tidurnya.... Perlahan-lahan dia membuka matanya, dan melihat Lidya sedang membersihkan lukanya.... Raziel berusaha untuk tetap tenang sembari menahan rasa perih ketika Lidya membasuh luka luka Raziel.... Sesaat setelahnya, Lidya lantas menaburkan bubuk putih ke atas luka sayatan Raziel, lalu membalutkan perban ke luka itu... "Sudah selesai tuan" Ujar Lidya sambil tersenyum. "Engg... anu. Terimakasih" ujar Raziel... Lidya hanya membalas dengan senyuman nya... Lidya pun merapikan peralatan obat yang dibawanya, lalu menata meja makan dikamar Raziel. "Tuan, ini sarapan dan ramuan obat. Ramuan ini mempercepat proses penyembuhan luka tuan" ujar Lidya... Raziel hanya mengangguk... Lantas Lidya berpamitan meninggalkan kamar. Sesampainya di pintu, sesaat Lidya hendak keluar, Raziel memanggilnya... "Ehh....." .. "Ya tuan"? tanya Lidya... " Itu, ini hari terakhir ku di penginapan. Aku boleh tambah hari? setidaknya sampai lukaku pulih" ujar Raziel... Lantas Lidya pun menjawab "Hal itu tidak perlu tuan pikirkan. Tuan beristirahat saja dulu yang cukup".... " Yaudah kalau begitu" balas Raziel singkat... "Kalau begitu, saya pamit tuan"..... " ehh 1 lagi" sela Raziel.... "Ya tuan"?... " 1 permintaan mungkin agak nyeleneh. Mulai skrg jangan panggil tuan. Panggil Ziel aja. Ini permintaan" Ujar Raziel.... "Baik tuan... ehhh maksud saya baik Ziel".... ujar Lidya sambil tersenyum manis menahan malu.... Lidya pun pergi meninggalkan Raziel didalam kamar.
.......
Kantor Walikota Aztec
"Kau udah tau berita Edward"?... tanya Johnny kepada Edward yang sedang duduk di meja kerja nya sambil membaca koran....
"Berita apa... "? tanya Edward singkat.
"The Last Descendant berada di El's"....
Sontak Edward terkejut dan terjatuh dari bangku kerjanya... Dia berlari kearah Johnny dan mencengkram kerah Jas Johnny...
"Hati-hati kalau bicara. Kau jangan asal ngomong" ujar Edward kesal.
"Aku tidak bohong. Orang-orang ku melihat anak perempuan mu sedang merawat nya" balas Johnny kesal sambil menepis tangan Edward yang sedang mencengkeram kerah jasnya.
"Merawat? apa maksud mu merawat"?
"Dia yang membunuh Long dan Jenny 2 hari yang lalu. Tapi dia terluka parah akibat dari pertarungan itu. Dan anak perempuan mu yang mengobati luka-lukanya"...
"Lidya, kenapa dia tidak menceritakan hal ini kepada ku"....
"Kau terlalu sibuk dengan kota ini hingga kau lupa, kau memiliki anak perempuan yang sedang meneruskan peninggalan ibunya"....
"a... a... aku..." hanya itu yang keluar dari mulut Edward....
Edward pun berlari keluar ruangan, dan bergegas ke penginapan El's...
.........
Di Penginapan El's
Terlihat Lidya dibalik meja resepsionis sedang sibuk membolak-balikan buku laporan penginapan. Disebelah nya Ana sedang duduk melihat lihat majalah.... "Cciiiiitttttt....!!!!" terdengar sangat keras suara ban mobil. Terlihat sebuah mobil Jeep berhenti mendadak didepan penginapan. Ana yang melihat mobil itu segera mengetahui bahwa itu adalah Edward... Dia pun memberitahukan kepada Lidya bahwa Edward datang.... "Kak... kak... kak. Bapak datang" ujar Ana.... Lidya yang sedari tadi sibuk dengan buku laporan penginapan nya pun lantas menoleh... "Ayah.... mau ngapain dia kesini"? tanyanya kepada Ana... "Yah... mana Ana tau kak.." balas Ana singkat... Lidya pun berjalan ke lobby penginapan hendak menyambut ayahnya....
Dengan wajah marah, ayah Lidya berjalan dengan tergesa-gesa.... Dia melihat Lidya sedang berdiri di pintu Lobby penginapan.
"Kamu... Lidya....!!!" Ujar Edward dengan nada tinggi. Sontak saja Lidya kaget dan ketakutan. "Ayah... ada apa"? tanya Lidya kebingungan...
"Dimana dia...? Kenapa kamu tidak cerita ke ayah"
"Maksud ayah apa"?
__ADS_1
"Jangan pura-pura bodoh Lidya... Dimana dia"?
"Ayah aku benar-benar tidak mengerti apa yang ayah bicarakan".....
"The Last Descendant.." ujar Edward dengan suara yang sangat pelan....
Tentu saja pertanyaan ini membuat Lidya kaget bukan kepalang.... "i..... ii... itu" dengan terbata-bata Lidya menjawab.... Edward yang melihat putri kesayangan nya itu sedang ketakutan dan gemeteran lantas menjadi tidak tega.... Suaranya merendah dan wajahnya berubah menjadi sedikit agak kendur....
"Hal sepenting ini kenapa kamu rahasiakan dari ayah Lidya"? tanya Edward dengan suara pelan dan halus...
"A.. a.. aku takut ayah"
"Kamu takut apa? bukan kah sudah menjadi sumpah kita untuk melayani nya"?
"Bukan itu yang aku takutkan."
"Lantas apa nak"?
"Aku takut kalau aku cerita ke ayah, informasi nya akan menyebar. Bahkan dinding saja bertelinga ayah. Kalau informasi nya menyebar, tentu bisa membahayakan buat dirinya"
Sambil memeluk Lidya dan mengusap kepalanya Edward pun menenangkan putri kesayangan nya itu... "Hal itu tidak akan terjadi sayang... Sekarang dimana dia"? tanya Edward... " Ayo aku antar ayah kekamar nya" balas Lidya....
Merekapun pergi menaiki tangga dan berjalan ke kamar Raziel....
Mereka pun tiba didepan pintu kamar Raziel. Beberapa kali menekan bel, pintu tak kunjung dibuka. Lantas dengan kunci cadangan yang dimilikinya, Lidya pun membuka pintu kamar Raziel... "Nah itu dia ayah. Lagi tidur. Mungkin efek dari obatnya" ujar Lidya....
"Yasudah. kamu kembali kerja. Ayah yang akan menjaga dia sampai dia bangun" ujar Edward.... Lidya pun mengangguk mengerti....
Beberapa jam kemudian, Edward melihat Raziel yang sudah bangun... Dengan sigap dia berlutut di depan Raziel "Salam tuan. Edward Dayn siap melayani"....
Dengan rasa kantuk yang tersisa, Raziel pun melihat Edward yang sedang berlutut didepan nya... "Sudah.... Jangan terlalu formal. Ayo berdiri pak Walikota" ujar Raziel singkat.....
Edward pun berdiri. Raziel mengajak Edward untuk duduk dibalkon.....
"Ayo kita duduk disini saja" ujar Raziel
"Baik tuan"
"Eh... Tadi aku melarang Lidya memanggil ku tuan. Sekarang ayahnya gantian memanggil ku tuan. Panggil Ziel aja. Lagian aku tidak gila hormat" ujarnya
"Baiklah Ziel".....
"Dapat informasi aku berada disini, tentu nya bapak sudah mendengar juga kejadian 3 hari yang lewat"...
__ADS_1
Edward hanya mengangguk
"Apakah tindakan ku memiliki dampak buruk kedepannya buat kota ini "? tanya Raziel
"Tidak Ziel. Justru sebaliknya. Long dan Jenny sudah lama menguasai perekonomian di kota ini. Banyak pedagang pedagang kecil yang tertindas akibat mereka."
"Lalu, kenapa bapak tidak bertindak? bukankah bapak Walikota Aztec"? tanya Raziel...
Belum sempat Edward menjawab Raziel langsung menyela " Pasti bapak mengkhawatirkan keselamatan Lidya. Makanya bapak tidak berani melawan"
"Iya Ziel. Sepeninggalnya Ibu Lidya, hanya dia harta yang tak ternilai yang saya miliki sekarang. Saya takut, kalau saya melakukan perlawanan dengan Long, keselamatan Lidya menjadi konsekuensi nya"...
"Hmmm... aku mengerti" ujar Raziel singkat
"Tapi semenjak berita tentang kematian Long dan Jenny menyebar, seluruh penduduk kota ini meluapkan kegembiraan mereka ke jalanan kota. Lihatlah sekarang di tiap sudut kota. Sudah ramai para pedagang kecil. Ini adalah efek dari kematian Long dan Jenny. Mereka sudah tidak takut lagi berdagang" ujar Edward... "Saya Walikota Aztec, mewakili seluruh penduduk kota Aztec ini mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kamu Ziel. Seandainya Long dan Jenny sekarang masih hidup, cepat atau lambat kota ini akan dilanda kemiskinan"
"sudah lupakan saja kejadian itu" ujar Raziel singkat... "Oh iya ngomong-ngomong.... "?
"Iya ada apa Ziel"?
"Seberapa banyak yang bapak tahu tentang dunia bawah"?
"Tidak banyak Ziel. Tapi saya dulu sempat bekerja sebagai perantara sebuah Klan."
"Kalau aku menawarkan bapak menjadi perantara untuk ku pribadi, apakah bapak bersedia"?
"Tidak Ziel. Saya sudah tidak mau terjun ke dunia kotor seperti itu"
"Tenang... Target ku hanya mafia dan pejabat korup. Diluar dari itu, aku tidak terima"
"Baiklah kalau begitu. Dengan cara lama"? tanya Edward
"Ya, cara lama. 3 hari sebelum hari H pengiriman status melalui udara. 2 hari sebelum hari H pengiriman kontrak ke tempat ku"
"Baiklah Ziel. Kalau begitu saya kembali dulu ke kantor sembari menyiapkan kontrak saya untuk bergabung kembali ke dunia bawah".
Raziel hanya mengangguk.... Baru beberapa langkah Edward berjalan, Raziel pun memanggilnya "Pak....!!".... Langkah Edward terhenti dan kemudian dia berbalik. " Ya Ziel...??" ... Raziel mengambil peti kayu dari bawah tempat tidur dan membukanya. Kemudian dia merogoh baju Ninja The Mistnya, dan mengeluarkan secarik kertas... Dengan pedang nya, dia, menggoreskan telapak tangannya. Darah mengalir dari telapak tangannya... Edward kebingungan melihat hal ini.... Kemudian Raziel berjalan ke arah meja makan, meletakkan kertas yang dia ambil, lalu meletakkan telapak tangannya yang sudah penuh darah ke atas kertas tersebut....
Dengan mengangkat kertas itu, Raziel berkata "Sumpah sudah dipenuhi. Sekarang, Reyn tidak punya janji apa-apa terhadap Atar"..... Wajah Edward tiba tiba memancarkan kegembiraan. Beban yang harus dia pikul selama ini, diakibatkan oleh sumpah nenek moyang nya dulu kini sudah dipenuhi... Dengan berlutut Edward berterima kasih kepada Raziel...
"Hey pak... Ayo bangun. Saya melakukan ini sebagai ucapan terimakasih atas pelayanan Lidya. Dan sebagai ucapan terimakasih juga buat bapak karena mau menjadi perantara pribadi saya"
Edward pun bergegas menghampiri Raziel dan memeluk nya. "Terimakasih banyak Ziel" ujarnya.
__ADS_1
Raziel pun hanya mengangguk.... "Kalau begitu saya pamit dulu. Begitu kontrak saya sebagai perantara saya dapatkan, saya akan kembali kemari" ujarnya... Raziel pun hanya mengangguk.....
.........