
2 Hari kemudian....
"Kota Pearl jauh lebih dekat daripada Cyber. Setidaknya aku bisa berangkat sore. Hanya butuh 6 jam perjalanan" ujar Raziel....
Beberapa jam kemudian, Raziel sudah bersiap-siap. Mengenakan kostum baru buatan Lidya, Raziel kini tampak gagah. Kostum yang ketat, dengan jubah terjuntai panjang kebelakang, 2 buah kerah yang saling tumpang tindih, sedikit bekas luka sayatan mencuat dari balik kostumnya, Pelindung tangan di pergelangan tangan kiri dan kanan, celananya sedikit ketat dan meruncing kebawah, serta sepasang sepatu boots berwarna hitam, Raziel tampak mengesankan. Gelar Peringkat pertama dunia bawah pun tampak layak disandang olehnya. Mengambil Rebellion dan Zanka lantas meletakkan nya dipunggung nya, Raziel pun melangkah ke arah balkon.
"Hmmm, aku merasa lebih leluasa bergerak ketimbang pakaian Ninja ku dulu. Posisi penyangga pedang nya juga letaknya bagus. Tidak menghalangi pergerakan ku"..... wuuusshhhhh....!!!
Raziel sudah menghilang, melesat ke arah barat.
________________
Dunia Barat, Kota Pearl
"Tuan, seseorang telah menaruh kontrak untuk dirimu"... seorang Ninja berpakaian merah tampak berlutut didepan pria tinggi, berkepala botak, otot-otot nya tampak kekar, menggunakan kemeja hitam lengan panjang.
"Ya, aku dengar desas-desus nya. Tapi aku belum bisa memastikan siapa eksekutor nya" ujar nya kepada si Ninja
"Saya tahu tuan. Mohon izin memberitahunya"
"Kau tau? siapa dia?"
"A Raziel tuan. Peringkat 1 dunia bawah. Wadah Ra. Beberapa orang dunia bawah menyebut dia si penghancur The Big Four".
"Dia juga yang telah membunuh sepupumu. Pemimpin Unohana, Reyes Han.....!!!" Ucap seorang pria tua berumur kisaran 60 an berjalan menggunakan tongkat dengan membungkuk yang dengan tiba-tiba memasuki ruangan mereka....
"Master" ujar si Ninja tadi
"Ayah..." ucap pria berkepala botak sambil menundukkan kepalanya sedikit.
"Jeremy, kalau mereka sudah meletakkan kontrak atas dirimu, dan yang menjadi eksekutor nya adalah wadah sang Ra, kau harus khawatir".... ujar si pria tua. Jeremy adalah anak dari si pria tua itu. Dia adalah sepupu pemimpin Klan Unohana yang dihancurkan oleh Raziel, Reyes Han. Ayah Jeremy sendiri adalah Han. Jeremy membawa nama ayahnya menjadi nama belakang nya, sedangkan Reyes sudah diangkat menjadi keluarga Han oleh Han sendiri.
"Aku tidak khawatir ayah. Kalau dia datang, aku akan membunuhnya seperti aku membunuh eksekutor terakhir yang mencoba membunuhku" jawab Jeremy...
Sambil memukul perut Jeremy dengan tongkatnya Han pun marah
"Kau harus khawatir. Bahkan aku sendiripun belum tentu bisa mengalahkan Ra" Ujar Han sambil meninggalkan Jeremy yang berlutut meringis kesakitan akibat dipukul oleh tongkat Han dibagian perut nya...
___________
Penginapan El's
Lidya berlari ke arah kamar Raziel "Cekrekkk" terdengar sesaat setelah Lidya membuka pintu kamar Raziel...
"Loh nggak ada? Kemana si bodoh ini"? ujar Lidya...
Berjalan ke arah balkon, Lidya melihat peti kayu Raziel telah kosong....
"Katanya jelek, tapi dipakai juga. Dasar Aneh" gerutu Lidya....
"Semoga kamu baik-baik saja" sambung Lidya lagi....
Lidya pun pergi meninggalkan kamar Raziel.
_____________
Disisi Raziel
"Udara seperti nya sudah mulai dingin. berarti aku sudah dekat" ujarnya sambil melesat ke arah dunia Barat. Meskipun sama sama berada di dunia barat, perbedaan antara Kota Cyber dan Kota Pearl sangat jauh. Cyber yang gersang, tandus, panas dan terbengkalai sementara Pearl penuh dengan pepohonan. Bangunan tinggi hanya ada beberapa saja. Rumah rumah kecil dari kayu menghiasi keasrian kota Pearl. Udara terasa sangat sejuk dan lembab di kota Pearl....
Sesampainya di perbatasan Kota Pearl, Raziel pun berhenti dan melihat sebuah Gapura berhiaskan bunga bunga indah menjalar mengelilingi Gapura itu dan membentuk tulisan "Selamat Datang di Kota Pearl"...
"Akhirnya sampai juga. Tapi aku harus mulai dari mana ya" ujar Raziel sedikit bingung...
Hanya bermodalkan nama Jeremy Han, Raziel pun mencoba melacak posisi Jeremy di kota Pearl.
Berjalan pelan agar tidak menarik perhatian penduduk kota, Raziel pun memperhatikan daerah sekelilingnya. Beberapa saat kemudian, Raziel tiba di sebuah pusat perbelanjaan sebelah selatan Kota Pearl. Sangat jelas terlihat keramaian penduduk kota yang sedang berbelanja di tempat ini...
__ADS_1
"Kalau target ku ada di kota ini, mengapa kondisi mereka berbanding terbalik dengan yang ada di Cyber? apa target ku tidak merugikan orang-orang sekitar" gumam Raziel dalam hati. Raziel pun memasuki sebuah kedai teh, dan mencari meja kosong. Didalam kedai teh ini, ternyata berkumpul para perampok dan penjahat kelas teri dari kota Pearl. Mereka yang biasanya merampok pedagang dari luar kota, akan duduk disini untuk menyusun rencana. Berbagai jenis pedang dan pisau terletak diatas meja. Menemukan sebuah meja kosong, Raziel pun duduk.
4 orang perampok yang menyadari bahwa Raziel bukan dari kota ini pun berbisik-bisik. Sesaat kemudian, mereka duduk disebelah kiri dan kanan Raziel. "Bagus juga kostum mu anak muda" ujar salah seorang dari mereka.
Raziel mengabaikan nya sambil mengangkat tangannya "Pelayan" ujarnya
"Hey seperti nya kau bukan orang sini" sambung salah seorang lagi...
Masih tetap mengabaikan mereka, Raziel pun berkata kepada pelayan yang datang "teh melati dan sedikit makanan ringan"
Pelayan mengangguk dan pergi untuk menyiapkan pesanan Raziel. Melihat Raziel yang mengabaikan mereka, laki laki berbadan gendut dan berambut gondrong, dengan 1 buah kampak lantas berdiri. Sambil menyentuh kedua pedang Raziel yang berada dipunggung Raziel, dia pun berkata
"Pedang yang bagus" dengan sedikit mencoba untuk menarik kedua pedang Raziel.
"Lepaskan atau nyawamu gantinya" Ujar Raziel dengan tatapan mata yang tajam....
"Aku hanya ingin istirahat. Aku tidak mau ada masalah" sambung Raziel lagi.
"Hey.... kalian dengar. Anak muda ini tidak mau ada masalah dengan kami" ujar si pria gondrong berambut gendut.
Sesaat kemudian....Brakkkkkk.
Meja tempat Raziel duduk terbelah menjadi dua. Si pria gondrong dan berbadan gendut tampak mengangkat kembali kampaknya. Hendak mengayunkan kampaknya kembali si pria gondrong tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri. Ketiga teman si pria gondrong pun terkejut. Lalu mereka bertiga menoleh ke arah Raziel.
"Sudah kukatakan, aku tidak mau ada masalah" ujar Raziel. Hal ini ternyata malah menyulut kemarahan ketiga orang teman si pria gondrong tersebut. Mengeluarkan pedang dan palu, mereka kemudian bersiap menyerang Raziel.
"Habisi dia" ujar salah seorang dari mereka. Mereka pun bergerak menyerang Raziel. Raziel lantas mengambil tindakan "Higan..." sesaat hendak menggunakan Teknik Mata Higanbana nya mulut Raziel tertahan. Begitu juga dengan ke 3 perampok itu, mereka membatalkan aksinya dan mundur beberapa langkah.
"Tu... tu... tuan Jeremy" ujar mereka serentak.
Tampak Jeremy dan beberapa anak buah nya dibelakang nya memasuki kedai teh tersebut.
"Tidak ada kapoknya kalian. Pergi atau kupanggil keamanan" ujar Jeremy.
Ketiga perampok itu pun lari ketakutan meninggalkan kedai teh tersebut....
"Mohon maaf atas kejadian ini. Mungkin kamu bukan dari kota ini, Saya harap kejadian ini tidak membuat mu kapok ke kota ini" Ujar Jeremy kepada Raziel. Lantas Raziel pun hanya merespon nya dengan sedikit mengangguk.
Berjalan keluar kedai teh, sebuah senyuman jahat terukir di sudut bibir Raziel.
"Aku pikir akan sulit mencarinya. Ternyata dia sendiri yang mendatangi ku." ujar Raziel dalam hati...
"Kalau bukan karena dihalangi oleh peraturan kontrak, aku sudah menghabisinya." sambung Raziel dalam hati. Peraturan kontrak yaitu apabila disebutkan tengah malam, maka sebelum tengah malam, kontrak tidak boleh dijalankan. Kalau kontrak berakhir atau target kontrak terbunuh sebelum waktu kontrak, maka kontrak akan dianggap gagal. Baik Perantara maupun Eksekutor akan terkena konsekuensi nya.
Dari dalam kedai teh, terlihat Jeremy sedang berbicara dengan pemilik kedai teh. Pemilik kedai teh itu bernama Thang.
"Persiapkan orang mu dan berkumpul dirumahku" ujar Jeremy.
"Ayah memukulku karena aku meremehkan Eksekutor ini" sambungnya.
"Baik tuan Jeremy. Saya akan membawa seluruh orang-orang terbaik saya" balas Thang.
Raziel yang mendengar percakapan ini pun mendapatkan informasi yang berharga. Sekarang dia tahu harus bagaimana untuk mengetahui letak rumah Jeremy.
____________
Kembali ke Penginapan El's
Tampak Lidya sedang berbincang-bincang dengan Ana dan Erick di meja resepsionis. Suasana penginapan sedikit sunyi. Hanya sedikit tamu yang datang.
"Kak, kalau begini terus kita bisa bangkrut kak" ujar Ana kepada Lidya.
"Tidak akan. Ini karena belum musim liburan aja. Nanti kalau udah musim liburan juga tamu ramai lagi" balas Lidya
Erick tampak acuh tak acuh dengan pembicaraan itu. Dia hanya sibuk membaca sebuah majalah.
"emmm kak, aku mau nanya serius boleh" tanya Ana
__ADS_1
"tentang apa" jawab Lidya
"Itu. Kakak kok dekat banget ama kak Raziel. Kakak ada hubungan apa dengan kak Raziel"? tanya Ana
Lidya pun tertawa dan bertanya kepada Ana "Kamu cemburu"?
"Loh kak...." wajah Ana menjadi merah padam
"Tenang saja. Dia itu udah aku anggap seperti kakak laki-laki ku sendiri. Setidaknya aku sedikit terobati semenjak kehadiran dia. Sifat dinginnya, kebodohan dan kecerobohan nya, mirip dengan mendiang kakak laki-laki ku yang meninggal dengan ibu juga sewaktu kecelakaan itu." jawab Lidya.
"Semenjak aku melihat dia, aku sudah memutuskan untuk selalu merawat dia, dan menjadi adik perempuan yang baik buat dia" sambung Lidya lagi....
_____________
Disisi Raziel
Raziel yang sedang berada di pusat perbelanjaan kota Pearl pun lantas meninggalkan kedai teh itu. Sedikit mengarah ke pegunungan, Raziel hilang digelapnya malam dan menunggu waktu kontrak dimulai. Dari lereng gunung, Raziel pun menyusun rencana nya.
"Pertama-tama, si pemilik kedai teh yang bernama Thang tersebut. Aku akan menanyakan lokasi Jeremy dimana. Kalau perlu aku akan membunuhnya" Ujar Raziel. Beberapa jam menyusun rencana Raziel menyadari bahwa sudah tengah malam yang ditandai dengan lolongan serigala yang saling sahut menyahut.
"Sudah tengah malam, kontrak dibuka." Buussshhhhhhh....!! Raziel melesat. Membentuk retakan tanah tempat dia berdiri sebelumnya. Hanya dalam hitungan beberapa detik, Raziel sudah tiba didepan kedai teh itu. Masuk kedalam, Raziel tidak melihat Thang. Berjalan ke arah pelayan, Raziel pun bertanya
"Dimana Thang"?
"Dia dapur tuan. Mau saya panggilkan"? jawab si pelayan tersebut.
"Tidak usah. Aku akan kesana" balas Raziel.
Melangkah ke arah dapur kedai teh tersebut, Raziel pun mendapati Thang tengah membuat teh.
"Aku sudah tahu. Hanya orang-orang tertentu yang mempunyai dua buah pedang dengan aura seperti itu" ujar Thang sambil membuat teh.
Sontak saja Raziel terkejut.
"Setidaknya beri aku nama. Aku tahu aku tidak akan bisa mengalahkan mu" ujar Thang lagi.
"Tidak ada nama. Aku hanya ingin tahu lokasi Jeremy." ujar Raziel
"Bagaimana kalau begini. Beri aku nama, aku berikan lokasi Jeremy"
"Aku lebih suka pilihan kedua. Memaksamu memberikan lokasi Jeremy, lalu membunuhmu" ujar Raziel dingin.
"aa.. aaa... aaa. Sayangnya tidak ada pilihan kedua ditawaranku" ujar Thang lagi. Thang sendiri berpenampilan kurus, jenggot panjang berwarna putih, kepala yang botak, tubuh bungkuk, dan sebuah tongkat.
"Berhenti membuang waktuku. Dimana dia atau kubunuh kau" ujar Raziel.
"Aku sudah siap mati. Diumur yang sudah sangat senja ini, apalagi yang aku cari" ujar Thang dengan sangat tenang. Dengan sangat pelan, Thang kemudian berjalan keluar kedai teh melalui pintu belakang.
"Aku tidak mau menghancurkan kedai teh ku. Kalau kau mau tahu lokasi Jeremy, hadapi aku" ujar Thang.
"Dengan senang hati" balas Raziel...
Kini, Raziel dan Thang saling berhadapan di areal belakang kedai teh milih Thang. Saling memandang, dengan tiba-tiba mereka melesat.....
Thang memposisikan tongkatnya lurus menghadap kedepan sedang melesat ke arah Raziel, sedangkan Raziel, dengan 1 pedang ditangan kanannya, dia memposisikan Rebellion lurus menyamping melesat ke arah Thang...
hingga tiba-tiba......
"Tttttrraaannnggggg......Dddduuuuaaarrrrr"
Benturan tongkat Thang dan pedang Raziel menimbulkan percikan listrik disekitar benturan, lalu meledak. Thang terdorong mundur beberapa langkah. Begitu juga dengan Raziel...
"Tongkat yang kuat. Aku harus hati-hati" ujar Raziel dalam hati....
Sementara reaksi Thang, dia hanya tersenyum.
____________
__ADS_1