
Raziel pun kembali ke penginapan El's dan melakukan meditasi...Keesokan harinya, tepatnya 2 hari semenjak penculikan Lidya, Raziel yang masih berbalut perban memakai pakaian Ninja The Mist nya. Pakaian itu tampak sudah sangat usang. Bekas jahitan tempelan dimana-mana... Pukul 12 siang, Raziel pun pergi ke balkon kamar dan berdiri menatap ke arah barat....
"10 jam perjalanan. Kalau aku berangkat sekarang, aku bisa tiba tepat waktu disana" ucap nya...
"Whussshhhhh.... " Raziel melesat dari balkon kamar dengan kecepatan tinggi menuju arah barat.
Di sisi lain
Edward tampak gelisah. Wajahnya sembab dan pucat. Johnny yang memperhatikan Edward merasa kasihan. Dia mencoba menenangkan Edward...tetapi Edward tidak bisa berhenti berjalan mondar mandir... wajar saja, anak semata wayang nya diculik. Tentu ini merupakan sebuah malapetaka buat Edward... Johnny terus berusaha menenangkan Edward. Tiba-tiba Edward berlari keluar ruangan. Johnny pun ikut berlari mengikuti Edward. Edward masuk kemobilnya disusul oleh Johnny yang ikut masuk kedalam mobil. Tampak, Edward mengarahkan mobil nya ke penginapan. Sampai di penginapan, tanpa mematikan mesin mobil nya, Edward berlari menuju kamar Raziel. Dia menekan nekan bel namun tak ada jawaban. Edward pun meminta master kunci kamar kepada Ana. "Ckrekkkk" kunci terbuka. Dengan buru-buru Edward masuk, namun kamar dalam keadaan kosong. Mata Edward tertuju pada peti kayu disebelah tempat tidur Raziel. Dia juga melihat pakaian yang dikenakan Raziel berada di atas tempat tidur.....
"Dia sudah bergerak. Aku mohon, bawa kembali Lidya dengan selamat".... Edward terus mengulangi kalimat ini....
.......
Hari sudah gelap. Selang beberapa jam kemudian, Raziel tiba di perbatasan kota Cyber. Melirik kiri dan kanan, Raziel pun berlari mencari gedung tertinggi disekitarnya... 1 lompatan, Raziel kini sudah berada diatas sebuah gedung. Dari posisinya, dia bisa melihat sebuah gedung yang dipenuhi oleh lampu sorot. Disekitar gedung itu juga dia melihat orang berpakaian serba hitam sedang berjaga-jaga. "Pasti itu tempatnya" Gumam Raziel... Dengan 1 lompatan, Raziel melesat. Dalam hitungan detik, kini dia sudah berdiri didepan gerbang masuk gedung kantor walikota Cyber. Berjalan pelan dan memasuki gedung, langkahnya dihentikan oleh 4 orang penjaga gerbang. Dengan 1 gerakan, ke 4 penjaga di gerbang sudah tersungkur tak bernyawa...
Raziel pun kembali berjalan dan dihadang kembali di halaman gedung itu oleh 8 orang. "Menyingkirlah kalau masih mau hidup" ujar Raziel. Dengan tertawa merendahkan, mereka mengolok-olok Raziel....
Dengan sangat tenang, Raziel pun mengangkat Rebellion, dan, mengayunkan nya sembari bergerak memutar.... "Teknik Kabut. Tarian Bunga Api"..... 8 orang yang mencoba menghadang Raziel pun seketika berubah menjadi abu...
Sampai akhirnya satu persatu para penjaga dihabisi oleh Raziel.
Tiba di sebuah ruangan yang luas, Raziel pun melihat seorang wanita dan seorang pria sedang memegangi Lidya yang diikatkan di kursi, dengan mulut ditutup oleh kain.
"Letakkan pedang mu atau dia mati" Teriak Vonny....
Raziel tidak menghiraukan nya. Dia berjalan pelan ke arah Vonny dan Robert. Terlihat 4 orang dari sisi kiri dan kanan Raziel berlari hendak menyerangnya. Mengangkat Rebellion di tangan kanannya, dan Zanka di tangan kirinya, Raziel mengayunkan pedang nya dan, "Beessssstttt" seketika mereka semua berubah menjadi abu...
Raziel kembali berjalan pelan, menenteng Rebellion ditangan kanan dan Zanka di tangan kiri. Tatapan tajam penuh kebencian, dendam, amarah, dan hasrat ingin membunuh terpancar jelas di mata Raziel mengarah ke Vonny.
Vonny yang sedikit ketakutan pun lantas berteriak dan mengarahkan pisau ke leher Lidya.
"Maju satu langkah lagi, dia mati"....
Langkah Raziel terhenti mendengar kata kata Vonny. Dia melihat Vonny sedang menempelkan ujung pisau di leher Lidya...
"Sekarang, jatuhkan kedua pedang mu".... perintah Vonny kepada Raziel...
"Trannggggg... Tranggggg..... Tranggggg....!!" Suara kedua pedang Raziel ketika dia menjatuhkan nya...
"Sekarang Robert" ujar Vonny kepada Robert...
Robert pun menghembuskan nafasnya dengan kencang. Seketika, tubuh tinggi dan atletis itu berubah. Di bagian kepala Robert berubah menyerupai Gorila. Otot tangan kiri dan kanannya membesar. Kedua tangannya juga membesar, diikuti dengan tubuh dan kedua kakinya. Tinggi Robert juga bertambah, 2 kali lipat manusia biasa.
Sambil menggeram, Robert pun mengepalkan tangannya dan melompat ke Raziel "Daisy Punch....!!!" sebuah tinju mendarat di pipi kanan Raziel. Menghempaskan dia ke dinding ruangan... Raziel yang terhempas pun mencoba kembali berdiri. Darah mengalir disudut bibirnya. Sesaat setelah berdiri, kembali Robert melompat, kali ini tinjunya mengeluarkan cahaya hijau, dan...."Brukkkkkkk" tinju yang diselimuti cahaya hijau itu kembali mendarat di pipi kanan Raziel, menghempaskan nya kembali ke dinding. Sedikit susah payah, Raziel pun berdiri lagi. Kali ini mulut nya mengeluarkan darah cukup banyak.... Raziel yang sadar bahwa dia tidak bisa melawan pun harus menerima pukulan bertubi-tubi dari Robert....
Robert yang kelelahan pun menghentikan serangan nya. Dia memandangi tubuh Razil yang tergeletak di lantai ruangan itu. "Akhhh.... Uhuk... uhukkkk" kembali Raziel berdiri...
3 langkah di depannya terlihat Zanka dan Rebellion... Raziel pun merencanakan sesuatu...
__ADS_1
Kaki Raziel terlihat sedikit gemetaran... Efek dari pukulan yang dia terima....
Robert pun yang sudah sedikit kelelahan lantas membuka mulutnya lebar lebar dan.... "Fire.... Beam" dari mulutnya keluar cahaya hijau dan menembak lurus ke arah Raziel.....
"Duuuuaarrr.... " tembakan dari mulut Robert mengenai Raziel dengan telak. Raziel pun terjatuh ke arah depan. Kini didepan Raziel sudah terletak kedua pedangnya.... Sedikit tersenyum, dengan sebuah gerakan cepat, Raziel meraih Zanka, dan mengayunkan nya ke arah Lidya....
"Shhhiiinnnggg" sebuah cahaya api keluar dari Zanka, melesat melewati pisau di leher Lidya, lalu berputar kembali mengarah ke tali yang mengikat tubuh Lidya di kursi.... "Ssseebbbb".... Pisau yang dipegang Vonny terbelah 2, ikatan di tubuh Lidya terputus, Lidya yang menyadari hal ini, dengan segera mendorong Vonny dan berlari ke arah Raziel. Robert yang melihat kejadian itu pun melompat ke arah Lidya, namun kakinya ditahan oleh Raziel yang dengan tangan kirinya menggenggam pergelangan kaki Robert....
Robert pun menoleh ke arah Raziel dan menendang wajah Raziel... Ketika Robert membalikkan wajahnya..... "Brakkkkk" sebuah batu menghantam wajah Robert.... Ternyata Lidya yang tadi berlari ke arah Raziel, mengambil sebuah batu dan menghantamkan nya ke wajah Robert.... Robert meringis kesakitan dan berteriak "Kurang ajar......!!!! Aku akan meremukkan tulang tulang mu" Sambil mengepalkan tangannya, Robert hendak melompat ke arah Lidya.... Namun dia membatalkan tindakan nya.... Ketika membalikkan badan, Robert melihat Raziel sudah berdiri dengan 2 buah pedang ditangannya sedang menatap tajam, penuh dendam dan kebencian ke arah Robert.....
Rasa takut menjalar di tubuh Robert, ketika dia merasakan aura yang mengerikan keluar dari tubuh Raziel....
Sambil menggelengkan kepalanya, Raziel mengisyaratkan Lidya untuk berlari kebelakang nya.... Merasa posisi Lidya kini sudah aman, Raziel pun memposisikan dirinya dalam posisi menyerang....
Robert yang menyadari Raziel hendak menyerangnya pun mundur beberapa langkah ke sebelah Vonny...
Mengangkat tangan kanannya, dan mengarahkan pedangnya ke Vonny, Raziel pun berkata "Pertama, aku akan menghabisi mu."....
Menyilangkan kedua pedangnya di depan, Raziel pun melesat..... "Teknik Kabut, Tarian Bunga Lili"..... "Shiiinngggg....!!!"....
Vonny yang melihat serangan Raziel pun tidak tinggal diam. Dia menarik nafas dalam dalam, lalu menghembuskan nya... Perlahan lahan, tubuh Vonny berubah menjadi manusia berkepala macan. Taringnya memanjang. Kuku tangan dan kakinya berubah menjadi cakar besi yang tajam.... tubuhnya di penuhi dengan bulu bulu tipis....
Dengan cakarnya, Vonny menangkis serangan Raziel..... Benturan serangan Raziel dan cakar Vonny menghasilkan percikan listrik disekitar benturan... Robert terhempas beberapa langkah akibat dari benturan itu...
Dengan sedikit mendorong, Raziel pun memaksakan serangannya lalu bergerak memutar, menembakkan 2 buah cahaya api yang melesat... Vonny yang terhempas kencang akibat dari dorongan serangan Raziel menghantam dinding ruangan, disusul 2 cahaya api melesat ke arah Vonny.... "Duaaaarrrrrr....!!!" Cahaya api itu meledak sesaat setelah menghantam Vonny.... Dinding tempat Vonny jatuh pun roboh. Reruntuhan dinding berjatuhan menimpa Vonny... Tanpa ampun, Raziel kembali menembakkan 2 sinar panjang dari kedua pedangnya.... "Teknik Kabut. Thousand Sword....!!!!!"....
Vonny yang tidak sadar ada 2 sinar panjang sedang mengarah ke dirinya pun bangkit dari reruntuhan dinding dan berdiri... Tepat sesaat kedua sinar itu hendak mengenainya, Vonny tersadar lalu berkata "Sialan....!!"....
Sekarang hanya tersisa Robert...
Robert yang melihat Vonny terbelah menjadi 3 bagian pun ketakutan. Dia sadar bahwa Raziel bukan tandingannya....
Hendak lari, langkah Robert terhenti ketika lingkaran api yang besar mengelilingi Robert dan Raziel.... Robert berbalik dan melihat mata Raziel yang sudah berubah menjadi merah padam, dengan pola api berwarna hitam ditengahnya....
"Higanbana"..... Terdengar suara Raziel...
Panik dan ketakutan, Robert pun mencoba menyerang Raziel... "Meskipun aku harus mati, setidaknya aku mati dengan perlawanan" ujar Robert....
Mengepalkan tinjunya, Robert pun bersiap menyerang Raziel.... Mengarahkan tinjunya ke tubuh Raziel, Robert kemudian melompat... "ini adalah serangan terkuat ku. Kalau ini gagal, berarti aku kalah.... Hurricane...Punch... !!!!!" Robert berteriak, dari tangannya keluar cahaya hijau dan.... "Bbuuukkkkk" tinju Robert menghantam tepat di jahitan luka Raziel....
Lidya yang menyadari pukulan Robert itu mengenai jahitan luka Raziel pun berteriak.....
"Ziel....... !!????".......
Pukulan Robert kembali membuka jahitan luka Raziel, dan mengeluarkan banyak sekali darah...
Suasana hening seketika....
"Tik... tik... tik..." terdengar suara darah dari jahitan luka Raziel menetes di lantai...
__ADS_1
Dengan sisa kekuatan nya, Raziel pun bergerak memutar, mengarahkan pedangnya tepat ke arah Robert yang berada persis didepan Raziel....
"Teknik kabut, Tarian Kematian"....
Rebellion yang ditangan kanan Raziel membelah bagian leher Robert memanjang ke bawah, sementara Zanka yang ditangan kiri Raziel membelah bagian dada Robert.... perlahan-lahan tubuh Robert terbakar dan berubah menjadi abu...
Raziel pun menghela nafas, dan, menyarungkan kembali kedua pedangnya dan meletakkan nya di punggung nya....
Beberapa detik kemudian, Raziel terjatuh, namun langsung ditangkap oleh Lidya....
"Gendong aku... aku nggak kuat jalan" ujar Raziel sedikit tersenyum lalu menutup matanya... Raziel pun tak sadarkan diri....
Lidya tampak panik. Dia kemudian membopong tubuh Raziel keluar gedung dan meletakkannya di halaman. Lidya berlari ke arah mobil yang terletak disekitar halaman, memeriksa nya satu persatu. Akhirnya dia menemukan 1 mobil dengan kunci masih tergantung....
Sedikit susah payah, Lidya pun memasukkan tubuh Raziel kedalam mobil, menyalakan mobil itu, lalu pergi meninggalkan gedung itu...
Selama perjalanan kembali menuju kita Aztec, Lidya tak henti-hentinya mengucapkan "Please.... stay with me......" kekhawatiran muncul diraut wajah Lidya ketika melihat darah dari bekas jahitan luka Raziel terus mengalir.....
Hingga akhirnya setelah beberapa jam mengemudi, mereka tiba di kota Aztec pada pagi hari.
Tancap gas, Lidya pun meluncur ke penginapan El's...
Memarkirkan mobilnya di depan lobby penginapan El's, Lidya memanggil Ana untuk membantunya membawa Raziel ke kamar....
Sesampainya di kamar, kembali Lidya merawat luka Raziel...
Lidya yang selesai menjahit kembali luka Raziel pun kemudian membalut nya dengan perban...
Merapikan Pakaian dan kedua pedang Raziel kedalam peti kayu, Lidya lalu mengambil sebuah kursi dan duduk disebelah tempat tidur Raziel....
Lidya yang kelelahan pun tertidur di kursi....
..........
Beberapa jam kemudian
Disaat Raziel sedang tidak sadarkan diri, dan Lidya sedang tertidur, Ayah Lidya berlari masuk ke kamar Raziel, diikuti dengan Johnny dibelakangnya...
Wajah Edward begitu berseri-seri melihat Lidya yang tertidur di kursi tanpa luka sedikitpun...
Perlahan-lahan, mereka meninggalkan Lidya dan Raziel didalam kamar....
"Terimakasih Tuhan.... Kalau tidak ada dia, entah bagaimana nasib hartaku satu-satunya sekarang".... dalam posisi bersujud diluar kamar Raziel, Edward berdoa....
Johnny yang berada dibelakang Edward pun menepuk pundak Edward dan berkata "ternyata dia memang bisa diandalkan. Tidak salah Ra memilih dia. Aku bersyukur putri semata wayang mu baik baik saja"....
"Ya Johnny. Aku tidak akan memaafkan diriku kalau terjadi apa-apa sama Lidya, harta ku satu-satunya. Dan mulai hari ini aku bersumpah, apapun yang menjadi permintaan Raziel, akan aku penuhi"....
Johnny tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Edward.......
__ADS_1
..............