The Tale Of A-Raziel

The Tale Of A-Raziel
Mayat-Mayat di Puncak Pegunungan Hutan Terlarang


__ADS_3

Sambil mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh 3 Roh Ninja pengikut Raziel, Lidya dan Raziel mendaki ke puncak Pegunungan hutan Terlarang.


"Ziel, berapa lama sampai ke puncak"? tanya Lidya


"Terakhir aku melintasi pegunungan ini, butuh waktu kurang lebih 6 jam" jawab Raziel


"Yah.... capek Ziel"... Lidya pun mengeluh


"Kita baru 1 jam berjalan. Masih sisa 5 jam lagi dong"? sambung Lidya


"Nggak apa-apa. Nanti kalau kamu capek, kita istirahat dulu." ujar Raziel.


"Emmm. Yaudah deh"....


Beberapa saat kemudian...


Fire, Ice dan Poison yang diperintahkan oleh Raziel pun kembali.


"Keadaan sampai kedepan aman tuan"... ujar Fire


"Baiklah. Untuk sekarang, tugas kalian adalah dia" Ujar Raziel sambil menunjuk ke arah Lidya


"Baik tuan" jawab ke 3 roh Ninja itu.


Tidak terasa mereka sudah mendaki setengah perjalanan menuju puncak pegunungan hutan Terlarang itu. Lidya pun merasa lelah dan meminta untuk beristirahat sejenak.


"Yasudah, kita istirahat disana" ujar Raziel sambil menunjuk ke sebuah pohon besar.


Mereka pun beristirahat sejenak. Setelah beristirahat, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak pegunungan hutan Terlarang itu.


Semakin mereka menuju puncak pegunungan hutan Terlarang itu, kabut pun semakin tebal. Hawa dingin mulai terasa ketika perjalan sudah memasuki setengah jalan. Seakan-akan insting nya menyuruh untuk waspada, lantas Raziel memerintahkan Poison....


"Poison, coba kau duluan ke puncak pegunungan. Ada apa diatas sana. Aku merasa ada sesuatu"... ujar Raziel


"Baik tuan" Poison pun lantas menghilang dibalik kabut tebal dan menuju puncak pegunungan hutan Terlarang itu.


_____________


Kota Aztec


Edward yang tengah duduk di ruangan kantornya mendapati sebuah burung kecil terbang ke ruangan nya.


Sesaat setelah Edward menangkap burung itu, burung itu berubah menjadi api dan membentuk tulisan....


"Gedung Alpha. Ada Misi untuk Eksekutor mu"...


Mendapatkan pesan itu, lantas Edward pun pergi meninggalkan kantornya dan bergegas menuju kota Alpha.


Sesampainya Edward di kota Alpha, dia pun memasuki gedung Alpha, dan menemui resepsionis cantik yang ada di Gedung Alpha.


"Selamat Siang Tuan, Selamat Datang di Alpha Tower. Ada yang bisa saya bantu"? tanya si perempuan cantik berstelan rapi itu.


"Saya mau tanya apa ada misi yang ditinggalkan untuk eksekutor saya"? tanya Edward


"Nama Perantara"?


"Pharaoh Un-Rama"

__ADS_1


"Kode"?


" 775-32-9"


"Okey.. sebentar saya periksa.... untuk kode eksekutor nya"?


"449-77"


"Baik.... ya ini tuan. Ada Sebuah misi, dan sebentar saya ambilkan kontrak dan bayarannya"


"Baik" jawab Edward


Beberapa saat kemudian, si resepsionis cantik pun kembali membawa amplop coklat dan 1 buah koper.


"Ini tuan. mohon diperiksa"


"Tidak usah. Saya bawa saja kalau begitu" jawab Edward


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih telah mengunjungi Alpha Tower tuan, sampai jumpa"


"Terimakasih" jawab Edward seraya pergi meninggalkan Alpha Tower. Memasuki mobilnya, Edward pun kembali ke kota Aztec. Sesampainya di kantor, Edward membuka isi amplop dan.....


"Aaaa...aaa... aapaaa"? alangkah terkejutnya Edward melihat isi dari amplop kontrak tersebut.


"Bagaimana mungkin"? ujar Edward ketakutan...


__________


Pegunungan Hutan Terlarang


Di tengah-tengah kabut yang begitu tebal, bau busuk tiba tiba tercium di hidung mereka.


"Ziel, bau banget. Apaan ini"? tanya Lidya


"Aku juga tidak tahu"....


Mereka terus melanjutkan perjalanan sambil menutup hidung. Bau busuk itu semakin menyengat ke hidung mereka hingga tiba-tiba Poison kembali dengan ekspresi keterkejutan yang tidak dapat disembunyikan nya


"Ada apa"? tanya Raziel


"iii...iitu tuan, diatas sana"


"Tenangkan dirimu. Ada apa"?


"Lebih baik tuan lihat sendiri. Saya tidak sanggup menceritakan nya" jawab Poison.


"Hmmm yasudah. ayo"


Tepat ketika mereka mencapai puncak pegunungan hutan Terlarang itu, begitu terkejut nya Raziel, Lidya, Fire dan Ice.


Mayat-Mayat yang sudah membusuk berserakan dimana mana. Bahkan mayat anak kecil juga.


Lidya yang melihat pemandangan mengerikan ini pun lanta memalingkan wajahnya dan menutup matanya.


Sementara Raziel terduduk berlutut menyaksikan pemandangan yang mengerikan ini. Dengan suara terbata-bata Raziel memerintahkan Fire dan Poison untuk memeriksa areal sekeliling.


"Co...coba... periksa sekeliling. Apakah ada yang selamat"?

__ADS_1


"Baik tuan." Fire dan Poison pun lantas memeriksa area sekeliling puncak pegunungan hutan Terlarang itu. Raziel yang hanya berlutut lemah setelah menyaksikan pemandangan mengerikan ini pun tiba-tiba secara tiba-tiba tanda "X" di tangan kirinya mengeluarkan asap hitam yang sangat tebal. Lidya yang sadar akan hal itu pun lantas mendekati Raziel dan berkata...


"Tenang. Kita cari tahu penyebabnya. Kamu harus lawan. Kalau kamu sampai dipengaruhi oleh itu, siapa yang akan menjaga aku"? ujar Lidya...


Mendengar hal ini, Raziel pun menenangkan dirinya. Karena betul kata Lidya, jika sisi gelap Ra mempengaruhi dirinya, dia tidak akan tahu apa yang akan menimpa Lidya.


Lantas mereka pun memeriksa mayat-mayat itu.


"Ini pembantaian. Bekas luka mereka merupakan bekas luka senjata tajam" ujar Raziel


"Siapa yang tega melakukan ini"? tanya Lidya


"Akan kita cari tahu. Dan akan ku musnahkan" ujar Raziel dengan penuh dendam


"Setiap manusia berhak untuk hidup. Aku tidak bisa memaafkan hal seperti ini" ujar Raziel kembali


Lidya menatap Raziel yang penuh dengan kebencian....


Tersirat sedikit pertanyaan di kepala Lidya...


Sesaat Lidya hendak bertanya, Fire dan Poison kembali.


"Kami tidak menemukan ada yang selamat tuan. Tapi kami menemukan ini dari beberapa mayat" terlihat Poison menyerahkan sesuatu kepada Raziel.


"Lambang apa ini?" Tanya Raziel


"Kami juga tidak tahu tuan. Sepertinya shuriken ini milik pembunuh yang ditugaskan untuk membantai mereka semua" ujar Fire


"Apa itu Ziel"? Lidya pun lantas menanyakan apa yg diberikan Poison kepada Raziel.


"Ini. Kemungkinan besar shuriken ini milik si pembunuh yang melakukan ini"...


"Eh... lambang ini.." Lidya pun serasa mengenali lambang burung elang yang terukir di shuriken itu.


"Kamu tahu"? tanya Raziel


"Aku pernah lihat. Ada sebuah kuil di daerah selatan kota Aztec, jalur pedagang biasa melintas. Hanya saja, untuk sampai ke kuil itu, kita harus menyeberangi sungai yang dalam" ujar Lidya.


"Ayah pernah membawa ku kesana. Tapi kelihatan kuil itu kosong, lantas kami pun pulang" tambah Lidya


"Yasudah.Ayo kita kesana. Kita tunda dulu perjalanan ke Kuil The Mist" ujar Raziel


"Bagaimana kalau sebelum kita kesana, kita berikan mayat-mayat ini penguburan yang semestinya Ziel"? tanya Lidya


Sontak Raziel yang sedaritadi dipenuhi amarah dan kebencian merasa begitu terpukul. Dia merasa hampir saja kehilangan sisi manusianya. Beruntung dia memiliki Lidya di perjalanan nya yang mampu menyadarkan nya.


"Ah iya... Ayo kita kuburkan mereka semua. Kalian bertiga juga bantu"


"Siap tuan" ujar ke 3 Roh Ninja itu.


Selesai mereka menguburkan semua mayat-mayat itu, lantas mereka pun berjalan menuju arah timur, mereka memutar arah untuk langsung kearah kuil yang dimaksud oleh Lidya....


Sangat jelas tatapan Raziel dipenuhi oleh kemarahan...


"Aku tidak akan membiarkan mu dipenuhi kebencian seperti itu" ujar Lidya dalam hati.


_____________

__ADS_1


__ADS_2