The Tale Of A-Raziel

The Tale Of A-Raziel
Pedang Terkutuk yang Sangat Kuat "Zanka"


__ADS_3

Di tengah-tengah perjalanan pulang kembali ke kota Aztec, Raziel yang terluka parah akibat jahitan di lukanya yang kembali terbuka terus mengeluarkan darah pun terjatuh tidak sadarkan diri.... Ke 4 anak perempuan yang dari kota Cyber membopong Raziel pun panik.... "Kakak.... kakak.... " mereka berteriak mencoba membangunkan Raziel.... Dalam keadaan tak sadarkan diri, Raziel pun melihat sosok Morina tengah berjalan ke arahnya.... Duduk tepat disebelah kepala Raziel, sosok Morina terlihat sedang mengelus kepala Raziel dan berkata "tidak ada kekuatan yang lebih kuat daripada kasih sayang. Buanglah amarahmu".... perlahan-lahan, Raziel pun tersadar... Dengan merintih, dia pun mencoba bangkit berdiri, dibantu oleh 4 anak perempuan itu.... "aaa.. aayyo.. ja... lan kita ma... sih... jauh" ujar Raziel terbata-bata....


"Emmmm" sahut ke 4 anak perempuan itu... Terlihat jelas ke 4 anak perempuan itu sedang membopong Raziel yang kesulitan berjalan. Langkahnya begitu lemah.... Raziel juga menyadari bahwa ke 4 anak perempuan ini sudah terlihat lelah akibat perjalanan dari kota Cyber...


Selang beberapa saat, mereka melihat 3 kereta kuda sedang meluncur dari belakang mereka....


"Hey....tolong kami" ujar seorang anak perempuan sambil mengangkat kedua tangannya....


Salah seorang dari penunggang kereta kuda melihat mereka lalu memberi tanda ke rekannya untuk berhenti menemui mereka....


Mereka pun menghentikan kereta kuda mereka tepat di sebelah Raziel dan ke 4 anak perempuan itu.... "Dia kakak mu"? ujar salah seorang penunggang kereta kuda....


"Iya. Dia lagi sakit" Jawab salah satu anak perempuan itu...


Ketiga penunggang kereta kuda itu melihat darah yang terus mengalir dari dada Raziel membasahi tanah...


"Loh itu lukanya parah. Kalau tidak cepat, kakak kalian bisa mati".... ujar seorang penunggang kereta kuda yang satu nya...


"Kalian mau kemana".... sambungnya...


Saling berpandangan, ke 4 anak perempuan itu menjawab "Kota Aztec"....


"Aduh itu masih sangat jauh. Kalau kalian berjalan kaki, masih 6 jam lagi"...


"6 jam? kakak tidak kuat kalau harus menunggu 6 jam. Apakah kami boleh menumpang"? ujar salah seorang anak perempuan itu...


Penunggang kuda yang satunya pun bertanya kepada rekannya "Hey, bukankah kau mau berdagang di Aztec"?


"Ya betul" jawabnya singkat.


"Kalau begitu apakah kau bisa membawa mereka? Laki-laki ini tidak punya banyak waktu. Dia bisa mati kehabisan darah"....


"Engg....itu.. "


Belum sempat dia melanjutkan kalimat nya, penunggang yang satu tadipun lantas mengeluarkan sebuah kantung kain hitam... "Ini 5 keping emas. Aku tahu yang ada dipikiranmu. Sekarang bawa mereka"....


"Ah... bu... bu... bukan. Ha... hanya saja" jawab nya sambil menerima 5 keping emas itu...


"Sudah jangan banyak tanya. Cepat bawa mereka*


Segera si penunggang kereta kuda yang memeberikan 5 keping emas itu mengangkat tubuh Raziel yang sedari tadi dibopong oleh ke 4 anak perempuan itu ke kereta kuda milik temannya.... "Kalian juga cepat masuk. Jaga kakak kalian" ujarnya.... Mereka ber 4 pun memasuki kereta kuda itu dan kereta kuda berjalan dengan cepat meluncur ke kota Aztec...


.........


Di kantor Walikota Aztec


Terlihat Edward dan Johnny sedang duduk disebuah ruangan...


"Daritadi aku melihat mu, seperti nya kau sedang mengkhawatirkan sesuatu" ujar Edward kepada Johnny...


"Ada hal yang mengganggu pikiran ku" jawab Johnny


"Coba ceritakan, siapa tahu aku bisa membantu"...


"Baiklah. Kau pasti tahu kan, peninggalan leluhur ku"...


"Peninggalan leluhur? maksudmu pedang terkutuk "Zanka" itu "?


"Ya betul sekali."


"Lantas, apa yang mengganggu pikiranmu"?


"Dari zaman dulu, Zanka selalu diwariskan turun temurun. Setiap pewaris Zanka, akan selalu menjaga Zanka. Kau tau sendiri, diumur yang sudah senja ini, aku tidak memiliki keturunan. Aku kehilangan anak ku satu satunya dalam kecelakaan itu.." ujar Johnny


"Jadi kau bingung, kepada siapa harus mewariskan Zanka"


"Ya. Dan ini sangat mengganggu pikiranku"


"Hmm.... kalau kau mau, aku punya 1 nama yang mungkin cocok untuk mewariskan Zanka" Ujar Edward...


"Siapa dia"?.... tanya Johnny...


"Aku akan membawa dia kepada mu" balas Edward


"Baiklah, aku menunggu kabar darimu"....


........


Beberapa jam kemudian


Kereta kuda yang ditumpangi oleh Raziel dan ke 4 anak perempuan itu memasuki kota Aztec....


"Hey anak muda, apakah kau punya tujuan spesifik? atau hanya sampai disini? kita sudah masuk kota Aztec" tanya si penunggang kereta kuda itu.


"Pe... ngi... na... pan.... El's" jawab Raziel dengan suara sangat lemah....


"Kemana...? aku tidak bisa mendengar mu" balas si penunggang kereta kuda...


"Penginapan El's" teriak salah seorang anak perempuan....


"Hah... dibagian kota mana itu"? tanya si penunggang lagi....

__ADS_1


Raziel tidak menjawab.... Ternyata dia sudah tidak sadarkan diri.... Sementara ke 4 anak perempuan saling berpandangan, menunjukkan ekspresi bingung...


"Aduh... buat susah saja. Terpaksa harus tanya orang" gerutu si penunggang kereta kuda....


Sambil menjalankan kereta kuda nya, dia melihat kiri dan kanan mencari orang untuk menanyakan lokasi Penginapan El's...


"Permisi tuan, saya mau bertanya. Dimana penginapan El's tuan"? ujarnya kepada seorang pria yang dia temui di dekat perbatasan kota Aztec....


"Oh... penginapan El's berada di pusat kota. Kamu tinggal berjalan lurus ke arah sana, dari sana belok ke kanan. kira kira 10 menit, kamu sudah sampai di penginapan El's" ujar si pria seraya menunjuk ke satu titik...


"Terimakasih tuan" ujar si penunggang kereta kuda sambil menjalankan kereta kuda nya....


Kereta kuda pun berhenti tepat di depan lobby pintu masuk. Di atasnya terdapat sebuah papan kayu yang terukir "Penginapan El's"...


"Hey anak muda. Kita sudah sampai" ujarnya....


Raziel tidak menjawab.... Dia masih tidak sadarkan diri akibat kehilangan banyak darah...


Dengan sigap, ke 4 anak perempuan melompat dari kereta kuda dan berlari masuk kedalam penginapan El's. Mereka disambut oleh Lidya yang sedang berdiri di meja resepsionis memperhatikan kereta kuda itu. "Halo adik-adik, mau menginap"? ujar Lidya.... " kalian sama orang tua kalian"?... sambungnya lagi... Salah seorang anak perempuan lantas menarik tangan Lidya dan memuntun Lidya ke arah kereta kuda....


Dia menunjuk ke dalam kereta kuda itu. Lidya pun bingung dan membuka pintu kereta kuda....


Begitu terkejut nya Lidya ketika melihat Raziel dengan darah yang masih mengalir, tak sadarkan diri. Wajah Raziel sangat pucat... Dengan panik, Lidya memanggil Ana, dan membopong Raziel menuju kamar Raziel yang diikuti oleh ke 4 anak perempuan itu. Sesampainya dikamar Raziel, Lidya dan Ana pun meletakkan Raziel di tempat tidurnya. "Kau bisa kembali ke meja resepsionis Ana. Sisanya aku yang tangani" Ujar Lidya dengan wajah panik.... "Eh.. kalian ber 4...."? sambung Lidya....


"Nanti saja kita cerita" ujar Lidya lagi...


Lidya pun melepaskan pakaian Ninja The Mist yang sudah robek dibagian dada nya lalu membersihkan luka Raziel....


"Jahitan nya terbuka... Si bodoh ini nggak hati hati" gerutu Lidya dalam hati...


Dengan hati-hati, Lidya pun menjahit kembali luka itu, dan membalut nya dengan perban.... "Hufftt selesai juga" ujar Lidya....


"Hey.... kalian ber 4 sudah makan"? tanya Lidya...


Serentak ke 4 anak perempuan itu menggelengkan kepala mereka....


Sambil menekan bel di sebelah tempat tidur Raziel, Lidya pun memperhatikan ke 4 anak perempuan ini. "Baju mereka lusuh sekali... apa mereka bukan dari kota ini? lalu dimana si bodoh ini menemukan mereka? apa orang tua mereka tidak kecarian"? begitu banyak pertanyaan muncul di benak Lidya.... sesaat kemudian, Ana pun muncul. " Ana, tolong bawakan makanan untuk mereka ya. Yang banyak" ujar Lidya


"Ok kak" jawab Ana singkat....


Beberapa menit kemudian, Ana kembali membawa banyak makanan...


"Letakkan disitu saja Ana" ujar Lidya menunjuk ke arah meja makan...


"Okay kak" Jawab Ana....


"Ayo kalian makan dulu. Kalian pasti sudah sangat lapar" ujar Lidya dengan sangat ramah....


Mereka pun makan dengan lahap....


Perlahan-lahan, Raziel membuka matanya. Dia sudah sadar... memalingkan wajahnya, kiri dan kanan, lalu meraba dadanya... Raziel pun tersenyum...


Lidya yang sejak awal merawat luka Raziel pun tersenyum melihat Raziel sudah sadar. "Si bodoh sudah sadar" ujar Lidya menunjukkan ekpresi gembira....


Raziel pun mencoba untuk duduk namun sedikit kesulitan.... Dengan cekatan, Lidya membantu Raziel untuk duduk...


"Sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri" tanya Raziel...


"5 hari" jawab Lidya....


"Ah.... Kepalaku masih terasa sakit.... Eh, dimana mereka"? tanya Raziel kepada Lidya


"Oh... 4 anak perempuan itu... siapa mereka"? tanya Lidya kembali


"Dimana mereka"? nada suara Raziel terlihat panik..


"tenang.. mereka lagi di minibar."


"ah sukurlah... "


"dimana kau bertemu mereka"? tanya Lidya lagi...


Raziel pun menjelaskan kejadian itu secara rinci kepada Lidya....


"Astaga, kasihan sekali mereka"


"Ya.Makanya aku membawa mereka. Sekarang aku bingung harus bagaimana" ujar Raziel...


"Tenang saja. Ayah juga mempunyai panti asuhan dikota ini. Kita bisa menitipkan mereka disana"


"Apakah tidak apa-apa menitipkan mereka ke panti asuhan" tanya Raziel...


"Tidak apa-apa... Pelayanan panti asuhan milik ayah yang terbaik dikota ini" sambung Lidya.....


"Yasudah kalau begitu" balas Raziel...


"Istirahat lah. Jahitan yang terbuka kembali, membutuhkan waktu yang lama untuk pulih" ujar Lidya...


Raziel pun merebahkan dirinya dan tertidur....


Keesokan harinya, ayah Lidya datang ke penginapan El's dan menanyakan kabar tentang Raziel kepada Lidya.... Mendengar penjelasan Lidya, Ayahnya pun berjalan menuju kamar Raziel. Tanpa mengetuk pintu, ayah Lidya masuk kekamar dan mendapati Raziel sedang duduk dipinggiran tempat tidurnya....

__ADS_1


"Parahkah" ujar Edward singkat...


"Lumayan." balas Raziel


"Nicholas"?...


"Hanya tinggal nama" jawab Raziel kembali


Terpancar senyuman di wajah Edward...


"Kau bisa berjalan"? tanya Edward kembali


Raziel sedikit mengangguk...


"Kalau begitu, nanti malam ikut aku."


"kemana"?


"Kita kerumah Johnny. Ada sesuatu yang mau aku perlihatkan.."


"Hmmm" hanya itu yang keluar dari mulut Raziel...


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Kau istirahat lah. Sampai ketemu nanti malam" ujar Edward sembari pergi meninggalkan Raziel dikamar.... Malam harinya....


Edward kembali ke penginapan El's dan membawa Raziel menggunakan mobilnya menuju rumah Johnny...


Sesampainya di rumah Johnny, Edward pun berkata "Teringat pembicaraan kita tadi pagi di kantor, ini dia orang nya"


"Siapa dia? mengapa kau menilai kalau dia layak mendapatkan Zanka"?


"Ayo, perkenalkan dirimu. Tenang saja, dia sahabat ku, dan aku mempercayai nya." Ujar Edward kepada Raziel


Sambil mengangguk Raziel pun berkata "A Raziel.... The Last Descendant, Wadah dari sang Dewa Api Ra".... Mendengar hal ini, Johnny pun tidak bisa menyembunyikan keterkejutan nya....


Tubuh Johnny mematung. Johnny diam membisu....


"Edward aaa... aaapa kau see.... rius"? ujar Johnny terbata-bata....


"Ya aku serius" jawab Edward singkat...


Sambil menenangkan dirinya, Johnny pun berkata "Baiklah... Dia memang layak. Tapi biarlah Zanka sendiri yang menentukan. Apakah dia layak menjadi tuannya atau tidak"


"Maksudmu..? Zanka yang memilih"? tanya Edward...


"Ya.... kalau begitu tunggu disini" ujar Johnny...


Johnny pun berjalan ke kamarnya, mengambil sebuah peti yang didalamnya terdapat sebuah pedang yang dibungkus dengan kain hitam....


Johnny pun keluar dari kamarnya sambil membawa peti kayu yang keliatan sudah tua tersebut... Ukiran berpola api terlihat dipermukaan peti itu.... Johnny kemudian meletakkan peti itu di atas meja dan membukanya....


Dari balik kain hitam itu, keluar asap berwarna merah... sebuah cahaya pun terlihat semakin terang dari balik kain hitam itu...


"Ada apa ini" ucap Johnny melihat kejadian ini


"Aura kutukan yang sangat kuat" Raziel tiba-tiba berbicara....


"Loh, kau tau darimana kalau ini dikutuk"? sela Edward


Lantas Johnny pun membuka kain hitam yang menutupi pedang itu....


Cahaya merah semakin terang dan semakin terang keluar dari pedang Zanka tersebut....


"Dia memilihmu"... terdengar suara Ra didalam kepala Raziel....


"Aku tidak tahu apakah aku bisa mengendalikan nya" Ujar Raziel.


"Kau yang mengendalikan dia. Bukan sebaliknya" suara Ra kembali terdengar dikepala Raziel...


"Coba kau angkat" ujar Johnny singkat kepada Raziel


Dengan ragu, Raziel pun mengangkat pedang itu dari peti kayu usang tersebut....


"Wushhhhh".... pedang tersebut menyala. Api besar berwarna hitam mengelilingi pedang itu...Raziel lantas membawa pedang itu keluar rumah. Dengan memposisikan pedang itu lurus kedepan, Raziel kemudian mengayunkan pedang itu ke arah langit.... "Shiiinngggg" sebuah sinar biru keluar dari pedang itu dan melesat dengan cepat ke arah langit... dan tidak lama kemudian "Bummmmmm...!!" terdengar suara ledakan dari langit yang disusul dengan kilatan cahaya yang membuat suasana di langit malam seperti pagi hari.... begitu terangnya bahkan Edward dan Johnny pun sampai harus menutupi mata mereka... beberapa detik kemudian, langit kembali gelap. Seperti malam biasa....


"Sangat kuat" ujar Raziel....


Johnny pun berjalan mendekati Raziel lalu berkata "Namanya Zanka. Diwariskan turun temurun oleh leluhur ku. Sekarang dia sudah memilihmu. Kumohon jagalah dia"


"Aku tidak akan menjaganya. Tapi aku akan mengandalkan nya, mengandalkannya." ucap Raziel sambil mengangkat Rebellion. Menyilangkan Rebellion dan Zanka keatas, Raziel pun berkata "Lindungi aku".....


Setelah berbincang-bincang... Edward pun pamit kepada Johnny untuk pulang....


Mata Johnny menunjukkan ekspresi kepuasan ketika melihat Raziel membawa Zanka....


"Kalau begitu kami pulang dulu."


"Kupercayakan dia kepadamu" ujar Johnny kepada Raziel...


Raziel hanya mengangguk... berjalan meninggalkan rumah Johnny dan masuk ke mobil Edward.....


Didalam mobil, Raziel memandangi Zanka, pedang barunya. "Apa yang terjadi denganmu? mengapa aura kutukan mu begitu kuat"? ucap Raziel dalam hati sambil terus memandangi Zanka......

__ADS_1


Sesampainya di penginapan El's, Raziel pun berterimakasih kepada Edward. Edward pun beranjak pulang, dan Raziel berjalan ke kamarnya. Dia kemudian mengeluarkan peti kayu yang berada dibawah tempat tidurnya, lalu membukanya. Dengan posisi menyilang, Raziel meletakkan Rebellion dan Zanka diatas pakaian Ninja The Mist nya.... Naik ke tempat tidurnya, lalu beristirahat......


.......


__ADS_2