
Lidya yang selesai membersihkan dirinya di aliran sungai terlarang pun lantas bergegas mengenakan pakaiannya. Begitu selesai mengenakan pakaiannya dia pun sedekit berteriak berkata....
"Aku dah selesai. Gantian sekarang kamu"....
Raziel yang sedaritadi duduk dibalik pohon pun lantas berdiri dan berjalan ke arah sungai. Begitu melihat Lidya dengan rambut panjangnya yang masih basah, terlihat wajah Raziel yang sedikit memerah tidak menyangka gadis secantik dan seanggun ini mau mengikutinya untuk berpetualang....
"astaga cantiknya anak ini" ujar Raziel dalam hati...
"kenapa tuan harus tersipu begitu"? ujar si Ice dari dalam pedang Raziel....
"Sekali lagi kau bicara seperti itu, kau keluar dari pedang ini" ujar Raziel sedikit kesal.
"Maaf tuan" balas si Ice...
Raziel pun lantas bergegas ke arah sungai, membuka kostum pemberian Lidya....
Terlihat di mata Lidya bekas luka Raziel yang melintang di dadanya.
"Apa jadinya dia kalau aku nggak menolongnya"? ujar Lidya dalam hati.
Lantas, Lidya pun menyiapkan makanan mereka yang sudah dia persiapkan di kota Aztec.
Raziel selesai membersihkan diri, naik ke darat, dan menghampiri Lidya.
"Wah, enak nih. Kebetulan pagi pagi dingin begini enak nya makan makanan hangat" ujar Raziel...
"Hmmmm.Tumben. Biasanya juga ana" jawab Lidya sedikit ketus
"Ah iya. Coba tadi ana yang....." belum selesai Raziel berbicara, sebuah batu sudah melayang ke kepalanya...
"Pletakkkkk".....
"Ana yang apa hahh....??" terlihat Lidya marah ke Raziel.
"Kan kamu duluan sih." ujar Raziel sambil memegangi kepalanya.
"Dipancing sedikit aja langsung...." ujar Lidya
"Kamu aneh. Kamu kan bukan pasangan aku" jawab Raziel membela diri
"Iya memang bukan pasangan mu. Tapi siapa yang sekarang menemani mu"? balas Lidya
"Mau nya sih..... "? jawab Raziel terus meledek Lidya
"Siapa? Ana ?? Jawab??" ucap Lidya sambil memegang batu besar ditangannya.
"Nggak... bukan. Aku maunya kamu aja yang nemanin. udah udah. Lapar. Aku makan dulu".... jawab Raziel sambil mengambil makanan yang sudah disiapkan Lidya lalu memakannya.
Masih dengan raut wajah yang sedikit ditekuk, Lidya pun mengambil makanan nya dan mulai makan.
Raziel sesekali terlihat memperhatikan wajah Lidya....
"Marah aja begini cantiknya. Tidak akan kubiarkan sesuatu terjadi padamu. Aku janji akan menjagamu" ujar Raziel dalam hati.
"Na, lihat anak ini. Cantik kan Na. Tapi beda dengan kamu Na. Dia sedikit kasar dan judes." sambungnya dalam hati sambil membayangkan Morina. Beberapa saat kemudian, mereka pun selesai makan, lalu berkemas dan melanjutkan perjalanannya.
Beberapa jam kemudian, mereka sudah keluar dari Hutan Larangan, dan didepan mereka terhampar padang rumput hijau yang begitu luas. Dipenghujung hamparan rumput itu, sudah berdiri dengan kokok gunung yang tampak sangat hijau dari jauh dipenuhi pepohonan yang besar.
"Tuan, sebaiknya hati-hati disaat mendaki gunung itu" terdengar Poison berbicara dengan suara mendesis
"Ya. Aku tahu. Aku sudah merasakannya" ujar Raziel.
Lidya yang sudah berlari sambil berputar-putar seolah menari itu tampak menikmati hamparan rumput hijau itu di sejuknya udara pagi hari.
"Ziel, indah nya rumput rumput nya" ujar Lidya sedikit berteriak menunjukkan ekspresi kegembiraan nya.
Melihat ekspresi kegembiraan Lidya, Raziel pun tersenyum...
"Na. Lihat dia. Begitu senangnya hanya dengan hal hal kecil. Coba itu kamu Na..." ucap Raziel dalam, hati sembari membayangkan wajah Morina. Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba dikaki gunung.
"Tuan, aura nya semakin kuat" ujar Poison kembali.
__ADS_1
"Kau keluarlah. Coba cari tahu asal aura ini" ujar Raziel kepada Poison
"Baik tuan".
" Dan kalian berdua. Awasi Lidya dari sisi kiri dan kanan" perintah Raziel kepada Fire dan Ice.
"Baik tuan" Fire dan Ice pun keluar dari pedang Raziel dan bergerak ke sisi kiri dan kanan Lidya. Lidya tidak menyadari bahwa Fire dan Ice sedang mengawasinya.
Begitu memasuki pepohonan di kaki gunung, terlihat kabut yang begitu tebal menyelimuti pepohonan daerah pegunungan itu...
Dan tiba-tiba, dari balik kabut itu sekumpulan kelelawar terbang ke arah Lidya...
"Aaaaaaaaaa" Lidya berteriak.
Raziel yang tidak sempat bergerak pun lantas mencoba berlari ke arah Lidya dan mengangkat pedangnya.... Beruntung Ice dengan sigap menembakkan gelombang air.....
"Teknik Air. Meriam Air"...... Gelombang air yang ditembakkan oleh Ice pun mengenai kelelawar itu, lalu sekumpulan kelelawar itu pun membeku, jatuh ke tanah dan pecah berkeping-keping.
"Beruntung ada Ice. Kalau saja tidak ada dia" ujar Raziel dalam hati.
"Tuan, serah kan saja pada kami. Tuan silahkan jaga nona Lidya" ujar Fire dan Ice.
Raziel pun mengangguk dan berdiri di samping Lidya.
"Ayo kesana." ujar Raziel kepada Lidya
"Emmm" balas Lidya sambil mengangguk...
Raziel dan Lidya pun kemudian berlari semakin dalam ke pegunungan, menembus kabut yang tebal itu.
Sesaat kemudian, mereka melihat 2 sosok sedang bertarung.
Ternyata itu Poison, sedang bertarung melawan seseorang bertubuh kurus, bertelinga panjang, dan gigi taring yang sangat panjang. Dari tubuh sosok ini, terpancar aura gelap dan bagian tubuh sosok ini dipenuhi dengan bulu bulu tebal, berwarna coklat...
_______________
Dikota Aztec
Edward tampak sedikit lesu sedang duduk di minibar penginapan El's. Ana yang memperhatikan Edward sedang lesu pun lantas menghampiri Edward.
"1 hari baru ditinggalkan Lidya aku udah merasa, was-was. Bagaimana kalau Lidya lama kembali nya" ujar Edward
"Tidak apa-apa Pak. Ana yakin kak Lidya baik-baik saja." terlihat Ana mencoba menghibur Edward.
"Ya.Terimakasih ya Ana"...
"Ya sama sama pak"....
Beberapa saat kemudian, Johnny pun datang ke penginapan El's, dan menghampiri Edward.
"Aku cari di kantor tidak ada.Ternyata disini" ujar Johnny.
Edward tidak menjawab. Dia hanya menghela nafas panjang...
"Hey, ada apa? kau kenapa begitu lesu"? tanya Johnny.
"Aku mengkhawatirkan Lidya" ujar Edward singkat
"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Ingat, dia bersama orang yang tepat. Aku percaya, Raziel mampu menjaga dia dengan baik" ujar Johnny lagi
"Ya, aku berpikiran begitu. Hanya saja, aku merasa ada yang hilang dari pandanganku. Padahal Lidya baru pergi 1 hari, tapi aku merasa begitu kehilangan" jawab Edward lagi
"Tidak apa-apa. Itu karena kau sudah, menjaga Lidya dengan baik. Setidaknya lihat sisi baiknya. Tanpa Raziel, kau tidak mungkin bisa mendewasakan Lidya, dan memberitahu nya seperti apa dunia luar" ucap Johnny.
"Terimakasih Johnny. Kau memang sahabat ku".....
"Yasudah. Kalau begitu ayo ke kantor. Ada beberapa berkas yang harus kau periksa dan kau tandatangani."
"Baiklah. Ayo kita ke kantor"
Mereka pun lantas meninggalkan penginapan El's dan bergegas ke kantor walikota Aztec
__ADS_1
___________
Di pegunungan daerah Hutan Terlarang
Sosok kelelawar berbadan manusia itu terbang kesana kemari, menyerang Poison.
Sebuah tendangan dari kelelawar itu menjatuhkan Poison. Melihat Poison yang meringkuk di tanah, sosok kelelawar berbadan manusia itu mengeluarkan busur panah dari dalam mulutnya. Dia pun memanggil 1 ekor kelelawar yang kemudian berubah menjadi anak panah.
Dengan 1 tarikan kuat, anak panah itu melesat dari busurnya
"Death... Arrow"....
terdengar sosok kelelawar bertubuh manusia itu menembakkan anak panah nya. Melesat dan mengeluarkan cahaya berwarna hitam, anak panah itu siap menghujam ke punggung Poison, namun tiba-tiba.....
"Ttttrrrriiinnngg".....
Rantai panjang dengan ujung yang menyerupai tombak menghantam anak panah itu dan mematahkannya. Fire dari arah belakang Poison melemparkan rantai berujung tombak nya ke arah anak panah itu. Poison yang melihat Fire dibelakang nya pun hanya mengangguk.
Dari arah belakang sosok kelelawar berbadan manusia itu, Ice sudah siap menyerang. Memposisikan tangannya ke arah sosok itu, dia pun menembakkan gelombang air.
"Teknik Air. Gelombang Kematian"......
Air yang ditembakkan oleh Ice membeku, membentuk tombak yang panjang dan melesat ke arah sosok kelelawar itu. Dengan sigap sosok itu pun menghindari nya.
"Kombinasi" terdengar Fire memberikan isyarat kepada Ice dan Poison. Ice dan Poison yang memahami maksud dari Fire pun lantas mengambil posisi segitiga, mengelilingi sosok kelelawar bertubuh manusia itu.
Kini, ditengah tengah mereka, sosok kelelawar bertubuh manusia itu mencoba untuk terbang menjauh.
Poison yang sudah memprediksi hal ini pun lantas mengeluarkan seekor ular besar, dengan tanduk besar diujung kepalanya.
"Go... Titan".....
Dari dalam tanah, tepat dibawah sosok kelelawar bertubuh manusia itu, seekor ular besar membuka mulutnya dan hendak menelan sosok kelelawar bertubuh manusia itu. Namun dengan cepat sosok itu menghindari nya. Fire yang sudah siap dan seakan-akan tahu kemana arah sosok itu terbang pun lantas kembali melemparkan rantainya.
"Teknik Api. Lingkaran Kematian"......
Rantai yang ujungnya menyerupai kepala tombak itu pun lantas melesat dan....
"Jjjllleeebbb" menusuk tepat di bahu sosok itu.
Dengan 1 tarikan dari Fire, sosok itu pun terjatuh. Fire pun lantas kembali melemparkan rantainya, yang langsung melilit di tubuh sosok itu.
Ice, yang melihat tubuh sosok kelelawar bertubuh manusia itu sudah terlilit rantai Fire pun mengambil posisi, lalu menembakkan gelombang air nya.
"Teknik Air. Water Storm".......
Gelombang air menghantam sosok kelelawar bertubuh manusia itu, lalu membekukan nya.
Sosok kelelawar bertubuh manusia itu pun membeku.
Fire dengan rantai di tangannya, menarik rantainya kembali, dan memecahkan tubuh sosok kelelawar bertubuh manusia itu hingga berkeping-keping.
Raziel dan Lidya yang menyaksikan pertarungan itu pun hanya bisa diam melihat sosok kelelawar bertubuh manusia itu hancur berkeping-keping.
"Ziel, mereka kuat" ujar Lidya
"Ya..." jawab Raziel
Raziel dan Lidya pun berjalan menghampiri mereka ber 3
"Pertarungan yang bagus. Kombinasi kalian sangat sempurna" ujar Raziel
"Terimakasih tuan" jawab mereka ber 3
"Kalau begitu kalian ber 3 periksa jalan keatas gunung. Apakah masih ada sesuatu yang berbahaya" perintah Raziel.
"Baik tuan" Ketiga Roh Ninja itu pun menghilang disertai dengan asap yang muncul dari tempat mereka berdiri.
"Ini hal baik. Mendapati 3 Roh yang kuat seperti mereka" ujar Lidya
"Akupun berpikir begitu" balas Raziel
__ADS_1
Mereka pun lantas berjalan ke mendaki gunung itu mengikuti jejak ketiga Roh Ninja itu.
____________