
Setelah mendapat kabar dari Gloxinia, aku langsung bernafas lega. Eh tapi, aku belum menghubungi Felix. Dimana dia sekarang ini?
...----------------...
Aku memanggil Felix berkali-kali, tapi tidak ada tanda-tanda kedatangannya. Dimana dia saat ini?.
'Ughh, Felix kamu dimana!?.' Batin ku frustasi.
'Apakah dia bersembunyi?.'
Aku berjongkok lalu menengok ke arah bawah kasurku.
"Felix?."
Kosong. Hanya kegelapan malam yang terlihat di bawah kasur.
"Bukan disini ya..."
Aku berjalan lagi ke arah ruangan pakaian ku untuk mencari Felix.
"Felix? apa kamu disini?."
"......."
Tidak ada tanggapan.
"Sepertinya juga bukan di sini."
"Huuffftt."
Setelah mencari di berbagai sudut kamar dan memanggil Felix berkali-kali, aku pun memutuskan untuk langsung tidur karena aku sudah menyerah mencari Felix.
sepertinya Felix pergi ke suatu tempat yang pastinya jauh dari kamar ku ini.
"Huh, lihat saja nanti Felix!!!." Gerutu ku kesal.
Aku pun berbaring di kasur ku. Aku memejamkan mata ku dan saat akan tertidur sedikit lagi tiba-tiba sebuah ketukan terdengar dari arah balkon ku.
Tok tok.
"Ck." Aku berdecak sebal. Baru saja akan tertidur pulas ada saja gangguan yang datang. Huh abaikan saja pasti suara nya akan hilang.
Tak sesuai ekspektasi. Suara ketukan itu terdengar kembali dengan lebih keras dan keras lagi.
TOK TOK.
Aku masih mengabaikan ketukan itu dan memejamkan mata kembali.
TOK TOK TOK.
"......."
'Abaikan abaikan Sherlin....jangan di dengarkan. Itu hanya angin yang berlalu...'
TOK TOK TOK TOK!!!!!!
"Ughhh. Dasar pengganggu!!!!."
Aku memaki-maki dalam hati dan melirik ke arah balkon.
Sebuah bayangan manusia? apakah itu Felix yang berubah? Kalau benar awas saja!!!.
Tap.
Aku beranjak dari kasur ku dan berjalan ke arah balkon dengan pelan.
Aku membuka kunci pintu balkon dan membukanya.
Klek.
Dengan keyakinan bahwa yang mengetuk pintu balkon adalah Felix aku berkata dengan agak keras pada nya.
"Dasar pengganggu!!! Dari mana saja kamu!?." Ucap ku dengan lantang.
"Eh?."
__ADS_1
Wushhhhh~
Angin berhembus kencang. menerbangkan helaian rambut ku dan rambut dari pengetuk pintu balkon ku.
'Rambutnya.....Oranye!?.'
'D-dia...si w-wortel!?.'
'Untuk apa si wortel datang malam-malam begini dan mengetuk pintu balkon ku!?.'
"Kamu...baru saja....berteriak padaku?." Tanya Robert datar.
"Ahh. Tidak-tidak. Aku pikir yang mengetuk pintu balkon ku adalah orang lain." Sahut ku dengan cepat.
"Hm? Jadi, ada orang lain yang mengetuk pintu balkon mu pada malam hari selain aku?." Ujar Robert penuh selidik.
"B-bukan. T-tadi kucing ku tidak ada di kamar jadi ku pikir, kucing ku..."
"Hah? jadi, kamu pikir seekor kucing biasa akan mengetuk pintu?."
"Ck, kucing ku itu bukan kucing biasa tahu!!. Kamu bodoh ya!?."
'Ishh. Si bocah wortel ini sangat menyebalkan. Dia seperti detektif yang selalu curiga dan tidak percaya pada alasan apa pun. Untungnya aku bisa mencari alasan yang bisa membuat nya tutup mulut. Toh dunia ini kan dunia fantasy jadi, wajar jika ada seekor kucing bisa begitu.'
"......" Si bocah wortel hanya diam dan menatap ku tajam.
Hmph. Aku memalingkan wajah ku ke arah lain, menghindari tatapan matanya.
Dia masih menatap ku tajam. Bahkan lebih tajam.
"Huh."
"Ck, kamu sangat tidak tahu sopan santun. Bukankah kalau ada tamu harus di jamu dengan baik?. Ini di ajak masuk saja tidak." Ucap nya dengan kesal.
"Heh!?!?."
'Dia!!!. Tidak sadar diri!!!.'
"Sopan santun katamu!? jika aku tidak sopan dengan tidak menjamu tamu ku yang datang. Lalu, kamu apa!?. Tamu-tamu!!! Datang tanpa memberi kabar. Lalu datang nya pun pada larut malam dan menyelinap ke balkon tuan rumah nya dan juga menganggu tidur sang tuan rumah. Apakah bisa disebut sopan???." Aku berkata dengan nada kesal dan sedikit meninggikan suaraku.
"K-kamu!!!. A-aku ini masih bisa disebut tamu walaupun tidak memberi kabar terlebih dahulu d-dan...."
"Dan apa?!?!. Aku tanya sekali lagi. Apakah menyelinap secara diam-diam ke kamar orang lain dan mengganggu nya itu masih bisa di sebut sebagai tamu???."
"Ummm..eee." Bocah wortel itu kebingungan untuk melakukan pembelaan diri lagi.
"**Tidak**. **Kan**???."
".......Ughh.."
'Huh. Bocah wortel seperti mu mau mengajak ku berdebat!? Tentu saja ku ladeni dan ku bungkam mulutnya dengan telak.'
Aku menatap nya jengkel. Terlihat dia menundukkan wajahnya malu dan mencengkram erat celana nya. Mirip seperti anak yang tidak terima di marahi oleh ibunya. Aku akui dia imut. Sepertinya kelak jika sudah dewasa dia akan menjadi lelaki yang sangat tamvan. Sungguh bibit yang unggul.
Tapi tetap saja. Aku tidak akan terlena begitu saja. Aku tidak akan mudah jatuh dalam pesonanya itu. Aku harus bersikap tegas.
"Hmmm, baiklah. Sekarang sudah larut malam dan udara sangat dingin diluar jadi, ayo masuk!." Ucap ku sambil melenggang pergi ke dalam.
Robert menatap punggung ku dan kemudian ikut masuk dengan ku ke dalam kamar.
__ADS_1
Aku mempersilahkan nya duduk di bangku dan mengambil sebuah selimut untuk menghangatkan tubuhnya.
Bruk.
Aku duduk sambil menyilangkan tanganku dan menatap ke arah bocah wortel itu.
"Bocah wortel, bagaimana kamu bisa datang ke kediaman Edinburgh? dan naik ke balkon kamar ku? kamu tahu kan kediaman ku itu di jaga oleh kstaria dengan ketat? juga kamar ku itu di lantai tiga. Jadi, bagaimana bocah wortel?."
"Aku...menggunakan sihir...untuk bisa datang ke kediaman mu. Lalu untuk bisa naik ke balkon kamar mu, aku memanjat pohon lalu melompat ke arah balkon mu. Dan aku pun langsung mengetuk pintu balkon mu berkali-kali tapi kamu membuka pintu dengan lama..." Jawab nya sambil menggembungkan pipi.
"Heh. Jadi kamu menyalahkan ku karena lama membuka pintu??."
"T-tidak. B-bukan..."
"Hmph."
'Ngomong-ngomong dia bisa menggunakan sihir pada usia nya yang masih belia ini? tak di sangka-sangka. Meskipun bocah wortel ini menyebalkan tapi dia lumayan.'
"Lalu, apa tujuan mu datang kemari?." Tanya ku dengan tatapan tajam.
"Aku....Eum..."
"Ya? Aku apa?
"I-itu......a-aku ingin memberitahu mu untuk pergi ke jamuan ulang tahun ku yang ke enam." Ujar William dengan gugup.
Psshhh. Kedua telinga Robert memerah.
"Jadi....Kamu datang malam-malam begini hanya untuk memberi tahu untuk datang ke pesta mu?."
Wiikkk. Robert memalingkan wajahnya ke arah samping.
"Bukankah kamu bisa memberitahu ku dengan memberi undangan atau pun datang pada waktu yang lebih tepat?. Kamu sungguh bodoh." Sahut ku sambil menaikkan sebelah alis.
"K-kamu!."
"Huh."
"A-aku itu ingin kamu yang pertama kali menerima undangan...Karena...kamu.... adalah
"teman pertama ku.." Robert melanjutkan perkataannya dengan suara pelan sambil memberikan sebuah kartu undangan dengan bertuliskan nama ku.
Aku tersontak kaget mendengar kelanjutan perkataan si bocah wortel. Teman pertama katanya? Dia sudah mengakui ku sebagai teman? ku kira dia menganggap ku sebagai musuh atau yang lainnya. Lalu, bagaimana seorang anak Duke seperti nya tidak punya teman sama sekali? apakah dia di rundung? atau dia di bully?.
Aku mengambil kartu undangan itu dan membacanya.
...----------------...
...{Untuk 'Sherlina Carolle Von Edinburgh' nona dari kediaman keluarga Duke Edinburgh}...
...Hallo Sherlin ku sayang...ini bibi Leanna. Bagaimana kabar mu?. Kuharap kamu baik-baik saja....
...Sherlin, Robert akan mengadakan pesta kelahiran nya yang ke enam. Jadi, datang lah bersama dengan kedua orangtua mu. Bibi akan menyambut mu dengan hangat sayang....
...{Tertanda Duchess Zekallion}....
...----------------...
Hey hey~
__ADS_1
Jika ada typo tolong kasih tahu author ya.