The Villainess And Modern Weapons

The Villainess And Modern Weapons
Chapter 22 Phael si penjual kue tamvan


__ADS_3

POV Author


...----------------...


......................


...----------------...


Fernand tersenyum dan melirik ke arah Sherlin.


"Sherlin, bisakah kamu menjelaskan bagaimana bola itu meledak?."


"Bola yang di lempar oleh mu berukuran kecil dan terlihat seperti peluru yang biasa kamu pakai. Tapi, bagaimana bisa itu meledak tepat di dekat ku padahal bola itu terpantul-pantul sebelum mendarat di dekat ku." Fernand memasang muka serius.


Fernand sekarang bingung. Bagaimana bola yang di tembakan oleh murid nya itu tidak meledak saat terpantul-pantul tapi malah meledak tepat di dekat kakinya itu.


Sherlin terkekeh pelan.


"Ahh, hehe. Guru, memang benar bola itu persis seperti peluru yang biasa aku pakai. Tapi kalau di lihat dengan jelas, bola itu tidak mirip dengan peluru ku."


"Bola yang ku tembakan itu berbentuk bulat sempurna sedangkan peluru berbentuk tabung dan di ujungnya runcing. Lalu untuk penjelasan bagaimana bola itu meledak, itu sederhana."


"Guru, apa kamu tahu? balon atau benda elastis lainnya?." Sherlin dengan santai memakan kue di depannya.


"Tentu saja guru tahu." Dengan cepat Fernand menjawab.


Mendengar jawaban Fernand Sherlin tersenyum tipis.


Note : Ekhem ekhem di dunia yang di tempati Sherlin ini balon sudah ditemukan ya~


"Kalau begitu, guru tahu kan balon bisa meledak?."


Fernand menganggukkan kepalanya.


"Balon yang di isi air akan meledak jika di bakar atau terkena panas dalam waktu tertentu. Maka bola yang ku tembakan pada guru sama persis dengan penjelasan balon meledak ini."


"Aku mengisi bola itu dengan mana angin dan air yang cukup kuat, lalu aku melapisi luarnya dengan sedikit aura mana api. Dan ketika aku akan menembakan nya aku memprediksikan berapa banyak waktu yang bisa di ulur untuk bisa membuat bola meledak, jadi aku dengan sengaja menembak ke arah sebuah batu dan hup! dengan tepat memantul-mantul dalam waktu yang sempurna yang mampu membuat bola itu meledak."


"Gesekan antara batu lain dengan yang lainnya mampu memperkuat panas dalam bola dan ketika air tidak mampu menyerap panas lagi bola akan meledak." Dengan semangat membara Sherlin menjelaskan.


Dapat dilihat dengan jelas sekarang Sherlin sedang memuji diri nya sendiri saat ini. Toh ekspresi mukanya menampilkan demikian.


"Hohoho...Putri kesayangan ibu sangat cerdas!." Dengan semangat nyonya Duchess Edinburgh memuji Sherlin.


"Ehehehe. Tentu saja ibu." Sherlin mengangkat dagunya.


Fuffffff.


Dari kejauhan ekspresi Felix seolah memuntahkan darahnya.


"Tsk! Memang rasa percaya dirinya itu sangat tinggi."


Sedari tadi Felix dari kejauhan memperhatikan percakapan antara Sherlin, nyonya Duchess, dan Fernand dengan seksama.


Dan tepat saat Sherlin menjawab ucapan dari ibunya itu, Felix berdecak sebal sambil memutar matanya.


'Bisa-bisanya bocah tengik itu meninggalkan ku sendiri di sini!.' Felix bergumam dengan kesal.


"Huh! Aku pergi saja!."


Wiik.


Felix berjalan dengan ke empat kakinya meninggalkan tempatnya tadi berdiam diri dan pergi entah kemana.


Setelah Sherlin, nyonya Duchess dan Fernand berbincang-bincang Fernand pun pamit pulang karena hari sudah petang.


"Nyonya Duchess, saya akan pamit..... Terimakasih atas jamuannya." Fernand membungkukkan badannya dan mencium tangan nyonya Duchess.


"Ya tuan Zelary. Terimakasih kembali." Nyonya r tersenyum tipis.


Fernand mengangguk, dia melirik ke arah Sherlin dan tersenyum. Sherlin membalas dengan senyuman manis.


"Sampai jumpa guru." Sherlin membungkuk dan mengangkat ujung rok nya.


"Ya muridku, sampai jumpa lagi."


Tap tap tap


Fernand melenggang pergi.


Nyonya Duchess menengok ke samping, tempat Sherlin berdiri.


"Sherlin, bersihkanlah diri mu dulu. Sekarang kamu kotor sekali...." Dengan lembut nyonya Duchess berbicara.


"Eum. Baik ibu." Sherlin menjawab dengan cepat.


...----------------...


Di kamar Sherlin~


"Nona, saya mendengar dari pelayan lain...bahwa nona memenangkan latihan bertarung dengan tuan Zelary. Nona! anda sangat hebat!." Lili dengan semangat memuji Sherlin yang sedang berendam di bak mandi besarnya.


"Ya, benar sekali! Nona kita sangat hebat!." Nia tiba-tiba saja menyahuti.


"Haha, terimakasih Lili, Nia."


S


K


I


P


Setelah mandi dan berpakaian, Sherlin seperti biasa makan malam bersama kedua orangtuanya.


"Bagaimana latihan mu tadi Sherlin?." Sambil meminum air tuan Duke bertanya pada Sherlin.


Sherlin menengok ke arah ayah nya dan kemudian tersenyum puas.


"Aku berhasil mengalahkan guru Fernand ayah!."


"Uhuk! Benarkah??."


Tuan Duke tersedak air saat Sherlin menjawab pertanyaan nya.


"Tentu." Dengan mantap Sherlin menjawab.


"......." Tuan Duke menundukkan kepalanya dan tidak berbicara dalam beberapa saat.


"Eum...ayah??." Sherlin dengan khawatir bertanya lalu melirik ke arah ibu nya yang sedari tadi diam mendengarkan saja.


Nyonya Duchess yang mengerti arti lirikan Sherlin, menyentuh tangan tuan Duke yang terletak di atas meja makan.


Puk.


"Sayang?."


"Riana, sayang ku....putri kita......

__ADS_1


"Menang!!!!!."


Saat mengucapkan kata terakhir, tuan Duke mengangkat kepalanya dan dengan bahagia menatap nyonya Duchess.


"Ahh hoho, tentu saja. Putri kita kan hebat!." Timpal nyonya Duchess tak kalah semangat juga.


"Riana istriku, kamu menyaksikan putri kita bertanding bukan??."


"Ya suamiku, putri kita dengan rencana hebatnya mengalahkan tuan Zelary. Dia sangat mirip dengan kita, pandai mengatur strategi dan taktik penyerangan!."


"Hohoho. Bagus bagus!. Putri ku, ayah akan memberi mu hadiah!."


"Ya, ibu juga akan memberi mu hadiah tambahan selain kue kesukaan mu sayang."


"Ahhh tak perlu repot-repot ayah, ibu." Sherlin menggelengkan kepalanya pelan.


"Sayang ku...jangan berpikir seperti itu. Tenang saja, ayah tidak merasa kerepotan sama sekali."


"Hum! Benar. Ibu juga tidak kerepotan. Putriku, anggap saja ini hadiah karena bersyukur kamu ada sebagai putri ayah dan ibu." Dengan lembut nyonya Duchess berbicara sambil menatap Sherlin dengan hangat.


"Baiklah ayah, ibu.... terimakasih." Sherlin tersenyum penuh haru.


"Ya sayangku...apa pun untukmu." Ujar Tuan Duke dan nyonya Duchess bersamaan.


...----------------...


Keesokan harinya~


Saat ini Sherlin sedang bersantai di gazebo taman nya sambil di temani oleh cemilan, Lili dan juga Nia. Oh tak lupa juga Felix.


Nyam nyam nyam.


'Ughh, kue nya enak sekali~. Hmm, ngomong-ngomong tentang kue. Kekasih Lili itu penjual kue bukan??. Ahh aku ingin mencicipi rasa kue buatan nya!!. Baiklah. Sudah di tentukan. Aku akan mengunjungi toko kue buatan kekasih nya Lili itu.' Batin Sherlin senang.


"Hmmm, oh ya...Lili, dulu kamu bilang punya seorang kekasih bukan??."


"Ahh y-ya nona."


"Bisakah kamu memperkenalkan nya padaku?."


"Tentu saja nona!. Sebuah kehormatan jika nona ingin bertemu dengan Phael. Saya akan memanggilnya segera."


"Eits. Tunggu Lili, aku yang akan mendatangi nya."


"Eh? maaf nona?."


"Eumm...S-sebenarnya a-aku ingin mencicipi kue buatan kekasih mu itu secara langsung Lili~ hehehe." Sherlin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ahh ternyata begitu...baik nona."


"Oh ya, Nia dan juga Felix akan ikut juga."


"Baik nona." Sahut Nia tenang.


Felix menengok ke arah Sherlin dan bersuara.


"Meongg~."


"Jadi ayo kita berangkat sekarang, oh aku lupa, dimana tempat kekasih mu itu tinggal Lili?."


"Di desa Router nona."


"Oh baiklah."


"Tapi nona, a-apakah tidak apa-apa jika kita berangkat sekarang?? tanpa kstaria?? dan izin dari tuan atau nyonya?." Tanya Lili khawatir.


"Tenang saja Lili, percayalah padaku." Sahut Sherlin enteng.


Sherlin memegang salah satu tangan Lili dan Nia, sedangkan Felix berada dalam pangkuan Sherlin.


"Mari berangkat!!."


Sriinggg.


Paattsss.


Wushhhhhh.


Tap.


Sherlin, Lili, Nia dan juga Felix akhirnya sampai di desa Router. Tempat tinggal nya Phael kekasih Lili.


"Woahh, desa Router ini asri sekali!." Sherlin melihat sekeliling dengan antusias.



"Hum! anda benar nona!." Nia menimpali ucapan Sherlin sambil mengangguk.


Lili tersenyum manis, dia menengok ke arah kiri dan kanan.


'Hm? biasanya, paman Jovin akan menyambut kedatangan seorang tamu. Tapi, sekarang dia kemana? apakah karena nona berteleportasi, jadi paman Jovin tidak menyadarinya?.' Batin Lili bingung.


Sherlin yang melihat raut muka Lili bertanya dengan khawatir padanya.


"Lili? ada apa?."


"Ahh tidak ada apa-apa nona." Dengan cepat Lili menjawab pertanyaan Sherlin.


"Oh...baiklah kalau begitu."


"Lili, ayo kita mengunjungi toko kue kekasih mu itu." Sherlin mengajak Lili dengan antusias.


"Baik nona."


Tap tap tap.


Sherlin dan yang lainnya berjalan menyusuri jalanan desa yang asri nan sejuk itu.


Selama di perjalanan mereka melihat berbagai pemandangan khas desa. Seperti perkebunan, peternakan, sungai, dan lain-lain.


"Wow cantik!."


"Wow! Ini sejuk sekali!."


"Wow–


'Wowooo!!!Entah berapa kali aku ber-uwow, tapi kenyataannya desa ini sangat sangat indah dan satu kata wow saja tidak cukup.' Sherlin berbicara dalam hati dengan kagum.


Dan setelah sekian lama berjalan, akhirnya mereka tiba di sebuah toko kue Phael.


'Toko nya lumayan...'


Kring.


Bel di pintu berbunyi ketika Sherlin membuka pintu toko kue tersebut.


Sherlin memasuki toko kue itu dengan Lili dan Nia dibelakang nya juga Felix yang berada di samping Sherlin.


"H-halo...." Ujar Sherlin gugup.

__ADS_1


"Oh halo! Selamat datang di toko kue 'Loveris cake'." Seorang pemuda berambut cokelat yang memakai pakaian ala koki menjawab Sherlin.


Sherlin yang melihat seorang pemuda tamvan tertegun.


'Kekasih nya Lili ternyata cukup tamvan!.' Batin Sherlin kagum.


Pemuda itu memiliki surai cokelat yang mirip seperti kayu dan mata berwarna senada dengan pandangan lembut, terlihat seperti pemuda dengan tipe lembut dan kalem. Dia juga sangat lihai membuat kue, postur tubuhnya yang sempurna tapi kurus itu menambah damage penampilan nya.



"Apakah anda ingin membeli sa–."


Sebelum pemuda bersurai cokelat itu menyambung perkataan nya, dia tersontak kaget saat melihat penampilan Sherlin.


'I-ini!! rambut merah!! mata biru berkilau!! Eum! Tidak. Bagaimana mungkin nona penguasa datang kemari.'


Pemuda berambut cokelat itu dengan cepat menengok ke arah siluet orang yang seperti dia kenal yang sekarang tepat berada di samping Sherlin.


"Lili??."


"Ahh, hai Phael." Lili dengan senyuman menjawab pemuda itu.


"B-bagaimana bisa kamu ada di sini?. Bukankah sekarang kamu bekerja di kediaman Duke Edinburgh??." Pemuda itu dengan bingung bertanya pada Lili.


"Ya aku memang sedang bekerja...." Jawab Lili sambil mengangguk.


"Jadi benar! ini....."


"Ya. Dia adalah nona yang ku layani."


"Hah!?." Pemuda itu tersontak kaget dan kemudian dengan cepat membungkuk.


"Maaf kan saya nona, saya sudah tidak sopan tidak menyadari kedatangan anda lebih cepat. Dan sebuah kehormatan nona bisa mengunjungi toko kue kecil ini, saya adalah pemilik toko kue kecil ini. Phael."


"Tidak apa. Ini juga merupakan kesalahan ku karena datang tiba-tiba begitu saja...."


"Dan jangan terlalu formal. Aku kesini hanya untuk melihat mu dan mencicipi kue buatan mu itu hehe!." Sherlin tertawa pelan.


"Ahh ternyata begitu....baiklah, silahkan pilih tempat duduk yang menurut anda nyaman nona. Saya akan membawakan kue terbaik untuk anda." Dengan sopan pemuda berambut cokelat itu berbicara pada Sherlin.


"Ya~." Sherlin menjawab dengan santai. Lalu kemudian duduk di sebuah kursi dekat jendela.


Lili, dia sedang membantu Phael menyiapkan kue untuk Sherlin.


Nia, dia sedang berdiri mendampingi Sherlin di sampingnya.


Felix, dia sedang berada di pangkuan Sherlin.


a few moments later(~‾▿‾)~


Tap tap tap.


Phael dan Lili datang dari arah dapur dengan membawa nampan yang berisi sekumpulan cake, kue dan camilan manis lainnya. Oh dan jangan lupa, teh.



Phael dan Lili menaruh sekumpulan camilan manis itu di meja tempat Sherlin duduk


"Semoga sesuai dengan selera anda nona." Ujar Phael sopan.


"Hum!." Sherlin menganggukkan kepalanya.


Sherlin mengambil sebuah garpu, dan mulai memakan salah satu kue manis di depannya.


Hup!


'I-ini!!!!.'


'Sangat enakkkk!!!!.' Batin Sherlin puas.


Nyam, nyam, nyam.


Sherlin memakan kue manis yang berada di meja nya dengan lahap.


"Nia, Lili kalian makanlah juga."


"Tidak perlu nona." Ucap Nia dan Lili bersamaan.


"Ahh...baiklah...."


Sherlin melirik ke arah Felix seolah-seolah berkata.


'Kamu kucing! jadi tidak perlu ya!?.'


'Huh! selalu seperti ini.' Felix mendengus dalam hati.


Eitts. Apakah bisa mendengus dalam hati???


entah(~‾▿‾)~


"Bagaimana nona? apakah ini sesuai dengan selera anda?."


"Ya tentu saja. Kue buatan mu sangat enak. Aku akan membeli ini untuk di bawa pulang nanti."


"Lili, serahkan semua tagihannya nanti pada ibu."


"Baik nona."


"Terimakasih banyak nona. Saya sangat tersanjung."


"Aku akan berkunjung lagi nanti, Phael."


"Ya nona. Berkunjung lah lagi, saya akan membuat kue yang lebih enak."


"Hum!."


...----------------...


side story(~‾▿‾)~


Phael : Lili, kamu tidak memberi tahu ku bahwa nona penguasa akan datang!?.


Lili : Mana sempat!!. Nona langsung berteleportasi kesini.


Phael : Hah!? benarkah??.


Lili : Ya!!


Phael : Oh begitu, haha maafkan aku Lili karena aku meninggikan suara ku tadi.


Lili : Hmph!.


Phael : Eeeeee....maaf kan aku Lili. (sambil mengusap puncak kepala)


Lili : B-baiklah. >///<


Phael : Heh! jurus ini memang ampuh!(^3^♪


...----------------...

__ADS_1


TBC~


__ADS_2