
Kediaman Duke Edinburgh, gazebo taman.
"Slurppp."
Sherlin menyeruput secangkir teh dengan raut muka aneh.
Saat ini Sherlin sedang bersantai di gazebo taman sambil ditemani Robert dan Penelope dengan beberapa cemilan dan teh.
"Tomat, ada apa dengan mu? sedari tadi kamu terus melamun seperti ini." Robert berbicara sambil menatap Sherlin bingung.
Sherlin tidak menjawab dia hanya termenung sembari memandang ke arah air mancur.
"Sherlin, kamu baik-baik saja?." Penelope bertanya dengan nada khawatir.
"...."
"Ck, hei! tomat apa kamu sakit!?." Robert berteriak kesal.
Sherlin tersentak kaget, dia menggelengkan kepalanya cepat. "Hah!? t-tidak. Aku... baik-baik saja." Dengan pelan Sherlin menjawab.
"Uhh...benarkah? raut muka mu tidak terlihat baik Sherlin." Ujar Penelope.
"Ya aku benar-benar baik Pene."
"Apakah kamu memikirkan kejadian kemarin?." Robert dengan khawatir bertanya.
"Ya." Sherlin menganggukkan kepalanya pelan.
Robert tertegun, dia seketika terdiam dan kemudian dengan pelan mengambil sebuah cake kecil di depannya dan berdehem. "Ekhem ekhem!, kamu tidak perlu terlalu memikirkan itu tomat. Bisa-bisa nanti kepala mu mengeluarkan asap karena kelebihan muatan haha."Ujar Robert sambil memakan cake kecil itu dengan sekali lahap.
Plak.
Penelope memukul lengan bahu Robert dengan garang. "Si bocah menyebalkan ini! jaga mulutmu dasar bodoh!."
"Ugh!. Dasar gadis kasar! tangan mu mudah sekali menggeplak orang."
"Hmph!, kamu juga mudah sekali merusak suasana."
"Heh! ini lebih baik daripada memukul seseorang bukan!?."
"Hah!?!? kau–.
Sherlin menghela nafas pelan, tidak bisakah mereka membaca situasi yang tepat dulu sebelum bertengkar seperti itu?.
Sherlin sedang dalam mode berpikir keras dan membutuhkan ketenangan tapi mereka berdua mengacaukan nya.
"Kalian berdua sudahlah." Sherlin mengerinyit.
"Tapi/Tapi."
"Hei!!/Hei!!!."
"Kamu!!!/kamu!!!."
"Kamu diam!/kamu diam!."
__ADS_1
Penelope dan Robert berulang-ulang kali berbicara seperti itu dengan bersamaan. Dan mereka saling mengoceh secara terus menerus.
Brakkk.
Sherlin menggebrak meja, dia sudah tidak tahan lagi dengan tingkah mereka berdua. Kepala nya sekarang sudah mencapai suhu panas maksimal.
"Cukup!!!."
"Wowwww, hei tomat! kepala mu benar-benar seperti mengeluarkan asap hahahaha!." Robert tertawa keras.
"Ha ha ha ha. Diam kau bocah wortel!!."
Ugh!
Nyut nyut nyut.
Kepala Sherlin serasa berdenyut sekarang, dia memijat pangkal pelipis nya.
'Haaahhh.... kesalahan fatal apa yang telah kuperbuat di masa lalu sampai bisa-bisanya aku bertemu dengan kedua bocah yang suka bertengkar ini?.'
"Baiklah baiklah. Kalian berdua tolong tenanglah sedikit saja. Kepalaku seperti berputar-putar tujuh keliling mendengar kalian bertengkar seperti itu!."
Krik krik krik.
"Ya tentu Sherlin, aku tidak akan meladeni si menyebalkan itu lagi!." Penelope menggenggam tangan Sherlin.
"......Hmph!." Robert memalingkan wajahnya.
"Baguslah." Sherlin tersenyum cerah.
Sherlin menggelengkan kepalanya. "Ini mengenai putri ketiga dari kerajaan Fortnum."
"Sejujurnya, aku juga kepikiran tentang dia." Sela Penelope.
"Tapi hal seperti ini menurutku memang sudah biasa terjadi di kalangan bangsawan."
Robert mengangguk. Dia setuju dengan pernyataan Penelope.
Jika dalam keadaan kritis atau pun darurat maka mengirimkan anak perempuan adalah salah satu cara yang paling menguntungkan. Mereka bisa menghasut dan memaksa putri mereka dengan embel-embel membalas budi pada orangtuanya.
Ini tidak ada bedanya dengan menjual anak sendiri pada orang lain. Dengan demikian, ini mungkin merupakan salah satu alasan kenapa putri ketiga kerajaan Fortnum di kirim kemari.
Sherlin menghela nafas, mereka tidak akan mengerti kegundahan hatinya ini. Dia tidak bisa menjelaskan pada mereka tentang ini, karena mungkin mereka akan menganggapnya sebagai omong kosong belaka.
Sherlin menengadah ke atas langit seraya memejamkan matanya dan mengepalkan tangan.
......................
Istana kekaisaran, mansion White roses.
POV Putri Clover
Aku adalah putri ketiga dari kerajaan kecil yang berada dekat dengan sebuah kekaisaran besar. Saat ini aku sudah di jual pada kekaisaran dan menjadi calon kandidat putri mahkota. Tapi, itu sia-sia. Bahkan jika aku menjadi putri mahkota aku akan di tentang dan di injak-injak oleh para bangsawan itu bukan?
Sejak kecil sang raja, ayah ku tidak menyukai ku. Setiap kali bertemu dengannya aku selalu mendapatkan tatapan hina dan punggung dinginnya itu.
__ADS_1
Alasan dari semua itu karena aku... adalah anak haram yang tidak seharusnya ada. Aku lahir dari hubungan terlarang antara seorang penari jalanan yang mempunyai wajah cantik dengan seorang raja. Ibu ku adalah seorang penari yang berasal dari suku barbarian yang mayoritas orang kenal dengan sifat biadapnya. Maka dari itu, semua orang tidak menyukai kulit ku yang mirip seperti suku barbarian.
Ibu ku pernah bercerita padaku jika dulu suku barbarian pernah dibantai dan diburu. Ibu ku beruntung, dia berhasil melarikan diri dan demi menyambung hidup dia menjadi penari penghibur dijalanan. Dan pada waktu itu, ibu ku bertemu dengan sang raja. Sang raja terpesona dengan kecantikan eksotik ibu ku dan dia memaksa ibu ku untuk ikut ke istana dan menjadi selir tingkat rendah.
Ibu ku tidak punya pilihan lain, jika dia menolak dia akan langsung di bunuh di tempat atau di penjara. Dan dengan terpaksa dia menyetujuinya.
Beberapa tahun berlalu, ibu menjalan hari-hari nya dengan buruk. Dia selalu di hina oleh para pelayan dan orang orang yang ada di istana termasuk istri sah dari sang raja, permaisuri.
Permaisuri sangat sering mengganggu ibuku. Dia selalu menggunakan berbagai cara untuk membuat ibuku mati, entah itu dengan racun, skenario kecelakaan, menyewa pembunuh atau yang paling buruk menyiksanya secara mental dan membuatnya bunuh diri. Tapi untung nya ibuku berhasil bertahan hingga aku lahir.
Jika kalian bertanya mengapa kaisar tidak membantu, jawabannya adalah dia sama sekali tidak peduli.
Kalian tahu? dia adalah seorang hewan bermoral rendah yang hanya tahu tentang bersenang-senang saja. Setiap harinya dia pergi ke rumah bordil atau pun berjudi. Semua pekerjaannya sepenuhnya di kerjakan oleh pegawai istana dan sekretaris nya. Dia hanya memerintah sesuai dengan nafsu nya. Sama sekali tidak memikirkan apa akibat dari keputusan dangkalnya itu.
Lalu beberapa bulan kemudian ibuku hamil dan melahirkan diriku. Dia memberikan nama Clover yang berarti daun Semanggi. Ibuku berharap jika aku beruntung sama seperti namaku. Juga setelah melahirkan ibuku menjadi sering jatuh sakit, tubuhnya melemah. Tapi meskipun begitu, dia tetap merawat dan membesarkan ku. Meskipun tanpa perhatian ayah maupun uang yang banyak aku tetap bahagia hidup sederhana dengan ibuku seorang.
Tapi, saat aku berumur tujuh tahun dia tidak bisa lagi bergerak secara leluasa bahkan dia tidak bisa berdiri lama, dan akhirnya dia hanya bisa berbaring di ranjang.
Hari-hari ku lalui dengan merawat ibuku sepanjang waktu. Tapi buruknya, kedua anak perempuan dari permaisuri yang lebih muda satu tahun dari ku selalu menggangguku setiap hari. Mereka berdua adalah putri sah yang lahir dari rahim seorang permaisuri dan aku adalah putri yang lahir dari seorang selir rendahan. Otomatis aku dan mereka mempunyai kehidupan yang sangat kontras. Bagaikan warna cerah dengan warna gelap.
Dan saat aku berumur delapan tahun, ibuku meninggalkan ku. Dia di racuni oleh permaisuri secara terang-terangan. Tapi, dia dibiarkan saja. Ibuku di makamkan di sebuah pemakaman kumuh tanpa siapa pun yang mengantar. Hanya aku seorang. Mereka benar-benar menganggap jika nyawa seseorang tidak berharga. Hanya selama bukan bangsawan, mereka bisa-bisa nya menganggap remeh aku dan ibuku.
Aku benar-benar terpuruk saat itu. Tidak ada siapapun lagi yang bisa ku peluk dan memberi ku dukungan. Hanya aku sendirian...di istana yang hampa ini.
"Hahaha, kakak lihat kulitnya! dia mirip seperti kotoran sapi bukan!?."
"Hahahaha, adik kau benar. Dia jelek, hitam, bau dan kotor persis seperti kotoran sapi!."
"Dan lihatlah rambut putih nya adik! dia seperti orang tua! matanya juga sangat jelek. Hanya berwarna gelap. Tidak ada cantik cantiknya."
Penampilan ku selalu saja di olok-olok oleh semua orang. Bahkan di kekaisaran juga begitu. Hanya karena aku berkulit hitam, kalian secara habis-habisan menghinaku.
Kulit ku yang kehitaman, rambutku yang berwarna putih mirip seperti uban dan bola mataku yang berwarna hitam pekat. Mereka semua menilai diri ku seperti monster. Kalian bahkan belum mengenal ku tapi kalian sudah menilai ku seperti itu.
"Eh~ ups, adik kau tidak boleh seperti itu. Bagaimana pun juga dia adalah kakak kita bukan~?."
"Oh! ya! kau benar kakak! tapi...dia hanyalah anak dari orang rendahan kan? jadi tidak apa-apa. Ayah tidak akan marah ahaha!."
"Fufu, kau benar meskipun kita menyiksanya sampai mati ayah tidak akan menghukum kita bahkan sepertinya dia tidak akan bergeming sedikitpun. Toh untuk apa repot-repot mengurus rakyat jelata kan?."
Hinaan dan cemoohan yang selalu kudengar setiap hari sudah menjadi asupan kaseharian ku di istana suram ini. Bahkan para pelayan dengan terang-terangan menghinaku di depan mata ku sendiri.
"Hahaha. Lihat gadis rendahan itu! dia benar-benar memalukan!."
"Hem, kau benar. Dia malang sekali bukan? aku beruntung hanya dengan menjadi pelayan seperti ini dari pada menjadi putri dari selir rendahan barbarian itu!."
"Ya ya benar sekali. Tidak perlu mengasihani nya! dia pantas begitu. Kalau dia mau salahkan saja kenapa dia bisa tidak beruntung menjadi seorang putri haram?."
Pelayan itu benar. Padahal namaku Clover yang memiliki arti keberuntungan tapi ...kenapa aku seperti ini? Bahkan aku dijual pada kekaisaran yang sangat asing bagiku. Ini semua tidak adil.
Ibu. Apa aku akan selalu tidak beruntung!? apakah nama yang kau berikan ini hanya omong kosong belaka!?.
Rasanya aku ingin mati saja menyusul mu ibu. Aku... sudah tidak kuat menahan semua ini.
TBC.
__ADS_1