
Dia menatap pada kepala pelayan kediaman Evans itu dan tersenyum penuh arti.
Kini, rencana yang sesungguhnya dimulai.
...----------------...
Kepala pelayan mengantarkan Sherlin ke tempat pesta teh, tepatnya rumah kaca.
Di sana terlihat sudah ada beberapa nona-nona bangsawan yang sudah datang, mereka bercengkrama dengan riang.
Saat Sherlin sudah beberapa langkah dari jarak meja yang ditempati para bangsawan itu mereka mulai melihat ke arah Sherlin dan mengoceh.
"Wahh! lihat! putri Edinburgh sudah tiba."
"Ya, kamu benar... tapi, lihatlah gaun nya itu, manis sekali!."
"Putri Edinburgh sangat cantik!."
"Wow, kucing yang di sampingnya sangat imut!."
"Ya ya! imut sekali! lihatlah bulu nya yang putih mengkilap itu!."
Drap drap drap.
Salah satu nona bangsawan berambut hijau bangkit dan berjalan dengan cepat ke arah Sherlin, dia memberi salam dengan membungkukkan badannya dan mengangkat ujung gaunnya.
Matanya terlihat berkilauan, dia bersemu merah. "Putri Edinburgh!. Suatu kehormatan anda datang ke kediaman saya!."
Sherlin tersenyum manis, dia membalas salam Yurilia dan membungkuk kecil.
"Ah terimakasih sudah mengundang saya, nona Evans." Balas nya anggun.
Gadis berambut hijau itu menggelengkan kepalanya cepat dan menggenggam kedua tangannya di depan dada. "Tidak putri, j-justru saya yang berterimakasih karena anda sudah datang."
Matanya berbinar dan mulutnya tak henti-henti tersenyum. "J-juga! surat balasan anda...s-sangat cantik. S-saya sangat terkesima lady!."
"......"
Sherlin tersenyum kikuk, dia kemudian dengan sopan mengucapkan terimakasih.
Yurilia mempersilahkan Sherlin untuk duduk, dia sudah menyiapkan tempat duduknya.
Beberapa saat kemudian Sherlin tersenyum ramah pada para nona yang lain lalu duduk dengan manis di bangkunya. Bangku itu berada di sebelah kanan Yurilia dan di samping kirinya terdapat kursi yang kosong.
Sherlin memperhatikan sekitar, dia melirik diam-diam pada para gadis yang berada di sekitar nya.
Sembari mengelus-elus Felix, Sherlin melihat ke bawah dan memejamkan mata. Dia mencoba untuk mengingat-ingat siapa saja yang di undang pada pesta teh yang di selenggarakan nona Evans ini. Seingatnya, ada enam orang yang di undang. Mereka semua belum mencapai usia dewasa, rata-rata masih 10-11 tahun-an.
Sherlin mengerinyit bingung, dia kemudian mengubah ekspresi nya dan mengangkat Felix ke pangkuannya.
Para gadis yang berada di meja yang sama menatap Felix gemas.
Salah satu gadis yang duduk di meja yang sama membuka suaranya dengan nada riang. "Putri, apakah itu kucing peliharaan anda? Dia sangat cantik dan imut!."
"!!!?."
Felix syok saat mendengar kata 'Cantik' yang di ucapkan gadis muda tersebut, dia menggerutu Sherlin diam-diam karena sudah mendandaninya seperti ini!.
__ADS_1
Sherlin tersenyum manis dan mengelus kepala Felix lembut, dia kemudian menjawab pertanyaan gadis berkuncir dua itu. "Ya, kucing ini adalah hewan peliharaan saya. Namanya Felix."
Para gadis itu terkejut termasuk gadis berkuncir dua yang bertanya tadi, dia menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Oh astaga! dia laki-laki? m-maafkan saya putri.." Cicitnya.
Sherlin menggelengkan kepalanya, dia membuka kipas yang dibawanya untuk menutupi tawa kecil nya. "Tak apa. Lagipula Felix memang terlihat seperti kucing betina sekarang, fufufu."
Sembari tersenyum, gadis berkuncir dua itu menatap Sherlin dengan kagum. "Anda sangat rendah hati putri."
"Ya, putri Edinburgh sangat baik hati."
"Hem! anda benar. Putri memiliki hati yang cantik seperti rupanya."
Sherlin kembali tertawa kecil, dia masih menutupi mulutnya dengan kipas bercorak bunga lili putih itu. "Hohoho, anda terlalu memuji nona Banyant dan para nona sekalian."
"!!?!."
Gadis itu terkesiap, dia kemudian tersenyum lebar dan matanya berkilau.
"A-anda mengenal saya putri?!."
"Tentu saja, memangnya siapa yang tidak kenal pada gadis enerjik keluarga Count Banyant ini?."
Yurilia dan para gadis lainnya terkekeh, mereka menikmati perbincangan antara kedua gadis itu sembari menyeruput teh dan memakan kue-kue yang disediakan.
"Putri Edinburgh benar nona Banyant, bukankah anda terkenal dengan ke-enerjik-an anda??. Saya sudah mendengar rumor tentang anda hoho~." Sahut salah satu gadis beriris kuning cerah.
"Nona Banyant dan nona Evans cukup mirip. Mereka sama-sama memiliki sikap aktif dan bebas." Gadis yang lain mulai membuka suaranya. Dia memiliki rambut berwarna ungu dan nadanya terdengar cukup...kasar?
Sherlin tertawa canggung sembari mengkipasi dirinya. Di sisi lain Yurilia bersemu merah sampai ke telinganya.
"Eumm, ngomong-ngomong kipas anda sangat cantik putri." Yurilia dengan sengaja mengubah pembicaraan, seketika semua orang langsung memfokuskan perhatian mereka pada kipas Sherlin.
"Ya, saya setuju. Apalagi, itu terlihat sangat detail."
Sherlin tersenyum kecil. "Fufufu, kalian terlalu memuji~."
"Tidak benar putri! kami benar-benar mengagumi kipas anda yang cantik."
"Ho~ begitu ya... terimakasih~." Sherlin tersenyum lebar.
Para gadis lalu dengan bersemangat saling sahut menyahuti. Kesan mereka pada Sherlin lumayan bagus.
Sherlin berpikir sejenak. Dia melihat jika ada dua bangku kosong di sini, bukankah Yurilia mengundang sekitar enam orang? lalu kemana dua orang lagi?.
"Permisi, apa kal–.
Ketika Sherlin akan bertanya, dia terhenti karena melihat seorang gadis yang baru saja datang.
Para gadis terpaku pada gadis itu, mereka menatapnya lama.
Gadis terlihat tidak nyaman, dan dia mengalihkan pandangannya. Sesaat kemudian gadis itu dengan gugup menyapa.
"H-halo...s-selamat pagi.." Gadis itu menyapa dengan nada rendah.
"......"
Para gadis diam tidak menjawab, membuat gadis yang baru datang itu menundukkan kepalanya.
__ADS_1
'Sudah kuduga, selalu seperti ini.' Batin gadis itu.
Sherlin melebarkan matanya dan berdehem. Dia kemudian tersenyum dan membalas sapaan gadis itu ramah.
"Ekhem, selamat pagi juga...yang mulia putri Fortnum."
Clover terkejut dan mendongak, dia bertujuan untuk melihat siapa yang baru saja membalas sapaan nya tadi.
Dan tatapan mata nya terhenti pada Sherlin yang tersenyum ramah pada nya. Dia terdiam selama beberapa saat.
Sherlin melirik ke arah Yurilia dan membuat suara batuk kecil. "Uhuk!."
"!!."
Yurilia tersadar dan dengan cepat mempersilahkan Clover untuk duduk di samping Sherlin.
"S-silahkan duduk, yang mulia putri Fortnum."
"Ya, t-terima kasih." Balas Clover dengan ragu.
Dia kemudian duduk dengan pandangan yang selalu tertunduk.
Sherlin ber'oh'ria. Ternyata bangku yang kosong itu untuk putri Clover. Lalu, bangku yang satunya....untuk siapa?.
'Hmmmm.' Sherlin memejamkan matanya dan berpikir sejenak.
Sedetik sebelum Sherlin mulai mengingat siapa yang belum datang, dia sudah di ganggu dengan pertanyaan seorang gadis yang terdengar seperti memojokkan Clover.
"Putri, saya dengar anda tinggal di mansion White roses? apakah itu benar?. Saya pernah membaca jika kaum barbarian selalu tinggal dalam sebuah gua atau tenda, oh my! jika begitu...saya harap anda tidak memiliki kesulitan saat tinggal disana yang mulia putri..." Gadis yang mengajukan pertanyaan itu, tidak lain adalah nona Gelard.
Makna yang terkandung dalam ucapan nona Gelard : "Putri, kudengar anda tinggal di mansion White roses? sepertinya itu tidak cocok dengan anda yang selalu tinggal di lingkungan kumuh. Lagipula, mansion itu terlalu mewah untuk seorang barbarian seperti anda."
Nona Gelard, gadis itu seperti memiliki banyak topeng. Dia bersikap merendah pada orang yang statusnya tinggi untuk mendapatkan keuntungan pribadi, tapi saat melihat seseorang yang memiliki status yang lebih rendah dia akan memojokkan nya dengan kata-kata yang memiliki makna terselubung.
Clover tidak berniat untuk membalasnya, dia hanya diam sembari pasrah. Dia sudah terbiasa di perlakukan seperti ini ketika menghadiri suatu acara maupun bertemu dengan para bangsawan.
Sherlin mengerutkan keningnya melihat Clover yang berkeringat dingin dan menggenggam gaunnya erat.
"Nona Gelard. Sepertinya anda sangat peduli pada yang mulia putri Fortnum ya? meskipun begitu, anda bisa tenang karena yang mulia putri sudah mendapatkan pendidikan yang baik di istana melebihi anda. Dan putri Fortnum sangat cepat dalam mempelajari itu, beliau orang yang pintar cepat beradaptasi dengan lingkungan yang asing baginya. Anda bisa tenang." Sherlin tersenyum tipis, kipasnya menutupi separuh wajahnya.
Kira-kira makna perkataan Sherlin yaitu : "Nona Gelard, anda sangat tidak sopan pada yang mulia putri Fortnum ya? anda tenang saja karena putri Fortnum sudah menerima pendidikan istana berbeda dengan anda yang hanya bisa berkata sarkas. Lebih baik kamu menutup mulut mu."
Clover kembali dibuat terkejut, dia tidak bodoh. Dia mengetahui makna dari kata-kata Sherlin. Gadis berkulit gelap itu lagi-lagi dibuat terkesima dengan Sherlin, matanya berbinar.
"Gggrttk." Nona Gelard menggertakkan giginya, dia memaksakan senyumnya pada Sherlin. Dia tidak ingin membuat Sherlin marah karena itu akan merugikannya nanti.
Para gadis yang berada di situ hanya diam menonton. Balasan Sherlin ternyata cukup menusuk juga.
Yurilia berdehem dan mengalihkan pembicaraan untuk mengakhiri suasana yang cukup panas ini.
"Ekhem, sepertinya sudah waktunya bagi kita untuk melihat rumah kaca. Pada waktu ini suhunya tidak terlalu panas."
Sherlin menganggukkan kepalanya lalu bangkit dari kursinya dia menggendong Felix, di ikuti dengan para gadis yang lain.
Mereka berjalan ke arah rumah kaca, di sepanjang jalan Sherlin hanya diam sembari memandangi Clover.
Gadis itu, meskipun dia seorang putri tapi dia memakai gaun yang terlalu sederhana. Sikap dan perilaku nya juga sangat tidak cocok dengan statusnya. Sherlin sadar, di dunia novel ini ada banyak orang yang bernasib buruk melebihi dirinya yang hanya berpindah pada tokoh antagonis yang mempunyai nasib tidak jelas.
__ADS_1
Sherlin berkaca-kaca, dia bertekad untuk menolong gadis malang itu dari keterpurukannya.
...----------------...