The Villainess And Modern Weapons

The Villainess And Modern Weapons
Chapter 47 Kesalahpahaman yang berturut-turut


__ADS_3

Sherlin hanya diam menatap datar pada kedua bocah yang sedang berdebat itu. Lagi-lagi, mereka berdua bertengkar.


Haahhh. Apa yang harus dia lakukan sekarang pada mereka?.


...----------------...


Sherlin menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya pelan.


"Sudahlah. Aku akan mengajak kalian berdua!." Sherlin berdiri di tengah-tengah antara Penelope dan Robert.


"Apa?!?!." Penelope terkejut. Dia tidak menyangka Sherlin akan mengajak si bocah menyebalkan juga.


Di sisi lain, Robert tersenyum lebar. Mukanya berseri-seri.


"Yeah!."


"T-tapi Sherlin! In–.


"Tidak apa Pene. Bukankah lebih ramai lebih bagus?." Sherlin tersenyum kecil, dia menepuk-nepuk pundak Penelope.


"....baiklah...." Penelope hanya pasrah, dia tersenyum paksa.


Beberapa saat kemudian, Sherlin berpamitan pada Penelope. Dia dan Robert kembali menaiki kereta kuda untuk pulang.


Kereta kuda dengan lambang Edinburgh itu memasuki wilayah duchy dan berhenti di halaman depan mansion Edinburgh.


Tap.


Robert turun dari kereta kuda terlebih dahulu, dia mengulurkan tangannya pada Sherlin.


"....." Sherlin diam, dia tidak berbicara satu kata pun. Dia hanya menerima uluran tangan si bocah wortel dan turun dengan anggun.


Tap.


"Terimakasih." Sherlin berterima kasih dengan nada datar sembari terus melangkah tanpa melihat ke belakang.


"Hmph! sama-sama!."


Drap drap drap.


Kepala pelayan menghampiri mereka berdua lalu memberi salam sembari membungkuk. "Selamat datang nona dan tuan muda Zekallion."


Kedua bocah berumur sepuluh tahun itu menganggukkan kepalanya.


"Ya, Sebastian. Terimakasih sambutannya, ngomong-ngomong dimana ayah dan ibu?." Sherlin bertanya pada Sebastian, dia masih berjalan ke depan menuju pintu masuk.


"Nona, tuan Duke dan nyonya Duchess akan se–."


Brakkk.


"!!!!!!."


Sherlin terperanjat kaget ketika pintu di buka dengan kasar, ayah dan ibunya berada tepat di hadapannya.


Grepp.


"Sherlin! putriku! apakah pesta teh nya berjalan lancar?!?! kamu tidak di ganggu siapapun kan?!." Nyonya Duchess memeluk Sherlin erat-erat, dia bertanya dengan berturut-turut dan dengan tempo yang cepat.


"Ya Sherlin! katakan pada ayah! apa ada yang mencoba merundung mu disana!?." Duke menimpali pertanyaan Duchess.


Sherlin mencoba melepaskan pelukan ibunya itu. Tapi, sepertinya ibunya tidak bergeming sedikitpun.


Hei! dia sesak sekarang! pernapasan nya terganggu! ugh! apalagi dua gundukan itu seperti menjempitnya.


"I-ibu! aku! tidak! bisa! bernafas!!." Sherlin berbicara dengan nada yang tertekan.


Sontak, nyonya duchess melepaskan pelukannya dengan cepat.


"Oh my! maafkan ibu Sherlin! ib–ibu sangat khawatir dan cemas..."


"Haaah haah haah." Sherlin meraup oksigen dengan kasar.


"Tak apa bu, aku mengerti. Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku, tapi..aku baik-baik saja. Pesta teh nya berjalan lancar dan tidak ada seorang pun yang mengganggu ku, lagipula memangnya siapa yang berani merundung ku di sana ibu, ayah?." Sherlin memiringkan kepalanya dan tersenyum kecil.


"Hmm, kamu benar. Di kekaisaran ini tidak ada yang bisa menggangu putri ayah sekalipun itu kaisar." Duke mengangkat dagunya tinggi-tinggi.


Duchess mengangguk-anggukan kepalanya, dia melirik ke arah Robert dan menutup mulutnya dengan tangan kanan.


"Oh my! maafkan bibi hingga melupakan mu Robert. Ayo, mari kita masuk."


Robert mengangguk dan kemudian dia ikut masuk ke dalam mansion bersama Sherlin dan keluarganya.

__ADS_1


Di ruangan tamu»


Duke dan Duchess duduk di sofa yang sama, sedangkan Robert duduk sendiri di sofa yang terletak tepat di depan sofa yang di duduki oleh pasangan suami istri berambut merah itu.


Jika kalian bertanya kemana perginya Sherlin? jawabannya, dia sedang membersihkan diri dan mengganti gaun nya di kamar. Dalam waktu yang lumayan singkat dia pasti akan datang.


Ekhem, kembali ke awal.


Tap tap.


Klak.


Pelayan menaruh teko antik yang berisi teh dan beberapa jenis camilan di meja, setelah menaruh itu semua pelayan itu membungkuk dan kemudian pergi.


Duke dan Duchess mempersilahkan Robert untuk meminum teh nya dan memakan camilan yang tersedia di meja, beberapa saat kemudian Duchess memulai pembicaraan.


"Robert, terimakasih sudah menjemput Sherlin pulang.." Ujar Duchess dengan senyuman tulus.


"Eum, tentu bibi. Lagipula, bibi juga sudah memberikan ku kewajiban untuk mendampingi Sherlin. Maka dari itu, sudah sepantasnya aku melakukannya." Ujar Robert dengan sopan dan tersenyum.


"Avv, kamu memang anak yang berbudi pekerti luhur. Kelak di masa depan kamu pasti akan menjadi laki-laki yang baik, hohoho."


"Bibi Riana terlalu memuji.." Robert merendah.


Duke of Edinburgh, ayah Sherlin. Hanya diam sembari mendengarkan pembicaraan antara istri dan anak temannya itu. Menurut nya Robert cukup membuat nya terkesan dan puas.


Diam-diam Robert tersenyum bangga. Dia pasti akan membuat kedua orangtua Sherlin mengakuinya dengan sikap nya saat ini.


Cih, jika Sherlin melihat interaksi dan sikap Robert saat ini dia pasti akan muntah dan jijik. Sikap nya berubah 360° jika berada di hadapan Sherlin dan orang lain.


Tap tap tap.


Suara langkah kaki bergema di setiap anak tangga yang di turuni, membuat ketiga orang itu menoleh ke atas.


Terlihat Sherlin berdiri sembari tersenyum manis ke arah orangtuanya. Kini, dia sudah rapi dan menawan.


Sherlin memakai gaun sederhana berwarna putih tapi tetap terlihat anggun dan elegan. Rambutnya di kepang biasa yang di letakkan di belakang punggungnya.


Tidak ada hiasan sama sekali di rambutnya, tapi meskipun begitu. Sherlin tetap terlihat sangat cantik, terlebih dengan penampilannya sekarang dia seperti mengeluarkan aura murni dan bersih.


Robert terdiam, pandangannya terpaku pada Sherlin.


"Sherlin, ayo ceritakan bagaimana pesta teh dan rumah kaca milik nona Evans itu?. Ibu ingin mendengar nya."


"Tentu ibu. Aku akan menceritakannya!."


"Sejak pertama kali aku datang, mereka sudah menyambut ku. Kepala pelayan me–.


Sherlin terus berbicara menceritakan pengalamannya tadi, kedua orangtuanya juga mendengarkan dengan seksama dan penuh penghayatan.


Jika ada kejadian lucu yang diceritakan Sherlin, ayah dan ibunya akan tertawa atau terkekeh pelan. Oh astaga, lihatlah keharmonisan keluarga ini sekarang. Semua orang akan iri melihat nya.


Sementara Sherlin bercerita, Robert hanya diam. Dia sedari tadi tidak bersuara sedikitpun. Hanya menatap Sherlin lekat-lekat, dia tidak bisa memalingkan pandangannya pada Sherlin. Seolah-olah ada sesuatu seperti magnet yang menarik dirinya untuk terus memperhatikan Sherlin.


Dan tentu saja, Sherlin yang di tatap cukup lama menjadi tidak nyaman. Dia sesekali melirik ke arah Robert, dan ketika pandangan mereka berdua bertemu Robert memalingkan wajahnya. Lalu, ketika Sherlin tidak menatap nya lagi. Robert kembali memperhatikan Sherlin.


Dan begitu seterusnya sampai waktu makan malam tiba.


"Robert, mari. Kita akan makan malam bersama." Duchess mengajak Robert lembut.


"Ah itu adalah sebuah kehormatan, tapi sayangnya aku tidak bisa makan malam bersama kalian. Karena, ada sesuatu yang penting yang harus ku kerjakan di kediaman Zekallion bibi. Maafkan aku." Robert tersenyum.


"Ah sayang sekali~. Baiklah kalau begitu, hati-hati dijalan Robert." Duchess menyentuh pipi kanannya.


"Lain kali datanglah lagi Robert." Ujar Duke ramah.


"Tentu paman Roenharts."


'Tsk, ayah malah mengundang nya untuk datang lagi! aku sangat jengkel pada si bocah wortel itu! dia mengotori lingkungan kediaman ku!.' Batin Sherlin kesal.


"Sampai jumpa lagi." Robert membungkuk lalu kemudian dia pergi.


Sherlin mendecih, dia kemudian meminta izin pada ayah dan ibunnya untuk langsung pergi ke kamar dan melewatkan makan malam.


"Tapi Sherlin, apa kamu tidak lapar sayang?."


"Tidak ibu, aku sekarang lelah sekali. Selera makan ku menjadi hilang karena penat."


"Oh my! baiklah."


"Ibu akan mengantarkan mu sup pereda lelah nanti."

__ADS_1


"Eumm..ya ibu."


Tap tap tap.


Sherlin berjalan dengan cepat ke kamarnya, meninggalkan kedua orangtuanya.


Duchess tersenyum lebar, dia memeluk lengan Duke erat lalu menjerit. "Kyaaa>//<. Putri kita sudah dewasa!! Apakah dia malu?! oh my! oh my! aku sangat bersemangat!!."


Duke mengerinyit heran. "Istriku? apa maksudmu dengan malu? bukankah Sherlin lelah? bukan malu?."


Raut muka Duchess yang tadinya berseri-seri hancur seketika. Dia menjadi muram.


"Dasar! apa kamu tidak mengerti?!."


Duke menggelengkan kepalanya pelan.


"Tsk, Ren! kamu itu bagaimana sih!?. Huh, aku akan jelaskan. Kamu lihat tadi!? Sherlin dan Robert terus-terusan melirik diam-diam satu sama lain. Dan ketika Robert ditawari makan malam bersama dia menolak lalu Sherlin juga ikut menolak. Kamu mengerti sekarang bukan?! apa kamu tahu artinya itu Ren?!?!." Duchess menatap tak sabar pada Duke.


Duke meneteskan keringat dingin, dia sebenarnya tidak mengerti sepenuhnya. Dia takut jika istrinya akan marah.


Apa yang harus dia lakukan sekarang?!.


Dengan ragu-ragu dan nada yang pelan, Duke menjawab. "Eum...itu artinya.... mereka sama-sama lelah?."


"!!."


Duchess terdiam sejenak, dia menghembuskan nafas panjang. "Huuuffftt."


"Sudah pasti bukan!!!!. Artinya mereka sedang kasmaran!! huh! putriku tumbuh dengan cepat!."


Duke membeku, dia mengeluarkan aura suram dan gelap. Kata istrinya tadi....putri satu-satunya itu sudah di rebut hatinya oleh si bocah ingusan itu!?.


Tsk, tidak bisa di biarkan!! dia! dia tidak rela putri nya di rebut!. Dia akan membuat sesuatu nanti. Duke menyeringai diam-diam.


Hmm, sungguh kesalahpahaman yang konyol.


Di sisi lain, kamar Sherlin.


Brukk.


Sherlin menjatuhkan tubuhnya pada kasur besar nya itu. Dia memejamkan mata lalu bangkit dan duduk di pinggiran kasurnya.


Gloxinia dan Felix muncul bersamaan tepat di depan nya. Mereka memberikan pernyataan secara beruntun.


"Nona! nona! bagaimana tadi!? Apakah menyenangkan!?." Gloxinia dengan riang melompat-lompat.


"Bocah! apa ada suatu kejadian memalukan tentang dirimu di tempat itu?."


Berbeda dengan Gloxinia, Felix dengan santai bertanya. Dia duduk di kasur.


Sherlin menjawab pertanyaan Gloxinia terlebih dahulu. "Ya, itu lumayan menyenangkan!." Sherlin tersenyum manis.


Senyuman manis itu luntur ketika Sherlin menjawab pertanyaan Felix. "Felix. Kau mengharapkan sesuatu menimpaku?!." Ujarnya kesal.


Urat-urat muncul di dahinya, Sherlin menggertakkan giginya. "Grrr."


"Hmm, ya." Jawab Felix santai.


Sherlin menatap Felix ganas. Dia ingin sekali memukul wajah arogannya itu!. Tapi, sayangnya dia tidak tega.


Sherlin menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


'Tenang, tenang. Selesaikan dengan kepala dingin~.'


Sherlin tersenyum, dia termenung sejenak untuk menafsirkan kata-kata Felix dengan lebih detail.


Beberapa saat kemudian, dia menatap Felix dengan pandangan berkaca-kaca. Oh astaga! Sherlin rupanya tadi berpikiran dangkal!.


Sejenak kata-kata Felix sebenarnya menyiratkan kekhawatiran. "apa ada suatu kejadian memalukan tentang dirimu di tempat itu?." Sebenarnya memiliki makna jika Felix berharap Sherlin tidak mengalami hal yang memalukan.


Sherlin memeluk Felix hangat. Dan Felix yang melihat itu hanya terbengong-bengong.


Kenapa si bocah menyebalkan itu?! apa kepalanya terbentur sesuatu?.


'Hmph! sifat tsundere nya Felix memang meresahkan. Hampir saja aku salah paham.'


Sebenarnya tanpa Sherlin ketahui, Felix hanya menanyakan pertanyaan itu asal. Dan dia memang hanya menanyakan ada sesuatu atau tidaknya menimpa Sherlin tanpa ada maksud cemas atau kekhawatiran apapun.


Jika Sherlin tahu ini, dia pasti akan segera kehilangan kendali lalu menyerang Felix.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2