The Villainess And Modern Weapons

The Villainess And Modern Weapons
Chapter 21 Bertarung bersama guru Fernand


__ADS_3

...----------------...


...****************...


...----------------...


POV SHERLIN


"Ahh baiklah. Aku akan datang." Ucap ku sambil mengangguk.


"B-benarkah??."


"Ya."


".......Baiklah, aku akan menyambut mu nanti." Ujar Robert sambil tersenyum tipis.Meskipun tanggapan Robert hanya tersenyum tipis tapi terlihat di mata nya sebuah pancaran kebahagiaan dan kepuasan tersendiri.


Aku yang melihatnya menjadi penasaran. Apa yang membuat si bocah wortel begitu?? Apakah hanya karena aku setuju untuk datang ke pesta nya?. Hmmm...Sungguh tak terduga.


Krik krik krik.


Setelah percakapan yang singkat, keheningan mulai terjadi. Suasana diantara aku dan si bocah wortel menjadi canggung. Kami hanya diam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Aku menatap si bocah wortel lekat lekat untuk memberi kode padanya untuk segera pulang kembali ke kediamannya karena aku akan melanjutkan tidur ku dan si bocah wortel itu sangat mengganggu.


Blushhh.


Tapi, sepertinya dia tidak mengerti kode dari ku. Dia malah memerah dan memalingkan wajahnya.


'Ughh, kenapa si tomat ini menatap ku terus!?. Aku tidak nyaman. Apakah dia terpesona pada ku lalu menyukai ku? Yahh...itu mungkin benar. Baguslah kalau dia suka padaku.' Batin Robert dengan di iringi senyuman yang aneh.


'Huh??. Ada apa dengan senyuman nya itu?? Hiik. Memang bocah wortel ini sangat aneh sekali.' Batin ku bergidik ngeri.


Huh kalau dengan kode tatapan dia tidak mengerti, aku akan menunjukkan kode yang lain saja. Aku berjalan ke kasur ku dan berbaring tengkurap sambil menyangga dagu ku dengan tangan kanan. Juga dengan tatapan yang mengandung makna mengarah pada si bocah wortel. Dengan ini pasti dia akan mengerti dan cepat pulang.


"....."


Robert melihat ku yang sedang berbaring tengkurap dengan tatapan terkejut. Lalu beberapa saat kemudian Robert menundukkan kepalanya ke lantai.


'Pasti dia sudah mengerti. Nah kalau begitu pulang lah bocah wortel!!! Kamu mengganggu ku tahu!!. Cepat cepat!!.' Batin ku tak sabar.


Tapi, tak seperti ekspetasi ku si bocah wortel ini malah diam saja. Dia tidak bergerak sedikitpun dari tempat nya.


'Ck, dasar wortel. Apakah dia tidak peka atau bodoh!?'. Batin ku kesal.


"Huuuffftttt.."


Aku menghela nafas panjang. Ck, jika terus berdekatan dengan bocah wortel ini aku pasti akan cepat bertambah tua.


"Huh!!."


Aku mendengus lalu memutuskan untuk langsung berbicara pada Robert untuk segera pulang.


"Robert, segeralah pulang." Ujar ku sambil tersenyum paksa.


"Hah? Pulang? Itu....Eummm. Hah baiklah." Robert menunjukkan ekspresi kecewa nya dengan jelas. Sangat blak-blakan sekali ya~


Wahh. Akhirnya!!!


Aku tersenyum senang lalu berkata dengan nada bahagia.


"Aku akan mengantar mu wortel."


"Ahh tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri, dan juga sangat berbahaya jika seorang gadis bepergian malam-malam. Lagi pula aku itu kuat tahu!!! Jadi, kamu tak perlu khawa****tir." Sahut Robert sambil menggelengkan kepalanya lalu seperti biasa dengan akhiran nada ala-ala tsundere dan mode nge-blush nya.


'Tunggu dulu.....khawatir..katanya??.'


'Cih, seperti biasa. Bocah wortel ini sangat menyebalkan. Aku bukannya khawatir tapi aku hanya ingin buru-buru pergi tidur. Dengan menggunakan teleportasi akan lebih mempercepat ku untuk segera tidur.'


"Ha ha ha. Kata siapa aku khawatir??. Kamu sangat percaya diri sekali." Aku tertawa renyah dan berbicara dengan nada mengejek.


"A-apa??. K-kam–."


Sebelum Robert menyelesaikan perkataannya aku terlebih dahulu memegang salah satu tangannya dan mengaktifkan sihir teleportasi.


Sriingggggg.


Pattssssss.


...----------------...


Wuusshhhh.


Tap.


"Woah sudah sampai." Ucap ku sambil melihat-lihat persekitaran kediaman si bocah wortel.


'Wow kediaman si bocah ini sangat indah sekali.' Batin ku kagum.


Aku berteleportasi ke belakang kediaman Duke Zekallion. Di sini terdapat taman yang indah dan asri, hmmm...sangat enak di pandang mata.


"Ughh, Oekkk!!! Oekk!!."


Aku terkejut mendengar si bocah wortel yang sedang menahan mual lalu langsung menjauhinya karena aku tidak ingin terkena muntahan nya nanti.


"Uhuk Uhuk."


"K-kamu!!! Dasar tomatt!!! Jika ingin berteleportasi bilang lah dulu!!!." Ujar Robert setengah berteriak.


"...Huh ya ya." Balas ku sambil mendelikkan mata.


"Nah kamu sudah tiba di kediaman mu, jadi aku akan kembali. Selamat tinggal." Ucap ku cepat dan langsung berteleportasi kembali ke rumah.


"H-hei!!! Tunggu tomat!!!." Teriak Robert.


"Ughhh...."


...----------------...


Wushhh.


Tap.


"Hoammmm..."


Setelah berteleportasi kembali ke kamar ku, aku langsung berjalan mendekati kasur untuk tidur. Tapi, sebelum itu ku lihat Felix yang dalam keadaan kotor sedang tidur di pagar balkon ku.


"Felix?." Gumam ku.


'Huh!! Ternyata baru kembali!!. Grrrr!!! Awas saja kau Felix!!!!.'


Tap Tap Tap


Aku berjalan dengan perlahan ke arah Felix. Lalu..


"Felix!!!!." Ucap ku lantang setengah berteriak.


Wiikk.


Felix menengok ke belakang dengan cepat.


"Hm?. Hah!?. Bocah tengik!!. Apa yang kamu lakukan??." Ujar Felix kesal.


"Cih, nyenyenye. Bagaimana dengan diri mu sendiri yang pergi tak bilang-bilang!?." Cibir ku.


"........"


Felix hanya diam, dia menatap ku datar.


"Aku hanya pergi sebentar saja, lagi pula aku tidak pergi terlalu jauh."


"Tidak terlalu jauh??...Aha. Heh memangnya aku tidak tahu? Kamu pasti mencuri makanan lagi kan?."


"T-tidak."


"...Benarkah?."


"Ya b-benar."


"Hmmmmm???."


Aku berdehem dan menaikkan sebelah alis ku sambil menatap Felix dengan penuh selidik.


Felix memalingkan wajahnya ke arah samping.


"Hoamm baiklah. Aku tidak akan mempersalahkan ini lagi, sekarang aku hanya ingin pergi tidur." Ucapku sambil menguap.


Tap tap tap.


Aku berjalan ke arah kasur ku dan langsung tidur.


'Hah? Tumben sekali bocah tengik ini. Huh sudahlah.' Batin Felix sambil menatap aneh pada Sherlin.


...----------------...


...****************...


...----------------...


Cip cip cip.


Suara burung terdengar. Dengan perlahan sinar matahari mulai masuk ke kamar ku.


Aku membuka mata ku dengan perlahan-lahan dan seperti biasa menguap lalu meregangkan tubuh dengan mengangkat kedua tangan ke atas.


"Hoammm~. Tak terasa sudah pagi saja." Ujar ku sambil mengucek-ngucek sebelah mata ku dengan tangan kanan.


Aku melirik ke arah Felix tidur. Dia terlihat nyenyak sekali.


Klek.


Pintu ku dibuka oleh Gloxinia, dia berjalan masuk bersama dengan Lili di belakangnya.


"Selamat pagi nona." Ucap mereka berdua bersamaan.


"Selamat pagi..." Balas ku sambil tersenyum.


Gloxinia dan Lili menganggukkan kepalanya, mereka memulai pekerjaan masing-masing. Lili merapikan tempat tidur ku dan Gloxinia membuka gorden kamar ku.


"Mari nona, anda harus mandi dan bersiap-siap." Ujar Lili sopan.


"Eum baiklah."


S


K


I

__ADS_1


P


Lili dan Gloxinia memakaikan ku gaun yang berwarna pink pastel dengan renda renda di rok nya dan pita berwarna senada di kerahnya.



Lalu Lili dan juga Gloxinia menata rambutku dengan gaya kuncir kuda yang di hiasi pita pink pastel juga.


"Woah seperti biasa anda sangat menawan nona." Ujar Lili kagum.


"Ya benar sekali." Timpal Gloxinia.


"Ehe~."


...----------------...


Setelah selesai mandi dan berpakaian seperti biasa aku sarapan pagi bersama kedua orangtuaku.


"Sherlin, bagaimana tidurmu? apakah nyenyak?." Ibu menatap ku dengan lembut.


"Eum, ya ibu. Tidur ku nyenyak." Aku tersenyum manis.


"Baguslah kalau begitu." Ibu melirik ke arah ayah.


Hm? Apa yang terjadi? kenapa ayah dan ibu berprilaku aneh pagi ini?


"Eee, memangnya kenapa bu? apakah ada sesuatu?."


"Hmm, Ibu hanya khawatir. Semalam ada penyusup." Ibu menatap ku dengan khawatir.


"P-penyusup?."


"Ya, semalam ada penyusup. Ksatria yang bertugas menjaga gerbang bagian belakang melapor pada ayah, dia melihat sekilas bayangan manusia yang melesat dengan cepat masuk ke kediaman ini. Ayah menugaskan para kstaria untuk mencari penyusup itu tapi, dia tidak di temukan."


"Ayah dan ibu mu khawatir kalau penyusup itu melukaimu. Sherlin, semalam tidak terjadi apa-apa kan?." Ayah menjelaskan pada ku dan bertanya dengan khawatir juga.


"T-tentu ayah, tidak terjadi apapun semalam." Balas ku cepat. (Halah bullshit🗿)


"Syukurlah kalau begitu..." Balas ayah dan ibu bersamaan.


'Huh, ternyata si bocah wortel ini menciptakan keributan. Ck, awas saja kau wortel!!.' Batin ku jengkel.


"Oh ya, Sherlin. Hari ini kamu ada jadwal latihan bertarung dengan tuan Fernand bukan?."


"Eum iya ibu."


"Berjuanglah sayang ku. Ibu akan menyiapkan cake kecil favorit mu itu dengan banyak khusus untuk mu sayang." Ibu tersenyum manis.


"Benarkah ibu? Woahh ibu memang yang terbaik!!!." Aku tersenyum lebar hingga mata ku menyipit.


"Uhuk!!."


Ayah tersedak saat meminum airnya. Dia mengusap mulutnya dengan sapu tangan.


Ayah yang sedari tadi diam mulai berbicara.


"Ekhem ekhem. Putri ku, ayah juga akan memberi mu dukungan. Ayah akan menyiapkan sebuah hadiah untuk mu nanti."


"?????." Aku memasang wajah bingung. Keheningan terjadi, sesaat kemudian aku pun menjawab ucapan ayah tadi.


"Eee? A-ahh, terimakasih ayah. Ayah dan ibu memang yang paling terbaikkk."


"Hohoho. Putri ku, ucapan mu manis sekali." Ayah dan ibu tertawa puas sambil tersenyum senang.


"Ahahaha." Aku tertawa canggung. Orangtuaku ini aneh sekali.


(〒﹏〒)(〒﹏〒)


Siang harinya, guru Fernand pun datang. Aku membawa Felix sekalian juga untuk menemani ku menyambut kedatangan guru Fernand.


"Guru!!!." Aku berteriak sambil melambaikan tanganku ke atas.


"Sherlin."


"Guru, akhirnya kamu datang. Aku sangat tidak sabar untuk berlatih lagi bersama mu guru!!." Aku dengan riang gembira merangkul lengan guru Fernand.


Lalu bagaimana dengan Felix?.


Felix masih tetap di gendongan ku, dia berada di lengan kiri ku sedangkan aku merangkul lengan guru Fernand dengan tangan kanan. Aku tidak akan menjatuhkannya lagi ke tanah, karena apa? tentu saja karena untuk mengindari ocehan tidak jelas nya.


Kami berjalan sambil berbincang dengan riang ceria, semua pekerja yang berpapasan dengan ku dan guru Fernand memberi salam dengan hormat dan menatap kami senang. Menurut penglihatan mereka, kami bagaikan lukisan yang indah. Perpaduan yang sempurna, seorang guru dan muridnya yang sama-sama memiliki wajah menawan terlihat sangat akrab juga tak lupa seekor kucing yang menjadi pelengkap. Dengan melihat nya saja pun akan menciptakan rasa senang tersendiri.


Beberapa saat kemudian.


Sesampainya di tempat latihan, guru Fernand dan aku langsung bersiap-siap untuk berlatih. Felix melihat dari pinggir sambil duduk seperti kucing biasa lainnya.


"Sherlin!."


Aku menengok ke arah suara itu, dan terlihat ibu berjalan menghampiri ku dengan sebuah keranjang di tangan kanannya.


"Ibu!." Aku dengan ceria tersenyum manis.


"Berjuanglah sayang."


"Eum, Ya ibu."


"Kamu sudah siap Sherlin?." Tanya guru Fernand.


"Ya." Aku menganggukkan kepalaku dengan semangat.


Sret.


Καλό χώμα, δώσε μου δύναμη


"Ground thorn."


Srriiiinggg.


Duri-duri tajam bermunculan dari dalam tanah dan terbang di sekitar guru Fernand.


Sebagai persiapan aku juga menciptakan sebuah senjata api yang bercorak berwarna hitam dengan dipadukan warna biru.



"Mulai."


Wushhh.


Guru Fernand yang pertama kali menyerang, dia menyerang ku dengan serangan duri duri tajam nya yang terbuat dari tanah itu dengan cepat.


Tap. Sshh.


Aku menghindar ke arah samping dengan cepat.


Klak. Aku mengisi peluru senjata ku.


'Angin!.'


"Wind shot."


Aku memposisikan badanku dan mulai menembak.


Dorrrr.


Wushhhh.


Dorongan dari tembakan ku menciptakan sebuah hempasan angin, rambut dan rok ku terkibar-kibar.


Sebelum peluru ku mengenai salah satu tangan guru Fernand, dia membaca sebuah mantra.


επίγεια ασπίδα


"Ground wall."


Wushhhh, dinding tanah terbentuk dan itu menahan peluru yang ku tembak kan.


Tranggg.


Guru Fernand menangkis peluru ku dengan sihir tanah nya.


'Hee? bagaimana guru bisa menangkis nya dengan mudah!. Padahal peluru itu sudah ku iringi dengan sihir angin supaya lebih kuat daya serang nya. Huh.'


"Kamu kurang cepat Sherlin. Tingkat kan lagi!." Guru Fernand dengan tegas berbicara pada ku.


"Baik guru!!." Balas ku mantap.


Aku menyerang guru kembali dengan serangan yang sama.


"Continuous wind shot!."


Dorr.


Dorr


Dorrr.


Dorr–


Aku menembak berkali-kali dengan tempo yang cepat.


'Huh pasti guru akan kewalahan!.' Batin ku percaya diri.


Το έδαφος βοηθά στην προστασία


"Ground shield."


Trang


Trang


Trang


Trang.


Tak sesuai keinginan ku, guru Fernand menangkis nya dengan mudah.


'A-apa!?. B-bagaimana bisa!?.'


Wushhh


"Sherlin, kewaspadaan mu masih kurang." Tiba-tiba saja guru Fernand berbicara tepat di belakang telinga ku.


Hiikkk.


'Sejak kapan??.' Aku berbicara dalam hati sambil menatap guru heran.

__ADS_1


Aku tersontak kaget dan buru-buru menghindar.


Guru menyodorkan kakinya tepat dimana aku akan berpijak, lalu hasilnya aku terpeleset dan jatuh.


Brukkk.


"Ouch!."


"Sherlin!." Ibu berteriak khawatir.


"Tak apa bu, jangan khawatir. Putri mu ini baik-baik saja!." Ujar ku dengan lantang.


"Sherlin..."


"Apakah sudah selesai, Sherlin?." Guru Fernand bertanya dengan tatapan tajam.


"Hehe, tentu saja..........


"Belum!."


"bomb."


Aku menciptakan sebuah bom asap kecil dan melempar nya ke arah guru.


Duarr, ssshhhh.


Asap yang lumayan tebal menyelimuti di sekitar guru Fernand.


'Kesempatan!.'


Tap.


Wushhh.


Aku bersembunyi di atas pohon besar di belakang guru Fernand.


'Aku terlalu lengah dan meremehkan guru. Aku akan menyusun rencana.'


'Hufffttt, tenangkan dirimu Sherlin...Kamu hanya perlu membayangkan ini adalah sebuah game RPG yang biasa kamu mainkan.'


'Heh, mari kita mulai!!.'


Klek.


Aku menyiapkan sebuah peluru dalam jumlah besar.


Wushhh.


Perlahan-lahan asap yang menyelimuti guru mulai menghilang.


Guru menyadari kehadiran ku di belakangnya dan berbalik.


Guru memandangin tempat aku bersembunyi sambil tersenyum samar-samar.


'Angin.'


"quick streak wind shots!."


Aku menembak dengan beruntun dan cepat ke arah titik vital guru Fernand.


Dorr


Dorr


Dorr


Dorr


Dorr–


Sret.


Trang


Trang


Trang–


Lagi-lagi, serangan ku di tangkis dengan mudah!.


"Sherlin, apa hanya ini?." Guru menatap ku sambil tersenyum mengejek.


"Ughh..."


"Hehe, ada satu serangan lagi guru!." Sahut ku cengengesan.


Aku pun membidik sebuah bola kecil hitam ke sembarang arah dan menembak nya.


'Angin, air, api!.'


"Hehe, water bomb."


Dorrr.


Wushhh.


Bola kecil berwarna hitam yang ku tembakan menuju sebuah batu dan memantul lalu ke batu yang lain dan begitulah seterusnya.


Pak.


Pok.


Pak.


Tring tririring....


Setelah bola kecil hitam itu memantul-mantul dari batu ke batu akhirnya peluru itu melesat di samping kaki kanan guru Fernand.


Huh, sepertinya guru menyadari jika tembakan ku akan begini, buktinya dia hanya berdiam diri dengan tenang.


"Sherlin, ini meleset. Lain kali Foku–


Wushhhh.


Boooommmmmm.


Tiba-tiba bola kecil hitam tadi meledak seketika menyebabkan semburan air yang lumayan kuat. Guru Fernand yang tidak menyadari itu terhempas beberapa langkah dan kehilangan keseimbangannya lalu terjatuh ke tanah.


Ibu yang melihat itu terkejut dan menutup mulutnya dengan salah satu tangan nya.


'Yey!!! Berhasil!.' Batin ku senang.


Tap.


Aku turun dari pohon dan berlari pelan menghampiri guru Fernand.


"Guru, apa kamu baik-baik saja??." Tanya ku dengan khawatir.


Sekarang aku khawatir pada guru ku, pasalnya dia hanya bengong dan pandangan matanya membulat sempurna.


"Guru?." Aku menepuk pundaknya kali ini.


Guru berkedip beberapa kali dan kemudian menengok ke samping, tepatnya ke arah ku.


"Sherlin....."


"Ya, guru?." Aku tersenyum lebar hingga mata ku menyipit.


'Mwehehe, guru sepertinya sangat syok. Hihi entah mengapa melihat guru yang seperti ini membuat ku senang.' Ucap ku dalam hati.


"Bagaimana.... bisa!?."


"Eumm ahaha, guru sepertinya kita harus beristirahat dulu... Pakaian mu basah."


Yups, benar sekali. Sekarang ini hampir semua pakaian guru Fernand basah kuyup. Ahh kejam nya aku sampai membuat guru ku sendiri menjadi seperti ini~


Tapi, aku sudah berbaik hati untuk tidak memberikan guru Fernand peledak api. Jika tidak mungkin sekarang guru Fernand bukan basah kuyup tapi gosong!.


UPS, perhatian kata-kata mu Sherlin~ itu terlalu vulgar.


Ahh aku keceplosan hehe.


"Ahh ya...baiklah."


Guru Fernand menjawab sambil menganggukkan kepalanya.


Tap tap tap.


Kami beristirahat di gazebo taman terdekat dari tempat latihan kami tadi. Ibu menyuruh pelayan untuk membawakan handuk kering dan handuk basah.


Sembari menunggu pelayan datang, ibu memberikan ku dan guru sebuah cake kecil kesukaan ku dengan berbagai jenis rasa, oh tak lupa juga secangkir jus untuk ku dan secangkir teh hangat untuk guru Fernand yang kedinginan.


"Nyonya, ini handuknya.." Pelayan itu membungkukkan badannya setelah memberikan handuk itu kepada ibu.


"Ya, kembalilah."


"Baik nyonya."


Setelah pelayan itu pergi, ibu memberikan handuk kering untuk guru. Dan mengusap wajah dan lengan ku yang kotor dengan handuk basah.


"Sherlin, kamu sudah bekerja keras...ibu bangga pada mu!. Kamu benar-benar mirip seperti ayah mu saat sedang bertarung." Ibu tersenyum lembut ke padaku.


"Ahh hehe." aku hanya menyengir dan menggaruk tengkuk ku yang tak gatal.


"Oh ya, tuan Zelary. Apakah anda perlu sesuatu? anda nampak berantakan."


Rambut yang berantakan, pakaian yang basah kuyup lalu muka yang sedikit kotor membuat yang melihat nya menjadi terheran dan sekaligus terpesona. Yahh karena wajah guru tamvan jadi bukannya menjadikan tampilan nya buruk melainkan menjadi lebih unmmm...h-hot.


Oh astaga! apa yang aku pikirkan???.


"En, tak ada nyonya." Balas guru santai.


"Baiklah kalau begitu."


"Sebelumnya terimakasih karena sudah mengajar putri saya dengan baik tuan Zelary. Jika ada yang anda inginkan, saya akan berusaha mengabulkan nya tuan." Ibu dengan tulus berterimakasih dan dengan berwibawa berkata demikian.


"Ya, tak perlu berterimakasih nyonya. Bagi saya mengajar putri anda merupakan sebuah kehormatan. Lalu, anda tak perlu melakukan itu nyonya. Saya tidak akan meminta apa-apa. Lagi pula ada sebuah kesenangan tersendiri jika saya mengajar putri anda. Juga putri anda memiliki bakat sihir yang sangat bagus nyonya. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk mengasah kemampuan putri anda."


"Ahh, begitu... hohoho." Ibu tertawa dengan anggun dan menutupi sebagian mulut nya dengan sebuah kipas.


*HEI HEI~


JIKA ADA TYPO TOLONG KASIH TAHU AUTHOR YA~


TBC*

__ADS_1


__ADS_2