
"Dasar payah! dasar lemah!." Ujar Sherlin menatap Robert sinis.
"Tsk! kamu curang! sebenernya benda aneh apa itu!?." Robert mendecakkan lidahnya.
"Jangan mengelak lagi! akui kekalahan mu bocah wortel!!." Sherlin mengerutkan keningnya.
"Ya! akui kekalahan mu bocah menyebalkan!." Penelope berteriak.
"Apa!? kamu!!!."
"Ugh, kamu diam saja! padahal dari tadi kamu hanya menonton saja tapi kenapa kamu yang cerewet!?." Robert menatap jengkel pada Penelope.
"Hah!? d-dasar! k-kamu!!."
"Apa!?."
"Cih, yang benar saja...mereka berdua mulai lagi..." Sherlin bergumam pelan.
"Dasar tidak sopan! kamu itu $@_#!!."
"Heh! kamu yang ¥£¥¢$#!!!."
"Kamu!!!."
"Kamu!!!!."
Ekhem!
Saat ini Sherlin, guru Fernand dan Robert sedang berlatih sihir bersama di tempat biasa Sherlin belajar sihir bersama guru Fernand lalu ditemani dengan Penelope dan Felix yang menjadi penonton.
Dan sekarang Sherlin, Penelope dan si bocah wortel sedang berdebat. Mereka baru saja berduel dan di sini Sherlin pemenangnya, tapi si bocah wortel tidak mau menerima kekalahan nya sendiri. Dia terus-terusan memberikan alasan seperti, Sherlin curang lah, tidak adil lah dan masih banyak alasan alasan omong kosong lainnya.
Awalnya Sherlin, penelope dan guru Fernand berlatih sihir dengan damai dan tentram tapi tiba-tiba saja si bocah wortel datang tanpa di undang ke kediaman Edinburgh dan dengan percaya diri mengajak berduel dengan Sherlin.
Flashback~
POV SHERLIN
Siang hari di kediaman Duke Edinburgh.
Sinar matahari menerpa wajahku, keringat perlahan-lahan bercucuran. Pakaian yang kukenakan terlihat kotor, banyak sekali debu dan tanah yang menempel di sekujur tubuhku. Berbeda dengan guru Fernand, dia terlihat sangat berkebalikan dengan ku. Tidak terlihat sedikit pun kotoran debu di pakaiannya, raut mukanya pun terlihat sangat santai.
Latihan kali ini bertujuan untuk meningkatkan kecepatan dan ketangkasan ku dalam bertarung dan kami berdua sudah lima kali melakukan latihan ini dengan skor 3-2. Yah...tentu saja guru Fernand yang mendapat skor tiga. Dia selalu saja bisa menangkis peluru ku dan akibatnya aku selalu jatuh menghantam tanah. Ugh! rasanya tubuhku sudah berkali-kali mencium tanah! aku mati rasa!!!.
"Sherlin! semangat!." Penelope berteriak sambil melambaikan tangannya.
Aku mengangguk dengan cepat "Ya!."
Huh untung saja ada Penelope, penyemangat ku. Dia selalu memberikan ku semangat saat aku terjatuh ke tanah. Ahh~ Penelope memang sahabat ku yang paling pengertian~. Dan Felix, dia hanya menonton dengan tatapan datar. Tapi di saat aku terjatuh ekspresi nya seperti menghinaku kalian tahu!?. Dia memang menyebalkan.
Aku menutup mata lalu menghirup nafas dalam-dalam dan dengan perlahan menghembuskan nya.
"Huuuffftt."
Wush.
Tap.
Aku memasang kuda-kuda dan memasang ekspresi serius di wajahku.
Sriiinggggg.
Senjata api muncul di kedua tangan ku, sedetik kemudian aku berlari dengan cepat ke arah Guru Fernand dan melompat.
Tap.
Wush.
Dorr! Dorr! Dorr!
Tiga tembakan cepat diluncurkan oleh ku menuju Guru Fernand. Tiga peluru yang di barengi dengan tiga jenis sihir mana melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah tiga anggota tubuh guru Fernand yaitu lengan sebelah kanan dan kiri serta kaki kanan.
Melihat peluru yang diluncurkan begitu cepat guru Fernand tersenyum tipis, dia merapalkan mantra dengan cepat. "επίγεια ασπίδα."
__ADS_1
Wushh.
Sebuah tembok yang terbuat dari tanah muncul di depan guru Fernand, dan peluru yang sedikit lagi akan mengenai guru Fernand menancap dengan berurutan di tembok yang terbuat dari tanah itu.
Jleb.
Jleb.
Jleb.
"Tingkatkan kecepatan mu! ini masih sangat kurang!." Guru Fernand dengan lantang berteriak.
"Baik!." Jawab ku lantang.
Aku kembali memasang kuda-kuda dan melompat ke atas dengan bantuan sihir angin.
Tap.
Wushh.
Dorr! Dorr!
Dorr!
Syuuuu.
Peluru yang ditembakkan kali ini dilapisi dengan mana sihir angin jadi kecepatannya bertambah dua kali lipat.
Tak berselang lama sebelum peluru yang tadi ditembakkan mengenai guru Fernand, aku mengubah posisi ku ke sebelah kiri guru Fernand dan menarik pelatuk senjata api ku berulangkali.
Dorrr!
Dorr!
Dorr!
Dorr!
Syuuuu.
"ανεμοστρόβιλος!."
Brushhhh.
Klang.
Klang.
Sebuah pusaran angin muncul dan memantulkan serangan peluru yang ditembakkan.
Pusaran angin kencang yang muncul menutupi semua tubuh guru Fernand. Guru Fernand berada di tengah-tengah pusaran angin itu.
"Ugh!." Aku menggertak gigiku.
"Sherlin, serangan mu masih bisa ditebak. Gunakan strategi yang lebih efisien!."
"Ya!." Aku menganggukkan kepalaku dan memejamkan mata.
'Strategi apa yang cocok?.' Batin ku bingung.
'Ini lebih mirip seperti bermain game tembak dengan sistem! peluang menang nya sangat sedikit! jika ingin menang kamu harus berhasil mengelabui sistem nya terlebih dahulu, tapi bukankah sangat sulit untuk mengelabui guru Fernand yang persis seperti sistem itu!?.'
Aku menggigit ujung bibir ku, aku harus berpikir cepat untuk membuat sebuah rencana atau jurus baru yang bisa mengelabui guru Fernand.
Jika hanya gerakan tembakan biasa seperti tadi tidak akan berhasil, guru Fernand sudah mengetahui letak kelemahan gerakan itu. Dan kalau aku meningkatkan gerakan berpindah tempat memang ada peluang tapi aku ragu apakah tembakan ku nanti akan tepat sasaran? bisa-bisa kakiku terkilir dan aku jatuh mencium tanah karena keseimbangan ku kurang ditambah dengan tubuh yang masih kecil ini.
Hmmm, serangan yang cepat dan tepat sasaran....apa.. ya?
Yosh!..aku ingat!
Heh!
Aku menyeringai, akhirnya aku dapat menemukan serangan yang tepat untuk menyerang guru Fernand.
__ADS_1
Aku memejamkan mata dan berkosentrasi, ini agak sulit karena cara kerja serangan yang akan dibuat lumayan rumit. Tapi, itu sepadan dengan serangan ini.
Wush!
Angin berhembus kencang, rambut ku melambai-lambai kebelakang. Aku membuka mataku dan tersenyum lebar. Serangan yang baru ku buat...berhasil!
Tepat saat angin berhembus kencang, sekumpulan peluru kendali yang kecil melayang-layang disekitar ku. Kurang lebih ada sekitar empat sampai enam peluru kendali yang berhasil di bentuk olehku, oke ini membutuhkan banyak sekali mana jadi sementara ini adalah batas kemampuanku.
Aku tidak bisa lagi menambah peluru kendali dalam satu serangan lagi karena tubuhku sudah mencapai batasnya, jika aku memaksakan untuk membuat lagi tubuh ku yang kecil ini tidak akan mampu menahan beban tekanan dari serangan ini. Menjadi anak kecil ternyata agak tidak nyaman ya?.
Di sisi lain guru Fernand, Penelope dan Felix yang melihat teknik serangan baru ku tampak terkejut. Guru Fernand tidak bisa berkata-kata lagi. Muridnya sekarang membuat benda aneh lagi yang membuat kepalanya pusing.
Aku memejamkan mata ku lagi dan kali ini aku sedang mengalirkan mana pada peluru kendali ku.
Syutt.
Aku meluncurkan peluru kendali ini secara beruntun pada guru Fernand.
Wushhh.
Guru Fernand segera membuat pertahanan dari dinding tanah."επίγεια ασπίδα."
Boommm
Peluru kendali meledak dan menghancurkan dinding tanah yang dibuat guru Fernand sampai guru Fernand terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Apa!?."
"Bagaimana bi–.
Guru Fernand tercekat melihat ada lagi peluru kendali yang diluncurkan ke arahnya.
Boommm
Wushh.
'Hampir saja..'
Peluru kendali itu meledak di samping kanan guru Fernand. Tapi, untung saja guru Fernand segera melompat menjauh dari sana.
Boommm
Peluru kendali kembali meledak, guru Fernand memasang penghalang di sekitar tubuhnya dengan mana.
'Ugh! daya ledak nya dahsyat sekali! benteng tanah ku di buat hancur oleh benda aneh itu. Sebenarnya benda apa yang dibuat oleh Sherlin ini??.' Guru Fernand berbicara dalam hati nya.
'Daya ledaknya itu mirip dengan bola api tapi anehnya benda itu bisa mengikuti arah gerakan ku.'
Booomm
Peluru kendali lagi-lagi kembali meledak tepat di penghalang guru Fernand.
Pyarrr.
Penghalang sihir yang dibuat Guru Fernand retak dan hancur.
Guru Fernand menjatuhkan rahang nya.
"Bagaimana bisa!?."
Aku terkekeh geli melihat reaksi guru Fernand.
"Hahahaha, guru masih tersisa satu lagi!." Aku menunjuk ke arah peluru kendali yang meluncur dari belakang ke arah guru Fernand.
Guru Fernand terkejut dia langsung membalikkan badannya melihat ke belakang.
Boommmm.
Peluru kendali itu meledak tepat di depan guru Fernand.
Guru Fernand sempat membuat penghalang tapi sepertinya itu tidak berhasil menghalangi ledakan itu, alhasil dia terpental ke belakang dan akhirnya jatuh mencium tanah.
"G-guru!." Aku berteriak cemas.
__ADS_1
Aku tidak menyangka jika peluru kendali ku berhasil mengenai guru Fernand, oh astaga! ini gawat! apakah guru Fernand baik-baik saja!?.