The Villainess And Modern Weapons

The Villainess And Modern Weapons
Chapter 43 Pesta teh 1


__ADS_3

Duke menatap kepergian Sherlin dengan gugup.


Sementara itu, Sherlin berlari dengan cepat menuju ke kamarnya.


'Kuharap Gloxinia membereskan Felix dengan baik!.' Sherlin bergumam pelan.


Brakk.


Sherlin membuka pintu kamarnya dengan kasar, suara yang dihasilkan nya begitu keras membuat Gloxinia dan Felix terperanjat.


"Nona!?."


Sherlin tersenyum merekah, dia memeluk Gloxinia erat. Gloxinia bersemu merah, dia membalas pelukan Sherlin.


"Kamu sudah menangani Felix kan?."


Gloxinia menganggukkan kepalanya. "Tentu nona, Felix sudah ditangani dengan baik!."


"Bagus!."


Sherlin melepaskan pelukannya dan menatap pada Felix yang sedang duduk dan memakan suatu makanan.


"???."


Sherlin menatap makanan itu bingung. Dari mana Felix mendapatkan makanan itu?? apa dia menyelinap lagi ke dapur?.


Gloxinia yang mengerti keadaan Sherlin langsung menjelaskan bagaimana Felix mendapatkan makanan tersebut.


Sepertinya Gloxinia sangat peka sekali, berbeda dengan seseorang:^.


Sherlin menganggukkan kepalanya, ah ternyata Gloxinia yang memberikan nya makanan itu. Haahh pantas saja Felix begitu tenang, rupanya Gloxinia menyogok Felix dengan makanan. Apalagi itu adalah makanan favoritnya, daging ikan goreng!.


...----------------...


Waktu berlalu dan matahari terbit dari timur, angin segar khas pagi hari membuat hati terasa tenang.


Suara para pekerja kediaman Edinburgh yang sedang bercanda gurau sembari melaksanakan pekerjaannya masing-masing, menjadikan suasananya terlihat harmonis.


Tapi sepertinya keharmonisan dan ketenangan hati itu tidak ada di dalam ruangan makan. Pasalnya Duke dan Duchess masih belum berbaikan.


Duchess sedari tadi menatap tajam Duke dan beberapa kali mendengus jengkel. Berbeda dengan Duke, dia hanya bisa menghindari tatapan mematikan dari istrinya itu dan hanya diam sembari sesekali melirik dengan hati-hati pada Duchess.


Dan tentu saja, Sherlin dan para pelayan yang menyaksikan sendiri bagaimana panasnya suasana itu hanya bisa menggelengkan kepala dan menghela nafas diam-diam.


Sherlin memakan sarapannya dengan pelan, dia kemudian meletakkan garpu dan pisau nya.


'Huufttt, gara-gara pertengkaran ayah dan ibu, sarapan ku menjadi berantakan. Aku menjadi tidak selera untuk melanjutkan sarapan ku.' Sherlin gelisah, dia mengetuk-ngetuk meja makan dengan jari telunjuknya beberapa kali sembari memandangi ayah dan ibu nya bergantian.


"Oh ayolah, aku menjadi tidak nyaman. Kenapa kalian terus-terusan seperti ini? cepatlah berbaikan ayah! ibu!."


Duchess dan Duke tidak bereaksi, mereka hanya memakan sarapannya masing-masing dengan diam.


Apa-apaan!?.


Alis Sherlin berkedut, dia kemudian mengambil gelas yang berada di samping lalu meminumnya.


Klak.


Duchess bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan.


Blammm.


Pintu di tutup dengan keras membuat Sherlin dan Duke terkejut.


Krik...krik...krik...


Suasana menjadi hening dan canggung, Sherlin menaikkan sebelah alisnya dan mengambil satu buah anggur lalu memakannya.


Tak lama kemudian Sherlin berdiri dan menghampiri Duke lalu berbisik.


"Ayah! apa kalian belum berbaikan? apakah semalam belum cukup?."


"Oh putriku, ayah tidak ada kesempatan untuk bertemu dengan ibu mu itu."


Sherlin menatap datar ayahnya, ternyata Duke begitu payah.


"Baiklah, putri mu ini akan membantu!. Ayo bertemu di halaman belakang sore nanti!." Sherlin tersenyum smirik.


Duke mengangguk. "Baiklah."


Sherlin dan ayahnya saling tersenyum, dengan di akhirinya bisik-bisik an itu sarapan pagi yang absurd pun ikut berakhir.


Tak tuk tak tuk.


Suara kereta kuda terdengar, kereta kuda itu memasuki pekarangan kediaman Edinburgh dan berhenti di depan halaman depan.


Tap.


Seorang wanita paruh baya turun dari kereta kuda tersebut, dia tersenyum dan bergumam. "Kediaman yang sangat megah."


Kepala pelayan datang, dia menghampiri wanita paruh baya itu dan membungkuk. "Selamat datang, madam."


Wanita itu adalah madam Clea, dia datang kesini untuk mengantarkan gaun pesanan Sherlin.


"Terimakasih banyak atas sambutan nya, sir." Madam Clea ikut membungkukkan badannya.


Sebastian mengangguk dan mengantar madam Clea masuk ke mansion.


Tap tap tap.


Sherlin menuruni tangga dengan anggun, dia tersenyum lembut. "Anda sudah datang, madam."


"Ya nona muda, suatu kehormatan bisa datang ke mansion Edinburgh yang megah ini." Madam Clea memberi salam dengan sopan.


"Fufufu, mari madam."


"Saya akan mengantar anda ke ruangan ibu.."


"Tentu nona."


Di ruangan Duchess.


Tok tok.


Sherlin mengetuk pintu dan memanggil ibunya. "Ibu, aku membawa madam Clea."


Klek.

__ADS_1


Pintu dibuka oleh Duchess dia menyambut Sherlin dan madam Clea hangat.


"Selamat datang madam Clea." Duchess mempersilahkan madam Clea untuk duduk.


Dia memberi perintah pada pelayan untuk membawa teh.


Mereka bertiga berbincang-bincang dengan harmonis membicarakan tentang gaun yang di pesan Sherlin.


Dan hasilnya, gaun itu sudah siap dengan sempurna untuk di pakai di pesta teh nantinya. Sebuah gaun selutut hijau cerah bercorak dengan hiasan rambut berbentuk bunga berwarna putih dan di iringi daun-daunan yang melilitnya membuat gaun itu terlihat manis. Sepatu dan sarung tangan yang sepasang juga memiliki corak yang indah.


Jika Sherlin memakainya, akan terlihat seperti peri hutan yang menawan. Dengan kulit putih nya gaun itu akan terlihat sangat cocok, bahkan rambutnya yang berwarna merah dipadukan dengan gaun hijau membuat dia seperti bunga mawar dengan tangkai hijau dan bunga merah cerah.


"Hohoho, gaun buatan anda memang selalu mengagumkan." Duchess tertawa sembari mengkipasi dirinya.


"Anda terlalu menyanjung nyonya Duchess." Ujar madam Clea merendah.


Sherlin masih tersenyum manis tapi sayangnya tidak dengan hatinya. Dia lelah menahan senyumnya dalam waktu yang lama, bisa dipastikan kerutan akan muncul nanti.


Tangan Duchess meraih tangan madam Clea, dia membuka suaranya. "Madam, tolong kirimkan lagi lima buah gaun untuk putriku." Ujar nya santai.


Madam Clea dan Sherlin melebarkan matanya.


"......"


'What the hell.' -Sherlin.


...----------------...


Hari demi hari berlalu, hingga hari di mulainya pesta teh tiba.


Dari subuh tadi, Sherlin sudah sangat sibuk. Ekhem lebih tepatnya bukan dia yang sibuk tapi pelayan nya yang sibuk sedang merias dirinya.


Sudah lebih dari satu jam dia hanya duduk di dekat meja rias, Lili menggonta-ganti gaya rambutnya selama lebih dari lima kali!. Dan para pelayan yang lain yang menghias wajahnya dengan berbagai bedak dan pemerah pipi juga bibir.


Sherlin menghela nafas, dia memiringkan lehernya. "Oh ayolah Lili, aku pegal! bisakah gaya rambut yang sederhana saja?. Aku sudah tidak tahan."


Lili menggelengkan kepalanya sembari kembali meluruskan kepala Sherlin. "Tidak bisa nona, anda harus tampil sempurna!. Bagaimanapun nyonya Duchess juga menyuruh saya untuk membuat anda bersinar di pesta teh nanti!."


Alis Sherlin berkedut. "Bersinar? apa menurutmu aku itu patung porselen?."


"Tidak nona! anda lebih dari itu!. Anda bagaikan berlian cantik yang harus di poles dan di rawat dengan sepenuh hati! di kediaman Edinburgh ini anda adalah mutiara hati kami!."


Para pelayan yang lain mengangguk serentak. Mereka saling mengoceh.


"Benar nona muda! anda itu sangat berharga!."


"Ya, itu betul!."


"Ya, anda adalah malaikat kecil kami yang berharga!."


Gloxinia yang berada di pinggiran sudut hanya tersenyum, dia memandangi Sherlin.


Sherlin melirik ke arah Gloxinia, tidak biasanya dia diam saja. Biasanya Gloxinia yang paling heboh menyangkut diri nya.


Sementara itu, Felix hanya diam di pojokan. Dia sudah berpenampilan glamor. Bulunya yang putih terlihat lembut dan wangi, di ekornya terpasang pita berwarna biru yang serasi dengan warna matanya.


Kalung berlian berwarna putih dengan batu permata biru terpasang manis di lehernya. Felix saat ini terlihat seperti kucing perempuan! harga dirinya jatuh sekarang!.


Dan tentu saja, dengan di riasnya Felix dia juga akan ikut ke pesta teh. Sherlin berniat membawanya, karena untuk memudahkan nya menjadi pusat perhatian. Bukankah dengan membawa seekor peliharaan cantik membuat para orang tertarik? terutama para gadis bukan? mereka biasanya sangat tertarik dengan hal-hal yang imut dan cantik.


Dan Felix mempunyai semua kriteria itu. Dia imut, cantik dalam artian bentuk rupa, dan menggemaskan.


Beberapa saat kemudian.


Sherlin sudah siap sepenuhnya, dia tersenyum.


"Kalian sudah bekerja keras."


Gaun hijau cerah bercorak daun melekat indah di tubuhnya. Sarung tangan dan sepatu yang mempercantik tampilan, liontin berbentuk daun berwarna hijau pekat tergantung di lehernya.


Hiasan wajahnya juga nampak natural. Sepertinya para pelayan memiliki bakat yang tinggi.


Dan mengenai gaya rambut yang di buat Lili, dia menyelesaikan nya dalam waktu yang lumayan singkat. Sekitar dua puluh menit.


Rambutnya di gulung seperti bunga di sisi kiri dan di hias dengan bunga berwarna putih.



Para pelayan menitikkan air mata, mereka dengan dramatis memuji hasil karya mereka.


"Ini maha karya."


"Nona muda memang sangat menawan."


"Nona seperti putri dalam dongeng."


"Hei! bukankah nona muda memang seorang putri? apa kamu pikun!?."


"Ah ya...aku lupa sesaat."


Sherlin melihat ke arah Felix. "Kyaa! Wow Felix kamu sangat CANTIK."


Sherlin dengan sengaja menekan kata terakhir, membuat Felix yang mendengarnya menjadi emosi.


Felix mengumpat dalam hatinya. 'Dasar bocah tengik! _#.'


"Meow!."


Felix mengeong membuat para pelayan berteriak sambil mengepalkan tangannya dan memukuli dada mereka.


"Kyaa>//< kucing nona muda sangat imutt!!."


"Oh tidak! hatiku!!."


"Ughh aku tidak bisa menahan serangan keimutannya!!!."


Sherlin terkekeh-kekeh, dia menggendong Felix dan segera pergi ke halaman depan.


Duke dan Duchess menyambut Sherlin di halaman depan. Tangan Duke terlihat melingkari pinggang Duchess, sepertinya mereka sudah berbaikan. Yahh itu semua karena bantuan Sherlin.


Dua hari sebelumnya, Sherlin dan Duke merencanakan pertemuan di halaman belakang. Mereka merencanakan sesuatu.


Flashback :


Tap tap tap.


Duke berjalan dengan cepat menuju halaman belakang. Terlihat Sherlin berdiri di sana dengan memegang sebuah buku.

__ADS_1


"Ayah, kamu terlambat." Sherlin berbalik dan berkacak pinggang.


"Hah? ayah hanya terlambat satu menit."


"......tsk, sudahlah. Ini!." Sherlin berdecak dan memberikan satu buku yang dipegangnya.


Duke menatap buku itu dengan bingung. Buku itu berjudul "1001 cara menjadi suami yang baik." Dan memiliki ketebalan yang luar biasa.


"Seribu satu cara menjadi suami yang baik? apa maksudnya ini Sherlin?."


Sherlin mendengus. "Itu adalah panduan menjadi suami yang baik! ayah harus membacanya dan melakukan setiap yang ada di buku dengan baik."


Ayah Sherlin menaikkan alisnya. Dia membuka buku itu dan membacanya sekilas. Beberapa detik kemudian mukanya memerah.


"Dari mana kamu mendapatkan buku ini Sherlin!?."


Sherlin menaikkan bahunya. "Aku mendapat buku itu dari perpustakaan, memangnya kenapa?."


"....tidak ada!."


Duke menggigit jarinya. 'Tsk, apakah Sebastian mengatur perpustakaan dengan baik? kenapa bisa ada buku seperti ini di perpustakaannya? atau penjaga perpustakaan yang menaruh buku ini??.'


'Bisa-bisanya putri ku yang polos menemukan buku ini!.'


Duke berdehem pelan sembari menatap Sherlin. " Ekhem...Sherlin, sebaiknya kamu jangan dulu datang ke perpustakaan."


"Apa? memang nya kenapa ayah?."


"Perpustakaan itu akan ayah bongkar dan di perbaiki."


Sherlin terkejut. "Ayah! bukankah perpustakaan itu tidak rusak!? kenapa harus di bongkar dan di perbaiki lagi?."


"Kamu tidak perlu tahu, cukup melihat saja nantinya. Ayah akan membangun perpustakaan khusus untuk mu nanti." Duke berbicara sambil berjalan menjauh.


"E-eh!? a-ayah! tunggu....haaahhh.." Sherlin menghela nafas.


Kenapa ayahnya melakukan itu? bukankah perpustakaan baik-baik saja?. Tapi.... perpustakaan khusus...tidak buruk juga.


Flashback tutup.


"Kamu sangat cantik hari ini Sherlin." Duchess menggenggam tangan Sherlin lembut.


Sherlin tersenyum manis dan terkekeh. "Terimakasih ibu."


"Bawalah ini." Ujar Duchess sembari memberikan kipas.


Sherlin menerima kipas itu, matanya berkilau. Menurut nya kipas ini sangat indah. Mereka memiliki corak bunga lili yang cantik dan detail,


"Hati-hati dijalan putri ku, dan jika ada yang mengganggu atau membuat mu tidak nyaman beritahu ayah." Duke tersenyum hangat.


Sherlin menganggukkan kepalanya dan segera naik ke kereta kuda.


Tap.


Dengan di bantu salah satu ksatria, Sherlin menaiki kereta kuda dengan mulus.


"Ayo berangkat."


"Baik nona."


Tuk tak tuk tak.


Kereta kuda yang dinaiki Sherlin mulai berjalan meninggalkan kediaman Duke Edinburgh.


Di sepanjang jalan, orang-orang melambaikan tangannya pada Sherlin. Sherlin yang melihat itu membuat hati nya senang, dia tersenyum lebar dan membalas lambaian mereka.


"Tsk, dasar bocah." Felix mendecakkan lidahnya.


Sherlin terdiam, dia melirik ke arah Felix dan menatapnya tajam.


"....."


"Ekhem! Felix, kamu harus menjaga sikap mu nanti di sana." Sherlin bersidekap tangan sembari menaikkan kaki kanannya ke kaki kirinya.


"......Hm."


Sherlin mendelikkan matanya, dia dengan jengkel menatap pada jendela dan memandangi langit-langit yang cerah.


'Hari yang cerah. Ku harap ini berjalan seperti yang seharusnya.'


S


K


I


P.


Setelah beberapa waktu, kereta kuda dengan lambang Edinburgh itu memasuki wilayah kekuasaan Count Evans.


Kereta kuda tersebut berhenti tepat di depan gerbang masuk kediaman Count Evans.


Tap.


Sherlin turun dengan anggun dibantu oleh kstaria.


"Terimakasih, sir Nocton." Sherlin tersenyum manis.


Kstaria yang mendampinginya kali ini adalah 'Nocton Kylp'. Dia adalah kstaria yang tangguh dan dia berasal dari keluarga Kylp yang sudah lama mengabdi pada Edinburgh. Dan baru-baru ini dia menjadi kstaria keluarga Edinburgh, yahh dia adalah anak bungsu keluarga Kylp. Jadi, dia adalah yang termuda dan terbaru pada para kstaria yang bekerja di Edinburgh.


Tapi, meskipun dia masih muda dan baru keahlian berpedang nya tidak bisa di anggap remeh. Di usia yang ke-17 ini dia sudah menjadi sword master level 4. Pencapaian itu tidak bisa di capai dengan mudah oleh orang biasa.


Dan yang terpenting, dia termasuk ke dalam daftar calon ksatria pribadi Sherlin.


Para bangsawan biasanya akan memiliki kstaria pelindung setelah debut atau setelah mereka mencapai kriteria usia dewasa di kekaisaran. Seperti William, dia akan merayakan pesta kedewasaannya beberapa bulan lagi. Jadi, setelah pesta kedewasaan dia akan memilih kstaria pribadi.


Ekhem, kembali ke Sherlin.


Dia berjalan dengan anggun menghampiri kepala pelayan yang berada di depan gerbang mansion Evans.


"Selamat datang di kediaman Count Evans, putri Edinburgh." Kepala pelayan itu membungkukkan badannya.


Sherlin tersenyum manis. "Terimakasih sambutannya, tuan."


Dia menatap pada kepala pelayan kediaman Evans itu dan tersenyum penuh arti.


Kini, rencana yang sesungguhnya dimulai.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2