The Villainess And Modern Weapons

The Villainess And Modern Weapons
Chapter 38 Keputusan untuk menjadi bunga sosialita!


__ADS_3

Angin berhembus sepoi-sepoi menerbangkan sejumlah daun yang berguguran. Matahari perlahan-lahan mulai menunjukkan dirinya, sinar nya menembus ke gorden-gorden yang tertutup.


Seorang gadis berambut merah menggeliat. Tempat tidurnya terlihat berantakan dengan selimut yang kusut dan beberapa buah bantal yang berserakan di lantai. Gadis itu menguap. "Hoaammm."


Sejak subuh tadi, para pekerja di kediaman Edinburgh mulai mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Termasuk Lili dan Gloxinia. Mereka berdua saat ini sedang dalam perjalanan untuk membangunkan majikan muda nya.


Klak.


Krieett.


Tap tap tap.


"Nona!." Lili menyingkapkan selimut yang melilit sebagian besar tubuh Sherlin.


"......" Tidak ada jawaban. Sherlin seperti nya masih berada dalam mimpi.


Lili melirik ke arah Gloxinia, mereka berdua menganggukkan kepalanya.


Dengan pelan Gloxinia berjalan ke arah gorden dan membukanya.


Sraakk.


Wushh.


Sinar matahari yang tadinya terhalang gorden langsung tertuju pada Sherlin yang sedang terlelap.


Sherlin mengerinyit. "Ugh! silau.."


Dia kemudian dengan pelan bangun dan duduk.


"Sudah.. pagi ya?. Hmm, rasanya cepat sekali...tidak terasa ya.."


Lili dan Gloxinia mengangguk dan tersenyum kecil. "Mari nona, ayo bangun dan segera bersiap."


Mereka berdua melirik satu sama lain dan mengedipkan mata. 'Berhasil!.'


Membuka gorden adalah satu-satunya cara yang bisa membuat Sherlin terbangun dari tidurnya.


"Oh..ya, baiklah." Sherlin membalas dengan pelan.


"Eh! Tunggu! Lili, kapan pesta teh nona Evans di selenggarakan? aku baru ingat sekarang kalau di surat nya tidak tertera waktu yang jelas."


Lili tersenyum, "Lima hari lagi, nona. Saya mendapatkan informasi ini dari kepala pelayan. Kemarin pelayan yang mengantarkan surat nona ke kediaman Count Evans di beritahukan jika pesta teh nya akan di majukan lebih cepat dan di selenggarakan lima hari dari sekarang."


Sherlin ber'oh'ria, dia mengangguk dan kemudian turun dari kasurnya.


Tap tap tap.


Sherlin berhenti sejenak dan berbalik. "Tunggu apa lagi? ayo, katanya harus bersiap-siap bukan?."


Lili dan Gloxinia membalas dengan cepat. "Tentu nona, mari."


...:彡:彡:彡:彡:彡:彡...


Klang klik klak.


Suara dentingan peralatan makan memenuhi ruangan. Duke, Duchess dan Sherlin berada dalam ruangan makan. Mereka sarapan pagi dengan tenang.


Seperti biasanya, setelah selesai makan mereka bertiga berbincang-bincang terlebih dahulu.


Duke mengambil sapu tangan dan membersihkan bibir nya. "Ekhem, Sherlin.. ku dengar kamu mendapat surat dari kediaman Count Evans?."


Sherlin yang tadi sedang minum meletakkan gelas nya dan tersenyum. "Ya, itu benar ayah. Lady Evans mengundangku untuk datang ke rumah kaca nya dan minum teh bersama dengan para lady lain."


Duchess tersenyum kecil. "Putriku, apa kamu sudah menyiapkan gaunnya? ibu akan membantu mu memilih sebuah gaun untuk kamu pakai nanti di pesta teh nona Evans."

__ADS_1


Seketika Sherlin menggelengkan kepalanya cepat. "T-tidak perlu repot-repot ibu. A-aku sendiri yang akan menyiapkan nya haha. Lagipula mungkin Penelope juga di undang...j-jadi lebih baik aku pergi memilih gaun dengannya saja hahaha."


Sherlin tidak ingin kejadian waktu itu terulang lagi. Ibu nya terlalu berlebihan. Kalian ingat bukan? saat ibu nya Sherlin membelikan ba~nyak sekali gaun. Sherlin bergidik ngeri, lagipula gaun nya tidak terpakai semua tuh. Jadi ini terlalu boros, padahal uang nya bisa digunakan untuk yang lain.


Yahh meskipun begitu, Sherlin tetap menghargai perhatian ibu nya itu.


Setelah sarapan pagi bersama kedua orangtuanya, Sherlin seperti biasa menghabiskan waktu dengan bersantai di gazebo taman.


Sherlin juga membawa cukup banyak buku ke gazebo jadi dia meminta bantuan Lili dan Gloxinia untuk membawanya sebagian. Dan jangan lupakan Felix, dia tadinya mengikuti Sherlin dari belakang tapi tiba-tiba saja dia menghilang entah kemana.


Felix sepertinya memiliki hobi menghilang tiba-tiba dan secepat angin.


Tak.


Buku-buku yang dibawa di letakkan di atas meja dan di susun rapi.


Sherlin menoleh dan tersenyum manis.


"Terimakasih kalian berdua sudah membantu ku membawanya."


Lili dan Gloxinia mengangguk. "Sama-sama nona, senang bisa membantu."


Sebagai balasan Sherlin juga menganggukkan kepalanya, dia kemudian duduk dan mengambil salah satu buku yang ada di atas meja.


Tangan kanannya membuka sampul buku dan membalik halamannya. Sedetik sebelum membaca Sherlin mendongak dan menoleh pada Lili yang berada di sampingnya. "Oh Lili, tolong bawakan aku cemilan dan teh. Dan jangan lupa... cemilannya seperti biasa ya! Ups satu lagi! hari ini aku ingin minum teh chamomile dan bawakan juga koki yang membuatnya!."


Lili membungkukkan badannya dan segera bergegas menuju ke dapur. "Tentu nona."


Sherlin tersenyum melihat kepergian Lili, dia lalu menoleh pada Gloxinia.


"Gloxinia, bagaimana kunjungan mu tadi malam?." Sherlin tersenyum lebar.


Gloxinia membalas senyuman Sherlin dengan kekehan. "Hehehe, bisa di bilang...cukup mengunikkan?."


Sherlin tersentak, dia membuka mulutnya. "Gloxinia, dari mana kamu...haahhh."


Gloxinia mengedipkan mata nya beberapa kali dengan cepat. "Eee?? benarkah nona?. Ooohh begitu ya...maafkan saya nona."


Sherlin menggelengkan kepalanya. "Tak apa. Lain kali cukup ucapkan kata 'unik' saja jangan pakai embel-embel 'meng' dan 'kan' segala."


"Baik nona!."


a few moments later(~‾▿‾)~


Drap drap drap.


Lili kembali dengan membawa sebuah troli berisikan sekumpulan cemilan berbagai jenis, di belakangnya juga terlihat seorang pria dewasa yang membawa troli dengan teko dan cangkir bercorak bunga dengan dilapisi emas.


Lili membungkuk. "Nona, saya membawakan cemilan yang anda minta sekaligus membawa koki yang membuatnya."


Sherlin yang tadi sedang membaca menutup buku nya dan tersenyum. "Oh terimakasih Lili. Dan...anda pasti 'Dale' koki yang enam tahun di bawa oleh ibu dari desa Piro ke sini ya?."


Dale membungkuk. "Ya, anda benar nona. Saya Dale, koki yang membuatkan anda cemilan dan dessert. Sebuah kehormatan bisa melihat langsung dan melayani anda."


"Berdiri lah. Kamu sudah bekerja keras Dale, cemilan yang dibuat oleh mu selalu enak!."


"Nanti aku akan berbicara pada ibu untuk menaikkan gaji mu."


Dale tersentak, raut muka nya terlihat sangat terkejut. Sedetik kemudian dia menetralkan raut mukanya. "Ekhem! nona, anda tidak perlu repot-repot melakukan itu...s-saya sudah merasa puas dengan gaji saya yang sekarang."


"Tidak apa-apa, anggap saja itu bonus karena kamu sudah memberikan ku cemilan yang enak ini."


Dale berkaca-kaca, ternyata nona muda nya ini sangat baik hati dan tidak sombong! berbeda sekali dengan bayang-bayang dirinya tentang nona keluarga bangsawan lainnya. Tsk! dia harus menceritakan tentang kebaikan hati nona mudanya ini kepada penduduk desa Piro! nona muda! saya akan membalas anda dengan membangun reputasi baik untuk mu!


Dale tersenyum lebar dan mengucapkan terimakasih dengan berkali-kali.

__ADS_1


Sherlin mengangguk dan membiarkannya meninggalkan gazebo untuk kembali ke dapur.


Gloxinia tersenyum diam-diam, nona mudanya memang ahli dalam membuat kesan pertama yang baik.


Ekspresi Sherlin sekarang sangat tenang. Dia kembali membaca bukunya sambil sesekali menyeruput teh chamomile yang di sediakan di atas meja.


Dia sekarang nampak sangat anggun dan elegan, berbeda sekali dengan apa yang ada di dalam pikiran nya.


Di dalam pikirannya, Sherlin saat ini sedang berguling-guling dan meloncat-loncat kegirangan sambil tertawa senang.


'Yuhuuuu! membangun reputasi baik di mata rakyat check ✅. Kerja bagus diriku! kamu melakukannya dengan sa~ngatt baikk!.'


Yups seperti yang telah di perlihatkan, Sherlin sekarang sedang bersorak bahagia. Dia sudah memperkirakan apa yang akan Dale lakukan jika dia memuji dan menaikkan gajinya. Sherlin bertujuan untuk menjadi 'Bunga pergaulan kelas atas' Selanjutnya. Jadi, dia pertama-tama ingin membuat reputasi yang baik di mana-mana.


Sejak surat undangan pesta teh yang diberikan nona Evans, Sherlin sudah mengambil keputusan bulat untuk menjadi bunga sosialita. Jika menjadi bunga pergaulan kelas atas bukankah akan mendapatkan banyak keuntungan? seperti dukungan dari berbagai bangsawan maupun rakyat?. Yahh bisa dibilang ini merupakan salah satu cara untuk menyempurnakan rencana yang di buat Sherlin.


Waktu berlalu, matahari tepat berada di atas. Sinar nya begitu terik dan panas. Sherlin menghela nafas.


"Haahhh..sudah berapa lama aku membaca?." Sherlin melirik ke arah tumpukan buku yang sudah di bacanya. Tepat ada tujuh buku tebal yang sudah di baca. Sherlin mendongak melihat ke atas langit.


"Sudah siang hari ya...."


Sherlin melihat ke arah gerbang bunga yang merupakan pintu masuk ke taman ini.


"Dalam beberapa detik dia pasti datang." Gumam Sherlin.


Sherlin menyender pada kursi nya dan mengambil cangkir teh dan meminumnya dengan anggun.


Sluurpp.


"Satu....Dua....Ti...Ga."


"Sherliinnnn!!!." Sebuah teriakan terdengar dari arah gerbang bunga.


Seorang gadis berambut biru tua berlari menuju ke arah gazebo tempat Sherlin bersantai.


Drap drap drap drap.


Sherlin terkekeh dan bergumam. "Hehe, tuh kan datang."


"Selamat siang, Pene." Sapanya lembut.


Penelope dengan cepat duduk di kursi yang berada di depan Sherlin dan membalas sapaan Sherlin dengan ceria. "Selamat siang juga sahabat~."


Author : "K-kok...kayak ngedenger suara mbak kekeyi ya!?." (๑•﹏•)


Sherlin tersenyum kikuk dan berdehem. "Ekhem ekhem, Lili tuangkan secangkir teh untuk Pene."


"Baik nona."


"Ngomong-ngomong, Pene. Apa kamu...mendapat undangan dari nona Evans?."


Penelope tertawa kecil. "Heeheee. Tentu, Sherlin aku senang sekali. Tidak biasanya kamu memulai pembicaraan fufufu. Apa...ada sesuatu?."


Sherlin tertegun dia memalingkan wajahnya. "Hahaha, m-mana mungkin."


Penelope tersenyum jahil. "Hoo~? benarkah?. Oh ya, aku tidak melihat si bocah oranye menyebalkan itu? dia tidak kemari? heh syukurlah."


"Sherlin, kamu tahu? jika tidak ada dia, suasana menjadi tenang dengan awan cerah sebaliknya jika ada dia suasana seperti akan terjadi badai dengan awan mendung dimana-mana dan petir menggelegar. Dia itu sangat menyebalkan, tidak sopan dan mulut ember!."


Srak srak.


Tap tap tap.


"Ck ck ck, ternyata kamu menjelek-jelekkan ku di belakang ya?. Dasar gadis tidak bermoral!."

__ADS_1


TBC.


__ADS_2