The Villainess And Modern Weapons

The Villainess And Modern Weapons
Chapter 39 Tsundere tingkat akut


__ADS_3

"Ck ck ck, ternyata kamu menjelek-jelekkan ku di belakang ya?. Dasar gadis tidak bermoral!."


......................


Wushhh.


Angin berhembus, seorang bocah laki-laki berkacak pinggang dan menatap tajam pada Penelope yang sedang duduk-duduk santai bersama Sherlin di gazebo.


Tap tap tap.


Bocah itu tidak lain adalah Robert. Dia berjalan dengan pelan sambil terus menatap tajam Penelope, setiap satu langkah yang diambilnya tatapan nya semakin tajam.


Robert mendelikkan matanya, dia sekarang tepat berhadap-hadapan dengan Penelope.


"Heh! kamu jika berani ayo katakan langsung di depanku!?."


Penelope menggertakkan giginya dia membalas tatapan tajam Robert. "Cih! siapa takut!?. Aku akan mengatakan nya sekarang juga jik–."


Wushh.


Ucapan Penelope terhenti ketika melihat Sherlin yang tiba-tiba berada di tengah-tengah antara dirinya dengan si bocah wortel.


"Kalian berdua...sebaiknya diam. Robert, kamu jangan memulai pertengkaran dan duduk lah dengan tenang. Sedangkan kamu Pene, duduk saja ya?." Sherlin menepuk tangannya dan tersenyum lebar.


Penelope dan Robert bergidik dan dengan cepat duduk di kursi yang ada.


Sherlin tertawa dan kembali duduk. "Bagus!."


Untung saja saat ini Sherlin dalam mood yang lumayan bagus. Jika tidak dia juga akan ikut bertengkar dengan kedua bocah kekanakan ini.


Sedangkan Robert, dia terlihat sangat kesal dan kemudian mendengus. "Huh!."


Robert sangat jengkel, moodnya turun seketika saat mendengar ucapan Penelope padahal di perjalanan dia sedang dalam mood yang bagus.


Alasan Robert baru datang sekarang adalah karena dia mempunyai urusan yang lumayan penting jadi dia terlambat datang kemari.


Sherlin menoleh pada Lili dan menyuruhnya untuk menuangkan secangkir teh pada Robert, Lili mengangguk dan segera menyiapkannya.


Sluurpp.


Penelope menyeruput tehnya dan berdehem.


"Ekhem ekhem, Sherlin... mengenai pesta teh nona Evans...apa kamu sudah.. menyiapkan gaun?."


Sherlin tersenyum manis. "Wah, kebetulan sekali aku juga ingin menanyakannya Pene. Aku belum menyiapkannya, jadi aku ingin mengajakmu untuk membeli gaun baru ke butik 'Harmony's?."


Penelope langsung cerah seketika, dia mengangguk dan menyetujui ajakan Sherlin.


Penelope kemudian melirik ke arah Robert dengan tatapan mengejek. "Hei Robert, kamu tidak di undang ya? oh aku baru ingat jika ini kan pesta teh Perempuan. Jadi, tidak mungkin kan kamu ikut?."


Robert menatap jengkel pada Penelope, dia mengeluarkan aura suram.


Sherlin menatap Robert dan mengangguk. "Ya memang benar jika pesta ini khusus untuk perempuan saja...tapi, jika hanya membeli gaun itu tidak masalah walaupun Robert juga ikut."


Seketika, aura Robert berubah menjadi cerah ceria. Dia melemparkan tatapan kemenangan pada Penelope.


Penelope terkejut dan mengepalkan tangannya lalu memalingkan wajahnya. "Ugh! Hmph!."


Sherlin terkekeh dia kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan ke halaman depan.


"Ayo!, kita berangkat sekarang!." Sherlin berbicara tanpa berbalik ke belakang.


Penelope dan Robert terkejut. "Ehh!? sekarang!?."


Sherlin membalas dengan lantang. "Tentu saja! sekalian jalan-jalan mengisi waktu luang bukan?. Lagipula aku juga tidak mempunyai kegiatan apa-apa akhir-akhir ini."


"Oh! Baiklah." Balas keduanya, mereka berlari dengan cepat menyusul Sherlin.


......................


Jreng jreng jreng!!!!!


Tralalalala~


Ugh!


Alis Robert dan Penelope berkedut. Mereka sama-sama mengerinyit kan alisnya.


Sebuah kereta kuda mewah dan sekumpulan kstaria yang banyak berbaris menghadap ke arah mereka bertiga.


Robert melirik pada Sherlin. "Ada apa ini tomat? mengapa begitu banyak ksatria yang datang??."


Sherlin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Umm...a ahh.. Itu....haaahhh ayah dan ibuku yang menyuruh mereka untuk menjaga dan mengawal kita nanti."


Penelope bingung dia tidak tahu harus berkata apa, kepalanya seperti berputar-putar melihat ini semua.


Robert mengangkat sebelah alisnya, dia bertanya mengapa begitu banyak ksatria yang di tugaskan? padahal mereka bertiga hanya ingin berjalan-jalan di pusat kota. Dia merasa berubah menjadi tahanan yang di kawal banyak penjaga.


Sherlin mengangkat bahunya, dia juga tidak tahu kenapa ayah dan ibunya memberikan begitu banyak ksatria.


"Sudahlah, aku akan menyuruh mereka untuk menjaga kita sembunyi-sembunyi. Aku akan memilih satu atau dua kstaria untuk mengawal kita terang-terangan. Jadi, ayo..jangan terlalu di pikirkan haha." Sherlin menarik tangan Robert dan Penelope mengajak mereka untuk naik ke kereta.

__ADS_1


Robert tetap keras kepala, dia kembali berbicara dengan keras. "Tapi, bisakah kamu mengurangi jumlah ksatria yang harus di tugaskan ini!? bukankah ini terlalu berlebihan untuk mengawal kita ke kota??. Kau tahu? jumlah kstaria ini hampir setara dengan setengah pasukan!? Jumlah nya ada dua puluh kamu tahu!? du-a pu-luh!!!."


Sherlin mendecakkan lidahnya, dia sudah tahu akan hal ini dan dia membiarkannya karena sia-sia saja. Mereka tidak akan mau, karena mereka sudah diberi arahan dari ayah dan ibunya untuk tidak meninggalkan tugas ini.


"Sudahlah bocah menyebalkan, lihat lah Sherlin. Dia dari tadi terlihat tertekan, kamu lebih baik diam. Jika Sherlin sedari tadi tidak merespon apapun untuk hal ini maka tenang dan duduk saja. Lagipula mereka kan akan sembunyi? jadi tidak perlu risau!." Penelope dengan tegas mencoba untuk menasihati Robert dengan halus.


Tapi, bukan Robert namanya jika dia hanya diam saja seperti ini.


Robert mendengus kesal. "Heh! tidak perlu risau katamu?? kamu tidak risau di pantau oleh mereka semua??. Di sepanjang perjalanan nanti sampai di kota kamu akan di lihat terus menerus oleh mereka semuaa. Membayangkan nya saja aku sudah sangat risih tahu!?."


Penelope tertegun. Dia memeluk lengan Sherlin dan memelas menatap pada Sherlin.


"Be-benarkah S-sherlin??."


Sherlin tercekat, dia menundukkan kepalanya dan tersenyum pahit. 'P-pene baru saja kamu terlihat sangat yakin saat menasihati bocah wortel itu. Tapi, sekarang kamu dengan mudahnya terhasut!?. Yahh memang benar dengan yang di katakan si bocah wortel, tapi bagaimana pun juga ini ada sisi baiknya.'


Sherlin mengangkat kembali kepalanya dan tersenyum kecil. Dia berbicara jika itu memang benar, tapi jika di lihat dari sisi positif nya hal ini bertujuan untuk melindungi mereka dari sesuatu yang ingin berbuat macam-macam pada mereka. Jadi, di sisi lain mereka akan jalan-jalan dengan tenang karena tidak ada yang akan mengganggu mereka nantinya.


Penelope dengan semangat menatap Robert, dia tersenyum lebar. "Nah! dengarkanlah apa yang dikatakan Sherlin!! kamu terlalu pesimis bocah menyebalkan!."


Robert mendecih, dia mendelikkan matanya sambil berbicara dengan nada meremehkan. "Cih! kemana perginya orang yang tadi memeluk tangan Sherlin dengan tatapan memelas itu?? sungguh perubahan yang sangat drastis."


Penelope langsung berdiri seketika dan menjambak rambut Robert.


"Aaaakkkk. Lepaskan dasar bodoh!!!." Robert berteriak kesakitan sembari menggertakkan giginya.


"Cih! kemana perginya orang yang tadi dengan arogan nya menyindir ku itu!? SUNGGUH PERUBAHAN YANG SANGAT SANGAT DRASTIS." Penelope melotot tajam ke arah Robert, nada berbicara nya terdengar seolah-olah mengejek nya.


Robert terdiam, dia hanya mengerutkan kening dan menggertakkan giginya. Pandangan antara keduanya seperti akan siap-siap menerkam satu sama lain, jika tatapan adalah sebuah serangan maka sedari tadi tatapan yang di lontarkan keduanya sudah menembus badan masing-masing. Dan tentunya mereka ma-ti.


Author : K-kok perasaan jadi agak dark gini ya(;ŏ﹏ŏ).


Ekhem! ekhem!


Tak terasa kereta kuda yang ditumpangi oleh Sherlin, Robert dan Penelope perlahan sampai di tempat yang mereka tuju.


Keramaian dan keriuh pikukkan menjadi ciri khas dari sebuah pusat kota. Orang-orang berlalu lalang, para pedagang dan pembeli yang sedang melakukan kegiatan jual beli, pemukiman warga yang penuh tapi tetap rapi, juga para anak-anak yang bermain di pinggir jalan.


Jalanan pusat kota ini sangat ramai terutama pada waktu siang dan tengah hari.


Dan juga keindahan pemandangan yang indah dan klasik tak bisa lepas dari kota bergaya zaman dulu ini. Di tengah-tengah pusat kota ini terdapat sebuah sungai besar yang memiliki banyak sekali bunga teratai, dan jembatan yang menjadi penghubung memiliki lilitan lilitan bunga berwarna-warni dari berbagai jenis yang menjadi daya tarik tersendiri.


Di sungai itu ada begitu banyak orang– ekhem! sepertinya sepasang kekasih yang sedang duduk-duduk berduaan di perahu.


Author : Mari kita lewatkan scene ini..


......................


Tap.


Sherlin meregangkan tubuhnya dan menghela nafas. Perjalanan ini membuat seluruh tubuhnya pegal-pegal semua! ahh Sherlin sangat tidak suka menaiki kereta kuda, sepertinya jika terlalu lama menaiki kereta kuda bisa membuat tubuhnya mengalami pegal linu dan rematik.


Sherlin tahu ini berlebihan, tapi dia jujur oke?


Semua guncangan-guncangan dan gerakan yang sama terjadi dengan skala berturut-turut dalam waktu yang cukup lama bisa membuat mu pegal-pegal!.


Sherlin mencoba menetralkan raut wajahnya, dia menatap sekeliling. Dan mengajak Robert dan Penelope untuk segera pergi ke butik 'Harmony's.


"Ayo!." Ajak Sherlin.


"Ya." Balas keduanya.


Mereka bertiga berjalan sambil sesekali memandangi persekitaran sembari di ikuti oleh dua ksatria.


Drap drap drap.


Dan pada akhirnya mereka berhenti di sebuah butik yang terlihat mewah dengan gaya klasik.


Sherlin hendak meraih gagang pintu butik itu tapi sedetik kemudian dia terhenti.


"Nona, biar saya saja.." Salah satu ksatria yang mengawal Sherlin membungkuk dan maju kedepan untuk membukakan pintu.


"Oh baiklah, terimakasih."


Klek.


Kring.


Pintu dibuka dan lonceng yang berada di atas pintu berbunyi, segera dengan cepat pelayan wanita menyambut mereka.


"Selamat datang para nona muda dan tuan muda sekalian." Ucapnya dengan membungkuk.


Sherlin, Robert dan Penelope mengangguk, mereka segera melangkahkan kaki untuk masuk dan memilah-milah gaun.


Pelayan wanita tadi memanggil pelayan pria dan membisikkan sesuatu. Setelah nya pelayan pria itu segera bergegas ke belakang.


"Nona muda, tuan muda mohon untuk menunggu sebentar. Saya akan mengantar anda sekalian ke ruang tunggu."


"Tentu."


Sesampainya di ruang tunggu~

__ADS_1


Brakkk.


Pintu dibuka dengan keras menciptakan suara yang nyaring, madam Clea melihat ke sepenjuru arah.


Dia berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Sherlin, Robert dan Penelope yang sedang duduk di sebuah sofa.


Madam Clea membungkuk. "Tolong maafkan ketidaksopanan saya yang sudah membuat anda sekalian menunggu lama."


Sherlin menggelengkan kepalanya dan menatap ramah pada madam Clea. "Tidak apa madam Clea, lagipula kami tidak menunggu lama. Baru saja kami duduk dan anda sudah datang."


Robert dan Penelope menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan pernyataan Sherlin.


Madam Clea menghela nafas lega, dia sangat kaget saat tadi salah satu pegawainya memberi tahu jika lady Sherlina dari keluarga Duke Edinburgh datang dengan dua orang temannya yang berasal dari keluarga Zekallion dan Conscy datang berkunjung.


Sherlin terkekeh dia membuka suara jika dia dan Penelope datang ke sini ingin membeli gaun untuk pesta teh yang di adakan lady Evans.


Madam Clea yang mendengar itu segera mengarahkan mereka bertiga ke ruang penyimpanan.


Sherlin tersenyum dan mengucapkan terimakasih, dia ingin mendapatkan rekomendasi gaun untuk pesta teh dari madam Clea.


"Tentu! tentu nona muda. Akan saya rekomendasikan gaun yang paling cocok untuk anda."


"Oh madam Clea, jangan lupa untuk temanku yang satunya ini!." Sherlin menepuk pundak Penelope.


"Ya nona."


Drap drap drap.


Madam Clea berjalan mengelilingi barisan-barisan gaun yang tertata rapi, dia terlihat sangat fokus dalam memilah-milah mana gaun yang cocok.


Di sisi lain Robert sedari tadi menatap ruangan ini dengan takjub, matanya berkilau.


"Ekhem, ruangan ini lumayan." Robert berdehem pelan.


Sherlin dan Penelope langsung melihat ke arah Robert, mereka menampakkan raut muka datar.


Dan beberapa detik kemudian, mereka berdua menghela nafas panjang.


...a few moments later (~‾▿‾)~...


Madam Clea kembali mendatangi Sherlin, Robert dan Penelope dengan membawa dua buah gaun.


"Nah ini rekomendasi untuk nona Edinburgh. Gaun ini memiliki warna biru yang serasi dengan warna mata anda, model nya juga sederhana tapi tetap cantik. Bahan yang digunakan juga kain yang berkualitas dan tentunya nyaman. Juga gaun ini cocok untuk dipakai pada pesta teh karena gaun ini simpel dan nyaman. Bagaimana nona Edinburgh? apakah anda ingin mencoba gaun nya?." Madam Clea dengan semangat menjelaskan sambil menunjukkan gaun berwarna biru itu pada Sherlin.


Sherlin merenung sejenak, dia kemudian menganggukkan kepalanya dan mengambil gaun itu lalu pergi ke tempat ganti baju.


Srak srak.


Sherlin memakai gaun itu dengan di bantu pelayan dan setelah selesai Sherlin berjalan kembali menuju ruang penyimpanan.


"Bagaimana penampilan ku?." Tanya Sherlin.


Wushhh.....


Krik...krik....krik.


Ketiga orang yang berada di ruangan itu nampak membisu, mereka terdiam beberapa saat.


"Ee?? apa..ada yang salah?." Alis Sherlin berkedut.


Penelope melepas gaun yang di berikan oleh madam Clea dan menatap kagum pada Sherlin. "Tidak! tidak ada yang salah! hanya saja kamu sangat cantik memakai gaun itu Sherlin!."


Sherlin tersenyum manis. "Benarkah? hehe terimakasih Pene."


Sherlin berbalik menatap Robert, dia kembali bertanya. "Robert, bagaimana gaun ini? apakah cocok dengan ku?


Robert diam, dia tidak bergeming sedikitpun.


"Hem? Robert?."


Hah!


Robert tersentak, seluruh muka nya terlihat sangat merah bahkan sampai-sampai telinga nya juga memerah.


"C-cantik!." Robert menutup mukanya dengan lengan kanan.


"Oh! hehe terimak–.


"Hei!! j-jangan salah sangka! a-aku hanya memuji gaun nya saja. Gaun nya yang cantik! b-bukan kamu!." Robert memejamkan mata sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.


Sherlin tersenyum kikuk. Robert, si bocah wortel itu!!!!


Aaakkk.


Jika saja dia sedang tidak ada disini rasa-rasanya dia ingin menjambak rambutnya sekarang juga sambil memakinya. Tapi, Sherlin tidak bisa melakukan itu karena ekhem! imej! tentu saja! Sherlin harus menjaga imej nya di mana pun kecuali di kasur.


"K-kau!. Beraninya kamu pada Sherlin! aku akan memberi mu pelaj–.


Ucapan Penelope terpotong ketika melihat tangan Sherlin yang seolah-olah menahannya untuk menghentikan apa yang akan dia lakukan pada Robert, si bocah menyebalkan itu.


Penelope mendengus dia kemudian berbicara pada madam Clea jika dia ingin mengambil gaun yang di rekomendasikan oleh nya itu.

__ADS_1


Madam Clea menganggukkan kepalanya. Dia kemudian berdehem dan bertanya pada Sherlin.


"Nona Edinburgh. Apakah anda ingin memilih gaun itu?."


__ADS_2