The Villainess And Modern Weapons

The Villainess And Modern Weapons
Chapter 49 Wanita itu!?


__ADS_3

Drap drap drap.


Sherlin berjalan dengan cepat menuju ke arah bak mandi nya.


Gloxinia dan Lili mengoleskan berbagai pengharum pada badan Sherlin. Diantaranya seperti sabun mandi cair yang berasal dari esensial bunga mawar.


Sembari memijat bahu Sherlin Lili bertanya dengan nada cemas. "N-nona...a-apakah tidak apa-apa pergi dengan keadaan nona yang sekarang? apakah tuan dan nyonya akan mengizinkan?."


Sebaliknya, Sherlin hanya menjawab dengan ekspresi dan nada yang tenang. "Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Kamu tahu? meskipun sup itu rasanya ironis. Tapi, khasiatnya tidak main-main. Hanya saja butuh waktu yang lumayan lama untuk bisa merasakan khasiatnya...dan saat ini, aku sudah merasakan khasiat dari sup itu."


"Aku kembali bersemangat, bahkan rasanya tubuhku perlahan-lahan kembali bugar dan berenergi."


"Dan, mengenai orangtuaku...mereka pasti mengizinkan. Jika tidak, aku akan pergi diam-diam saja mwehehehehe."


Gloxinia dan Lili menghentikan kegiatan memijat mereka dan saling bertatapan.


Sedetik kemudian, mereka mengangkat bahunya.


Beberapa saat kemudian~


Sherlin sudah siap dengan pakaian nya, dia memakai kemeja putih dan rok berkancing. Tak lupa Sherlin juga memakai sejenis rompi yang menutupi bahu sampai pinggangnya.



"Siap!."


Sherlin tersenyum sumringah, dia berjalan keluar dari kamarnya meninggalkan Gloxinia dan Lili yang terdiam tidak bergerak di belakang.


"......."


Brakkk.


Sherlin membuka pintu dengan kasar. Dia tersenyum lebar dan mendekati ayah juga ibunya yang sedang mengerjakan sebuah dokumen.


"Ayah~


"ibu~


Sherlin menatap mereka dengan penuh arti, raut mukanya terlihat di imut-imut kan.


"Ada apa putriku?." Tanya keduanya.


Sherlin berdehem dan tersenyum kecil. "Ekhem ekhem. Terimakasih untuk supnya, aku sekarang kembali bersemangat. Dan mengenai hal itu..... bolehkah aku pergi ke menara sihir sekarang?."


"Oh! tuan Zelary sudah mengabari mu tentang ini?." Duchess melirik sejenak.


"Tentu ibu, tadi ada surat dari guru Fernand."


"Hmm...."


Kedua orang tua Sherlin saling bertatapan dalam waktu yang lumayan lama.


Sedetik kemudian, Duke dan Duchess saling menganggukkan kepala.


"Baiklah. Kami mengizinkan mu untuk pergi, tapi ingat untuk pulang sebelum matahari terbenam." Duchess tersenyum lembut.


"Baik! terimakasih ayah ibu~." Sherlin mendekati mereka dan mengecup pipi keduanya.


"Yoshh!! yuhuu!."


Sherlin berjalan keluar dengan riang, meninggalkan kedua pasangan yang sedang terdiam itu.


Mereka memegang pipi masing-masing, senyuman terbentuk di wajah mereka.


...----------------...


Sherlin berlari dengan cepat menuju halaman depan, dia terus menatap ke arah gerbang masuk utama kediamannya. Berharap guru Fernand segera datang menjemputnya.


10 menit kemudian...


"......"


Sherlin masih menunggu dengan semangat yang membara, senyumannya tak henti-henti luntur di wajahnya.


30 menit kemudian...


"....."


Ekhem, Sherlin masih menunggu. Hanya saja semangat nya yang tadi membara sudah menurun dan senyumannya sudah hilang dari mukanya.


1 jam kemudian...


"!?."


Sherlin mengerinyit kan alisnya, mukanya terlihat emosi. Dia sudah tidak sabar!


Dimana guru Fernand?!.


Huuufttt.

__ADS_1


Sherlin menghela nafas gusar.


Tuk tak tuk tak.


Tapak kaki kuda terus melangkah dengan tempo sedang. Kereta kuda berwarna hitam muncul di balik gerbang masuk mansion.


Sherlin menatap kereta kuda berwarna hitam polos itu.


Saat kereta kuda itu berhenti di depan halaman depan mansion, keluar seorang pria berumur kepala tiga yang mengenakan jubah hitam dengan logo bunga teratai di dada kanannya.


Kakinya menyentuh ke tanah, dia memandangi sekitar.


Tatapannya tertuju pada Sherlin yang sedang bengong.


"Sherlin?." Pria bertudung hitam itu melepaskan tudung kepalanya.


Sontak Sherlin yang melihat nya langsung gembira. Dia berjalan mendekati pria itu.


"Guru!."


Grepp.


Dia memeluk pinggang guru Fernand, Sherlin melepaskan pelukannya dan mendongak ke atas menatap wajah Fernand Zelary.


"Aku hampir tidak mengenali mu tadi.."


Fernand terkekeh. "Hahaha, itu pasti karena jubah hitam ini bukan?."


"Hmmm.." Sherlin mengangguk.


"Guru! kenapa baru datang sekarang?? aku sudah menunggu mu selama hampir satu jam lebih!".


Fernand terkejut, dia tersenyum tipis. "Ah benarkah? kamu seperti nya sangat bersemangat untuk pergi ke menara sihir, bukankah guru sudah mengirimkan surat jika guru akan menjemput mu siang?."


"!!!."


Sherlin membulatkan matanya, mulutnya kelu. Dia tidak bisa berkata-kata lagi.


Skakmat!! -Author.


Sherlin tertawa canggung, dia menggaruk tengkuknya.


"Ha ha ha, mungkin...begitu?."


Fernand hanya tersenyum kecil sembari menggelengkan kepalanya. Yahh, menurut nya murid nya itu kadang-kadang sikap nya cukup untuk membuat nya geleng-geleng kepala. Hmm, tapi bagaimana pun juga ini cukup menghibur bagi Fernand sendiri.


Tidak pernah dia begitu tenang dan tidak banyak pikiran seperti sekarang.


Dan terkadang tidur nya pun selalu tidak tenang seperti banyak sekali beban yang berada di pundaknya.


Tapi setelah sekarang semua itu hilang entah kemana, dia seolah-olah melupakan semua itu. Ini cukup menyenangkan juga bagi Fernand.


"Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang.." Fernand mengulurkan tangannya pada Sherlin seraya tersenyum.


"Ya!." Sherlin dengan senyuman pula membalas uluran tangan Fernand.


Mereka bergandengan tangan dan naik ke kereta kuda.


Tap.


Sherlin duduk tepat di hadapan Fernand, posisi mereka sekarang berhadap-hadapan.


Tuk tak tuk tak.


Kereta kuda terus berjalan, Sherlin fokus melihat ke arah jendela. Sedangkan perhatian Fernand tertuju pada iris mata Sherlin, dia menatap nya intens.


Dia diam-diam bergumam. 'Mata yang indah.'


Sherlin yang seperti mendengar sesuatu menoleh pada Fernand Zelary dan bertanya. "Guru? apa kamu mengatakan sesuatu?."


"!?."


"Tidak. ngomong-ngomong apa kamu sudah tahu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan menara sihir?."


Sherlin diam sejenak, dia menatap Fernand curiga. Bukankah pengetahuan tentang menara sihir itu hal yang paling mendasar bagi bangsawan kelas atas seperti nya?. Apa guru Fernand sengaja mengalihkan pembicaraan?.


"Tentu. Aku sudah mempelajari itu dulu." Sherlin tersenyum kecil.


"Ah baiklah." Fernand tersenyum canggung.


"......"


Suasana menjadi hening, di sepanjang perjalanan mereka hanya diam saja. Tidak ada yang membuka suara sedikitpun.


Beberapa saat kemudian, kereta kuda berhenti di depan sebuah gedung kecil.


Tap.


Fernand pertama yang turun dari kereta kemudian disusul oleh Sherlin.

__ADS_1


Sherlin menengadah ke arah gedung kecil itu, dia tersenyum tipis.


Jika kalian mengira bangunan itu adalah tempatnya, kalian salah besar. Pasalnya gedung itu hanya sebuah gedung biasa, hanya saja terdapat sebuah lingkaran sihir yang di rancang khusus untuk para orang-orang dari bagian menara sihir.


Mereka biasanya akan kesini terlebih dahulu, lalu kemudian memasuki lingkaran itu dan dengan sendirinya tiba di menara sihir.


Terlepas dari bentuknya fungsinya mirip seperti lift di bumi, tapi yang membedakan hanyalah kamu perlu memakai jubah khusus yang memiliki logo bunga teratai.


Dan tentu saja, bunga teratai sendiri adalah lambang menara sihir.


Lingkaran sihir itu akan mendeteksi jubah berlogo teratai mu. Jika tidak sesuai maka lingkaran sihir itu tidak akan mengirim mu ke menara sihir, sebaliknya akan mengirim mu ke penjara menara sihir sendiri.


Mirip seperti sistem keamanan bukan?. Sepertinya meskipun tidak ada teknologi yang maju di dunia novel ini, masih tidak dapat menghambat kemajuan dan perkembangan kehidupan di dunia novel ini.


Sangat mengesankan.


Sherlin melirik ke arah Fernand, dia memegang ujung lengan bajunya.


Fernand tersentak, dia melihat ke arah Sherlin.


"??."


"Tenang saja Sherlin, karena kamu muridku otomatis kamu juga adalah bagian dari menara sihir. Jadi, kamu akan mengenakan jubah seperti guru nanti." Fernand menatap Sherlin lembut.


Sherlin dengan pelan menganggukkan kepalanya.


Drap drap drap.


Mereka berdua berjalan masuk ke gedung itu.


Kreeeettttt.


Pintu berdecit dan terbuka dengan sendirinya.


"!?."


Sherlin terkejut, dia mempererat genggaman tangan guru Fernand.


'Huh! mengagetkan saja!.'


Sebenernya Sherlin tahu mengenai pengetahuan umum menara sihir, termasuk dengan pintu yang akan terbuka sendiri jika seseorang mendekat. Tapi, dia masih tidak terbiasa jika sebuah pintu bercorak kuno akan terbuka sendiri. Dan suara decitan nya yang cukup menyeramkan bisa membuat bulu kuduk mu berdiri.


Meskipun ada banyak sekali pintu otomatis yang bisa terbuka sendirinya di bumi, tapi lihatlah. Pintu ini terlihat sangat kuno! ditambah dengan debu dan suara decitan nya yang menganggu membuat mu terperanjat.


Sherlin diam-diam merutuki dirinya sendiri.


"Anda sudah datang, ketua kelima?." Suara seorang wanita terdengar di sebuah lorong yang gelap.


Fernand menoleh ke arah suara itu berasal.


Dia berdehem pelan. "Ya."


"He~ kamu kejam sekali Fernd...bukankah kita baru pertama kali bertemu setelah tidak bertemu selama berbulan-bulan? aku baru pulang lho~, kamu tidak menyambut ku? sungguh tega sekali~."


Nada suara wanita itu semakin di manja-manja, dia mendekat dengan melenggak-lenggok kan pinggangnya.


"Halo~."


Dia tersenyum lebar dan menyapa ramah.


Fernand sama sekali tidak bergeming, dia hanya mengajak Sherlin untuk pergi ke ruangan lain.


"....??." Wanita itu terlihat bingung. Dia menghentikan Fernand dengan memegang pundaknya.


"Hei~ aku berbicara padamu Fernd~. Kamu sama sekali tidak berubah, tetap acuh tapi...aku malah lebih suka~." Wanita itu meraba-raba dada Fernand dan menggelayut manja di lengan nya.


Plakk.


Fernand menepis tangan wanita itu, dia berdiri di depan Sherlin dan menatap wanita itu tajam.


"Perhatikan tingkah laku mu Rishee, ada muridku disini."


"UPS! maafkan aku~. Kamu begitu kecil, jadi aku tidak melihat mu~." Wanita yang di panggil Rishee oleh Fernand itu menutup mulutnya dengan tangan kanannya dan mendekati Sherlin.


"Eum, t-tak apa.." Sherlin tersenyum canggung, dia diam-diam bergumam kesal.


'Kecil? tidak terlihat!? huh! apa matamu yang terlalu kecil jadi tidak bisa melihatku ini!?.'


"Nah gadis kecil, perkenalkan. Aku kekasih guru mu, Rishee Theasher." Wanita berambut merah muda pucat itu mengulurkan tangannya dan memeluk Sherlin erat.


"!?." Sherlin terperanjat. Dia menatap ke arah Fernand untuk meminta penjelasan. Tapi, Fernand hanya diam dan menggelengkan kepalanya.


"Gadis kecil, aku sudah memberitahukan nama ku. Jadi, aku harus memanggilmu apa?." Rishee melepaskan pelukannya dan tersenyum simpul.


Lagi-lagi Sherlin dibuat kaget. Dia tidak menyangka jika wanita yang ada di hadapannya ini memiliki tutur kata yang cukup menyulitkan.


"S-saya Sherlina Carolle Von Edinburgh.." Sherlin mengangkat ujung roknya.


Wanita itu mengangguk dan ber'oh'ria.

__ADS_1


"Hm, kamu cukup pandai memilih murid Fernd."


TBC.


__ADS_2