The Villainess And Modern Weapons

The Villainess And Modern Weapons
Chapter 23 Mengapa?


__ADS_3

Cip cip cip.


Shaaa.


Angin berhembus sedang, suara burung terdengar merdu. Matahari berada tepat di atas dan bersinar terik, menandakan sekarang tepat tengah hari.


Di mansion yang besar dan megah, seorang wanita sedang sibuk-sibuknya mengurus pekerjaan nya dalam mengatur anggaran dan kebutuhan kediaman yang ditinggalinya itu.


Tok tok.


Duchess Edinburgh melirik ke arah pintu dan kemudian membuka suara.


"Hm? siapa?."


"Nyonya, ini saya Sebastian. Saya datang untuk melaporkan sesuatu."


Sebastian, kepala pelayan kediaman Duke Edinburgh. Dia sudah lama bekerja di samping tuan Duke dan nyonya Duchess, sejak kecil dia sudah dilatih dan diajari banyak cara-cara menjadi butler yang cekatan dan sempurna. Kelihaiannya dalam menangani masalah patut di acungi jempol. Loyalitas nya pada Edinburgh juga tidak bisa diragukan lagi.



"Ahh Sebastian, masuklah."


Klek.


Pintu dibuka, Sebastian melangkah masuk dan membungkuk.


"Nyonya, ada tagihan datang dari toko kue 'Loveris cake' di desa Router." Ujar Sebastian dengan sopan.


"Tagihan toko kue? desa Router??."


Setelah Sebastian melapor kan tagihan dari toko kue 'Loveris cake' Duchess nampak bingung.


"Ya nyonya. Semua keseluruhan tagihannya berjumlah 70 koin perak." Sebastian dengan tenang menyampaikan tagihan itu pada Duchess.


"Tunggu Sebastian. Siapa yang sudah berbelanja dari toko kue ini??." Tanya Duchess nampak terkejut.


Pasalnya dia tidak terkejut karena jumlah tagihannya tetapi karena Duchess mempunyai feeling bahwa putrinya lah orang yang berbelanja kue itu. Dia tidak percaya jika putri nya membangkang dan pergi sendirian lagi setelah kejadian yang sama pada satu tahun lalu.


"Nyonya, tagihan ini berasal dari pelakat pelayan pribadi nya nona muda. Lili."


'Pelayan pribadi nya Sherlin?. Apakah putri ku sedang pergi sendirian lagi sekarang ini??.' Batin Duchess Edinburgh cemas.


"Sebastian, pergi periksa kamar nya Sherlin. Jika dia tidak ada di kamarnya cari ketempat lain. Dan bawa dia ke ruangan ku." Duchess memberi perintah dengan raut muka tegas.


"Baik nyonya."


Sebastian mengangguk dan membungkukkan badannya lalu pergi.


"Huuffftttt."


Duchess menghela nafas panjang dan berjalan ke arah jendela besar di belakangnya.


"Putriku, lagi-lagi kamu....Hahhhh..." Gumam Duchess.


...----------------...


Tap tap tap.


Sebastian berjalan dengan agak cepat, suara langkah kaki nya terdengar lumayan keras.


'Nona muda... dia selalu aktif setiap hari. Hmm tidak sabar bagaimana nanti melihatnya tumbuh dewasa.' Batin Sebastian sambil tersenyum tipis.


Setelah beberapa menit, Sebastian akhirnya sampai dia kamar Sherlin.


Tok tok.


"....."


Hening tidak ada jawaban sama sekali.


Sebastian kembali mengetuk pintu dan berbicara.


"Nona muda, ini saya Sebastian. Bolehkah saya masuk?."


"......."


Lagi-lagi tidak ada jawaban di dalam kamar Sherlin. Sebastian diam beberapa saat, lalu Sebastian membuka pintu kamar Sherlin.


Kreet.


"Nona?."


Sebastian melihat sekeliling kamar Sherlin dan mencari keberadaan nya saat ini.


"....Tidak ada ya.." Gumam Sebastian.


Tap.


Sebastian berbalik dan berniat pergi dari kamar Sherlin.


Klek.


Pintu tertutup rapat. Di tengah kamar Sherlin, sebuah pusaran angin muncul dan perlahan siluet Sherlin dan yang lainnya terlihat.


Wushhhh.


Bruk.


'Akhhhh capek sekali!! Menunda proses teleportasi ternyata menguras banyak sekali tenaga ku!. Huh untung saja Sebastian tidak melihat kami. Mengapa Sebastian datang ke kamar ku ya? Apakah ada masalah??.' Batin Sherlin lega sekaligus bingung.


'Oh astaga! pasti ibu sudah menyadari nya. Huh untung saja aku tepat waktu kalau tidak, bisa terjadi masalah.'


"Nona! Kepala pelayan baru saja masuk ke kamar nona. Apakah dia akan melapor pada nyonya k-kalau kita pergi tanpa izin!?." Lili dengan khawatir bertanya.


"Eum. Seperti nya memang begitu. Tapi, tenang saja Lili." Sherlin memegang salah satu tangan Lili.


"N-nona..."


Gloxinia dan Felix saling melihat satu sama lain dan menganggukkan kepala mereka bersamaan.


Sherlin melirik ke arah Gloxinia dan Felix lalu tersenyum penuh arti.


'Kalian berdua mengerti bukan?.' Sherlin berbicara melalui telepati pada Gloxinia dan Felix.

__ADS_1


'Tentu.' Balas keduanya.


"Hehe! Mari kita lakukan segera!." Sherlin mengepalkan tangannya dan meninju ke atas.


...----------------...


"Slurppp..."


"Hmmm, sudah datang ya..."


Tap tap tap.


Sebastian menuruni tangga dan berniat pergi ke halaman depan mansion untuk mencari Sherlin.


'Biasanya nona muda akan bersantai di gazebo taman.' Batin Sebastian.


Sebastian yakin bahwa nona mudanya itu pasti sedang bersantai di gazebo taman. Dia tidak ada di kamar lalu tempat apa yang kemungkinan di datangi oleh nona mudanya itu selain gazebo??.


Tentu tidak ada. Hanya gazebo kemungkinan terbesar nya.


Sebastian sangat hafal betul sikap dan kebiasaan dari majikannya ini.


"Hee?? benarkah? kurasa tidak! kau tahu? bocah tengik itu bermuka dua dan pilih kasih!." -Felix


"Hah!? apa-apaan kau Felix!!." -Sherlin


"Felix, itu sama sekali tidak benar! nona sangat rendah hati, tidak sombong dan rajin menabung! tidak mungkin bermuka dua dan pilih kasih." -Gloxinia


"Ya benar sekali! Gloxinia kau memang yang terbaikk." -Sherlin


"( ꈍᴗꈍ)" -Gloxinia


"-_-" -Felix


'Halah! baru saja bilang sudah terjadi kembali!.'


'Hah!? Sebastian sudah mendekat ke sini!.' Batin Sherlin terkejut


"Kalian berdua. Bersiaplah!."


"Baik nona!."


Sherlin dengan tenang meminum jus nya, sedangkan Gloxinia dan Lili berdiri di samping kanan dan kiri Sherlin dengan tegap.


Sebastian melihat ke arah gazebo tempat Sherlin berada.


Tap.


"Salam nona muda. Nyonya menyuruh Anda untuk datang ke ruangannya." Sebastian membungkukkan badannya.


'Eh?? Hmm ini pasti karena tadi aku menyerahkan tagihan pembelian kue ku. Baiklah lagi pula aku sudah siap hehe! Mana mungkin


"Ahh...ya, aku akan segera bergegas." Sahut Sherlin tenang.


"Mari nona..."


"Ya."


"Lili, Nia, kalian kembalilah dulu."


Sherlin mengedipkan mata kanannya.


"Baik nona." Balas keduanya.


......................


Tok tok.


"Nyonya, saya sudah membawa nona muda."


"Ahh masuklah."


Klek.


"Selamat siang ibu." Sherlin memberi salam dengan anggun, mengangkat ujung rok nya.


"Ya putriku." Duchess mengangguk dan melirik ke arah Sebastian.


"Sebastian, kamu keluarlah dulu."


"Baik nyonya."


Kriett.


"Jadi ada apa ibu memanggilku di hari yang indah ini??." Sambil menyengir Sherlin berkata demikian.


"Huh.... Sherlin, mana mungkin kamu tidak tahu alasan mengapa ibu memanggilmu kesini. Jangan berpura-pura tidak tahu." Duchess menatap tajam pada Sherlin.


Sherlin tersenyum paksa dan tertawa canggung sambil melirik ke arah lain menghindari tatapan tajam ibu nya.


"Ahaha..."


"Hah.... putriku, ibu menerima laporan dari Sebastian, kamu habis berbelanja kue bukan?." Duchess bertanya dengan lembut.


"Eum. Benar ibu." Jawab Sherlin tenang.


"Jadi, kamu turun tangan langsung pergi membeli kue nya atau....


"hanya Lili saja yang pergi membelikannya untukmu?."


Duchess dengan tatapan lembutnya memandangi Sherlin intens.


Sherlin menatap langsung iris mata Duchess yang melemparkan tatapan lembut itu. Dia mengangguk.


Duchess yang melihat jawaban dari putrinya itu mendesah lega.


"Fyuhh....."


"Syukurlah....ibu pikir kamu mengingkari ucapan mu waktu itu." Duchess tersenyum lebar.


"???." Sherlin memiringkan kepalanya dan menatap ibunya dengan ekspresi bingung.


Duchess terkekeh melihat reaksi Sherlin, jika sedang bingung putrinya itu nampak sangat imut.

__ADS_1


"Bukan apa-apa. Lupakan saja." Dengan gemas Duchess mengusap-usap puncak kepala Sherlin.


"Ibu!."


"Rambutku nanti berantakan." Sherlin dengan cemberut menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.


"Hoho~ senangnya~."


Di lain tempat di tengah malam~


Seorang bocah laki-laki sedang melamun di balkon kamarnya dengan menopang dagu nya dengan tangan kanannya di pagar balkon. Pancaran mata nya menyiratkan sebuah kerinduan. Dia hanya memakai baju tidur tipis, rambutnya nampak berantakan. Bulan bersinar dengan terang, rambut dan iris mata bocah itu bersinar terkena cahaya dari bulan.


"Hmmmm.... kira-kira nanti si tomat akan memberiku hadiah apa ya??."


"Aahk aku sudah tidak sabar, empat hari terasa lama sekali....


"Apakah aku harus memajukan acaranya?. Tapi... sepertinya nanti aku akan di marahi."


Ya. Kita bisa tahu bahwa bocah laki-laki itu adalah si wortel alias Robert karena dia tadi sempat mengucapkan kata 'tomat' yang sudah pasti di tujukan pada Sherlin.


"Uhh. Gara-gara memikirkan dia terus aku jadi tidak bisa tidur nyenyak." Robert menggembungkan pipinya.


"Dasar tomat menyebalkan!."


"Ha-hachuu!!!."


"Ugh apakah ada yang sedang mengatai ku??." Gumam Sherlin.


Felix terbangun dari tidurnya lalu melirik ke arah Sherlin yang tadi bersin.


"Ada apa bocah?."


"Sepertinya ada yang sedang mengatai ku Felix!." Sherlin menjawab dengan kesal.


"Hm? hah...kupikir apa. Huh sudahlah lebih baik lanjut tidur saja." Felix mendengus lalu kembali memejamkan matanya.


Sherlin mendelikkan matanya, dia menarik kembali selimutnya dan melanjutkan tidurnya yang tadi terganggu.


"Tsk, dasar!."


Malam berakhir, pagi pun tiba


Cip cip cip.


Seperti biasa selalu ada seekor burung yang hadir dan turut menyempurnakan pagi yang indah ini.


Klek.


Lili membuka pintu kamar Sherlin. Dia memasuki ruangan itu dengan Nia dibelakangnya.


"Nona saatnya bangun." Lili menyibakkan selimut yang dipakai Sherlin.


Sherlin menggeliat dan menguap.


"Hoamm.."


"Nona. Ayo segera bangun. Ini sudah pagi." Nia membujuk Sherlin untuk bangun.


"Hoamm....baiklah..."


"Mari nona, saya akan membantu anda untuk mandi."


"Hmmm."


S


K


I


P


Setelah mandi, Sherlin memakai pakaian nya dengan di bantu oleh Lili dan Nia. Pakaian yang di pakai oleh Sherlin bermodel rok dengan pita berwarna biru tua disampingnya.



"Sudah selesai nona." Ujar Lili dan Nia bersamaan.


"Ya..."


"Mari nona, saya akan mengantar anda ke ruang makan." Lili tersenyum.


Sherlin menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Tap tap tap.


Kreett.


"Selamat pagi ayah, ibu." Sherlin memberi salam dengan anggun.


"Ya, selamat pagi juga Sherlin." Duchess tersenyum lembut.


Tuan Duke hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Lalu Sherlin pun duduk di kursi nya dan mulai memakan makanannya.


Setelah sarapan berakhir seperti biasa mereka menyempatkan mengobrol dengan harmonis.


Berbincang setelah makan bersama sudah menjadi tradisi di Edinburgh, hal ini bertujuan untuk meningkatkan keharmonisan antar keluarga.


Lioness, pendiri keluarga Edinburgh adalah seseorang yang sangat mengedepankan keluarga dan pecinta ketenangan jadi dia dengan sengaja menumbuhkan tradisi ini kepada semua keturunannya agar nanti di masa depan tidak ada tragedi permusuhan dalam keluarga dan ketenangan di kediaman Edinburgh ini tetap terjaga. Jadi, di dalam sejarah Edinburgh tidak ada yang namanya perebutan hak waris ataupun skema mencelakai terhadap kerabat maupun keluarga. Mereka semua akur dengan yang lainnya.


Setiap keturunan Edinburgh menikah, mereka dengan sengaja hanya mempunyai satu anak karena memiliki tujuan yang sama dengan tradisi yang di ciptakan Lioness yaitu untuk menghindari perebutan hak waris.


Sejarah keluarga Edinburgh ini sangat mulus dan lancar. Tidak ada pertumpahan darah sedikit pun.


Sherlin yang mengetahui tradisi ini menjadi sangat bingung. Keluarga si Sherlina ini sangat harmonis dan bahagia, tapi kenapa dia selalu mengejar cinta putra mahkota??


Padahal dia bisa hidup bahagia hanya dengan keluarganya. Jika memang ingin mempunyai kekasih, keluarga nya pasti akan mencarikannya calon yang baik. Dan yang pasti akan lebih baik dari si putra mahkota.


'Aku masih tidak mengerti... Mengapa ini bisa terjadi?? di novel tidak ada penjelasan kenapa si Sherlina ini begitu mencintai putra mahkota?.'


'Apakah ini hanya untuk penyempurnaan pada kisah cinta si protagonis utama wanita dan protagonis utama pria?.'


'Tsk, jika memang benar author pencipta novel ini tidak punya hati! Bagaimana mungkin si Sherlina yang sempurna ini berakhir dengan tragis hanya karena berperan sebagai pelengkap cerita? sungguh tidak adil.'

__ADS_1


Hi, jika ada typo tolong kasih tahu author di kolom komentar ya~


TBC(^∇^)ノ♪


__ADS_2