
POV ROBERT
Kediaman Duke Zekallion, siang hari nya.
Cuaca hari ini cukup bagus, tidak terlalu panas. Aku cukup nyaman dengan tempat ini, burung berkicau, danau mengkilap yang terkena cahaya matahari, dan pepohonan yang rindang menambah kenyamanan tidur ku. Sekarang ini aku sedang berbaring di rerumputan di taman belakang rumah ku. Ini adalah tempat favorit ku, suasana disini sangat menenangkan.
Saat ini banyak sekali pelayan yang sibuk menyiapkan persiapan pesta ku untuk besok, aku beberapa kali melihat mereka berlalu lalang.
4 hari.... aku tidak bertemu dia. Entah apa yang salah denganku! Setiap kali aku tidur, tidak bahkan setiap saat aku memikirkan tentangnya.
Dia tidak seperti kebanyakan gadis-gadis bangsawan yang ku kenal. Dia tidak manja, tidak mencoba menarik perhatian ku, dan tidak peduli tentang riasan atau semacamnya. Dia berbeda....
Sangat berbeda, hingga membuat ku penasaran dengan nya, apakah dia seperti itu karena mempunyai status yang sama denganku? tapi...itu mungkin tidak benar. Saat pertama kali bertemu dengannya di perburuan hutan Silence, aku mengucapkan kata-kata pedas pada nya dan reaksinya berbelok dengan tebakan ku. Padahal setiap aku mengatai para gadis-gadis menyebalkan itu pasti mereka langsung berkaca-kaca dan menangis lalu kabur begitu saja.
Yah aku tidak peduli pada mereka. Toh mereka tidak tulus padaku, mereka hanya melihat status ku sebagai pewaris Duke saja Cih! dasar para penjilat!. Dan dengan mempertahankan sikap ini Kejadian itu tidak akan terulang lagi. Semua tingkah laku ku yang blak-blakan dan tidak sopan adalah bentuk pertahanan diri ku. Aku melakukan ini semua demi menjaga diri ku sendiri dan keluargaku.
Aku tahu ini salah. Aku tahu kata-kata ku menyakiti perasaan orang lain. Tapi, itu setimpal dengan orang-orang yang menjilat orang yang lebih tinggi dari nya untuk mencapai tujuan nya. Semua kata-kata ku bisa menjadi pencerahan dan menyadarkan para penjilat menjijikkan itu. Tapi jika tetap tidak berubah maka yang pasti orang itu sangat brengs*k.
Tsk! kebiasaan mengumpat ku semakin lama semakin parah. Aku harus menahan diri kali ini, karena sekarang aku mempunyai seorang teman. Aku tidak mau terlihat menyedihkan didepannya!.
Aku penasaran, apa yang sedang dia lakukan sekarang ini?. Lalu apa yang akan dia berikan padaku besok ya?
ahkk! aku tidak sabar. Aku ingin mendapat ucapan selamat ulang tahun dan membuka hadiah darinya pertama kali. Bisakah?
Tapi, kurasa itu tidak mungkin memikirkan jarak antara kediaman ku dengan kediaman Edinburgh sangat jauh.
Tapi, pasti ada cara kan? huh! aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan memikirkan sebuah cara nanti. Sekarang aku harus memilih pakaian yang pas untuk di pakai besok, aku akan membuat dia terpesona dengan ketamvanan ku! Heh tunggu saja bocah tomat.
...----------------...
POV Author.
Di sisi lain, kediaman Edinburgh.
Sherlin saat ini sedang minum teh dengan didampingi Penelope dan Felix. Mereka bertiga berada di gazebo taman yang biasanya Sherlin jadikan tempat tongkrongan. Sepertinya beristirahat di gazebo taman ini sudah menjadi bagian dari kebiasaan Sherlin sendiri.
"Slurpp, hei Sherlin...besok kamu akan pergi ke pestanya Duke muda Zekallion kan?." Sherlin melirik ke arah Penelope yang sedang bertanya itu.
Sherlin mengangguk, "Tentu."
"Woah! bagus! aku bisa bertemu dengan mu nanti di pesta hehe. Kupikir kamu tidak akan datang." Dengan terkekeh kecil Penelepon berbicara.
Sherlin yang melihat tingkah absurd Penelope hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
Sesaat kemudian Penelope kembali bertanya.
"Apa kamu sudah mempersiapkan hadiahnya?."
"Hm, sudah."
"Hadiah apa yang akan kamu berikan?."
"Sebuah manset kancing..."
"Itu bagus..."
"....."
Sherlin menatap Penelope. Dia termenung, seperti nya dia sedang memikirkan apa yang perlu di bicarakan lagi. Sedari tadi Penelope terus bertanya tanpa henti pada Sherlin, dia merasa sedikit tidak nyaman.
'Hm? sudah berhenti? akhirnya aku bisa minum teh dengan tenang.' Batin Sherlin lega.
Penelope seperti nya kehabisan akal untuk membuat topik baru pembicaraan. Dia berdehem pelan.
"Ekhem....Sherlin, aku akan pulang. Aku punya sesuatu untuk dikerjakan." Dengan canggung Penelope menatap Sherlin.
Sherlin membalas tatapan Penelope dengan menatapnya lembut. Akhirnya dia akan pulang juga.
"Ya..tentu saja, aku akan mengantar mu sampai ke depan."
Penelope mengangguk, Sherlin memangku Felix dan mereka berjalan menuju halaman depan.
Drap drap drap.
Setibanya di halaman depan.
"Sampai jumpa Pene. Hati-hati di jalan." Sherlin melambaikan tangannya.
"Ya, sampai jumpa Sherlin! Kita akan bertemu lagi di pesta besok!." Ujar Penelope lantang.
Sherlin menganggukkan kepalanya.
Felix membuka mulutnya. "Akhirnya dia pergi juga."
"Ya...."
"Huh! sungguh melelahkan mendengarkan dia mengoceh terus menerus." Felix mendengus.
"Ya ku akui dia kadangkala sedikit menyebalkan, tapi dia sahabat yang baik." Sherlin menatap kepergian kereta kuda Penelope dengan hangat.
"Ayo kita masuk Felix."
"Hm."
...----------------...
__ADS_1
Angin berhembus, langit perlahan-lahan berubah menjadi gelap. Bintang-bintang menyala menghiasi langit yang gelap terlihat sangat kontras.
Gorden-gorden tertiup angin, suhu di dalam ruangan menjadi dingin. Sherlin memeluk lututnya, dia membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.
'Malam ini sangat dinginn!!!.' Sherlin berteriak didalam hatinya.
Dia menoleh pada Felix yang tetap tenang tertidur di sofa. Dia terlihat baik-baik saja. Apakah karena bulunya?.
Ya, sepertinya begitu. Bulunya yang tebal terlihat sangat hangat. Heh! Sherlin juga memakai piyama yang tebal! Tapi kenapa tetap saja terasa dingin?.
Sherlin merasa kesal, apakah hanya dia yang kedinginan disini!?. Padahal perapian dan penghangat di kamarnya sudah dinyalakan tapi kenapa tetap saja dingin!?. Apakah dia sensitif terhadap suhu dingin??. Kemungkinan besar itu benar. Dia hanya ingin tidur dengan nyenyak, suhu dingin ini menganggu tidurnya.
Aha!
Kalau begitu bagaimana jika dia membuat sihir yang diajarkan oleh guru Fernand. Sihir penghangat, sebuah aura mana api yang di nyalakan di sekitar anggota tubuh tertentu untuk menghangatkan badan.
Sherlin memejamkan matanya, dia fokus untuk membayangkan sebuah aura mana api yang hangat.
Sring
Wushh.
Kilatan cahaya berwarna oranye muncul di telapak tangan Sherlin.
"Fyuhh~ akhirnya ini tidak terlalu dingin." Sherlin mengusap-usap telapak tangannya.
Malam semakin larut, Sherlin tertidur pulas dengan pose miring ke kanan. Selimut yang dipakai nya membungkus sempurna tubuhnya, yah tentu saja kecuali muka.
Wush.
Sebuah bayangan melesat. Bayangan itu bergerak melewati para kstaria yang berjaga dengan sangat cepat, hampir tidak terlihat.
Tap.
Bayangan itu berhenti di depan balkon kamar Sherlin.
Huffttt~, bayangan itu menghela nafasnya.
Tok tok.
Bayangan itu mengetuk pintu balkon Sherlin.
"......"
Tidak ada jawaban, dia kembali mengetuk pintunya dengan lebih keras.
TOK TOK.
"......."
'Huh! aku akan kembali mengetuk nya.'
TOK TOK TOK!.
"......"
TOK TOK TOK TOKKKK!!!!
Ee... sepertinya itu bukan cuma mengetuk tapi menggedor-gedor pintu.
Sherlin mengerutkan keningnya. Lagi-lagi ada penghalang tidur nya!!!.
'Kenapa!? kenapa selalu ada pengganggu!? padahal aku hanya ingin tidur dengan nyenyak!!.' Batin Sherlin kesal.
Drap drap drap.
Sherlin turun dari kasur nya lalu berjalan sambil menghentakkan kakinya.
Ceklek.
Sherlin membuka pintunya kasar.
"Ada apa!?!?." Tanya Sherlin jutek tanpa melihat siapa yang mengetuk pintunya itu.
"Huh! akhirnya kamu membuka pintu ini! Aku menunggu lama. Hmph!."
'Eh? aku kenal dengan suara ini.... jangan-jangan....ini.....si bocah wortel!?.'
"K-kamu! apa yang kamu lakukan di sini!?." Tanya Sherlin kesal.
"Aku? aku ingin mengajak mu ke suatu tempat yang menabjubkan." Balas Robert mengalihkan pandangannya.
"Ha!?. Ini sudah malam aku tidak mau." Tolak Sherlin dingin. Sherlin berniat menutup pintu dan pergi.
Robert terlihat terkejut. Dia mencekal salah satu tangan Sherlin.
"Apa lagi?."
"Ayolah tomat!."
"Kubilang tidak ya tidak."
"Ugh......umm kumohon~."
"T.I.D.A.K."
__ADS_1
Tsk, Robert berdecak sebal.
Dia terlihat murung. Sherlin mencoba mengabaikan ekspresi muka Robert.
'Tahan! tidak boleh lengah!!.'
Robert semakin membuat ekspresi menyedihkan dan teraniaya, akibatnya pertahanan Sherlin mulai melemah.
'Ugh! yang benar saja!.'
Mata Robert mulai berkaca-kaca, dia menggigit bibirnya. Sherlin yang melihat pemandangan menabjubkan di depannya ini seketika berteriak dalam hati.
'Aaakkkk!!! Aku sudah tidak tahan!.'
"Hufftt~ baiklah." Ujar Sherlin menghela nafas.
Sherlin mudah luluh dengan tampang seperti itu. Muka yang tamvan dengan ekspresi menyedihkan.....damage nya tidak terbatas!.
Robert mendongak. Dia menatap Sherlin dengan berbinar.
"Kalau begitu ayo!."
Dengan tiba-tiba Robert menggendong Sherlin di belakang punggungnya.
"H-hei! tungg–."
Wush. Mereka berdua melesat dengan kencang ke atap dan pepohonan.
S
K
I
P.
Setelah sekian lama meloncat dan melompat kesana kemari akhirnya mereka berdua sampai di taman belakang kediaman Duke Zekallion.
Tap.
Sherlin turun dan jatuh di rerumputan.
"Hoekk!!."
"Ka-kamu! dasar bocah wortel sial*n!. Kan kita bisa pergi dengan teleportasi ku!. Kamu malah bertingkah sok hebat! melompat kesana kemari seperti monyet saja." Sherlin berbicara dengan diiringi mengumpat yang ditujukan pada Robert.
"Ho-Hoekkk!!."
"Ugh! kamu saja yang lemah! cuman segini saja sudah....ah sudahlah."
Sherlin menatap tajam Robert. Sedangkan yang ditatap hanya diam dengan tenang sambil menatap danau.
"Jadi...ini tempat yang kamu maksud?."
"Ini cukup indah. Selera mu ternyata tidak buruk juga." Ucap Sherlin sembari melihat-lihat pemandangan di sekitar danau.
Danau jernih yang terkena cahaya bulan menjadikan danau ini terlihat lebih cantik. Pantulan cahaya bulan yang terkena air membuat cahaya di sekitar danau menjadi tidak terlalu gelap. Rumput hijau yang terawat, pohon-pohon yang asri dan rimbun menambah ketenangan di taman ini. Dan juga kelap kelip bintang membuat siapa pun yang melihatnya menjadi nyaman dan tenang.
Sherlin menoleh pada Robert yang sedang duduk manis di rerumputan. Dia bertanya dengan penasaran pada Robert "Apa tujuan mu mengajak ku kesini wortel??."
Robert memerah, bahkan sampai telinganya pun ikut memerah juga. Dia diam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Sherlin.
"A-aku....
"Ugh....eummm....
"??."
Sherlin mencoba bersabar, dia tahu bahwa teman yang satunya ini bersifat tsundere, melebihi Felix.
"Katakan dengan jujur saja, aku tidak akan marah kali ini."
Robert diam-diam melirik ke arah Sherlin. Sepertinya dia sedang sangat gugup, itu terbukti dengan tangannya yang terlihat berkeringat dingin.
"Aku.....a-aku..akuinginmendapatucapanselamatulangtahunpertamadarimu!!!." Dengan tempo sangat cepat dan lantang Robert berteriak tepat di muka Sherlin.
"Kamu......"
Sherlin tersontak kaget dia tidak menyangka bahwa Robert akan berteriak seperti itu padanya.
'Dia bahkan bersusah payah datang ke kamar ku.... ternyata dia ingin itu ya..Huh! dia rela mengganggu tidurku hanya demi ini?.'
"Kenapa?." Tanya Sherlin.
"Karena kamu berbeda."
Sherlin kebingungan lalu dia tersenyum tipis, "Kamu....baiklah, kalau begitu selamat ulang tahun Robert."
Saat itu pula tepat tengah malam. Sherlin, orang pertama yang mengucapkan selamat pada Robert.
Robert tidak menyangka jika Sherlin akan mengucapkan itu dengan mudah padahal dia mengira pasti Sherlin akan meledek nya atau menghina nya kekanakan.
'Sudah kuduga....dia berbeda. Aku.... beruntung.' Batin Robert bahagia.
...JIKA ADA KESALAHAN PENGETIKAN TOLONG KASIH TAHU AUTHOR DI KOLOM KOMENTAR YA...
__ADS_1
...TBC....