The Villainess And Modern Weapons

The Villainess And Modern Weapons
Chapter 50 Kunjungan menara sihir


__ADS_3

Lagi-lagi Sherlin dibuat kaget. Dia tidak menyangka jika wanita yang ada di hadapannya ini memiliki tutur kata yang cukup menyulitkan.


"S-saya Sherlina Carolle Von Edinburgh.." Sherlin mengangkat ujung roknya.


Wanita itu mengangguk dan ber'oh'ria.


"Hm, kamu cukup pandai memilih murid Fernd."


...----------------...


"....." Alis Fernand berkerut. Dia menggenggam tangan Sherlin dan mengajak nya untuk segera pergi.


Sherlin dan Fernand berjalan dengan tempo cepat meninggalkan Rishee sendirian.


"Hei! Fernd! Fernd! kamu mendengarku?! kubilang berhenti!!." Rishee berteriak.


Yahh, meskipun berteriak dengan suara sangat keras sekalipun, Fernand tetap tidak berhenti melangkah dan tidak menengok ke belakang.


"......"


Rishee menatap mereka berdua dengan tatapan rumit, sudut bibirnya terangkat.


"Heh!." Rishee menunjukan smirik.


Sherlin dengan gugup melirik ke arah Fernand yang sedang menatap lurus ke depan dengan raut muka datar. Dia mengambil nafas dalam-dalam dan dengan berani bertanya.


"Guru, sejak kapan menjalin hubungan dengan kakak perempuan tadi?." Sherlin berusaha tersenyum.


Oke, menurut nya kalimat ini merupakan yang paling tepat karena tidak terlalu menunjukkan tujuannya. Jika langsung menanyakan perihal 'kekasih' pada guru Fernand, itu akan membuatnya tidak nyaman dan akhirnya suasana akan menjadi canggung. Kalimat tanya ini cukup bagus bukan?.


Fernand tersenyum tipis, dia melepaskan genggaman tangannya dan berjalan menghampiri ke arah sebuah lemari yang berada di pojokan.


Tangan nya yang berwarna kuning langsat terulur mengambil sebuah kunci di sakunya dan kemudian membuka pintu lemari tersebut.


Klak.


Sherlin tetap diam menunggu jawaban, dia mengamati setiap tindakan guru Fernand.


Guru Fernand mengambil sebuah jubah dan memberikannya kepada Sherlin. "Tidak, itu tidak benar."


Sherlin menerima jubah itu dan memandangnya sejenak. "Ini jubah menara sihir?."


"Ya."


"Guru, jika dia bukan kekasih anda lalu siapa?."


Sherlin dengan perlahan mengenakan jubah itu.


Guru Fernand berbicara dengan nada pelan. Dia membuka pintu dan mengajak Sherlin untuk pergi ke ruangan yang lainnya. "Tidak penting, dia hanya semata-mata lewat saja."


Sherlin dengan patuh mengekori guru Fernand dan melanjutkan langkahnya. "Tapi, panggilannya pada guru terdengar begitu akrab."


Sherlin tidak mau mengalah, dia dengan keras kepala terus menerus memberikan alasan.


Dan bukannya memang benar wanita yang bernama Rishee itu memanggil guru Fernand dengan begitu akrab seperti 'Fernd' ?. Dan guru Fernand pun memanggil wanita itu dengan cukup akrab pula.


Guru Fernand menghela nafas dan mengelus-elus kepala Sherlin.


"Kamu sebegitu ingin tahunya tentang itu sampai begitu keras kepala seperti ini?."


Sherlin terkekeh, dia mengangguk pelan.


Dengan demikian, guru Fernand menggeleng-gelengkan kepalanya dan akhirnya menjawab pertanyaan Sherlin. "Dia hanya teman lama guru dan salah satu ketua menara sihir."


Sherlin terkejut, dia tidak menyangka jika wanita bertubuh seksi itu adalah salah satu ketua menara sihir. Ternyata dugaannya kurang tepat, dia sudah mengira-ngira apa posisi wanita itu di menara sihir. Dan tebakan nya hanya sebatas murid sampai pekerja biasa saja, tidak sampai ketua kalian tahu?.


Haaahh, sepertinya pepatah tentang jangan menilai buku dari sampulnya memang benar. Sherlin diam-diam bersemu merah, ah rasanya malu sekali!.


"Ingat wahai anak muda! jangan menilai seseorang dari penampilannya." -Sherlin.


Dengan Pelan Sherlin ber'oh'ria. Haahh tidak disangka-sangka ternyata wanita berambut merah muda pucat itu adalah salah satu ketua menara sihir.


Setelah sekian lama bercengkrama, Sherlin dan Fernand berjalan menuju ke arah lingkaran sihir khusus.


Mereka berdua berdiri di tengah-tengah lingkaran sihir itu, tak lama kemudian lingkaran sihir mulai aktif.

__ADS_1


Dengan pelan tapi pasti, lingkaran sihir itu memindai mereka. Setelah mengenali logo yang berada di jubah mereka berdua, lingkaran sihir bersinar terang dan membawa keduanya ke tempat tujuan.


Sriinggg.


Wushhhh.


Tap.


Dalam waktu singkat, Fernand dan Sherlin berada di sebuah lapangan berbentuk bundar yang di kelilingi oleh menara-menara tinggi.


Sherlin mendongak menatap ke sekeliling menara. Satu kata yang bisa dia sampaikan, woww!!.


Mata Sherlin berbinar, dia melepaskan genggaman tangan guru Fernand dan berjalan cepat mengelilingi lapangan yang cukup kecil itu.


Orang-orang yang memakai jubah yang sama berlalu lalang, ada yang mengendarai burung elang ataupun berjalan seperti biasa. Berbagai kegiatan dilakukan disini, seperti meneliti, bereksperimen, dan berlatih sihir.


Pria atau wanita, orang lanjut usia, dewasa, remaja maupun anak-anak ada disini!! mereka sama-sama mengenakan jubah berlogo teratai di badan mereka.


Semuanya menabjubkan! Sherlin tidak percaya ini. Sebelumnya dia hanya melihat ilustrasi menara sihir hanya dari ilustrasi novel yang di berikan oleh sang author, tapi sekarang lihatlah ini! begitu nyata! begitu realistis dan menabjubkan!.


Perhatian utama Sherlin tertuju pada sebuah menara yang memiliki ukuran paling besar dan paling tinggi. Terdapat sebuah replika bunga teratai yang kira-kira dibuat dari kristal dan perak murni. Pasalnya itu sangat berkilau sekaligus menyilaukan mata yang melihatnya!.


Replika bunga teratai itu terkena sinar matahari secara langsung jadi, cahaya nya memantul dan menyilaukan mata.


Guru Fernand yang melihat tingkah laku Sherlin sedari tadi hanya tertawa kecil. Dia memanggil Sherlin dan mengajak nya untuk masuk ke menara miliknya, menara kelima.


"Hah!? benarkah guru?!." Sherlin terkejut.


"Tentu." Imbuh Fernand tenang.


Keduanya berjalan ke arah sebuah menara yang tak jauh dari menara yang tadi di pandangi oleh Sherlin. Hanya berkisar tiga menara dari sana.


Sherlin memperhatikan secara seksama ke menara-menara itu. Setiap bertambah jauh dari menara yang paling tinggi dan besar, ukuran menara akan semakin kecil dan pendek. Dan yang lainnya memiliki tinggi dan besar yang sama kecuali delapan menara yang berada tak jauh dari menara yang memiliki replika teratai di atasnya.


Mengenai pengetahuan dasar yang dia ketahui, menara sihir memiliki setidaknya delapan ketua utama. Dan yang sisanya adalah murid dan para pekerja biasa.


Sepertinya, delapan menara itu adalah milik setiap ketua.


Sherlin dan Fernand sekarang sudah berada di menara ke lima.


Mereka berdua menaiki tangga yang banyak dan tinggi. Sherlin berjalan dengan sempoyongan, tangga ini benar-benar tidak ada habisnya!.


Menara kelima ini sangat sepi, tidak ada seorangpun yang berada di sini.


Sepertinya di menara ini tidak ada orang lain selain guru Fernand sebelum Sherlin datang.


Mereka berdua memasuki ruangan yang bernuansa cokelat kayu gelap. Cahaya di ruangan ini sangat minim sehingga tidak bisa melihat dengan jelas.


"Guru, apakah disini memang gelap seperti ini?." Sherlin bertanya dengan menarik-narik pelan jubah Fernand.


Jika iya, hebat sekali guru Fernand. Meneliti sesuatu dalam ruangan yang gelap dan minim pencahayaan ini.


"Tidak, guru belum membuka tirai nya." Fernand tersenyum dan berjalan ke arah sebuah jendela besar dan membuka tirai yang menutupinya.


Sreekkk.


Seketika cahaya matahari menyerbu ke segala penjuru ruangan. Ruangan yang tadinya gelap gulita kini menjadi ruangan yang terang benderang.


"Wah. Jendela yang cantik." Sherlin menyentuh jendela berukiran bunga teratai itu.


Fernand terkekeh, dia membuka sebuah laci dan mengeluarkan sebuah kunci yang terbuat dari perak.


Tap tap tap.


"Ini, simpan baik-baik dan jangan sampai hilang." Fernand memberikan kunci itu ke tangan Sherlin.


"Ini...." Sherlin menatap kunci itu.


"Kunci ruangan mu, di masa depan kamu bisa leluasa datang belajar dan berlatih disini." Guru Fernand tersenyum dan menepuk-nepuk puncuk kepala Sherlin.


Sherlin menatap Fernand tak percaya, raut mukanya seolah-olah meminta penjelasan.


"Ha! kamu sungguh lucu. Bukankah guru sudah bilang kamu adalah muridku, jadi otomatis adalah bagian dari menara sihir. Dan ruangan mu ada di bawah lantai ini, lantai ke empat." Fernand menunjuk ke bawah lantai dengan telunjuknya.


"Eum, kalau begitu baiklah! terimakasih guru Fernand!!."

__ADS_1


Greppp.


Sherlin memeluk Fernand dan tersenyum lebar.


Fernand tersenyum dan mengelus-elus kepala Sherlin lembut.


Beberapa saat kemudian, Fernand memulai menunjukkan setiap penelitian nya kepada Sherlin dan menjelaskannya satu persatu dengan detail.


"Jadi, ini adalah penelitian guru yang ke lima puluh sembilan(59). Kombinasi mana, menggabungkan lebih dari satu mana dan menggunakannya sebagai serangan ataupun pertahanan."


"Kamu harus mempunyai satu atau lebih orang yang mempunyai mana dan menggabungkan mana nya menjadi satu. Tidak peduli jika jenis profesi nya berbeda, kombinasi ini masih bisa di lakukan." Fernand menjelaskan mengenai penelitian nya yang kesekian, sebuah papan yang memiliki gambar tertentu yang di buat dengan tinta hitam.


Sherlin mendengarkan dan mengamati secara seksama, dia berpikir sejenak. Jika menggabungkan lebih dari satu mana maka kekuatan nya akan menjadi lebih besar bukan? hoo~ guru Fernand cukup kreatif.


Fernand kembali menjelaskan penelitian nya yang berikutnya.


"Nah, yang ini adalah–.


Setelah memberikan semua penjelasannya, Fernand memberikan tawaran untuk melihat-lihat ruangan yang akan di pakai Sherlin nanti.


"Apa kamu ingin melihat-lihat ruangan mu sekarang Sherlin?."


"Tentu guru!."


"Haha kalau begitu, ayo kita lihat sekarang."


"Ya!."


Drap drap drap.


Yahh, kembali menuruni tangga yang banyak. Sherlin berjalan dengan malas. Tangganya sungguh banyak sekali!.


Tap.


Kini setelah sekian lama berjalan menuruni tangga, mereka akhirnya sampai di lantai empat.


Fernand menyuruh Sherlin untuk mencoba membuka pintunya.


"Bukalah, Sherlin." Ujar guru Fernand.


"Baik!." Sherlin mengangguk dan menjulurkan tangannya untuk membuka kunci.


Klek.


Kunci di putar, dan pintu di buka perlahan menunjukkan sebuah ruangan yang lumayan luas bernuansa cokelat kayu dengan banyak sekali lemari dan rak-rak buku.


Sebuah kursi yang terlihat empuk, dan meja yang besar terlihat tepat di dekat jendela yang besar yang memiliki ukiran yang sama dengan milik guru Fernand, bunga teratai.


Tinta dan bulu angsa, sebuah buku catatan dan buku penelitian di letakkan di meja itu.


Aroma kayu cendana yang wangi terhirup oleh Sherlin, dia berjalan menghampiri meja dan kursi tersebut.


Dia menengadah ke arah Fernand dan tersenyum manis. "Terimakasih, guru. Ruangan ini sangat nyaman."


"Tentu, terimakasih kembali Sherlin." Fernand membalas senyuman Sherlin.


"Aku akan sering datang kemari!."


"Ha ha ha, ya bagus. Datanglah kapanpun kamu mau, guru akan selalu menyambut mu."


"Ya!."


Sherlin kembali teringat, tunggu. Jika dia sudah menjadi anggota menara sihir apakah ketua yang lainnya sudah tahu mengenai hal ini?.


Sherlin dengan berani bertanya, apakah para ketua yang lainnya tahu?.


Fernand dengan santai menjawabnya.


"Tenang saja, guru sudah memberitahukan perihal ini pada ketua pertama. Dan itu di izinkan olehnya, guru ingin kamu masuk ke menara sihir karena ingin lebih mengembangkan potensi mu Sherlin. Akan sia-sia jika tidak mendalami nya."


"Guru juga merekomendasikan diri mu pada ketua sihir untuk menjadi ketua dari para anggota Khunchupp."


"Tapi, sepertinya proses nya akan menjadi lumayan sulit. Melihat dari banyaknya calon."


TBC.

__ADS_1


__ADS_2