The Villainess And Modern Weapons

The Villainess And Modern Weapons
Chapter 41 Suami takut istri


__ADS_3

Attention please❗


Hallo para readers sekalian, mohon maaf untuk ketidaknyamanan di chapter sebelumnya...author bingung kenapa bisa double chapter nya padahal sudah di hapus chapter yang satunya. Mungkin nge-bug ya.


Actually rincian kejadiannya seperti ini, saat itu author sudah menyiapkan chapter nya dan siap untuk di terbitkan pada jam 08:30.


Lalu sekalian menunggu, author keluar kamar kira-kira dua puluh menit-an dan dari jangka waktu tersebut seharusnya chapter 40 'Risih' sudah update tapi sudah lebih sepuluh menit belum update. Author jadi cemas... kenapa belum muncul? nah di situ author kirim ulang pada jam 09:30 dan chapter yang di update duluan di hapus...tapi kenapa yang seharusnya sudah di hapus masih ada!?.


Dan tentu saja di draft novel sama episode novel nya beda:".


Di draft novel masih 42 chapter (tidak termasuk chapter ini) dan di episode sudah ke-43 episode...jika begini apakah akan mempengaruhi novelnya?




Hufftt...entahlah, ini kecerobohan author karena tergesa-gesa dalam bertindak... seharusnya author sabar ya..tapi karena was-was gitu jadi kayak gini:^ kirain teh chapter nya tidak lolos review.


Sekali lagi author minta maaf atas ketidaknyamanan nya🙏🙏🙏


...----------------...


Chapter sebelumnya :


"Tunggu...kamu memilih satu...gaun!?." Duchess terperangah.


Sherlin menampilkan raut muka tidak nyaman. Firasatnya mengatakan jika ada sesuatu yang akan terjadi, dan pastinya sesuatu yang terjadi itu tidak akan bagus.


...----------------...


Sherlin dengan ragu menjawab pertanyaan ibunya. "Ehm ehm y-ya?.."


Duchess menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan tangan kanan.


"Oh my!."


Baammm.


Duchess seketika berdiri dan menggebrak meja menyebabkan bunyi nyaring.


Tuan Duke dan Sherlin tersentak, begitu pula dengan para pelayan yang berada di ruangan itu.


"S-sayang?." Duke dengan ragu-ragu memanggil Duchess.


"....." Duchess tidak menjawab.


Dia menatap Sherlin dan tuan Duke bergantian.


"Ayo! kita pergi ke butik 'Harmony's sekarang!." Ucap Duchess tegas.


"Huh?." Duke dan Sherlin menampilkan raut muka bingung kemudian menatap satu sama lain.


"Aappaaaa!?." Teriak keduanya.


Sherlin tersenyum kikuk. "T-tapi ibu! i-ini masih pagi!."


Duke menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan pernyataan Sherlin. "Ya, itu benar istriku. Lagipula butik nya masih tutup bukan?."


"Memangnya kamu mau apa kesana? bukankah Sherlin sudah memilih gaun nya?." Duke menyender ke kursi dan meminum air putih nya dengan santai.


Duchess hanya diam. Dia mengambil sebuah buah apel di piring dan kemudian–


Wushhh.


Apel itu di lemparkan dengan cepat menuju ke arah Duke.


Pak!


Apel itu mengenai muka Duke dan membuat nya menyemburkan air, gelas yang di pegang nya juga jatuh ke lantai.


Bruhhh.


Prankkk.


'A-astaga!.'


Sherlin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. B-baru saja...ibunya melemparkan apel tepat pada muka ayah nya!.


Duke terkejut dan langsung menatap bingung pada Duchess.


"!???."


"Ekhem!."


"S-sayang....aku bisa menjelaska–." Ucapan Duke terhenti ketika dia melihat Duchess memegang sebuah buah pir di tangan kanannya.


Wushhh.


Pak!


Buah pir itu tepat mengenai jidat tuan Duke, Sherlin melebarkan matanya.


"Ri-riana! aku bisa menjelas–.


Pak!


Duchess kembali melempar buah ke muka Duke, dan aneh nya lemparan itu selalu tepat sasaran. Apakah Duchess pernah berlatih sebelumnya?.


"Uhh...sayang henti–.


Pak!


"Riana! berhenti! aku–.


Pak!!


(First blood)


Pak!!


(Double Kill)


Pakk!!!


(Triple Kill)


Duke menggelengkan kepalanya, saat ini kepalanya berdenyut kesakitan. Dia pusing.


"Riana....tolong berhenti ini lumayan sak–.


Pak!


(Maniac!!)


Sherlin bergidik ngeri, ternyata ibunya yang lemah lembut bisa se-mengerikan begitu.

__ADS_1


Dia akan berhati-hati untuk tidak membuat ibunya marah! dia tidak ingin mengalami kejadian seperti ayah nya yang menyedihkan ini!.


"I-ibu, haha tolong berhenti...s-seperti nya..ayah kesakitan.." Sherlin berbicara dengan nada kecil dia menatap ibunya ragu.


Sringg.


Duchess menatap ke arah Sherlin, tatapannya melunak dan dia tersenyum lembut.


Sherlin terkejut, dia tidak menyangka akan semudah ini menghentikan ibunya!.


'Hanya semudah ini??.' Batin Sherlin.


Tapi beberapa detik kemudian Duchess merubah raut wajahnya, dia kembali menghadap ke arah Duke sambil menatap nya tajam.


Sherlin memasang muka bingung.


"????."


"Ib–.


Swiinggg.


Pakkk!!!!


Rahang bawah Sherlin terbuka lebar, dia tidak percaya jika ibunya....akan melemparkan buah melon yang utuh pada ayahnya!.


Melon itu mengenai hidung Duke dan terpantul lalu jatuh ke lantai.


'A-apaaaa?!?!.' Sherlin berteriak dalam hatinya.


Ibunya sungguh mengerikan!.


Duke memijat hidung nya terdengar bunyi yang cukup keras.


Kretekk.


Hiiikk!!!


Sherlin bergidik ngeri! tidak bisa dibayangkan betapa sakitnya itu!.


"Riana, istriku...aku minta maaf! aku tidak sengaj–.


Duke menjelaskan dengan gugup, mukanya terlihat sangat tertekan.


Duchess memandangi Duke dengan tatapan datar. Dia menaikkan bahunya. "Yahh...tidak apa suamiku. Lain kali lebih peka lah!."


Duke dengan terburu-buru mengangguk.


Tangan Duchess mengambil satu buah anggur dan memandangnya intens, buah anggur itu di putar bulak balik.


Duchess bergumam. "Hmm, anggur ini terlihat sangat bagus.


Tuan Duke yang mendengar gumaman Duchess segera menyela. "Tentu istriku! aku selalu memberikan yang terbaik untuk istri dan putriku."


"Hoo? begitu ya?." Duchess melirik ke arah Duke sambil tersenyum menyeringai.


"Kalau begitu... akan sia-sia usahamu kalau ini tidak di pakai dengan baik! aku akan membantu mu suamiku!." Duchess tersenyum lebar.


"????."


Wushh.


Buah anggur yang diambil Duchess di letakkan di kedua jarinya. Lalu beberapa detik kemudian dia menjentikkan jarinya, sontak anggur yang itu terdorong dengan cepat melesat ke arah Duke.


Wushhh.


Paaakkkkk!!!


Anggur itu mengenai jidat Duke dan membuat dia bersama kursinya terjungkal ke belakang.


Hah!


Semua orang di ruangan itu kaget luar biasa, Sherlin membelalakkan matanya dan rahangnya terbuka lebar.


Sherlin berkedip beberapa kali. "A-ayahh!!."


Tap tap tap.


Sherlin berlari ke arah Duke dan membantunya berdiri.


"A-ayah, kamu baik-baik saja??." Sherlin bertanya dengan khawatir.


"Uhuk! Uhuk! ayah baik-baik saja." Duke menepuk-nepuk pakaiannya.


Drap drap drap.


Duchess berjalan menjauh dengan muka yang datar kemudian dia berhenti sejenak. "Ren, nantikan lah malam ini.." Ucap nya dingin.


Duke terdiam. Istrinya pasti akan menyuruh nya untuk tidur terpisah! astaga, dia tidak menyangka jika istrinya itu akan marah seperti ini. Haahh ini juga adalah salahnya, dia kurang peka. Lain kali dia akan lebih peka lagi, dia tidak ingin mengalami ini untuk kedua kalinya!!!.


Duchess memanggil Sherlin. "Sherlin! jika madam Clea datang kesini untuk mengantarkan gaun itu, pilihlah gaun yang banyak."


"...b-baik ibu." Sherlin tersenyum kikuk.


Duchess kemudian menengok ke belakang untuk menatap Duke tajam, dia mendengus. "Huh!."


Wik.


Setelah mendengus kesal Duchess memalingkan wajahnya dan berjalan sambil menghentakkan kakinya.


Semua orang yang melihat itu hanya meneguk ludah dan tersenyum canggung.


Para pelayan melirik Duke diam-diam, dari dulu mereka tahu jika tuan Duke yang terkenal dengan kedataran dan keiritan bicaranya tunduk pada istrinya! mereka sudah terbiasa dengan kejadian ini. Setiap Duke tidak peka ataupun membuat Duchess tidak senang, maka terjadilah peristiwa yang bersejarah seperti ini.


Duke menepuk-nepuk kepala Sherlin lembut dan kemudian pergi. "Sherlin, ayah akan ke ruang kerja dulu.." Ujarnya sambil tersenyum.


"Baiklah ayah." Sherlin menjawab dengan anggukan.


Drap..drap..drap


Sherlin melihat kepergian Duke dengan senyuman kecil, dia kemudian memberi arahan pada para pelayan untuk membersihkan ruangan yang terlihat berantakan ini.


"Kalian, tolong bersihkanlah ini semua. Aku akan pergi ke halaman depan untuk menyambut guru Fernand." Sherlin menunjuk buah-buahan dan pecahan gelas yang berserakan.


Para pelayan membungkukkan badannya. "Tentu nona, semoga hari anda menyenangkan."


"Ya." Sherlin menjawab sambil berjalan pergi.


...----------------...


Di halaman depan mansion Edinburgh sudah ada tuan Fernand Zelary disana, Sherlin berlari menuju ke arah nya.


"Guru!." Sherlin melambaikan tangannya.


Guru Fernand tersenyum kecil dan membalas lambaian tangan Sherlin.

__ADS_1


Grepp.


Sherlin memeluk guru Fernand.


Tinggi mereka masih sangat jauh tetapi kali ini Sherlin tidak perlu memeluk paha guru Fernand lagi. Dia sekarang sudah sepuluh tahun dan tentu saja tinggi nya juga naik, dia sekarang sudah setinggi pinggang guru Fernand.


Guru Fernand mengelus-elus kepala Sherlin. Dia tertawa. "Hahaha, muridku ini sepertinya bertambah tinggi dari hari ke hari."


"Hehe tentu saja! di masa depan aku akan melampaui tinggi mu guru!." Sherlin terkekeh.


Di dalam hatinya dia berpikir jika kemungkinan untuk melampaui tinggi guru Fernand kecil, tapi ya sudahlah ini hanya bercanda oke?.


Ekhem mengenai perubahan fisik, guru Fernand tidak berubah sedikit pun kecuali kerutan di matanya. Itu terlihat satu tahun lalu, yahh lagipula guru Fernand sudah berkepala tiga jika di hitung dari pertama kali mengajar dia berumur dua puluh empat tahun dan sudah enam tahun dia mengajari Sherlin.


Sherlin menggandeng tangan kanan guru Fernand dan berjalan menuju tempat latihan.


Drap drap drap.


Beberapa saat kemudian, di tempat latihan~.


Sherlin melihat-lihat persekitaran, dia mencari-cari Felix. Dan tatapannya tertuju pada salah satu gazebo taman. Dia melihat Felix sedang duduk-duduk santai di meja, Sherlin kemudian bertelepati pada nya.


'Felix! cepat kemari!.'


'Huh? untuk apa? lagipula aku tidak mau, saat ini aku sedang bersantai! jangan ganggu aku!.' Felix mendengus.


Sherlin berdecih, dia menggertakkan giginya. 'Tsk! ini penting! kamu kesini lah dulu!.'


'Cih, baiklah! dasar bocah tengik menyebalkan!.'


Sherlin menghela nafas panjang, si Felix itu! dia selalu saja membuatnya mendengarkan kata-kata yang meresahkan.


Felix kemudian bangkit dengan malas dan berjalan dengan ke-empat kakinya. Dia berjalan dengan pelan sambil melenggak-lenggok kan ekornya.


Sherlin yang melihat itu tersenyum lebar sambil memejamkan matanya.


'Aaakkk! dasar Felix sial*an!!!.'


Di sisi lain guru Fernand sedari tadi mencari-cari tempat yang nyaman. Dia ingin tempat yang sejuk untuk kali ini.


Setelah sekian lama mencari, guru Fernand akhirnya menemukan tempat yang cocok.


Guru Fernand dan Sherlin duduk berhadap-hadapan di bawah naungan pohon besar.


Guru Fernand tersenyum puas, dia bertanya pada Sherlin tentang tempat yang mereka tempati sekarang ini. "Bagaimana Sherlin? apakah nyaman?."


"Tentu guru, tempat ini sangat nyaman." Sherlin tersenyum kecil, perhatian nya tertuju pada Felix yang belum sampai-sampai juga.


'Felix!! kenapa kamu masih belum sampai!?!?.'


'Sebentar lagi aku sampai... bersabarlah!.'


'Sabar? kamu menyuruh ku bersabar?. Buka matamu baik-baik! kamu hanya perlu berlari kesini! lagipula jarak nya tidak jauh!.'


'Tsk, diamlah.'


Sherlin mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia melihat Felix yang dengan pelan berjalan ke arahnya.


Kembali ke guru Fernand, dia memulai pembelajaran. Kali ini mereka tidak akan berlatih sihir, tetapi mereka akan membahas tentang memanggil spirit.


"Ekhem...Sherlin, kali ini aku akan menjelaskan tentang upacara pemanggilan spirit." Guru Fernand berdehem.


"Seperti namanya, upacara ini di maksudkan untuk memanggil spirit bagi para Summoner ketika mereka berumur sepuluh tahun."


"Upacara ini di adakan setiap satu tahun sekali. Biasanya semua orang kekaisaran Fritina akan berkumpul di kuil, termasuk rakyat biasa, bangsawan dan keluarga kekaisaran akan hadir. Semua anak-anak yang berumur sepuluh tahun dan memiliki profesi Summoner akan berendam di kolam pemanggil."


Guru Fernand dengan serius menjelaskan dan Sherlin tidak bisa fokus karena Felix belum sampai.


Tap tap tap.


Felix dengan malas berjalan ke samping Sherlin.


'Akhirnya kau datang juga! aku sudah berlumut menunggu lama!.'


'.....'


'Ya maaf.'


Sherlin menghela nafas panjang, dia akan mengalah kali ini karena dia harus mendengarkan penjelasan guru Fernand dengan seksama.


"Dan setelah mereka berendam di kolam pemanggil, para Summoner harus dengan fokus memanggil spirit. Para Summoner harus membayangkan sebuah spirit dan tentu saja mereka bisa dengan sesuka hati ingin mendapatkan spirit apa. Tapi, spirit itu harus sesuai dengan jumlah mana kita. Karena para spirit akan menyerap mana kita untuk membuktikan apakah kita layak menjadi tuan mereka."


"Jika mana tidak cukup maka spirit tingkat tinggi tidak bisa di panggil, dan kemungkinan besar spirit tingkat rendah yang akan datang. Ataupun lebih buruk nya tidak akan ada spirit pun yang datang."


Guru Fernand tersenyum kecil dan mengakhiri penjelasan nya. Dia bertanya pada Sherlin. "Bagaimana Sherlin? apakah kamu mengerti? apa ada yang perlu di tanyakan?."


Sherlin memegang dagunya dan berpikir sejenak. "Hmmm. Guru, jika tidak bisa memanggil spirit maka apakah tetap menjadi Summoner dan apakah mana dari seseorang yang gagal memanggil spirit akan habis semuanya? ataukah masih tersisa?."


Guru Fernand tersentak, dia dengan ragu menjawab. "Eumm.. berdasarkan dari pengetahuan guru, tidak. Mereka akan mati karena mana mereka habis di serap, lagipula spirit adalah makhluk yang menjadikan mana sebagai makanan dan pengisi energinya. Jadi, kecil kemungkinannya para spirit akan menyisakan mana untuk para Summoner yang gagal."


Sherlin berkeringat dingin, jika ada seseorang yang gagal dan mati di tempat itu bukankah akan sangat menyedihkan?.


Summoner yang gagal akan di cemooh meskipun sudah tidak bernyawa dan keluarganya pun akan mendapat kan cemoohan seumur hidup.


Sherlin meneguk ludah kasar, untung saja mananya banyak. Jadi, dia bisa sedikit tenang karena masih mempunyai celah.


Sherlin berniat untuk memanggil spirit tingkat sedang saja. Dia tidak tahu berapa banyak mana yang harus di pakai untuk memanggil spirit tingkat tinggi, jadi sebagai solusi dia akan memilih yang standar.


Guru Fernand tersenyum, dia mengelus kepala Sherlin lembut. "Sherlin, jangan khawatir. Kerahkan semua yang kamu bisa. Karena guru percaya padamu, guru yakin kamu tidak mungkin gagal. Jadi, panggilah spirit yang menurut mu terbaik!."


Sherlin tersenyum manis. "Baik!."


Hari menjelang sore, Sherlin sekarang berada di gerbang masuk mansion Edinburgh untuk mengantar guru Fernand.


"Guru Fernand sampai jumpa!."


"Ya, sampai jumpa lagi."


Saat Fernand hendak naik ke kereta kuda, dia berbalik dan menghampiri Sherlin lalu berbisik.


"Sherlin, pekan nanti apa kamu mau ikut guru ke menara sihir?."


Sherlin tersentak kaget. "B-benarkah guru?."


"Tentu saja."


Sherlin menganggukkan kepalanya riang. "Baik! aku akan ikut hehe!."


Fernand terkekeh, dia kembali naik ke kereta kuda.


Sherlin memandangi kereta kuda guru Fernand yang semakin menjauh.


Dalam hatinya dia sangat senang. Bukankah ini merupakan kesempatan untuk membuat relasi dengan menara sihir?.


Heh! dia tidak akan menyia-nyiakan peluang besar ini!.

__ADS_1


*Jika ada typo tolong kasih tahu author di kolom komentar ya.


To Be Continued~


__ADS_2