
"Tapi, sepertinya proses nya akan menjadi lumayan sulit. Melihat dari banyaknya calon."
...----------------...
Sherlin termenung sejenak.
Calon ketua anggota Khuncupp? yang benar saja?!.
Sherlin tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Oh ayolah, anggota Khuncupp itu sangat terkenal di kekaisaran ini tahu?.
Bayangkan saja, anggota Khuncupp itu seperti perkumpulan orang-orang yang sangat berbakat yang berkumpul dalam satu kelompok dari berbagai penjuru daerah.
Perumpamaan nya seperti keranjang yang berisi penuh dengan cabe-cabe paling pedas!.
Seperti sekumpulan para jenius!
Dan tentu saja ketua nya juga jenius diantara yang jenius! Oh... Sherlin merasa sedikit kurang percaya diri sekarang.
Fernand tersenyum tipis, dia menepuk-nepuk pundak Sherlin. "Jangan khawatir, guru tentunya tidak merekomendasikan diri mu sembarangan. Ayolah, guru juga mempertimbangkan ini secara serius. Jadi, tingkatan kepercayaan diri mu muridku!."
"Guru merekomendasikan mu karena kamu, memang pantas!."
Sherlin terdiam dan hanya tersenyum kecil. Oh my~ dia terharu sekarang.
Sherlin kemudian dengan semangat menganggukkan kepalanya.
"Ya! aku akan berusaha semaksimal mungkin!."
"Bagus, itu baru muridku."
"Hehe!." Sherlin tersenyum sumringah menampakan deretan gigi yang cukup rapi.
...----------------...
Menara utama.
Srek srek srek.
Suara gesekan bulu tinta dengan kertas terdengar menghiasi ruangan yang hening.
Sepi.
Satu kata yang menjabarkan ruangan besar itu, hanya ada seorang laki-laki paruh baya yang sibuk berkutat dengan kertas-kertas yang bertumpukan.
Rambut nya yang putih berkilauan terkena sinar matahari, iris mata merah seperti Ruby bersinar di tengah sinar matahari yang masuk dari sebuah jendela besar yang berada di belakangnya.
Sriingg.
Cahaya kilat muncul dan seseorang muncul dibaliknya. Rambutnya yang panjang terurai, bisa dilihat dengan mata telanjang jika orang itu memiliki wajah yang enak di pandang, sebab dari rambutnya yang cantik pun bisa di bayangkan betapa menawan wajahnya. Hanya saja sangat disayangkan jika wajahnya tidak terlihat karena dia tertutup oleh bayangan.
"Ketua pertama, mereka berdua sudah sampai~."
Sudut bibirnya terangkat keatas, lelaki paruh baya itu berhenti sejenak dan tersenyum dingin. "Heh! ternyata begitu."
Srrrrkkk.
Laki-laki paruh baya itu berdiri dan menarik kursi nya ke belakang.
Tap tap tap.
Dia berjalan dengan berkharisma menuju ke arah jendela.
"Sudah saatnya. Pergilah, sampaikan pada mereka." Ujarnya dengan tegas.
"Baik~." Sosok di balik bayangan itu menjawab dengan nada centil. Sesaat kemudian, dia menghilang secepat kilat.
Di sisi lain, menara kelima.
Brakk.
Pintu di buka dengan keras, memperlihatkan seorang wanita berambut merah muda yang sedang memasang senyum sumringah di mukanya. Wanita itu berbicara dengan nada lembut.
"Hai sayang."
(kek ngedenger suara Patrick:^)
Fernand dan Sherlin terdiam cukup lama hingga salah satu dari mereka menjawab. "Untuk apa kau kemari?." Ujar Fernand ketus.
Berbeda dengan Fernand yang secara terang-terangan terganggu dengan kehadiran sosok wanita berambut merah muda itu, Sherlin hanya diam dan memandangi mereka berdua secara bergantian. Bisa di bilang, dia sedang mencerna suasana panas yang terjadi di sini.
Wanita itu memelas dan secara tiba-tiba muncul di belakang Fernand dan memeluk nya dari belakang.
"Teganya~ aku kan cuma mau mengunjungi kekasih ku ini~."
"......." Fernand tidak bergeming sedikitpun. Dia menepis tangan wanita itu, dan menjaga jarak beberapa langkah darinya.
__ADS_1
Plak.
"Langsung ke intinya." Fernand berbicara dengan nada dingin, raut mukanya jengkel.
Wanita itu terdiam menatap Fernand, dia kemudian menyeringai dan bersidekap tangan. "Heh! 'dia' memanggil mu."
Fernand menaikkan sebelah alisnya. "Oh? begitu ya? aku akan bergegas."
Grepp.
Sherlin menarik ujung baju Fernand.
Fernand menoleh ke arah Sherlin dan tersenyum kecil. "Tenang saja, selama guru pergi, kamu tunggu dulu di sini. Tidak akan terjadi apa-apa."
Ujung kelopak mata wanita itu melengkung seperti bulan sabit, dia berjalan mendekat ke arah Sherlin dan menggandeng tangan kirinya.
"Tenang saja Fernd, serahkan saja murid kecil mu ini padaku!."
"Aku tidak percaya, lebih baik kamu pergi dari sini." Ujar Fernand sembari menunjuk ke arah pintu.
Wanita itu tertawa kecil mendengar ucapan Fernand. Dia menepuk-nepuk puncak kepala Sherlin. "Ha ha ha ha, lucu sekali! ayolah~ biarkan aku berkenalan dengan murid kecil mu ini~ bukankah sepasang kekasih itu harus saling berbagi? tentunya, murid mu ini juga muridku Fernd~."
Fernand mengerinyit kan alisnya. "Tsk, kamu selalu membual. Jika ada yang terjadi pada murid ku sedikit saja, ku pastikan kamu tidak akan bisa tertawa dengan santai seperti itu lagi."
"Haha bercanda mu memang yang terbaik! hati-hati di jalan~." Wanita berambut merah muda itu melambaikan tangannya.
Setelah sekian lama diam, Sherlin akhirnya membuka mulutnya. "Hati-hati guru."
Fernand tersenyum hangat. "Ya muridku. Kamu juga harus berhati-hati,
terutama dengan orang ini." Kalimat terakhir di ucapkan dengan penuh penekanan dan tatapan yang tajam oleh Fernand yang dilemparkan pada Rishee.
Drap drap drap.
Klek.
Wushhh.
Setelah kepergian Fernand, suasana di ruangan ini menjadi hening dan canggung.
Terutama Sherlin, dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
Sedari tadi dia hanya berdiri dan tidak melakukan apa-apa. Sungguh ironis.
Wanita berambut merah muda, Rishee berjalan dengan anggun menuju sofa yang terletak di pinggir ruangan ini.
Bruk.
Dia menjatuhkan tubuhnya dan duduk dengan santai, sembari menyilangkan kakinya dia memberi kode tangan pada Sherlin.
"Kemarilah."
Sherlin termenung sebentar, matanya berkilauan, semburat merah kecil terlihat di pipinya.
Sherlin berbicara dalam hati. 'What the- astaga! aku sudah tahu dia cantik! tapi! saat ini dia bertambah cantik berkali-kali lipat! sangat sangat cantik!.'
Sherlin diam-diam merutuki dirinya, kenapa dia baru menyadari nya sekarang?! dan juga. Kenapa guru Fernand tidak termakan dengan pesona wanita cantik nan seksi dihadapan nya ini!? apa dia pecinta sesama jenis??.
OPS! apa yang baru saja dia pikirkan!? betapa menjijikkan nya pikiran itu!. Buang jauh-jauh!.
Gluk. Sherlin menelan ludahnya, dia dengan pelan berjalan menghampiri Rishee.
Bruk.
Sherlin duduk tepat di samping Rishee. Dia beberapa kali mencuri-curi pandang pada wanita cantik di sampingnya itu.
Srek.
Tangan Rishee terulur hendak mengambil untaian rambut merah Sherlin. Dia tersenyum menggoda. "Kamu sungguh gadis kecil yang cantik. Kelak, sepertinya saat kamu dewasa kamu akan menjadi sangat cantik melebihi ku."
Blush. Sherlin terperanjat melihat pemandangan mempesona di depannya. Pipi nya merona, dan dia salah tingkah sekarang! apa yang harus dilakukan jika ada seorang wanita cantik memuji mu tepat dihadapan mu seperti ini?!.
Sherlin tidak bisa mengendalikan tingkah nya! dia mengalihkan pandangannya berharap meredakan kecanggungan yang terjadi dan menetralisir perasaan malu nya.
Ah sepertinya hidung Sherlin sedikit lagi akan terbang tinggi.
"Fffttt."
"Kkkk kikikikik."
"Ha! haha ha ha ha ha!."
Rishee tertawa lepas sembari memegangi perutnya. Oh astaga! dia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi! lihatlah betapa lucunya gadis kecil di depannya itu! sungguh menggemaskan sekali.
__ADS_1
"Hoo~ ha ha ha.. kamu begitu menggemaskan! aku tidak tahan ingin mencubit pipi mu dan memeluk mu kuat-kuat!."
Sesaat kemudian, Rishee mencubit pipi kiri Sherlin gemas dan kemudian memeluk nya erat-erat.
"Betapa lucunya~."
"Kenapa si cuek nan menyebalkan itu mendapat murid imut seperti mu?! harusnya muridnya juga berkepribadian persis seperti nya!."
"Tapi entah aku yang bodoh bisa menyukai nya!."
Sherlin hanya tersenyum kikuk. Dia sekarang terjebak dalam dua buah bola besar. Sherlin mendorong pelan Rishee.
Rishee yang peka melepaskan pelukannya.
"Oh my! maafkan aku~."
"Eum! tak apa.." Balas Sherlin sembari menundukkan kepalanya.
Jika dibandingkan dengan tubuh lama Sherlin yang berada di bumi, tubuhnya tidak ada apa-apa nya dengan milik Rishee!!!.
'Aku...merasa gagal menjadi seorang perempuan;.' Sherlin tersenyum masam dalam hatinya. Oh ayolah, mereka berdua sangat kontras oke?.
Perumpamaan nya seperti tubuh Sherlin yang di bumi itu mirip papan cucian, sedangkan Rishee bak gitar spanyol.
(What the hell !! kek ngerasa familiar ya?! di lapak oranye kata-kata ini sering di gunakan soalnya:)). -Author.
Sherlin kemudian dengan pelan menatap pada badannya sendiri.
'Mereka semua hampir sama rata..' batin Sherlin pasrah.
Dengan tangan yang terkepal kuat, Sherlin bertekad untuk membuat tubuhnya menjadi ideal! huh! baiklah! ini pasti akan menjadi cukup sulit mengingat dia juga tidak ada pengalaman untuk merawat tubuh menjadi ideal.
Tapi, meskipun begitu tak apa. Dia akan menanyakan hal ini pada ibu atau orang yang ahli. Heh! tunggu saja.
Beberapa saat kemudian.
Ruangan bernuansa cokelat kayu itu hening, meskipun terdapat dua orang perempuan yang ada didalam. Tapi, mereka tidak melontarkan sepatah kata pun.
Hanya diam sembari menatap ke segala penjuru arah.
Krik....krik...krik...
Sherlin meneteskan keringat dingin sembari menggigit bibirnya.
Ggrrtt.
'Guru Fernand cukup lama juga..' Batin Sherlin.
Berniat untuk menghilangkan keheningan, Rishee membuka mulutnya untuk mengawali sebuah pembicaraan. "Ahh ngomong-ngomong..aku lupa untuk memperkenalkan diri secara resmi."
"Sekali lagi..aku adalah Rishee Theasher. Ketua ke empat dari menara sihir,
"ekhem dan juga tentunya kekasih guru mu." Rishee mengibaskan rambut nya yang panjang ke belakang.
"....." Sherlin menatap aneh pada Rishee, alisnya berkerut.
Jangan bilang padaku jika, wanita seksi di hadapannya ini memiliki cinta bertepuk sebelah tangan?.
Oh betapa malangnya.
Haah sudahlah Kakak cantik, sudahi harapan mu itu. Jika mengenai romansa-romansa seperti hal ini, jangan berharap terlalu tinggi pada guru ku yang satunya itu.
Dia payah┐( ̄ヘ ̄)┌
Nanti bisa-bisa kamu terluka...
...----------------...
Kembali ke menara utama.
Klek.
"Ketua pertama memanggilku?." Fernand membuka pintu dan masuk dengan berjalan santai.
Laki-laki paruh baya itu, alias ketua pertama tersenyum jengkel. Dia meletakkan pena nya dan memijat pelipisnya. "Heh! ternyata murid lama ku ini sudah lupa akan batasan."
"Kamu semakin menjadi-jadi.."
"......"
Fernand tidak menanggapi ucapan-ucapan yang dilontarkan oleh ketua pertama.
Fernand hanya memasang raut muka datar dan tanpa aba-aba duduk di bangku yang berada di samping kanan tempat ketua pertama berada.
To be continued.
__ADS_1