
POV AUTHOR
Dalam kedipan mata lima tahun sudah berlalu, Sherlin melewati kesehariannya seperti biasa.
Robert akhir-akhir ini sangat sering mengunjungi kediaman Duke Edinburgh, bahkan ...bisa dikatakan setiap hari.
Tak mau kalah, Penelope juga meningkatkan kunjungan nya ke kediaman Duke Edinburgh, sesekali.. William juga datang berkunjung.
Tapi, itu sudah lama karena William sekarang sudah berumur enam belas tahun yang artinya dia sudah masuk ke akademi. Dia sudah mencapai kelas terakhir, dan dalam beberapa bulan dia akan segera lulus dan akan mengadakan pesta kedewasaannya.
Di sisi lain Robert dan Penelope, mereka berdua saling bersaing untuk menjadi yang terdekat dengan Sherlin.
Tapi sepertinya...itu tidaklah mudah. Karena mungkin kapan saja ada seseorang yang bisa menjadi orang yang paling dekat bahkan mungkin berharga bagi Sherlin sendiri.
Usia Sherlin sekarang sudah sepuluh tahun, begitu pula dengan Penelope. Dia sudah memulai latihan sihirnya dua tahun yang lalu. Sherlin, Penelope dan Robert biasanya berlatih bersama di kediaman Duke Edinburgh tapi, kadang-kadang mereka berlatih di kediaman Marquess Conscy atau pun di kediaman Duke Zekallion dengan ditemani oleh ibu Robert, Leanna.
Phael kekasih Lili juga sekarang sudah membuka toko yang lebih besar, tentunya dengan dukungan Sherlin.
Toko kue 'Loveris cake' lumayan populer, banyak orang yang memesan berbagai jenis kue pada Phael. Dan tentu saja Phael selalu sibuk setiap hari mengurus tokonya.
Dengan demikian, Lili dan Phael menjadi jarang bertemu. Ekhem ekhem, bisa dikatakan mereka sedang menjalani hubungan jarak jauh;>.
Oh ya, mengenai hubungan pangeran mahkota dia tidak cukup dekat dengan Sherlin. Yahh hubungan mereka biasa-biasa saja, tidak ada yang spesial hanya sebatas rekan politik.
Ngomong-ngomong mengenai politik, kalian ingat tentang kerajaan Fortnum?
Ayah Sherlin dan kakek Sherlin membahas kerajaan Fortnum di chapter 10 'Senjata api pertama'.*
Ya, kerajaan yang sedang berselisih dengan kekaisaran Fritina. Semakin hari percikan api antara kedua nya semakin panas. Dan penyebab perselisihan ini tidak lain adalah karena keserakahan raja dari kerajaan Fortnum itu sendiri.
Kerajaan Fortnum adalah sebuah kerajaan kecil yang mempunyai banyak batu sihir, kerajaan Fortnum berada di dekat wilayah kekuasaan kekaisaran Fritina.
Awal dari semu perselisihan ini terjadi karena kerajaan Fortnum menghentikan pengiriman batu sihir secara sepihak pada kekaisaran Fritina.
Kekaisaran saat itu membeli batu sihir secara rutin setiap bulan nya karena di kekaisaran Fritina batu sihir sangat jarang ditemukan.
Raja kerajaan Fortnum menginginkan keuntungan yang besar, dia menghentikan pengiriman batu sihir ke kekaisaran Fritina demi meraup untung lebih dari pembayaran pihak kekaisaran.
Kekaisaran Fritina sudah membayar semua bayaran dari awal untuk pengiriman batu sihir selama sepuluh tahun. Tapi, pihak kerajaan Fortnum menghentikan pengiriman sebelum masa kontrak jual beli habis, masih tersisa lima tahun masa kontrak. Dan itu membuat kaisar bertindak dengan mengirimkan sejumlah pasukan prajurit khusus untuk memperingati kerajaan Fortnum.
Dan hari ini, Seluruh bangsawan di undang ke istana untuk membahas perselisihan yang terjadi.
Di aula istana kekaisaran Fritina~
"Bagaimana ini? kerajaan kecil itu sudah bertingkah terlalu jauh takutnya nanti–.
"Tsk! berani-beraninya kerajaan kecil itu menantang kekaisaran besar kita!."
"Jangan berbasa-basi lagi, langsung serang saja! pasti pihak kita menang!."
"Betul sekali, sebenarnya apa yang dipikirkan kaisar dengan menunda-nunda ini selama bertahun-tahun!?."
"Ya, itu benar!."
Riuh, kata yang menggambarkan suasana saat ini. Para bangsawan yang hadir saling berbisik dan beropini masing-masing.
Padahal keluarga kekaisaran belum datang tapi para bangsawan yang hadir sudah membuat kericuhan.
Di sisi lain, Sherlin saat ini sedang terhimpit oleh gaun para nyonya-nyonya bangsawan yang mengembang layaknya kue.
"Heuk!."
Grepp.
"Dasar bodoh! kenapa kamu berdiri di tengah-tengah!?."
Robert menarik pergelangan tangan Sherlin dan membawanya ke samping.
"Ah aku terseret sampai ke sana. Tadinya aku berdiri di samping ayah dan ibuku." Sherlin dengan sedikit mendongak menatap Robert.
Robert, dia bertambah tinggi dan sekarang semakin dia tumbuh fitur wajah tamvan nya semakin terlihat. Gaya rambutnya sekarang juga berbeda, dia sepertinya membiarkan rambutnya panjang.
"Sherlin!!!."
Sherlin menoleh. "Eh? Pene!?."
"Sherlin! aku sudah mencari mu kemana-mana!."
__ADS_1
"Ah maaf, aku tadi terbawa sebuah arus fufu~."
Penelope menampilkan raut muka bingung.
"Bukan apa-apa, lupakan saja."
Robert mendengus, dia mengerinyit. "Huh, dasar para orang-orang bodoh itu. Mereka mengira jika perang bisa menyelesaikan semuanya, padahal efek samping negatif yang akan terjadi sangat besar."
"Cih, mereka hanya memikirkan diri sendiri."
Sherlin menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Heum, benar sekali. Tumben sekali kamu berpikiran seperti ini wortel."
'Tapi sayangnya perang akan benar-benar terjadi.' Sherlin mengepalkan tangannya.
Robert mendelikkan matanya, "Jangan memulai perdebatan tomat."
Penelope tersentak. "Hei! jangan memanggil Sherlin Seperti itu!."
"Terserah ku."
"....."
Sherlin tidak bergeming, dia hanya fokus menatap ke arah sesuatu yang berada di depan.
Robert dan Penelope melirik ke arah Sherlin, dia kemudian mengikuti arah pandangan Sherlin.
Keluarga kekaisaran akhirnya datang, di ikuti dengan seorang remaja perempuan yang berpenampilan mencolok.
Sherlin membelalakkan matanya. 'Hah?. Siapa dia? di novel tidak ada karakter tokoh seperti dia. Dalam cerita novel, kerajaan Fortnum mendeklarasikan perang. Dan kerajaan Fortnum berakhir dengan kekalahan telak.'
'Ini menjadi sangat membingungkan. Apakah aku melewatkan sesuatu? tapi aku yakin sudah membaca novelnya sampai tamat. Haah...sudahlah, aku hanya perlu melihat kelanjutan nya saja. Karena ini tidak ada sangkut-pautnya dengan rencana ku.'
"Keluarga kekaisaran Fritina, yang mulia kaisar Ludwig Beethoven Van Fritina, yang mulia permaisuri Yurina Barnes Van Fritina dan pangeran mahkota Jeremy Leon Van Fritina memasuki ruangan!–." Pelayan dengan lantang memecah keheningan.
Seketika semua orang membungkukkan badannya tak lama kemudian mereka bangkit setelah mendengar pelayan kembali memberitahukan kedatangan seseorang.
"...D-dan putri ke tiga dari kerajaan Fortnum, yang mulia putri Clover Fortnum m-memasuki ruangan." Cicit pelayan itu.
"......"
"Hah!? putri Fortnum!? dia dari kerajaan Fortnum!??."
"Heh, lihatlah kulitnya! mirip seperti budak bukan??."
"Benar. Kulitnya terlihat kusam astaga~."
"Ada apa ini? bagaimana putri dari kerajaan kecil itu bisa datang kesini??."
"He? dari yang kudengar tadi, dia tidak memiliki nama tengah bukan? apakah dia anak haram? ataukah putri buangan?."
"Hoho~, kamu ada benarnya juga. Makanya dia di kirim kesini kan~."
"Fufufu ak–."
Srrrr.
Kaisar Fritina mengangkat tangan kanannya ke atas dan membuka suara. "Semua nya tenang."
"Satu hari yang lalu Duke Edinburgh, Duke Zekallion dan Marquess Conscy mendatangi kerajaan Fortnum untuk meluruskan masalah antara kedua belah pihak yang terjadi belakangan ini. Mereka bernegosiasi dengan kepala dingin. Dengan Sedikit dorongan, raja Fortnum akhirnya mengirimkan kembali batu sihir dan memberikan kompensasi."
'Sedikit dorongan? ahh kurasa tidak. Mana mungkin hanya dengan sedikit dorongan? pasti ayah akan berbuat sesuatu yang lebih dari 'Sedikit dorongan' itu.' Batin Sherlin.
Suasana di aula istana menjadi panas, para bangsawan membuka suaranya.
"Hah!? hanya dengan ini? itu tidak setimpal dengan bayaran yang kita bayar pada kerajaan itu bukan??."
"Yahhh, aku setuju. Itu tidak sebanding."
"Yang mulia! itu tidak sebanding!!!."
"Ya, yang mulia! ini tidak adil!."
"Yang mulia kaisar–."
Duk duk duk.
Kaisar menghentak-hentakkan tongkat yang dibawanya.
__ADS_1
"Diam!." Ujar kaisar dingin.
"......."
Hening. Para bangsawan yang tadinya berbicara dengan lantang seketika terdiam menundukkan kepalanya.
"Heh, dasar para anj*ng liar kelaparan. Cuih, menjijikkan sekali." Pangeran mahkota dengan pandangan merendahkan menatap pada sekumpulan bangsawan yang tadi berbicara dengan keras.
Sontak para bangsawan itu tertegun, tidak percaya pada ucapan yang baru keluar dari mulut pangeran mahkota.
"Pangeran mahkota, tutup mulutmu." Kaisar mengerinyit.
"Tsk, itu memang kenyataannya bukan?. Mereka mirip seperti anj*ng liar yang kelaparan..sedari tadi terus menggonggong tuh."
Sherlin tersenyum tipis. Dia setuju dengan ucapan pangeran mahkota, memang ya ketajaman lidah tokoh utama itu tidak perlu di ragukan. Tingkah mereka mirip seperti itu bahkan sangat mirip.
Bak seperti anj*ng liar yang kelaparan mereka sedari tadi terus membual mengeluarkan ocehan tidak jelas seperti meminta keuntungan tersendiri, tidak berbeda jauh dengan raja kerajaan Fortnum. Tapi yang ini lebih rendah, karena mereka berbicara seolah-olah memihak dan mendukung kekaisaran tapi sebenarnya mereka meminta kompensasi lebih untuk mereka sendiri. Ekhem bisa dikatakan mereka bermuka dua!.
Mencari kesempatan dalam kesempitan adalah sebuah uraian kata yang pas untuk menjabarkan tingkah laku mereka.
Uhuk!
Di sisi lain, putri kerajaan Fortnum sekarang sedang berdiri dengan diam menundukkan kepalanya. Kedua tangannya meremas gaun sederhana yang dipakainya. Yahh untuk seukuran gaun tuan putri, gaun itu terlihat sangat sederhana kalian tahu?.
Sherlin yang melihat itu hanya menatap nya dengan tatapan dan raut muka yang rumit.
Duk duk duk.
Kaisar kembali menghentak-hentakkan tongkat nya.
"Raja kerajaan Fortnum memberikan kompensasi yang cukup setimpal. Dia menambah masa kontrak pengiriman batu sihir selama 10 tahun dan memberikan sejumlah koin emas sebesar lima juta koin emas." Kaisar dengan lantang berbicara.
"Woah! lima juta?.".
"Ditambah sepuluh tahun!?."
"Nah ini cukup sepadan bukan!?."
"Ya ya. Kamu benar."
Sherlin mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. "Fufufu, tidak tanggung-tanggung ya."
Robert menganggukkan kepalanya. "Ya! benar sekali. Mereka bertiga (Duke Edinburgh & Duke Zekallion & Marquess Conscy) memang hebat dalam menyelesaikan sebuah masalah terutama kelicikan bukan??."
"Yup! aku setuju dengan mu." Sherlin tersenyum manis.
"Benar! mereka memang sangat hebat!." Penelope dengan kegirangan meloncat-loncat kecil.
"Lalu, sekarang putri ke tiga dari kerajaan Fortnum akan tinggal di kekaisaran ini dan dengan izinku dia akan menjadi salah satu calon kandidat putri mahkota."
"Hah!?."
"Apa!?."
"Bagaimana mungkin putri dari kerajaan kecil itu!?."
"Kaisar–.
Kaisar terlihat marah, di dahinya muncul urat urat yang menonjol.
"...Aku tidak akan mentolerir penolakan dalam jenis apapun!." Kaisar berbicara dengan tegas dan dingin.
Suaranya yang dingin seperti menusuk langsung ke telinga bahkan menembus sampai ke dalam saraf.
Dan bahkan suara kaisar saat itu bergema di aula.
Wushhhh.
Para bangsawan yang hadir seketika diam, mereka menyadari jika saat ini kaisar sedang marah besar.
"Acara ini selesai." Kaisar langsung pergi dari aula dengan di ikuti oleh permaisuri, pangeran mahkota dan putri ketiga kerajaan Fortnum.
......................
Chapter selanjutnya akan di terbitkan besok~
TBC
__ADS_1