The Villainess And Modern Weapons

The Villainess And Modern Weapons
Chapter 27 Pesta Robert 1


__ADS_3

POV AUTHOR


Angin berhembus kencang, dedaunan pohon beterbangan tak tentu arah. Helaian rambut merah Sherlin melambai-lambai, pandangan nya terganggu.


Robert perlahan maju dan menyelipkan rambut yang mengganggu pandangan Sherlin ke telinga nya. Robert menatap Sherlin lekat. Sherlin diam, dia mencoba tetap tenang. Situasi yang ada disini sangat canggung, posisi mereka saat ini sangat sangat ambigu. Untung saja tidak ada yang datang kemari, kalau tidak... pasti akan terjadi kesalahpahaman.


Mereka yang melihat ini tidak akan percaya! Melihat sepasang bocah malam-malam! berduaan di tepi danau! apalagi dengan posisi yang... errr ....seperti itu.


Ini tidak baik untuk jantung.....dan akan menodai mata suci kalian.....


Sampai beberapa menit mereka berdua terus dalam posisi seperti itu. Sepertinya Robert enggan menyudahi posisi yang mengakibatkan kesalahpahaman itu.


Deg deg deg.


Sejujurnya sedari tadi jantung Robert berdetak kencang, Robert merasa jika jantung nya kini seperti berlarian kesana kemari. Tidak dapat dipungkiri jika sekarang ini dia sedang gugup setengah mati! tapi raut muka nya dengan sempurna menutupi kegugupannya. Meskipun Robert itu blak-blakan tapi tetap saja dia bangsawan, apalagi dia adalah putra Duke.


Sangat hebat bukan? ya. Para bangsawan memang seperti itu. Mereka dilatih untuk tidak terlalu terbuka, bahkan raut muka atau ekspresi apapun harus ditutupi jangan diperlihatkan secara langsung. Kelihatannya seperti merepotkan dan melelahkan tapi jika tidak dilakukan itu bisa menodai harga diri mereka. Mereka akan dianggap terlalu vulgar, aneh atau semacamnya.


Yahhh bangsawan sangat menjunjung tinggi harga diri.


Bangsawan be like : Harga diri nomor satu! Terbuka tidak perlu!


Sherlin yang tidak tahan dengan posisi ini mengumpat dalam hatinya. 'Sial*an bocah ini!! Tsk! apa-apaan dia menyentuh rambut ku coba! Jika aku menendang kakinya, apa dia akan jatuh? tapi jika jatuh...aku takut nanti dia akan jatuh ke arahku.'


Wushhhh.


Angin berhembus kencang. Sherlin menggigil, suhu disini menjadi sangat dingin.


Robert semakin mendekatkan diri, dan membuka jas rompi nya. Sherlin terheran-heran, kira-kira apa yang akan dilakukan oleh si bocah wortel itu?


Robert, dia memakaikan jas rompi nya pada bahu Sherlin.


'Eh?.' Sherlin kaget sekaligus tidak percaya!.


Robert berbicara tepat di telinga Sherlin.


"Sherlin....mana hadiah ku?."


Sontak Sherlin terkejut. Bagaimana bisa dia begitu tidak tahu malu!?. Padahal tadi dia sudah mengubah sedikit kesan tentang nya.


"Apaaa??!!."


"Wortel kamu!."


"Ada apa? kamu tidak akan memberi ku hadiah? apakah keuangan Edinburgh tidak mampu membeli satu hadiah pun untuk ku?." Tanya Robert menatap jengkel Sherlin.


Sherlin seketika terdiam. Dia tidak menyangka jika Robert...........


Begitu....


B.O.D.O.H


"Aaakkk dasar bodoh!! dasar idiot!!."


Sherlin berteriak dengan keras sambil menghantamkan kepalanya pada Robert.


Duk!


"Aduh!."


Robert memegang kepalanya dan mundur beberapa langkah.


"Kamu! apa-apaan!? ini sakit tahu." Ucap Robert mengernyitkan matanya.


"Huh! kamu mengatai ku bodoh!? kamu yang bodoh!." Robert dengan kesal memaki Sherlin.


Sherlin menatap Robert tajam. Dia membuka suara. "Hah!? Dasar! kamu yang bodoh! dasar idiot."


Dengan arogan Robert berkacak pinggang.


"Tsk! kamu menyebalkan! bagaimana kamu tidak punya hadiah untuk diberikan untuk ku??."


Sherlin seketika naik pitam. Dia menghentak-hentakkan kakinya. "Dasar idiott! Apa menurut mu ini semua salahku!? Apakah aku harus bertanya padamu kapan kamu datang lagi ke kamarku? lalu aku harus mempersiapkan hadiah untukmu? dan kita pergi dengan suka cita dan bahagia????. Dasar bodohh! Tentunya aku punya hadiah untuk diberikan padamu! tapi itu ada di kamar ku bodohh!."


"Hahh! hahh! hahh!." Sherlin terlihat kelelahan. Dia tadi mengeluarkan banyak tenaga untuk berteriak seperti itu.


Belum beberapa menit Sherlin melanjutkan kembali teriakan nya itu.


"Apa aku harus kembali ke kamar ku untuk mengambil hadiah ku Robert!?. Begitu?!?!."


Robert dengan entengnya menjawab." Benar. Pergilah ambil hadiah ku, kamu kan bisa berteleportasi?."


Sherlin terdiam. Dia sia-sia saja berteriak. Sepertinya dia harus memberi Robert sebuah bogeman. Dia bisa saja menuruti kemauan Robert untuk mengambil hadiah ke kamarnya tapi bukankah dia akan ketahuan? setiap tengah malam Lili selalu memeriksa kamar ku. Saat pertama kali Robert pergi mengunjungi nya diam-diam itu sekitar sepertiga malam pertama. Jadi tidak ketahuan oleh Lili.


Dan juga bukankah Sherlin bisa memberikan hadiah nya besok?? kenapa harus saat ini juga??. Tsk! Robert memang bocah yang menyebalkan.


Sherlin menutup matanya sejenak dan menghela nafas. Dia bergumam. "Huff dasar menyebalkan! Hiyaaaa!."


Wush!


Plakk.


"Ouch!."


Brukk.


Plak!.


Grepp.


"Dasar bocah wortel bodohhh!."


Plak! plak! plak!


"Auww! ini sakit! berhenti tomat!."


"......"


Duk! Plak! Plak!


Tiiiiittttt! Sensor đź™….


......................


a few moments later(~‾▿‾)~


Krik krik krik.


Suasana menjadi hening. Sherlin terlihat sangat kesal setengah mati, dia berbalik membelakangi Robert.


Robert terlihat sangat jengkel, kondisinya saat ini sangat menyedihkan!. Rambut yang berantakan akibat dijambak, pakaian yang kusut, dan....lengan kiri yang dijadikan pelampiasan. Lengan kiri Robert dijadikan samsak oleh Sherlin untuk melampiaskan amarahnya. Lengan Robert beberapa kali terkena pukulan dan tamparan dari Sherlin, dan juga.... beberapa tendangan. Untung saja tendangan nya tidak mengenai aset berharga miliknya!.


Robert kini mencuri-curi pandang pada Sherlin. Apakah Sherlin masih marah??. Sepertinya kali ini dia terlalu berlebihan.


"Eumm...Hei...Tomat. K-kamu tidak perlu mengambil hadiah. Besok kamu bisa memberikannya pada ku...." Dengan gugup Robert memulai pembicaraan.


Sherlin tetap diam. Sepertinya dia sangat kesal kali ini.


"Hei....maaf. Aku bersalah kali ini. Ji-jika kamu mau kamu bisa memukul ku lagi, tapi... maafkan aku."


Sherlin kini terkejut, memukuli nya lagi katanya? memang menyenangkan bisa memukul nya tapi dia juga memiliki rasa manusiawi oke? Sherlin bukan seorang psikopat. Jadi untuk apa dia memukuli nya lagi?.


Melihat kondisi Robert saat ini Sherlin hanya bisa menghela nafas nya panjang.


Sherlin menatap Robert dengan tatapan yang rumit. Dia melepas ikat rambut nya dan memberikan ikat rambut itu pada Robert.


Robert terlihat bingung, tatapan nya seolah mengatakan, untuk apa kamu memberikan ku ini??.


"Anggap saja ini adalah jaminan." Ujar Sherlin datar.


Raut muka Robert terlihat jelek. Ikat rambut? Si tomat ini hanya memberikan ikat rambut untuk jaminan!?. Bukankah dia bisa memberikan yang lain seperti kalung yang sedang dipakai nya??.

__ADS_1


Sherlin seolah-olah mengetahui isi pikiran Robert kini berdecih.


"Cih, ini kalung pemberian pamanku jadi aku tidak akan menyerahkan nya pada mu!."


"Ikat rambut ku juga berharga tahu! itu terbuat dari kain bagus, lembut dan berkualitas."


Robert mendelikkan matanya. Baiklah ikat rambut ini juga tidak masalah. Dia akan memanjangkan rambutnya nanti.


"Ya ini cukup! Jangan sampai lupa besok! datanglah tepat waktu! dan kamu harus langsung memberikan hadiah mu padaku." Ujar Robert memperingatkan.


Sherlin menganggukkan kepalanya malas.


"Ya ya."


Sherlin terkesiap,


'oh astaga! aku sudah menghabiskan waktu bersama si wortel dengan lama! aku harus segera pulang!.' Batin Sherlin cemas.


"Dah wortel!."


"Eh? Hei tunggu dulu aku belum seles–."


Sringg.


Patss.


Robert kini termenung menatap jas nya yang terjatuh di rerumputan. Padahal dia ingin menyampaikan sesuatu pada nya....


Tapi dia sudah pergi.


"Hufff." Robert menghela nafas kecewa.


...----------------...


Kamar Sherlin.


Wushhh.


Brukk.


"Hah! aku mengantuk sekali!."


"Sudah berapa lama aku pergi?."


Sherlin berbaring tengkurap di atas kasurnya, dia sekarang sedang dilanda kecemasan. Apakah dia ketahuan? atau tidak? Sherlin harap tidak ada yang mengetahui jika dia pergi tadi.


"Kuharap tidak ada yang tahu....Hahh." Sherlin kini tidur dengan lelap, sepertinya dia lelah.


~~


Cip cip cip.


Burung berkicau, matahari kini terbit. Cahayanya memasuki kamar Sherlin.


"Eunghh."


Tok tok.


Klek.


Lili membuka pintu kamar Sherlin, dia kini masuk bersamaan dengan Nia di belakangnya.


"Nona!."


Lili kaget, nona nya kini tidur dengan posisi errr kurang etis?


Badan yang terjatuh ke lantai dengan selimut menutupi kepalanya.


'Astaga! nona! apa semalam sesuatu terjadi!?.' Batin Lili kaget.


Reaksi Nia kini hanya memandang Sherlin dengan sedikit aneh dan kemudian matanya berkilau cerah.


'Nona....tidur di lantai?! itu kerennn!!! nona memang keren!. Aku harus mencoba juga lain kali.'


"Nona! nona!."


"Nonaaa!!!."


Sherlin terkejut, dia langsung bangun seketika.


"Akhirnya nona bangun juga! ayo segera bersiap nona! dan juga kenapa nona tidur di lantai?? apakah ada sesuatu yang terjadi tadi malam?."


"Eum...tidak ada yang terjadi haha! hanya saja tadi malam suhu nya sangat dingin dan... tiba-tiba saja aku tidur dilantai ha ha ha." Ujar Sherlin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Astaga! saya akan memberitahukan ini pada kepala pelayan untuk memeriksa perapian dan penghangat di kamar nona!."


"Ahahaha iya..."


"Baiklah nona mari kita bersiap-siap sekarang."


Sherlin menganggukkan kepalanya, begitu pula dengan Nia.


S


K


I


P.


"Kalian....sudah bekerja keras.."


"Ini sempurna!."


Sherlin bercermin, kini dia terlihat sangat cantik sekaligus imut. Gaun yang di belikan ibunya terpampang indah di tubuhnya, rambut merah nya yang di gelung dengan dihiasi mutiara-mutiara dan bunga berwarna ungu menambah keindahan penampilan nya. Sarung tangan yang melekat ditangan, sepatu yang mengkilap dan kalung Aquamarine yang berkilau.... terlihat sangat menawan!.


Lili dan Nia terharu. Mereka bahagia mendengar ucapan yang keluar dari mulut Sherlin langsung.


'Ini maha karya!.' Batin Lili dan Nia puas.


"Mari nona, sudah saatnya anda berangkat." Ujar Lili dan Nia.


"Ya."


Drap drap drap.




Nyonya Duchess terkesiap melihat penampilan Sherlin. Dia mencubit kedua pipi Sherlin gemas.


"Oh my! putriku! kamu imut sekali!."



"I-ibu! ini sakit!." Ujar Sherlin resah.



Tuan Duke hanya melihat interaksi antara istri dan putrinya itu dengan tenang dan kalem.



Tapi...berbeda dengan hatinya yang sekarang sedang berteriak.



'Aakkk! putriku!!! imut sekali!! memang gen ku itu sangat berkualitas! huh! aku bangga padamu kakek moyang!.' Batin tuan Duke mengepalkan tangannya.


__ADS_1


"Ekhem!."



"Riana, sudahlah....Sherlin kesakitan. Lebih baik kita segera berangkat. Ini sudah terlambat, Sherlin kamu sudah membawa hadiah nya?." Ucap tuan Duke memperingati.



"Tentu sudah ayah."



"Mari putriku yang manis!." Duchess memegang tangan kanan Sherlin dan naik ke kereta kuda meninggalkan Duke sendiri.



"R-riana!."



Tap tap tap.


Duke bergegas menyusul menaiki kereta kuda.



...----------------...



Di sisi lain kediaman Duke Zekallion.



Kini Robert sedang bersiap-siap dibantu dengan para pelayan nya. Dia sekarang bingung, jas mana yang akan dipakai? tentunya Robert ingin terlihat keren di depan Sherlin. Jadi dia memilih jas yang paling sempurna.



"Tuan muda, bagaimana dengan jas ini? jas ini memiliki model yang unik." Usul salah satu pelayan Robert.



Robert menatap jengkel jas itu. "Jas ini modelnya jelek! singkirkan!."



"Baik tuan muda."



"Tuan muda bagaimana kalau jas ini? jas ini memiliki model yang bagus dan warnanya juga sangat cocok dengan anda." Ujar salah satu pelayan yang lain.



Sama persis dengan respon yang pertama, Robert menatap jengkel pada jas yang di usulkan pelayan tadi. "Apa kamu buta? jas itu terlihat sangat cerah! mata ku sakit melihatnya. Singkirkan! aku tidak mau melihat jas itu lagi!."



"Baik, tuan muda."



"Tuan muda, bagaimana dengan yang ini? jas ini model nya bagus, warna nya juga sangat kalem, ini sangat cocok dengan anda tuan muda." Ujar pelayan yang berada di sisi kanan Robert.



Tidak seperti tadi, Robert kini menatap jas itu dengan mata berbinar.


"Jas ini lumayan. Huh! ku kira selera kalian semuanya sangat jelek. Tapi masih ada juga sedikit yang seleranya lumayan. Aku akan memakai jas ini!."



"Baik tuan muda." Ucap seluruh pelayan yang melayani Robert.



Para pelayan mulai memakaikan jas itu pada Robert.



Robert menatap bayangan nya di cermin. Dia sekarang puas pada penampilan nya.



"Seperti biasa, aku memang tamvan." Ujar Robert berkacak pinggang.



"Ayo turun! aku akan menyambut teman ku di bawah."



"Ya tuan muda."



Tap tap tap.



Robert menuruni tangga dengan para pelayan dibelakangnya.



Duke Zekallion dan Duchess Zekallion sedang berada di aula pesta menyambut para tamu yang datang.



Robert menemui ibunya. "Ayah ibu, apa Sherlin sudah datang?."



"Hm? belum Robert. Keluarga Duke Edinburgh belum datang." Sahut nyonya Duchess sambil sibuk menyambut para tamu.



"Oh begitu." Ujar Robert singkat.



Nyonya Duchess kembali berbicara di sela-sela kesibukannya. "Bagaimana dengan menunggu diluar Robert?. Sekalian kamu membantu ibu menyambut para tamu yang datang."



Robert menganggukkan kepalanya."Baiklah."



Robert berjalan menuju ke halaman depan.



Dia menyambut para tamu dengan malas.


'Huh, jika bukan karena si tomat aku tidak akan repot-repot melakukan ini.' Batin Robert kesal.



'Kenapa dia lama sekali sih?.'


__ADS_1


\****Jika ad typo tolong kasih tahu author di Kolom komentar ya***~


__ADS_2