
Tap tap tap.
Suara langkah kaki bergema di sepanjang lorong yang bergaya elegan itu.
Seorang gadis dengan kisaran umur 18 tahun-an berpakaian pelayan membawa semangkuk sup herbal di nampan yang di bawanya. Senyuman tak henti-henti luntur di wajahnya. Dia terus berjalan hingga berhenti di depan pintu sebuah kamar.
Tok tok.
Tangan nya mengetuk pintu dengan pelan, dia menunggu ada yang menjawab ketukan pintunya dari dalam kamar tersebut.
Suara seorang gadis cilik terdengar, suara nya yang terdengar malas sekaligus imut membuat siapapun yang mendengarnya gemas.
"Siapa?."
"Nona, ini saya. Saya membawakan sup herbal dari nyonya Duchess." Balas gadis berambut cokelat gelap itu.
Suara malas sekaligus imut itu kembali muncul. "Oh, masuklah..
"Lili." Senyuman manis terpasang di wajahnya.
Lili membuka pintu dan berjalan menghampiri Sherlin yang sedang duduk di pinggiran kasur bersama Felix dan Gloxinia yang berdiri di samping.
Sherlin menatap sup itu dan mengelus-elus dagunya. "Hmm..jadi, ini adalah sup penghilang penat yang di kirim ibu ku?."
Lili mengangguk. "Ya, nona. Nyonya Duchess berpesan agar anda harus menghabiskan supnya karena sup ini baik untuk tubuh anda."
"......."
Sherlin diam tidak menjawab. Dia hanya memandangi sup herbal itu. Hm, tampilannya seperti....air kubangan lumpur yang berada di jalan dan di campur dengan rerumputan yang di tumbuk!.
Sherlin tersenyum kikuk, darimana ibunya mendapatkan sup herbal ini?!.
Dulu bukankah tampilannya tidak seperti ini?, meskipun tidak berbeda jauh tapi sup herbal yang sekarang nampak terlihat lebih mengerikan!.
Dia sudah mencicipi sup herbal yang dulu dan rasanya sangat meresahkan. Sup itu tekstur nya encer tidak seperti tampilan nya, tapi rasanya sungguh sangat ironis.
Pertama, ketika sup herbal itu memasuki mulut mu dan menyentuh lidah mu. Rasa pahit menyebar ke segara arah lalu kemudian di ikuti dengan rasa hambar dan rasa asam yang kuat!.
Ekspresi wajah mu ketika mencicipi itu akan menjadi jelek. Alis mu akan berkerut dan matamu terpejam kuat, dan kamu akan menggigit bibir mu.
Saat pertama kali Sherlin mencoba sesendok sup herbal itu dulu, dia langsung memuntahkan nya dan jatuh lemas tidak berdaya.
Dan sekarang ibunya menyuruhnya untuk menghabiskan semua sup beracu– herbal itu?!.
Astaga! apa yang di pikirkan ibu nya itu!?. Sherlin menatap sup itu dengan ngeri, tubuhnya bergetar dan mulutnya tersenyum paksa.
Sherlin harus membuat alasan agar dia tidak harus memakan sup herbal itu.
'Gawat! aku harus memikirkan sebuah cara agar terhindar dari sup beracun itu!.' Sherlin diam-diam berbicara dalam hatinya.
Sherlin berdehem pelan. "Ekhem, ekhem."
"Lili, kurasa rasa penat ku sudah hilang dan aku akan segera tidur. Jadi, mengenai sup herbal itu aku tidak–.
"Nona, nyonya Duchess juga berpesan agar sup ini harus habis bagaimana pun caranya. Jadi, sebelum anda tidur, sebaiknya anda menghabiskan sup ini terlebih dahulu." Lili tersenyum simpul.
Sherlin terdiam, dia menggigit bibirnya. Dia tidak bisa melawan jika berhadapan dengan ibunya itu!
Sekilas muncul ingatan tentang pertengkaran antara Duke dan Duchess di ruang makan. Sherlin bergidik ngeri. Jika dia tidak memakan sup herbal itu, bukankah akan terjadi hal yang menggemparkan padanya?!.
Dengan ragu, Sherlin mengulurkan tangannya hendak meraih mangkuk itu.
Dia mengangkat mangkuk itu dengan gemetar dan mencicipi sedikit. lidahnya seketika kelu, tatapan matanya kosong.
Kan, seperti yang Sherlin duga. Rasa sup itu....sangat....ironis.
Sherlin tersenyum pasrah. Baiklah, dia akan menghabiskan sup ini dengan sekali teguk agar rasanya tidak terlalu terasa.
Sherlin memasang raut muka percaya diri, dia kemudian meneguk semua sup dengan sekali tegukan.
Pakk!!
Mangkuk di letakkan kembali di nampan dengan kasar. Sherlin tersenyum manis. "Selesai!."
Sedetik setelah Sherlin berbicara dia terjatuh lemas di kasur. wajah nya pucat, tatapan nya juga menyedihkan. Sherlin K.O!
Brukkk.
"Nona muda!."
"Nona!!."
"Meow?!."
...----------------...
Matahari perlahan-lahan mulai menunjukkan dirinya, cahaya nya menyinari ke segala penjuru arah.
__ADS_1
Cip...cip...cip...
Kicauan burung yang bertengger di dahan pohon terdengar. Burung itu mengepakkan sayapnya menuju ke arah balkon sebuah kamar.
Tak.
Kaki kecil nya menapaki pagar balkon itu, dia kembali berkicau.
Cip..cip..cip..
Klek.
Gloxinia berjalan dengan cepat untuk mengusir burung itu, dia menghempas-hempaskan tangan nya berharap burung itu takut dan pergi.
"Hush! hush! wahai burung, pergilah. Jangan berkicau di balkon. Nona muda sedang beristirahat, kamu mengganggunya."
"...."
Burung itu diam, dia tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya.
Gloxinia jengkel, dia mendekati burung itu dan hendak menakutinya agar dia segera pergi.
Tap tap–
'Kakak!.'
"Aaaakk." Gloxinia berteriak kaget, burung itu tersentak dan segera terbang menjauh.
'Hei!! kamu mengagetkanku!.' Gloxinia menghela nafas. Akhirnya burung itu pergi, meskipun dia kaget karena adiknya tiba-tiba menghubungi nya. Tapi, burung itu pergi juga.
'Tsk, ya maaf.' Jawab adiknya Gloxinia.
'Tak apa. Ada apa kamu menghubungi ku adik?.'
'Kakak, kamu harus datang kesini lagi! kerjakan semua pekerjaan menyebalkan ini!. Aku sudah lelah! setidaknya berikanlah aku liburan sebentar. Aku juga butuh waktu untuk beristirahat dan melakukan apa yang kusuka."
Gloxinia berkedip beberapa kali. 'Adik, bukankah aku sudah pergi satu minggu yang lalu?.'
'Hmph! menurut mu aku itu apa?! pokoknya kamu harus kembali lagi kesini kakak!!.'
'Hei! tunggu dulu! aku–.
"......"
Gloxinia menggaruk kepalanya, haruskah dia datang lagi?.
Gloxinia berjalan masuk kembali mendekati ranjang.
Dia tersenyum kecil. "Nona, apa anda merasa baikan?. Saya sudah mengusir burung itu pergi."
Gadis bersurai merah yang berbaring lemas di ranjang membuka matanya perlahan. Dia mengedipkan matanya beberapa kali dengan pelan.
"Eum, terimakasih Gloxinia.." Balasnya dengan nada rendah.
"Nona muda, apa saya perlu membawa air daun mint lagi? raut muka anda terlihat sangat pucat. A-ataukah anda merasa mual lagi?!."
Sherlin memejamkan matanya dan mengangguk pelan. "Ya, bawakan lagi aku daun mint."
"Tentu nona! mohon anda tunggu sebentar."
Sherlin mengangguk pelan. Gloxinia berlari ke luar dan membuka pintu dengan keras.
Blamm.
"......"
Saat ini, Sherlin sedang tidak enak badan. Setelah semalam dia meminum sup herbal kiriman ibunya itu dia menjadi seperti ini. Mata yang sayu, raut muka pucat, badan lemas dan perasaan mual yang terus datang menyebabkan Sherlin hanya bisa berbaring di ranjang nya.
Beberapa saat kemudian, Gloxinia datang dengan membawa sebuah nampan dan mangkuk yang berisikan air hangat dan daun mint yang terendam di mangkuknya.
Drap drap drap.
Klek.
Nampan dan mangkuk itu di letakkan di dekat meja, tepatnya di meja yang berada di samping ranjang yang ditempati Sherlin.
Gloxinia dengan hati-hati mengangkat mangkuk itu dan menyerahkannya pada Sherlin. "Silahkan..nona."
"Ya, terimakasih.." Sherlin tersenyum tipis dan mengambil mangkuk itu pelan.
"Huuffttt." Sherlin menghirup aroma menyegarkan dari rendaman daun mint itu.
"Haaahh."
"Bagaimana nona? apa anda merasa baikan?." Gloxinia tersenyum manis, matanya berbinar.
"Tentu."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, saya lega. Saya sangat kaget ketika anda tiba-tiba pingsan semalam."
"....." Sherlin tidak membalas, dia hanya diam sembari tersenyum.
Krik....krik....krik....
Entah karena apa, suasana menjadi hening secara tiba-tiba.
Sherlin menyibukkan dirinya dengan sibuk menghirup aroma dari air daun mint itu, sedangkan Gloxinia tenggelam dalam pikirannya.
Beberapa saat kemudian, Gloxinia memulai pembicaraan. Dia ingin memberitahukan Sherlin jika dia akan pergi lagi ke kerajaan Peri.
Sherlin terkejut dan menengok ke arah Gloxinia. "Kamu akan pergi lagi Gloxinia?. Sepertinya pekerjaan mu sangat banyak ya?."
"Ya nona, pekerjaan saya sangat sangat banyak. Adik saya membutuhkan saya."
"Tentu, pergilah. Ngomong-ngomong kapan kamu pergi? sekarang?."
"Kemungkinan besar iya nona. Saya akan membuat alasan pada kepala pelayan agar bisa pergi." Gloxinia tersenyum kecil.
"Hm." Sherlin berdehem pelan.
Ahh rasanya dia sangat bosan dan lesu, hanya berbaring di ranjang bukankah sangat membosankan?.
Dia ingin melakukan sesuatu dan tentunya sesuatu itu harus jauh dari kasur.
Tok tok tok.
"Nona, bolehkah saya masuk?." Ujar Lili
Tiba-tiba terdengar sebuah ketukan pintu, Sherlin mempersilahkan Lili untuk masuk.
Klek.
Tap tap tap.
"Ada apa Lili?."
"Nona ada surat dari menara sihir.." Lili memberikan sebuah nampan yang berisi surat dengan cap merah yang memiliki gambar bunga teratai.
Sherlin membulatkan matanya, mulutnya terbuka lebar. Jika ada lalat bisa dipastikan jika dia akan memasuki mulut Sherlin.
"A-apa?! kamu serius Lili!?."
"Tentu nona, mana mungkin saya berani untuk menipu anda." Lili dengan tenang menjawab.
"Ah, ha ha ha ha." Sherlin tertawa canggung.
Kemudian, Sherlin mengambil surat itu dan membuka nya lalu membaca nya.
...----------------...
Untuk muridku yang berharga, Sherlina Carolle Von Edinburgh.
Halo muridku, apa kabar mu hari ini? guru harap kamu baik-baik saja.
Guru ingin menyampaikan mengenai ajakan guru padamu itu, guru akan menjemput mu nanti siang. Jadi, bersiap-siaplah.
Salam hangat dari guru mu, Fernand Zelary.
...----------------...
".......Guru ingin mengajak ku pergi.." Sherlin menundukkan kepalanya.
Diam-diam dia tersenyum sumringah. Surat yang di pegang nya di lempar ke samping.
Lili dan Gloxinia yang melihatnya terkejut, mereka menatap Sherlin khawatir. Di pikiran mereka, Sherlin saat ini sangat menyedihkan. Di ajak oleh guru untuk berpergian tapi sayangnya dia sedang tidak enak badan jadi, sangat di sayangkan.
Tiba-tiba, Sherlin mendongak dan tersenyum lebar. Dia turun dari kasurnya dan melompat-lompat kegirangan walaupun tubuhnya agak lemas.
"Yeaaahhh!! akhirnya!!!."
"Nona muda!." Lili hendak memegang bahu Sherlin ketika Sherlin oleng dan akan terjatuh.
Tapi, Sherlin tidak jadi terjatuh. Dia bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Akibatnya, dia sekarang terlihat seperti ubur-ubur yang lemas gemulai.
Gloxinia dan Lili menatap cemas pada Sherlin.
"N-nona...jangan terlalu memaksa...a-anda tidak perlu memaksakan diri anda untuk pergi..." Lirih Gloxinia.
Sherlin menyeringai. "Jangan khawatir! aku baik-baik saja!."
"Mari bersiap! kalian tolong bantu aku!."
"Eee? b-baik nona.."
TBC.
__ADS_1