Time Travel Farzana

Time Travel Farzana
Derita Davina


__ADS_3

Sebelumnya...


"Jul, bawa Alya dan dandani sekarang" perintah Misha.


"Ok nekk cuss" ajak Julio.


pria gemulai itu melenggang pergi dan diikuti oleh Alya dari belakang.


*****


Farzana kembali ke tempat duduknya tak berselang lama Alden pun duduk di tempatnya.


"Sampai kapan Lo mau ngeliatin dia Bos?" Tanya Aidan.


"Selamanya" sahut Alden sembari tersenyum.


"Gawat, bos gua mulai oleng" ucap Aidan.


Sedangkan di seberang sana Elvan tersenyum lembut saat Farzana kembali duduk di hadapannya.


"Kamu mau pesan sesuatu lagi?" tanya Elvan.


"Gak, Aku dah kenyang" sahut Farzana.


"Kalau begitu kita sudahi saja, gimana kalau kita jalan-jalan setelah ini?" tanya Elvan.


Bahagia, itu yang dirasakan Farzana atau lebih tepatnya jiwa Keisha. Tak ada dendam pada lelaki di depannya ini karena rasa cintanya yang terlalu besar pada Elvan.


"Maafkan Aku Van, jikalau nantinya Kamu akan menderita karena jujur saja hal yang akan terjadi pada dirimu di luar kuasaku" gumam jiwa Keisha memandang Elvan.


"Nona Zana, hai" panggil Elvan karena sedari tadi perempuan di depannya ini melamun.


"Ah iya, maaf kenapa?" tanya Farzana.


"Kita sudah selesai makan siang nih gimana kalau kita jalan bareng sebentar apa boleh?" tanya Elvan.


Farzana menganggukkan kepalanya sembari tersenyum "boleh, ayuk" sahutnya.


Elvan dan Farzana pun bersiap ingin pergi. Melihat doi ingin pergi Alden pun bersiap untuk mengikuti.


"Lo mau kemana Bos?" sebentar lagi utusan perusahaan dari negara G akan tiba" ucap Aidan.


"Lo yang handle, gua mau pergi dulu" sahut Alden kemudian melenggang pergi.


"Bos, aishhh. Dasar Bos gila" sungut Aidan. Dirinya harus pasrah ditinggalkan oleh atasannya itu.


*


*


*


*


*


Di rumah sakit.


Ceklek


"Bagaimana dok keadaan Davina?" tanya Arzan saat dokter keluar dari dalam ruangan Davina berada.


"Bisa ikut keruangan saya" ucap dokter bername tag dr.Candra.


Arzan menganggukkan kepalanya dan berlalu mengikuti dokter tersebut.


Ceklek


"Silakan duduk" suruh dokter tersebut pada Arzan.


"Gimana dok?" tanya Arzan lagi setelah dirinya duduk di depan meja kerja dokter Candra.

__ADS_1


"Untuk pemeriksaan keseluruhan, semua baik-baik saja, hanya saja Nyonya Davina mengalami alergi akut akan suatu kandungan bedak yang di pakai Nyonya Davina saat ini" ucap dokter Candra.


"Iya, dia baru saja di poles make up yang akan menjadikan dirinya brand ambassador itu dokter" sahut Arzan.


"Apa sebelumnya Nyonya Davina menguji coba bedak tersebut?" tanya dokter Candra.


"Sepertinya tidak dokter, dia di kontrak melalui asistennya setelah deal dan menandatangani kontrak Davina langsung di poles dan bersiap untuk pemotretan tapi sebelum itu terjadi hal lain terjadi lebih dulu" terang Arzan sembari menghela nafasnya.


"Untuk sekarang usahakan jangan di poles apapun dulu sampai seminggu kedepan atau sampai ruam dan bintik merah itu hilang sepenuhnya" perintah dokter Candra.


"Baiklah dokter, kalau begitu saya permisi dulu" pamit Arzan kemudian berlalu menuju ruangan Davina dirawat.


Ceklek


"Sayang" panggil Davina.


Arzan mendekat dan duduk di samping brangkar tersebut.


"Wajahku hiks hiks" ucap lirih Davina.


Arzan menghela nafasnya "untuk sementara kau harus bed rest dan jangan memoles apapun di wajahmu ya" ucap Arzan sembari mengelus pucuk kepala Davina.


"Hiks hiks" tangis Davina pecah dan dengan lembut Arzan memeluk menenangkan sang kekasih.


*


*


*


*


*


"Selesai nekk, beuhh emang eyke terdebest ya nekk" puji Julio pada dirinya sendiri melihat hasil polesan make up nya pada Alya.


"Centong yeyy Zuardi uhuyy" seru Julio.


"Berisik" ucap Alya sembari memberikan tinju ke lengan bahu pria gemulai itu.


"Hem, karena sifat lembut gue dah elu ambil Panjul" jawab Alya kemudian melenggang pergi.


"Hah" Julio terheran sendiri setelah mendengar perkataan dari Alya.


Ceklek


Alya keluar dari dalam ruangan tersebut dan berjalan ke arah dimana Misha dan yang lainnya duduk.


"Bos" panggil Alya.


Misha menoleh dan tersenyum mendapati asisten kesayangannya itu sudah berubah begitu menawan.


Abian yang memandang wajah Alya setelah di poles begitu terpana.


"Gimana Rat, sesuai keinginanmu?" tanya Misha pada Rathi yang ikut terpana memandang wajah Alya.


"Ya, ini lebih dari keinginanku" sahut Rathi.


"Baguslah" ucap Misha.


"Kalau begitu kita mulai saja pemotretannya" perintah Rathi.


Alya dan juga Abian mengikuti Rathi menuju ruangan pemotretan.


Sedangkan Misha dan Julio menyusul belakangan.


"Sha" panggil lirih dari Julio.


Misha mengetahui bahwa pria gemulai itu saat ini sedang resah dapat di ketahui dari cara dia memanggil gadis tomboy itu.


"Hem" sahut Misha memandang lekat sahabat gemulainya itu.

__ADS_1


"Apakah..."


"Lo tenang aja, gak usah dipikirkan. Gue pastikan anak monyet baik-baik aja dan elo gak akan kena masalah apapun paham" sahut lembut gadis tomboy itu.


Julio menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum dan dirinya pun mulai lebih tenang.


"Kita ikuti mereka, gue gak mau buaya itu mendekati Alya" ucap Misha dan di angguki oleh Julio.


*


*


*


*


*


Elvan dan Farzana tiba di suatu tempat.


Ya Elvan membawa Farzana ke tempat dimana dulu dirinya sering menghabiskan waktu bersama kekasihnya Keisha.


Tanpa di sadari oleh Elvan sudut bibir Farzana melengkung sebuah senyuman.


Jiwa Keisha mengingat tempat itu. Tempat dimana dirinya dan Elvan menghabiskan waktu bersama hanya berdua tanpa adanya Elena.


Alden yang sedari tadi mengikuti mereka juga ikut duduk tak jauh dari tempat Farzana dan Elvan duduk.


Tililililit


Dering ponsel Alden berbunyi.


"Ck, siapa sih ganggu aja" ucap Alden sembari melihat nama pemanggil tersebut.


"Ngapain sih Lo telpon gua?" tanya Alden.


"Balik kagak Lo ke sini, kalau gak gua pulang dan resign dari perusahaan Lo" ucap sarkas dari Aidan.


Alden yang mendengar perkataan dari asistennya itu membulatkan matanya.


"Hah, jangan gila Lo mau ninggalin gua. Iya gua balik sekarang tungguin gua" ucap Alden kemudian mematikan panggilan tersebut


"Punya asisten bisanya ngancem ya gini nih. Ah sweet heart babang mu pergi dulu" ucap Alden meskipun Farzana tidak mendengar, dirinya pun mau tidak mau harus pergi.


*


*


*


*


*


Waktu berlalu matahari pun hampir kembali ke peraduan. Farzana dan juga Elvan memutuskan untuk kembali ke kantor.


Seperti janji di awal Mishaa dan juga Alya akan menjemput kembali Farzana di kantor Elvan.


Sedangkan di tempat lain tepatnya di rumah sakit tempat di mana Davina dirawat.


"Untuk sementara tidak apa ya kita menginap di rumah sakit sampai dirimu benar-benar pulih sayang" ucap Arzan kepada sang kekasih.


"Ya, tidak apa-apa" sahut lirih Davina.


Sedangkan di tempat lain di kantor Rathi. Pemotretan telah selesai semua berjalan lancar dan sudah ditetapkan bahwa Alya yang akan menjadi brand ambassador dari perusahaan Rathi.


continue...


...🍂🍂🍂...


Untuk kakak-kakak semua yang sudah berkenan untuk mampir ke cerita receh ini ay ucapkan terima kasih banyak atas segala dukungannya.

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejaknya ya zheyeng like komen di tunggu.


...Salam hangat dari Aya ❤️...


__ADS_2