Time Travel Farzana

Time Travel Farzana
Titik Terang


__ADS_3

Sebelumnya...


Dorr dorr


Belum selesai Misha menjawab sebuah tembakan terdengar dari arah luar rumah.


William dan Misha pun beranjak berdiri dan berlari ke arah luar.


Sampai di depan pintu rumah.


"Kamu..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


POV Ardi.


Pria itu mengambil senjatanya yang berada di belakang jok mobil.


Setelah senjatanya ada di tangannya, Ardi pun keluar dari dalam mobil.


"Hah, apa kalian hanya segini?" tanya pria itu.


Semua pria yang berada di sekitar Ardi mengernyitkan kening mereka.


"Sombong sekali kamu hah, apa kau tidak bisa berhitung berapa banyak orang yang mengelilingi kamu beserta mobil mu?" ucap Arland ketua dari semua para pria itu.


Ardi tersenyum sinis "Ini terlalu sedikit Pak Arland" ucapnya.


Pria itu membulatkan matanya "Dari mana kamu tahu namaku hah?" tanyanya.


"Hahaha, Arland Arlando mempunyai seorang istri bernama Arsinta Dewi mempunyai 2 orang anak perempuan bernama Adinda Arlando dan Anastasia Arlando" jelas Ardi.


Arland semakin membelalakkan matanya "D-dari m-mana kamu tahu semuanya?" tanyanya.


"Siapa sebenarnya lelaki di depanku ini? Mengapa hal pribadi ku bisa di ketahui. Bahkan Bos dan semua anak buah ku saja tidak ada yang tahu istri dan anakku" gumam Arland dalam hati.


Seluruh anak buah Arland pun hanya bisa saling pandang.


"Siapa Aku tak penting untuk diketahui Pak Arland" ucap Ardi.


Arland pun kembali membulatkan matanya.


"Aku kesini menginginkan wanita yang kalian culik itu. Kembalikan dia padaku baik-baik atau kalian menginginkan seluruh bangunan ini rata dengan tanah dan...." Ardi menggantung perkataan Akhirnya.


"Dan apa?" Arland mengangkat sebelah alisnya.


"Hehe, anak dan istrimu tidak bisa bertemu dengan mu lagi" sahut Ardi santai.


Arland naik pitam dan menodongkan senjatanya ke arah Ardi.


"Kau pikir bisa mengancam ku hah?" ucap Arland marah.


"Coba hubungi anak atau istrimu sekarang" suruh Ardi santai.


Arland mengambil ponselnya kemudian mencoba untuk menghubungi istrinya, tersambung hanya tidak di angkatnya.


Arland mulai resah, dirinya mencoba untuk menghubungi anak pertama tapi tetap tidak ada jawaban.


Arland kembali mencoba menghubungi anak bungsunya diangkat.


"Halo nak" sapa Arldan.


"Halo Tuan Arland"


Deg deg deg


Arland memandang ke arah Ardi dan pria itu tersenyum manis.


Senjata yang di todongkan ke kepalanya turun dengan perlahan.


"Kalau Anda ingin bermain dengan saya, maka dengan senang hati akan saya temani" ucap Ardi.


"Kau licik" ucap Arland.


"Aku baik Pak, agar semua anak buah mu masih bisa pulang dan bertemu dengan keluarga mereka" sahut Ardi.


Seluruh anak buah Arland saling pandang.


"Apa hubungan dirimu dan wanita itu?" tanya Arland.


"Dia menantu dari keluarga Adelard" sahut Ardi santai.


Arland kembali membulatkan matanya "A-apa dia menantu Tuan Aarav?" tanyanya.


Ardi mengangguk.


Arland mengangkat sebelah tangannya kemudian menurunkan.


Seluruh anak buahnya menurunkan senjata mereka dan berjalan mundur.


"Maafkan saya Tuan..." ucap Arland memandang ke arah Ardi.


"Shaka" sahut Ardi.

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya Arland membelalakkan matanya "A-anda..?".


"Shuttt" Ardi mengedipkan matanya sebelah. Kemudian melenggang menuju rumah di depannya itu.


*


*


*


*


*


POV Elvan.


Pria ini sedang mengemudi dengan pikirannya melayang entah ke mana.


Vanvan


Nama itu terbayang di benaknya.


"Nama itu panggilan sayang dari Keisha, mengapa Zana memberikan nama untuk ku juga itu?" Elvan mengacak rambutnya frustasi.


"Key Zana"


kata itu berulang kali di sebut oleh Elvan.


Drtt...


Handphonenya bergetar dan Elvan pun mencoba meraihnya.


Klik


"Halo Shi"


"Halo Pak Bos, kami sudah menemukan titik terang dimana keberadaan Nona Zana"


"Katakan dimana?"


"Nona Zana sepertinya di culik dan di bawa masuk ke dalam hutan"


Elvan membulatkan matanya "Kirimkan alamatnya Aku akan kesana" ucapnya.


"Baik Pak Bos"


Bip


bip bip


Pesan masuk ke ponselnya setelah melihat pesan tersebut Elvan melakukan mobilnya.


...****************...


POV Alden.


Pria itu dan asistennya sudah tiba tak jauh dari kerumunan orang di depan.


"Sedang apa mereka?" tanya Alden.


"Negosiasi mungkin" sahut Aidan acuh.


Hahh


Alden hanya bisa menghela nafasnya.


"Kita tunggu atau..."


"Turun saja, lagian pria itu sudah mengatasi semuanya" ucap Aidan sembari melepaskan seat beltnya.


Alden memandang asistennya itu.


"Anak Tuan Bangura tidak bisa diremehkan" ucap Aidan kembali sebelum keluar dari dalam mobil.


Alden menganga mendengar perkataan terakhir dari Aidan.


"Maksud mu apa Dan?" tanya Alden.


Sedangkan Aidan melenggang pergi ke arah kerumunan itu.


Alden pun hanya bisa berdecak melihat kelakuan asistennya itu.


Mau tak mau sang Bos dari Aidan itupun ikut keluar.


Sampai disana, Ardi sudah melenggang menuju rumah itu, sedangkan Aidan pun mengikuti dari belakang.


"Tunggu" ucap Arland.


Aidan menoleh "Ada apa?" ucapnya datar.


Jikalau Ardi masih bisa tersenyum bahkan manis, berbeda dengan Aidan pria satu ini wajahnya sangat datar seperti jalan tol.


"A-anda siapa?" tanya Arland.

__ADS_1


"Aku salah satu anak buah Tuan Bangura" ucap Aidan.


"Oh silakan mas masuk kedalam" sahut Arland.


Aidan melenggang pergi kemudian berhenti sejenak " Oh ya, dia di belakang ku itu juga anak anak buah Tuan Bangura" ucapnya berlalu pergi.


Arland dan yang lainnya menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Aidan dan mendapati Alden di sana.


Alden berhenti "Mengapa kalian memandang ku seperti itu?" tanyanya.


Semua orang menggelengkan kepala kemudian membuka jalan kembali untuk di lalui oleh Alden.


Pria tampan itupun melenggang pergi.


...*****...


"KELUAR!!"


Ucap Ardi berteriak.


Elena yang saat ini sedang membuka pakaian dari Farzana terkejut.


Perempuan itu ingin bermain di tubuh Farzana, dirinya ingin membuat sebuah ukiran indah di tubuh wanita cantik itu.


"Baron" panggilannya pada anak buahnya yang berjaga di depan kamar.


Ceklek


Baron berjalan mendekati bosnya itu.


"Iya Bos" sahut pria itu.


Glekk


Baron menelan salivanya berat melihat pemandangan yang begitu indah di depan matanya.


Elena yang melihat hal itupun semakin murka. Karena kebenarannya memang perempuan didepannya ini sangat cantik dan juga menggoda.


"Jangan biarkan satupun masuk kemari sampai Aku selesai bermain" perintah Elena.


"BARON" teriak Elena karena pria didepannya ini hanya diam dengan terus memandang Farzana.


"I-iya Bos laksanakan" sahut Baron kaget kemudian undur diri.


"Hah, kau memang harus di musnahkan, karena kecantikan dan kemolekan tubuh mu ini hanya bisa menjadi racun kalau terus di izinkan ada di dunia ini" ucap Elena.


Sedangkan Farzana tidak bisa bersuara apapun karena mulutnya di lakban.


SRETTT...


*


*


*


*


*


POV MW


Misha dan William keluar dari dalam rumah dan saat mereka berada di depan pintu.


"Kamu.." William terdiam melihat orang yang berada di halaman rumahnya itu.


Sedangkan Misha melihat pria itu dan mengingat sesuatu.


"Liam" panggil Misha.


William pun menoleh "Ya sayang" sahutnya.


"Apakah ini Toni yang kamu maksud?" tanyanya.


"Iya, ini adalah si bajingan itu" sahut William.


"Akhirnya setelah sekian lama kita bertemu lagi Tuan Toni Kroos" ucap Misha.


"Kroos" ulang William.


"Ya Liam. Dia ketua dari Mafia Kroos. Mafia yang menjadi dalang pembunuhan keluarga Seulong yang ada di Paris dan kau tau Liam? Dia menjadi buronan ah mana handphone ku biar ku laporkan ke pihak berwajib untuk datang menemui dia" tunjuk Misha pada pria setengah baya itu.


Dorr...


...🍂🍂🍂...


Continue...


Untuk kakak-kakak semua yang sudah berkenan untuk mampir ke cerita receh ini ay ucapkan terima kasih banyak atas segala dukungannya 😘


See you the next episode 🤗


...Salam hangat dari Aya ❤️...

__ADS_1


__ADS_2