
Sebelumnya...
POV Ardi.
Mobil asisten Arzan itu tiba tak jauh dari rumah yang diyakini dimana Farzana diculik.
Ardi memandang ke segala arah, begitu banyak pria berbadan besar yang mondar mandir dengan senjata laras panjang di tangan mereka.
"Siapa sebenarnya yang melakukan hal ini? Apakah salah satu rival Bos?" Ardi bertanya-tanya.
Saat pria itu menerka-nerka sebuah peluru melesat ke arah mobilnya.
Dorr Dorr
Ardi yang sedang berdialog dalam pikirannya di kejutkan dengan tembakan peluru ke arah mobilnya.
"Hah, syukur Tuan besar Aarav memberikan mobil anti peluru. Kalau tidak, bisa saja kepalaku saat ini sudah di cium oleh biji timah panas itu" ucap asisten Arzan tersebut.
Beberapa orang menembaki mobil Ardi itu.
"PENYUSUP" teriak salah satu dari orang yang berjaga itu.
Ardi tersenyum sinis "Cukup lama gua tidak bermain" ucapnya.
Setelah itu banyak dari mereka berlari ke arah mobil Ardi terparkir.
Sedangkan di dalam rumah.
"Baron" panggil Elena.
Anak buahnya itu datang mendekat "Iya Bos" sahutnya.
"Ada apa di luar? Mengapa ada yang melepaskan tembakan?" tanya Elena bingung.
"Di luar ada penyusup Bos, jadi Pak Arland memerintahkan menembak orang yang ada di dalam mobil tersebut" sahut Baron.
"Hah, apa orang itu ingin menyelamatkan wanita itu?" Elena berdialog sembari memandang ke arah Farzana.
"Bereskan penyusup itu. Aku ingin melanjutkan permainan" ucap Elena.
Baron menganggukkan kepalanya kemudian pergi.
Elena kembali mendekati Farzana.
\*
\*
\*
\*
\*
POV Elvan.
Pria itu mencoba untuk turun dan melihat ke dalam taksi tersebut.
Elvan berjalan mendekati taksi itu. Mencoba untuk melihat secara dekat.
Pria itu membulatkan matanya saat dirinya melihat kaca depan mobil pecah dan berlubang dapat di pastikan itu karena sebuah peluru.
"Astaga, ada apa ini?" ucap Elvan.
Elvan kembali meraih ponselnya dan menghubungi Farzana.
~*Rela aku terima keputusan darimu tuk memilih dirinya dan meninggalkan aku dalam semak berduri tergores dan terperih sakitnya terucap lirih*"
Nada dering telepon berbunyi dari arah kursi penumpang berbunyi.
Deg deg deg
Mendengar suara nada dering membuat seorang Elvan tak karuan rasa.
Elvan pun mencoba untuk membuka pintu penumpang dan mendapati sebuah ponsel berada di bawah.
Elvan mencoba meraih ponsel tersebut dan betapa terkejutnya dia melihat nama yang tertera di ponsel tersebut.
"***Vanvan***" Ya sebuah nama tertera di sana dan tak lain yang memanggil adalah nomer telepon dirinya.
Deg deg deg
Lagi dan lagi Elvan tak karuan rasa.
Nama tersebut, nama panggilan kesayangan seseorang untuk dirinya.
"Keisha" gumam Elvan.
Kemudian Elvan beranjak kembali ke mobilnya dengan membawa handphone tersebut.
Elvan memutar balik dan kembali menuju rumah Farzana.
\*
\*
__ADS_1
\*
\*
\*
POV Alden.
Pria satu ini tiba di depan jalan menuju arah masuk hutan.
"Kau sudah menemukan tepatnya titik dimana **manisku** berada?" tanya Alden.
Aidan menganggukkan kepalanya "Ya lurus saja, jarak dari sini lumayan jauh" ucapnya.
Alden tak menyahut lagi dirinya langsung berfokus mengemudi kan mobilnya.
Pria itu mengemudikan mobilnya seperti orang kesurupan, tak tau jalanan yang sangat tidak bersahabat tetap di lalui oleh Alden dengan dengan kecepatan tinggi.
\*
\*
\*
\*
\*
POV Alya.
Gadis itu menghubungi anak buah dari Bosnya tersebut.
Sekitar sepuluh orang sudah berkumpul di depan rumah Farzana.
Alya memberikan komando apa yang harus dilakukan oleh mereka semua.
Semua bergerak mencari keberadaan dari Farzana.
Julio pun tidak berhenti menghubungi Misha, tapi tetap saja gadis tomboy itu tidak mengangkat panggilannya.
\*\*\*\*\*
POV MW
Misha berkeliling di dalam rumah masa kecil William tersebut.
Dirinya mengenang kejadian-kejadian dulu, betapa banyak kebahagiaan yang ada di rumah ini.
Sedangkan William, pria itu saat ini berada di dapur sedang memasak untuk makan siang mereka.
Misha larut dalam kenangan masa lalu.
"Sayang" sentuh William di bahu gadis itu.
Misha terperanjat kaget "Ah iya" sahutnya.
"Aku memanggil mu dari tadi, kenapa tidak di jawab? Lagi memikirkan apa hem?" tanya William sembari membelai rambut gadis itu.
Misha tersenyum "Aku hanya terkenang masa lalu, betapa banyak kebahagiaan yang ada di dalam rumah ini" jawabnya.
William pun tersenyum "Ya, salah satunya adalah dirimu. Perempuan satu-satunya yang bisa memasuki hati dan pikiranku" ucapnya.
"Halah gombal" ucap Misha.
"Aku serius sayang, buktinya saja, saat pertama Aku melihat mu di pantai waktu itu, begitu banyak perempuan disana malah hanya dirimu yang bisa menarik perhatianku" ucap William.
"Iya deh percaya" sahut Misha.
"Eh sayang, pipi kamu kok jadi merah gitu? Minta dicium kek nya" ucap William.
"Ih apa an? Mana ada merah jangan ngadi-ngadi" Misha memalingkan wajahnya karena malu.
"Dih dih singa betinaku malu ya hem hadap sini dong Aku mau liat wajah manisnya" ucap William mencoba mengarahkan wajah Misha menghadapnya.
"Gak ada, kamu jangan macem-macem" sahut Misha.
"Sayang, Aku hanya satu macem. Mencintaimu untuk selamanya" ucap serius William.
Misha mengalihkan pandangannya.
"Aku serius padamu. Disini dirumah masa kecil kita dulu, Aku ingin melamar mu" ucap William beranjak berdiri dan berjongkok di depan Misha.
"Zahrany Misha Fauza maukah kamu menikah dengan lelaki bernama Liam Neeson? Menjadi istri dan menjadi ibu anak-anak ku kelak?" ucap William serius memandang wajah gadis tomboy itu.
Misha tak bisa berkata apapun, air matanya mengalir. Gadis itu terharu, pria yang dicintainya selama ini bahkan cinta pertamanya melamar dirinya hari ini.
William masih berjongkok menunggu balasan dari gadis tomboy itu.
"Li-am..." gadis tomboy itu tak bisa berkata-kata.
__ADS_1
Ada rasa bahagia yang membuncah di hatinya.
Misha menghela nafasnya kemudian "Liam, Aku bahagia" ucapnya.
"Ya, Aku tahu diriku kebahagiaanmu sayang" sahut William dengan percaya dirinya.
Pluk
Sebuah pukulan manja mendarat di bahu lelaki itu.
"Ah sayang sakit, jangan di pukul di peluk aja" ucap manja dari William.
Misha pun tertawa mendengar perkataan dari pria yang dicintainya itu.
"Hahaha, kamu ini jangan kayak gitu" ucap Misha.
"Iya sayang Aku cuman akan kayak gini" sahut William dengan wajah di buat lucu.
"Sayang kamu belum jawab yang tadi ih, Aku ngambek nih" ucap William dan hal itu semakin membuat gadis di depannya tertawa terbahak-bahak.
"Iya iya ini juga mau di jawab" sahut Misha dengan tawa yang masih sesekali terdengar.
"Liam Neeson Aku..."
Dorr dorr
Belum selesai Misha menjawab sebuah tembakan terdengar dari arah luar rumah.
William dan Misha pun beranjak berdiri dan berlari ke arah luar.
Sampai di depan pintu rumah.
"Kamu..."
\*
\*
\*
\*
\*
POV Elvan.
Pria itu sampai di kediaman Farzana. Keluar dari dalam mobil kemudian mengetuk pintu rumah.
Tok tok tok
Tok tok tok
Tak ada sahutan dari dalam.
Elvan pun mencoba menghubungi Hoshi. Berharap pegawainya itu bersama Alya atau Julio.
Tetotetotetot
Tut.... Tut....
Klik
"*Halo Pak Bos*" sapa Hoshi dari seberang telepon.
"Apa kamu bersama dengan Alya atau Julio?" tanya Elvan.
"*Iya Pak Bos saat ini kami sedang mencari keberadaan dari Nona Farzana*" sahut Hoshi.
"Baiklah, kalau kamu sudah menemukan titik terang dimana Zana cepat hubungi saya" ucap Elvan.
"*Baik Pak Bos*" sahut Hoshi.
Panggilan pun terputus.
Setelah itu Elvan kembali ke mobilnya dan beranjak pergi untuk ikut mencari keberadaan dari Farzana.
Sedangkan di tempat lain.
"KELUAR!!!"
...🍂🍂🍂...
Continue...
Untuk kakak-kakak semua yang sudah berkenan untuk mampir ke cerita receh ini ay ucapkan terima kasih banyak atas segala dukungannya 😚😚😚
See you the next episode 🤗
...Salam hangat dari Aya ❤️...
__ADS_1