Time Travel Farzana

Time Travel Farzana
Panik


__ADS_3

POV Aidan.


Pria satu ini, sengaja mengawasi perempuan yang spesial untuk bosnya itu.


Ya, Farzana. Dirinya mempunyai insting lumayan tajam untuk seseorang yang sedikit tidak aman untuk diri mereka.


Saat Aidan mengotak-atik layar tab nya, notifikasi tanda bahaya muncul disana.


Aidan membuka dengan cepat dan terpampang lah bahwa saat ini Farzana sedang dalam keadaan bahaya.


"Ada apa ini?" Aidan bingung dan segera mencari tahu bagaimana keadaan dari perempuan yang bisa mengalihkan dunia seorang Alden.


Setelah mengetahui, Aidan segera beranjak berdiri dan berlari ke arah kamar bosnya itu.


Dor dor dor


Aidan menggedor pintu kamar Alden.


Ceklek


"Parah Lu Dan, gua baru aja mejamin mata" omel Alden.


"Kagak penting, sekarang kita berangkat" ucap Aidan.


"Kemana? Kita baru sampe, badan gua capek banget Lu ajak pergi lagi" sahut Alden.


"Farzana di culik" ucap Aidan.


"Hahh" kaget Alden.


"Apa Lu bilang? Jangan becanda Dan" ucap Alden lagi.


"Kagak ada yang becanda, ganti baju sono kita berangkat" ucap Aidan kemudian berlalu pergi.


Alden kembali masuk ke kamarnya.


*


*


*


*


*


POV Alya.


Gadis itu saat ini juga mengotak-atik layar laptopnya dan dia menemukan titik di mana handphone Farzana berada.


Alya keluar dari dalam kamar menuju ruang tamu.


"Pak Elvan" panggil Alya.


"Iya" sahut Elvan mendongak memandang asisten Misha tersebut.


"Nona Zana ada di jalan Xxx" ucap Alya memberitahukan.


"Apa titiknya masih disana?" tanya Elvan.


Alya menganggukan kepalanya.


"Aku akan kesana sekarang" ucap Elvan. Kemudian pamit pergi.


Sedangkan Hoshi hanya diam sedari tadi.


Julio keluar dari dalam kamar, dirinya sudah dalam keadaan fresh karena baru selesai mandi.


"Yeyy kemenong-menong bawa gituan mulu Zuardi, endong capek?" ucap Julio sembari berjalan mendekati Hoshi.


"Aku baru meriksa lokasi Nona Zana saat ini" sahut Alya kemudian duduk di sofa berseberangan dengan kedua cowok itu.


"Kenapose neng Zana?" tanya Julio mengerutkan dahinya.


"Kan Nona Zana pergi dari pagi nah sampe sekarang gak muncul-muncul di tempat janjian dia sama Pak Elvan. Jadi si Bapak tadi kesini nanyain Nona Zana" sahut Alya santai.


Deg deg deg


Tiba-tiba saja perasaan Julio kembali tidak nyaman.


"Kenapose eyke ngerasa ada sesuatu ya nekk?" gumam pria gemulai itu dalam hati.


"Oh iya, anak buah Miss cold ngikutin neng Zana kan?" tanya Julio.


"Iya, kenapa?" tanya Alya.


"Coba yeyy hubungi mereka, tanya neng Zana lagi ngapose" sahut Julio.

__ADS_1


"Ok" Alya mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi anak buah dari Misha yang bertugas menjaga Farzana.


*


*


*


*


*


POV Farzana.


Saat ini gadis itu hanya diam, karena di samping tubuh Farzana berbaring Elena dengan pisaunya sedang mencoba menari-nari kan di atas wajah gadis itu.


"Kau tahu Farzana. Dulu Aku pernah menghabisi nyawa seseorang tidak dengan cara menusuk atau memutilasi sih tapi dengan sebuah racun yang mematikan" ucap Elena sembari menelusuri wajah Farzana dengan ujung pisaunya.


"Tapi entah mengapa, kali ini Aku ingin bermain dengan sebuah pisau. Mungkin karena wajahmu yang sangat cantik ini, Aku ingin membuat kebanggaan mu lenyap hahaha" sambung Elena dengan tawa di akhir kalimatnya.


"Apakah kali ini Aku harus pergi lagi? Di tangan orang yang sama lagi?" gumam Farzana dalam hati memandang Elena dengan sendu.


"Kalau bukan karena sikap Elvan berubah, Aku gak akan sampai kayak gini. Dia sampai membentak, hal yang gak pernah dia lakukan terhadap ku terjadi dan itu semua karena DIRIMU" jelas Elena dengan menekan kata terakhirnya.


"Apa kamu merasakan yang pernah Aku rasakan dulu El? Ada tapi seakan tidak ada" Farzana hanya berdialog dalam hatinya mendengar curhatan dari perempuan di sampingnya ini.


Dorr Dorr


Suara tembakan terdengar dari arah luar rumah.


Elena terkejut kemudian beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu.


*


*


*


*


*


POV Ardi.


Pria itu memasuki hutan menuju dimana titik keberadaan dari menantu keluarga Adelard itu.


Mobil masih melaju dengan kecepatan sedang karena sudah memasuki area hutan.


*****


POV Alya.


Gadis itu sudah mencoba menghubungi ke dua anak buah dari Misha tersebut tapi nihil tak ada dari keduanya yang mengangkat panggilan darinya.


"Gimandosdos?" tanya Julio.


Alya menggelengkan kepalanya "Mereka gak ada yang bisa di hubungi" ucapnya.


Julio beranjak berdiri kemudian meraih ponselnya.


"Kamu mau ngapain?" tanya Alya.


"Eyke mau kasih tau sama Mishong kalau anak buah dia kagak bisa dihubungi" sahut pria gemulai itu.


"Jangan" ucap Alya.


Julio memandang asisten Misha tersebut "Kenapose?" tanyanya.


"Jangan lama maksudnya" ucap Alya.


Julio hanya bisa menghela nafasnya melihat kelakuan gadis didepannya ini.


Julio mencoba menghubungi Misha tersambung hanya saja tidak di angkat.


"Ampun dah si Mishong kagak di angkat sama dia nekk gimandosdos?" ucap Julio.


"Teruslah coba, Aku lupa lagi meminta nomer ponsel dari dokter William" sahut Alya.


Kemudian mereka berdua fokus dengan tujuan masing-masing.


Julio memandang asisten Misha yang mengernyitkan keningnya.


"Yeyy kenapose Zuardi?" tanya Julio.


"Aku melacak keberadaan anak buah Bos, kok jauh banget dari keberadaan titik Nona Zana" sahut Alya.


"Hah, maksudnya yeyy?" tanya Julio.

__ADS_1


"Gini, yang Aku tau Bos itu memerintahkan kedua anak buahnya menjaga Nona Zana tidak lebih dari 50 meter nah disini Aku melihat titik keberadaan dari Nona Zana dan anak buah Bos sekitar 2kilometer" jelas Alya.


Julio membulatkan matanya.


"Dan keduanya pun tidak beranjak sama sekali" sambung Alya kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Julio.


Mereka berdua sama-sama membulatkan matanya.


"Terus hubungi Bos dan Aku akan menghubungi yang lain" ucap Alya yang mulai merasa janggal.


*


*


*


*


*


POV Elvan.


Pria satu itu sudah sampai dimana jalan yang disebutkan oleh asisten Misha tersebut.


Elvan melihat kearah sekitar. Jalanan di sana jarang di lalui oleh pengendara motor ataupun kendaraan umum lainnya.


"Mengapa Zana lewat sini. Ini kan bukan arah danau" bingung Elvan yang masih berada di dalam mobilnya.


Elvan kembali menghidupkan mesin mobilnya dan menjalankan dengan lambat.


Tak jauh dari pandangannya, di depan ada sebuah mobil taksi yang terdiam di tengah jalan.


"Kenapa mobil taksi ada di tengah jalan seperti itu?" tanya Elvan bingung.


"Ini jalanan sepi, buat apa dia berhenti dan di tengah jalan pula" sambung Elvan.


Pria itu terus menjalankan mobilnya dengan kecepatan rendah.


Tepat berada di belakang taksi tersebut Elvan pun berhenti.


*


*


*


*


*


POV Alden.


Pria tampan itu sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Aidan hanya bisa menghela nafasnya berulang kali.


"Cepat cari tahu dimana titik keberadaan manis ku itu" ucap Alden dengan fokus mengemudi.


"Hem" hanya deheman yang terdengar karena sedari tadi pun asistennya itu mencari titik keberadaan dari pujaan hati bosnya itu.


*****


POV Ardi.


Mobil asisten Arzan itu tiba tak jauh dari rumah yang diyakini dimana Farzana diculik.


Ardi memandang ke segala arah, begitu banyak pria berbadan besar yang mondar mandir dengan senjata laras panjang di tangan mereka.


"Siapa sebenarnya yang melakukan hal ini? Apakah salah satu rival Bos?" Ardi bertanya-tanya.


Saat pria itu menerka-nerka sebuah peluru melesat ke arah mobilnya.


Dorr Dorr


...


Continue


...🍂🍂🍂...


Untuk kakak-kakak semua yang sudah berkenan untuk mampir ke cerita receh ini ay ucapkan terima kasih banyak 😘😘


Untuk kak Eka ibu kader Masya Allah 🙈 makasih banyak kopine Bu😚 berkah barokah aamiin.


See you the next episode 🤗


...Salam hangat dari Aya ❤️...

__ADS_1


__ADS_2