
"Eughh"
William menoleh saat mendengar suara lenguhan.
"Sayang" panggil pria itu mendekati brangkar Misha.
Gadis tomboy itu tomboy itu mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Liam" panggil Misha setelah matanya cukup jelas memandang pria di sampingnya itu.
"Ya sayang, ini Aku" sahut William dengan tersenyum bahagia.
"Apakah, Arzan dan Elvan masih di luar?" tanya Misha.
William mengkerutkan dahinya.
"Kau tahu bahwa kedua lelaki itu ada di sini sayang?" tanya William bingung.
Gadis tomboy itu menganggukkan sedikit kepalanya.
"Bisa kau panggil mereka berdua kemari" pinta Misha.
William mengganggukan kepalanya "Tunggu sebentar ya sayang Aku akan memanggil mereka kemari" ucapnya.
William pun akhirnya keluar untuk menemui kedua pria itu yang dicari oleh singa betinanya.
"Arzan dan Elvan, bisakah kalian berdua ikut denganku karena Misha ingin bertemu dengan kalian" ucap William.
Keduanya pun mengangguk dan mengikuti William masuk ke dalam ruangan Misha.
Sementara itu ponsel Ardi bergetar.
Drtt...
Ardi berdiri dan meraih ponselnya yang ada di dalam kantong celananya.
"Ya halo"
"Halo Bos, saya ingin memberitahukan bahwa AFF corp kembali memulai pergerakan"
"Hah, gak kapok juga ternyata mereka. Ya sudah bereskan saja semua sampai ke akar-akarnya"
"Siap laksanakan Bos"
Ardi mematikan sambungan telepon.
Alya menoleh "Ada apa Tuan?" tanyanya.
Ardi tersenyum "Hanya ada lalat pengganggu di perusahaan" sahutnya.
Alya hanya ber-oh ria saja.
...****************...
...AFF corp...
"Hahaha, kita tinggal tunggu kehancuran Adelard corp. Setelah sekian lama menunggu hari ini, hari yang akan menjadi sejarah perusahaan Aarav akan bangkrut dan menjadi sebabnya adalah AFF corp" dengan begitu pongahnya Aezar berkata di depan semua anak buahnya.
Saat semua anak buah Aezar juga ikut tertawa tiba-tiba alarm peringatan berbunyi.
Drut drut drut
Aezar terkejut "Ada apa ini?" tanyanya.
"Tuan, sistem utama kita di bobol dan sistem yang lain lumpuh" seorang anak buah Aezar datang melaporkan.
Aezar membelalakkan matanya "APA? KENAPA BISA?" teriaknya.
Semua orang hanya bisa menggeleng kecil karena tidak mengetahui sebab pastinya.
"Bagas, cepat hubungi Adam" suruh Aezar.
Bagas dengan cepat meraih ponselnya dan menghubungi adik bosnya itu.
Bukan Aezar tak ingin menghubungi langsung sang adik hanya saja dirinya tidak menyimpan nomer Adam.
__ADS_1
...****************...
POV Misha.
Ceklek
Misha menoleh ke arah pintu.
William masuk di iringi oleh Arzan kemudian Elvan.
"Sayang, ini mereka" ucap William.
Gadis tomboy itu ingin duduk hanya saja dirinya tidak kuat menopang tubuhnya. Alhasil Misha tetap berbaring.
William duduk di kursi samping kanan brangkar Misha sedangkan Arzan dan Elvan duduk di kursi sebelah kiri brangkar.
"Gue ingin mengatakan sesuatu pada kalian" Misha berucap lirih.
William menggenggam erat tangan perempuan yang dicintainya itu. Seakan memberikan kekuatan untuk gadisnya itu bercerita.
Misha pun membalas genggaman tangan pria yang di cintai nya itu tak kalah erat.
"Tolong jangan di potong perkataan gue sampai selesai, paham?" meskipun Misha berkata dengan nada sedikit lemah tapi ketegasan dalam berkata masih tetap bisa dirasakan oleh yang lain.
Arzan dan Elvan pun menganggukkan kepala mereka tanda paham.
Misha menarik nafasnya secara perlahan kemudian mulai berbicara.
"Arzan, istrimu sudah lama tiada"
Arzan melotot ke arah Misha "Apa yang kamu katakan hah?" ucapnya tidak terima.
"Hehh jangan berteriak pada kekasihku" ucap William.
"Gue bilang jangan potong perkataan ku kan!" ucap Misha.
Akhirnya Arzan kembali melemah "Ya, maaf lanjutkan" sahutnya.
Gadis itupun melanjutkan perkataannya "Saat Zana memutuskan untuk menceburkan dirinya ke dalam danau, saat itulah sahabatku pergi untuk selamanya".
Arzan memandang ke arah gadis tomboy itu.
Arzan mengerutkan dahinya, sedangkan Elvan terkejut.
Misha memandang pria di samping Arzan kemudian kembali berkata "Sepertinya kamu mulai memahami arah pembicaraan ku ya Elvan".
Pria itu memandang Misha dan mengangguk pelan.
"Apakah dia...?" Elvan tak sanggup melanjutkan perkataannya.
Misha tersenyum "Apa kau menemukan kesamaan antara keduanya?" tanyanya.
Elvan menganggukkan kepalanya "Ada, bahkan tidak hanya satu atau dua tapi banyak" sahutnya lirih.
Arzan terdiam seakan tidak percaya.
"Ya, tubuhnya memang Zana hanya saja jiwanya adalah Keisha, kekasih dulu Elvan" ucap Misha.
Kedua pria didepannya itu terdiam seribu bahasa. Suasana hening beberapa saat.
"Dan itulah sebabnya Zana berubah sikap padamu Zan" ucap Misha.
"Awalnya gue ingin balas dendam pada kau dan Elena, Van" tambahnya.
"Hanya saja rencana itu belum terealisasi karena Zana sangat bahagia bisa bersamamu beberapa waktu lalu itu" ucap Misha lagi.
Misha kembali melanjutkan perkataannya "Hingga tiba-tiba Zana di culik oleh sahabat lama Keisha".
Elvan mengangkat pandangannya. "A-apa maksudmu Nona? Apa yang menculik adalah Elena?" tanyanya.
Misha mengangguk kecil "Ya, sahabatnya itu yang kembali ingin membunuh dirinya".
Elvan menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya.
Sedangkan Arzan hanya diam, pria itu bingung harus bagaimana saat ini.
__ADS_1
Tok tok tok
Ceklek
"Bos, Nyonya Zana sudah siuman" ucap Ardi hanya dengan memperlihatkan kepalanya saja.
Elvan berdiri kemudian berlari keluar menuju ruangan Farzana.
Ardi bingung mengapa bosnya tidak bereaksi seperti Elvan.
"Bos.." ucapan Ardi terhenti saat tangan Arzan terangkat.
Ardi diam kemudian kembali menutup pintu.
"Kau tak ingin menemui Zana hem?" tanya Misha.
Arzan memandang gadis tomboy itu, tak ada sahutan dari pria tersebut.
"Temui lah Zana, meskipun hanya sebentar" suruh Misha.
Arzan menghela nafasnya kemudian menganggukkan kepalanya.
"Aku keluar ya" pamitnya dan di angguki oleh Misha dan William.
...****************...
Ceklek
Farzana menoleh saat pintu ruangannya terbuka.
Senyuman manis terpatri di wajah pucat gadis itu saat melihat Elvan memasuki ruangannya.
"Key" ucap lirih Elvan.
"Vanvan" sahut gadis yang terbaring itu.
Elvan mendekati Farzana kemudian menangis disamping brangkar.
"Hiks hiks, maafkan Aku sayang, maaf" hanya permintaan maaf berulang kali yang keluar dari mulut pria yang dicintai oleh jiwa Keisha itu.
Farzana tersenyum dan menaruh tangannya di atas kepala Elvan yang menunduk di samping brangkarnya.
Farzana mengusap kepala dan menyugar rambut Elvan.
Pria itu mulai tenang setelah menerima perlakuan lembut dari gadis didepannya itu.
"Key, Aku.." ucapan Elvan terpotong saat Farzana tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Vanvan, tidak ada yang perlu di maafkan. Kamu gak ada salah Elena juga gak ada salah. Semuanya sudah menjadi suratan takdir yang harus di jalani" ucap Farzana.
Elvan kembali terisak "Key hiks hiks".
Farzana tersenyum "Kamu itu cowok Van, kok nangis sih jadi lucu tau" ucapnya.
...****************...
Alden tersenyum dari atas rooftop nya.
Aidan datang dan menepuk pundak pria itu.
"Apa sesakit ini rasanya patah Dan?" tanya Alden.
"Jangan bertanya padaku Bos" sahutnya.
Alden menoleh ke arah asistennya itu.
"Karena gua belum pernah merasakan jatuh cinta" tambah Aidan dengan tersenyum manis.
Alden merotasi matanya, Aidan berharap bosnya itu tertawa tapi sayang mood pria itu sedang serius.
Sedangkan Aidan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
...🍂🍂🍂...
Continue..
__ADS_1
Untuk kakak-kakak semua yang sudah berkenan untuk mampir ke cerita receh ini ay ucapkan terima kasih banyak atas segala dukungannya 😘
Salam hangat dari Aya ❤️