
Sebelumnya...
"Ya Liam. Dia ketua dari Mafia Kroos. Mafia yang menjadi dalang pembunuhan keluarga Seulong yang ada di Paris dan kau tau Liam? Dia menjadi buronan ah mana handphone ku biar ku laporkan ke pihak berwajib untuk datang menemui dia" tunjuk Misha pada pria setengah baya itu.
Dorr...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
POV Farzana.
Srettt
"Aaaaahhh"
Farzana berteriak saat lakban di mulutnya di tarik secara paksa.
"Utututu kenapa kamu berteriak seperti itu? Sakit ya? Itu masih gak sebanding sama perbuatan kamu yang mau ngerebut Elvan dari Aku" ucap Elena dengan memulai mengarahkan mata pisaunya ke arah perut gadis itu.
"El, kamu mau apa?" tanya Farzana.
Elena pun memandang ke arah wanita di depannya itu.
"Haha, saat kau memanggilku dengan sebutan El, Aku malah teringat sahabat lamaku" sahutnya.
"Kau tau Nona Farzana yang terhormat? Elvan kekasih dari sahabat ku itu" tambahnya.
"Aku berhasil membuat Elvan jatuh cinta padaku. Kemudian menyingkirkan sahabatku itu" ucap nya Elena lagi.
"Mengapa?" tanya Farzana.
"Mengapa apa?" tanya Elena lagi.
"Mengapa kau menyingkirkan sahabatmu? Kamu kan sudah mendapatkan cinta dari kekasihnya" tanya Farzana.
"Hah, Aku memang berhasil membuat Elvan jatuh cinta padaku, hanya saja sekian waktu berjalan Aku merasa Elvan mulai menaruh rasa pada Key" sahut Elena.
"Key itu baik, dia pengertian Aku tahu itu. Hanya saja Aku terlalu takut kehilangan Elvan jadi jalan satu-satunya adalah melenyapkan sahabatku itu" tambah Elena.
Farzana terdiam.
Elena kembali menoleh ke arah Farzana.
"Setelah sekian lama akhirnya Aku bisa bercerita hal ini pada orang lain" ucap Elena tersenyum.
"Tapi sangat di sayangkan kamu harus pergi setelah ini" tambahnya.
Farzana menggelengkan kepalanya saat pisau itu mulai kembali mengarah ke arah wajahnya.
"Kita mulai dari wajah cantikmu ini ya, akan Aku ukir dengan indah disini" tunjuk Elena di pipi Farzana.
Saat tangan Elena siap untuk menorehkan ujung pisaunya ke pipi Farzana sebuah dobrakan pintu menghentikan aksinya.
BRAKK
Elena pun menoleh ke arah pintu kamar "Wah wah, siapa ini? Segitu banyaknya anak buah ku kalah dengan pria tampan ini" ucapnya.
"Hai Nona Elena Veronica" sapa Ardi.
"Siapa kamu?" tanya Elena.
"Saya asisten dari suami Nyonya Farzana, Nona" sahut Ardi.
Elena pun membelalakkan matanya "Asisten suami dia" tunjuk Elena pada Farzana.
Ardi menganggukkan kepalanya "Ya, dia istri dari Tuan Arzan Adelard" ucap Ardi.
Elena menggelengkan kepalanya "Kamu berbohong" perempuan itu menyangkal kebenaran.
"Akan hal apa Nona?" tanya Ardi santai.
__ADS_1
"Dia selingkuhan dari Elvan" ucap Elena.
Ardi tertawa "Nona, sebelum mengatakan sesuatu lebih baik di cari tahu dulu kebenarannya agar tidak salah alamat" ucap Ardi kemudian tertawa.
Elena geram merasa terhina kemudian
JLEP
...****************...
POV MW
Dorr
Suara tembakan berbunyi.
Sebuah peluru melesat ke arah Misha.
William secara refleks menarik singa betinanya itu ke arah samping.
William menghela nafasnya saat timah panas itu meleset.
"Hahaha, kuakui instingmu sekarang semakin bagus Liam" ucap Toni.
William berdecak mendengarnya.
"Nona muda Fauza. Apa hubunganmu dengan keponakan ku ini hem? mengapa bisa keponakan tersayang ku ini mengenal seorang pembantai seperti mu" tunjuk Toni kepada Misha.
"Jaga mulutmu Tuan Toni" ucap William.
"Hahaha, mengapa kamu memanggil ku Tuan hem? Aku ini pamanmu, panggil Aku Om dong" pinta Toni.
"Jangan banyak bicara! Apa mau mu datang kemari?" tanya William yang sudah muak melihat pria paruh baya itu.
"Simpel saja, Aku ingin menghabisi nyawamu. Aku tidak ingin melihat keturunan Neeson yang lain kecuali Aku seorang" sahut Toni tersenyum pongah.
"Hah, bermimpi lah" ucap William.
Sekitar 30 orang menyerang William dan juga Misha.
Seluruh anak buah dari Liam yang berjaga langsung turun saat bos mereka akan di serang.
Perkelahian pun tak terhindarkan, baik William dan Misha pun ikut bertarung.
Anak buah dari William berjumlah 20 orang sedangkan Misha tidak membawa satupun anak buah.
Toni tersenyum sinis memandang anak buahnya bertarung dengan keponakannya dan Nona muda Fauza itu.
Toni sudah lama mengintai keberadaan dari keponakannya itu dan sangat kebetulan sekali anak dari kakaknya berkunjung bersama kekasihnya hari ini.
Obsesi dari Toni Neeson adalah menghabisi semua keturunan dari ayahnya agar seluruh aset jatuh padanya.
Semua anak buah William sudah mulai lelah bertarung karena anak buah yang di bawa oleh pamannya itu ternyata orang-orang pilihan.
Satu persatu anak buah William tumbang, dan tidak main-main mereka kalah dengan sebuah tembakan yang memakai peredam menjadikan diri mereka tidak tahu akan di tembak.
Shuttt
Hanya bunyi seperti itu yang terdengar sebelum anak buah William tumbang.
Sudah cukup lama Toni menunggu anak buahnya untuk menaklukkan keponakannya itu tapi belum juga bisa dikalahkan.
Akhirnya pun Toni mengambil senjatanya dan mengarahkan pada William.
Masih menggunakan senjata api yang memiliki peredam suara.
Shutt
Misha memandang peluru itu keluar dari pistol pria paruh baya itu.
__ADS_1
"Liam awasss" Misha berteriak sembari berlari ke arah William.
Peng
Timah panas itu bersarang di punggung gadis tomboy itu.
Misha memeluk pria yang di cintainya itu kemudian memutar tubuhnya menahan peluru dari pistol Toni tersebut.
"Akhh" Misha berteriak saat punggungnya di masuki peluru tersebut.
William membulatkan matanya, dirinya memeluk gadis itu kemudian mengusap punggungnya yang mengeluarkan cairan berwarna merah pekat itu.
"S-sayang" William menggelengkan kepalanya.
"Liam Neeson, Aku mencintaimu dulu sekarang dan selamanya" ucap Misha sebelum menutup matanya.
"TIDAKKKKKK" William berteriak dan menggoyangkan tubuh gadis yang dicintainya itu.
"Ara bangun Ra, jangan tinggalkan Aku" ucap William tersedu-sedu.
"Aku mohon Ra, BANGUNNNN" tambah William terisak.
Sedangkan Toni tertawa terbahak-bahak melihat keponakannya itu menangisi kekasihnya itu.
Saat Toni ingin menembak ulang terhadap William tiba-tiba
Shuttt
William meraih belati Misha yang tersimpan di pinggang gadisnya itu.
Kemudian melemparkannya tepat mengenai jantung pamannya itu.
Pistol di tangan Toni pun terlepas tepat karambit Misha mendarat dengan begitu cantiknya di dada paman William tersebut.
...****************...
Di tempat lain.
Jlep
Ardi membulatkan matanya.
Elena menusuk perut dari gadis yang terbaring disisinya itu.
"Akhhh" teriak Farzana saat pisau Elena menancap di perutnya.
Elena tersenyum mendengar suara dari perempuan yang di tusuknya itu.
"Tidakkk" teriak Ardi.
kemudian berlari sembari mengarahkan pistolnya untuk menembak Elena.
Tepat saat Elena mencabut pisaunya, Ardi pun menembak gadis itu.
Dorr
"Akhh" peluru tepat mengenai dada gadis itu kemudian Elena pun tumbang.
Ardi mendekati istri bosnya itu.
Alden dan Aidan berlari cepat saat mendengar suara tembakan.
Tepat kedua pria itu berada di depan pintu kamar dari Farzana berada, Alden luruh kelantai.
Sedangkan Ardi....
...🍂🍂🍂...
Continue...
__ADS_1
Untuk kakak-kakak semua yang sudah berkenan untuk mampir ke cerita receh ini ay ucapkan terima kasih banyak atas segala dukungannya 😚
...Salam hangat dari Aya ❤️...