Time Travel Farzana

Time Travel Farzana
Sebuah Rencana


__ADS_3

POV Elvan.


Ceklek


"Dari mana aja kamu?" tanya Elena saat kekasihnya itu baru saja masuk kedalam apartmentnya.


"Kapan kamu datang?" tanya Elvan.


"Kenapa malah balik bertanya? Kamu itu yang dari mana aja? Kenapa Aku ngerasa kamu berubah banget sekarang sih?" ucap Elena sembari bersedekap dada.


"Aku lelah El, kamu mending pulang dan istirahat" sahut Elvan sembari melepaskan dasinya sendiri.


Elena berjalan mendekati Elvan dan menarik tangan kekasihnya itu.


"Van, cukup ya. Kamu kenapa? Kamu punya perempuan lain?" tanya Elena.


"Stop El, Aku lelah kerjaan kantor itu banyak jadi jangan menambah beban pikiranku" Elvan memijit pelipisnya.


"Oh ok. Jadi kamu anggap Aku beban iya. haha sejak kapan?" Elena sudah naik pitam.


"Sejak kapan apa?" bingung Elvan.


"Sejak kapan kamu dekat dengan namanya Farzana itu?" nafas Elena naik turun.


Elvan membulatkan matanya "Kenapa kamu bertanya tentang Zana?" tanyanya.


"Owh, Zana. Sudah sedekat itu kalian hem. sampai-sampai kau memanggilnya hanya dengan kata Zana?" Elena masih menormalkan detak jantungnya karena kesal.


"Dia dari perusahaan Fauza models Paris. Dia yang menjadi brand ambassador perusahaan Papa" jelas Elvan yang sebenarnya dirinya memang sangat lelah.


"Owh, dia model kamu. Tapi sekalian dia juga selingkuhan kamu kan" ucap Elena dengan kata terakhir yang di tekankan.


"STOP ELENA. AKU BENAR-BENAR LELAH KALAU KAMU DATANG HANYA UNTUK INGIN BERDEBAT HAL YANG GAK PENTING MENDING KAMU PULANG SEKARANG" Elvan berteriak di depan kekasihnya itu hal yang tidak pernah selama ini di lakukan oleh pria itu.


Sedang Elena hanya bisa terdiam untuk pertama kalinya, kekasihnya itu membentak dirinya begitu kasar.


Elvan tidak bersuara lagi. Pria itu berjalan menuju kamarnya.


Elvan lebih baik memilih menghindar daripada harus berdebat apalagi dengan sang kekasih


Elena luruh ke lantai. "Segitu besarnya pengaruh pelakor itu padamu Van" ucapnya sembari menepuk dadanya beberapa kali.


"Ini gak boleh di biarkan. Aku gak mau kehilangan Elvan" ucap Elena. Kemudian mengambil ponsel dan mengetik sebuah pesan untuk seseorang.


"Kita lihat, sampai mana pelakor itu bisa bertahan" gumam Elena dalam hati.


Perempuan itu beranjak pergi dari sana.


*


*


*


*


*


Hari yang cerah di kota B.


Burung berkicau dengan sangat merdu, membuat seseorang yang berada di dalam selimut makin malas untuk bangun.


Tok tok tok


Tok tok tok


"MISSSSSS, BANGUNNNN" teriak seseorang yang tak lain adalah Farzana.


Mau tak mau gadis tomboy itu harus keluar dari dalam selimutnya.


"Ya Tuhan, punya teman gini amat untung sayang" omel Misha sembari beranjak bangun dari tempat tidurnya.


Ceklek


"Pagi sahabat akoh yang manis tapi masih manis akoh" ucap Farzana lebay.


Misha hanya bisa merotasi matanya melihat kelakuan dari sahabatnya itu.


"Ada apa?" tanya Misha to the point.

__ADS_1


"Noh di luar ada doi kamoh" sahut Farzana sembari menyatukan kedua telunjuknya.


Misha membulatkan matanya "Ngapain dia kesini?" tanyanya.


"Kangen kamoh kali?"sahut Farzana sembari memainkan alisnya naik turun.


Misha kembali merotasi matanya "Gue mandi dulu".


Brakk


Gadis tomboy itu tanpa permisi menutup pintu kamarnya.


"Astaga, aihhh punya temen gak ada akhlak. Kalau wajah imut ku di cium ama pintu gimane" omel Farzana kemudian melenggang pergi.


Ya, entah mengapa William pagi itu malah bertandang ke rumah Misha.


Di ruang tamu.


"Tunggu bentar ya Pak Dokter, soalnya Mis baru bangun hehe" ucap Farzana sembari terkekeh.


William menganggukan kepalanya "Ya, saya akan tunggu kok" sahutnya.


Alya datang dari arah dapur membawakan nampan berisi minuman dan roti bakar.


"Silakan Dok, pasti dokter belum makan kan?" ucap Alya setelah menyajikan di atas meja.


William pun tersenyum "Ya, kamu tau aja Al" sahutnya.


"Hehe keliatan Dokter kangen berat ma si Bos jadi pagi-pagi dah demari" sahut Alya sembari mengedipkan matanya beberapa kali.


William hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aciee Dokter..."


"Ekhemm"


Misha datang dan hal itu membuat perkataan dari Alya terputus.


"Ada apa?" tanya Misha pada lelaki yang berprofesi sebagai dokter tersebut.


"Ada yang ingin Aku bicarakan denganmu sekalian ngajak jalan juga" ucap William mengutarakan maksud dirinya datang.


"Oh ya Mis, Aku juga mau minta izin keluar ya" ucap Farzana.


"Mau kemana?" tanya Misha mengerutkan keningnya.


"Malam tadi Elvan ngajak jalan" sahut Farzana sembari tersenyum manis ke arah sahabat tomboynya itu.


"Baiklah, kalau kamu ada rencana juga Al?" tanya Misha pada asistennya itu.


"Gak ada, lagian tugas kantor numpuk" sahut Alya acuh.


"Ya sudah, kamu di rumah aja dan kamu Zan nanti beberapa anak buah ku akan mengikutimu dari belakang" ucap Misha.


"Ok, Aku mau siap-siap dulu ya" Farzana beranjak pergi.


Alya kembali ke kamarnya, sedangkan Misha juga bersiap untuk pergi bersama William.


Setelah beberapa saat, Farzana keluar dari dalam kamar dan berpamitan pada Misha juga William.


Setelah kepergian Farzana, Misha dan William pun juga ikut pergi.


*


*


*


*


*


POV Elvan.


Pria itu begitu sibuk mencari pakaian untuk dirinya jalan bersama dengan Farzana.


Tanpa di ketahui oleh Elvan, sang kekasih Elena memperhatikan dirinya dan mengetahui bahwa kekasihnya itu akan pergi bersama dengan wanita yang di sebut oleh Elena pelakor.


Setelah selesai dengan pilihan baju yang di anggap cocok untuk acara ngedate, Elvan bersiap untuk pergi menuju tempat janjian keduanya.

__ADS_1


Setelah Elvan pergi, Elena segera meraih ponselnya.


"Jalan sekarang kalian. Ingat apa yang di rencanakan kita kemaren" ucap Elena pada seseorang di seberang telepon.


"Siap laksanakan Bos" sahut orang itu.


Elena tertawa membayangkan apa yang direncanakan dirinya kemaren berhasil.


*


*


*


*


*


POV Arzan.


Pria ini pulang dalam keadaan mabuk berat. Untungnya semua anak buah Ardi mengikuti Arzan kemana pun.


Flashback on


"Bos, saat ini Tuan Arzan sudah keluar dari dalam rumah sakit dengan wajah yang terlihat sangat murung. Sepertinya kejutan Bos benar-benar membuat Tuan Arzan terkejut" lapor salah satu anak buah dari Ardi.


"Baguskan, biar dia tau semua kebenaran tentang kekasihnya itu. Meskipun dirinya harus terpuruk dengan kebenaran ini" sahut Ardi.


"Bos, saat ini Tuan Arzan mengemudi secara ugal-ugalan bahkan lampu merah saja dia terobos" aduan sang anak buah kepada Ardi.


"Tetap awasi dia. Jangan sampai kehilangan jejaknya" perintah Ardi


"Siap Bos" sahut anak buah dari Ardi.


Arzan berhenti di sebuah club malam di kota B. Pria satu ini masuk kedalam dan duduk di meja bartender memesan Vodka.


Entah berapa gelas dirinya minum & akhirnya membuat seorang Arzan Adelard tumbang di meja bartender.


Melihat hal itu, beberapa anak buah Ardi yang bertugas mengikuti dan menjaga pria itu dengan sigap membawa tubuh Arzan keluar dari dalam club.


Pada akhirnya, tubuh Arzan di bawa pulang ke villa keluarga Adelard sendiri yang ada di kota tersebut.


Flashback off.


Tak ada yang ingin membangunkan pria malang itu. Ya Arzan masih terlelap di alam mimpinya.


*


*


*


*


*


POV Aezar.


"Honey" sapa Davina pada kekasihnya yang berada di sampingnya itu.


"Heum" hanya suara itu yang di dengar oleh Davina.


"Sudah siang, kita harus bangun dan rancang ulang rencana kita" ucap Davina.


"Itu gampang baby. Tidurlah lagi kau pasti lelah karena aktifitas kita malam tadi. Atau kau mau lagi hem?" goda Aezar pada kekasihnya itu.


"Jangan lagi badanku rasanya remuk semua" sahut Davina sembari menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu tidurlah" sahut Aezar kemudian memeluk Davina.


...🍂🍂🍂...


Continue...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejaknya ya like komen kalau mau kasih gift boleh banget mau mawar sekebon atau kopi satu jerigen atawa vote bolehhhhh sangat atuh emmuachh emmuuaacchh.


Atas dukungannya ay ucapin terimakasih banyak.


جزاكم الله خيرًا على خير ، آمين.

__ADS_1


...Salam hangat dari Aya ❤️...


__ADS_2