
Sebelumnya...
Tepat berada di depan pintu unit Abian. William terkejut melihat sahabatnya itu sudah babak belur oleh gadis tomboy itu dan sesaat kemudian gadis itu mengeluarkan belati dan bersiap menusuk Abian, dirinya masuk dan...
*****
POV Arzan.
Selagi masih menunggu hasil dari Ardi siapa sebenarnya pemilik dari mobil yang membawa sang istri, Arzan masih fokus mengikuti dari arah belakang.
Sudah beberapa kali mencoba untuk menyalip mobil tersebut tapi sayang Arzan selalu saja gagal.
Dan pada akhirnya Arzan menerima laporan dari Ardi bahwa pemilik mobil tersebut seorang pengusaha sukses di kota B bernama Alden Arsyanendra, dan hal itu membuat Arzan kembali tercengang. "Bagaimana bisa, Zana mengenal para pengusaha di kota ini?" tanyanya bingung.
Setelah cukup memakan waktu main kebut-kebutan antara mobil Alden dan mobil Arzan, mereka berdua telah sampai di salah satu resort.
Baik Farzana ataupun Alden keluar dari dalam mobil.
"Kita masuk bersama" ajak Alden dan di angguki oleh Farzana.
Sedang Aidan hanya memandang datar ke arah sang bos.
"Dan, gua masuk dulu" pamit Alden dengan tersenyum manis ke arah sang asisten.
Alden menganggukkan kepala dan menghela nafasnya.
"Gini amat nasib jomblo" keluh Aidan.
*
*
*
*
*
POV Misha.
Gadis itu sedang keluar dari rumah yang cukup tersembunyi. Setelah bermain dengan salah satu antek yang ingin menguasai perusahaan sang ayah dirinya bersiap untuk pergi menuju perusahaan Rathi.
Saat menghidupkan mobilnya, sebuah panggilan masuk ke handphonenya.
Kring (anggap suara nada dering yakπ€)
Misha menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Ya"
"....."
"APA?, APA SAJA YANG KALIAN LAKUKAN HAH KENAPA BISA ALYA DIBAWA BAJINGAN ITU?" tanya Misha dengan nafas memburu.
"...."
Klik
Misha tak mendengarkan lagi, dirinya fokus menyetir untuk menemui sang asisten dan juga pria bajingan yang dengan sangat lancangnya membawa pergi Alya.
Tiba di depan bangunan apartment berlantai 20 itu, Misha dengan sedikit tergesa-gesa keluar dari dalam mobil.
"Unit nomer berapa yang di tempati bajingan Abian Aditama?" tanya sarkas Misha pada resepsionis apartment itu.
Kedua orang resepsionis yang berjaga saling lirik tak ada yang ingin memberitahukan pada gadis tomboy itu.
BRAKK
__ADS_1
Habis sudah kesabaran seorang nona muda Fauza itu.
"Kalian ingin mengatakannya atau kalian menginginkan bangunan ini rata dengan tanah?" tanya Misha dengan nafas yang masih memburu.
Belum ada yang menjawab pertanyaan dari gadis tomboy itu, dari arah belakang datang dua orang lelaki berperawakan sangar.
"Mengapa Nona mencari Bos Abian?" tanya seorang berambut gondrong.
Misha menoleh ke arah belakang dan memicingkan matanya.
"katakan dimana Bos kalian?" tanya Misha.
"Hahaha, saat ini dia sedang bersenang-senang Nona, kalau Anda ingin bertemu dengan Bos kami tunggulah" ucap seseorang berambut pirang teman dari lelaki yang berambut gondrong.
Tanpa bersuara lagi, Misha menendang inti dari tubuh lelaki berambut pirang itu.
"AKKHHH" suara teriakan dari lelaki pirang itu membuat beberapa orang yang lewat meringis membayangkan betapa dahsyatnya rasa sakit yang dirasakan oleh lelaki pirang itu.
Temannya yang gondrong pun tak tinggal diam, dirinya maju untuk melumpuhkan perempuan didepannya ini.
"Hiaaa" pria gondrong maju ingin memukul Misha.
Tapi sangat di sayangkan, sebelum mengenai tubuh Misha, gadis tomboy itu sudah lebih dulu menusuk punggung pria gondrong itu.
Jlep
Benda kesayangan gadis tomboy itu nemplok di punggung kanan pria gondrong itu.
SRAKK
Misha menarik secara kasar belatinya yang berada di punggung lelaki itu.
Beberapa orang yang berada disana membelalakkan mata mereka tak percaya akan adegan yang baru saja mereka tonton.
Beberapa anak buah Abian yang lain datang dan ikut membulatkan mata tak percaya dengan apa yang barusan teman mereka alami.
Suara sobekan terdengar sana sini akibat ulah dari benda kesayangan Misha yang dengan entengnya menyentuh kulit orang lain.
Selesai, 10 orang terkapar tanpa nyawa dengan darah yang berceceran dimana-mana.
Beberapa orang yang melihat kejadian itu tidak bisa kemana-mana karena anak buah dari Misha tidak mengijinkan mereka untuk pergi.
Misha kembali ke meja resepsionis dan kembali bertanya.
"Unit yang di tempati bajingan itu nomer berapa?" Misha bertanya dengan nada rendah namun datar karena kedua resepsionis tersebut sudah berwajah pucat.
"No-nomer unit 212 Nona" sahut dengan nada bergetar dari salah satu resepsionis itu.
Tanpa membuang waktu lagi Misha beranjak pergi menuju nomer unit yang disebutkan oleh resepsionis tadi.
Setelah beberapa waktu, gadis tomboy itu tiba di depan unit dari Abian.
BRAKK
Dengan sekali tendang dari Misha pintu unit Abian terbuka dengan begitu tidak cantiknya karena engsel pintu terlepas menjadikan pintu ikut terkapar di lantai.
(Pintu unit kok yo lemah amatπ€)
Misha masuk kedalam dan kembali menendang pintu yang diyakini gadis itu punya Abian.
BRAKK
"BANGS*T" Misha berlari mendekati Abian dan memberikan tendangan telak di dada pria yang di sebut gadis tomboy itu bajingan.
Bertubi-tubi pukulan yang diberikan oleh Misha kepada Abian.
Hingga dirinya mengambil kembali belati yang barusan bermain dengan anak buah pria di depannya ini.
__ADS_1
Saat dirinya bersiap menusuk sebuah suara menghentikan aksinya.
"ARA"
Misha terdiam mendengar panggilan tersebut.
Seseorang mendekat dan memeluk gadis tomboy itu.
"Ara, berhentilah. Aku merindukanmu" bisik seseorang yang memeluknya dari belakang.
Perlahan tubuh gadis itu di putar dan terpampang lah wajah seorang lelaki dengan sebuah senyuman melengkung di bibirnya.
Misha mengerutkan keningnya. Dia memandang ke dalam mata sang pria didepannya ini.
"Apa kabar Ara? Sudah sangat lama kita tidak bertemu. Kau semakin manis sekarang hem" ucap lembut pria didepannya dengan membelai wajah Misha.
"Kau siapa?" tanya Misha datar.
"Kau melupakan Aku? Liam, Aku Liam Neeson" sahut William.
Ya, dia adalah dokter William.
Mendengar perkataan dari pria didepannya ini membuat Misha menjatuhkan benda kesayangannya.
Untuk pertama kalinya, seorang nona muda Fauza meneteskan air matanya.
"Kau Liam" tanya Misha dengan air mata menetes.
Sedangkan William tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ya, ini Aku Liam, kekasih masa kecilmu" sahut William.
Keduanya pun akhirnya saling berpelukan.
Tamat...
πππ
Muehehe canda kakπ€.
*****
William memandang sahabatnya yang sudah terkapar pingsan.
"Kau semakin ganas sekarang singa betina ku" ucap William.
Sedangkan Misha hanya terkekeh.
"Maaf kalau Aku sampai lengah menjaga Abian" ucap William.
Misha mengerutkan keningnya.
"Maksudmu?" tanya gadis tomboy itu.
"Sebenarnya, Aku tahu bahwa Abian mengincar Alya. Makanya Aku mengutus beberapa anak buah ku untuk menjaga Abian jangan sampai menyentuh Alya. Tapi hari ini entah mengapa mereka lalai?" ucap William dengan memandang sendu ke arah Misha.
Sedang gadis tomboy itu tersenyum dan...
continue...
...πππ...
Untuk kakak-kakak semua jangan lupa untuk tinggalkan jejaknya ya zheyeng π.
Terimakasih banyak untuk kakak semua yang sudah berkenan untuk mampir ke cerita receh ini π.
...Salam hangat dari Aya β€οΈ...
__ADS_1