Time Travel Farzana

Time Travel Farzana
IGD


__ADS_3

POV Arzan.


Pria itu bangun saat matahari sudah sangat condong.


Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 3 sore.


"Eughh" Arzan melenguh karena sakit kepala yang dirasakannya.


Pria itu memijit pelipisnya berulang kali.


"Dimana Aku?" tanyanya saat dia merasa asing.


Arzan memandang keseluruh ruangan, lalu mengernyitkan keningnya.


"Villa, mengapa Aku bisa berada disini?" tanyanya bingung setelah sadar bahwa dirinya berada di mana.


Arzan mencoba untuk bangun dari ranjangnya.


Masih agak sempoyongan efek dari minuman kemaren malam.


Pria itu berusaha untuk menuju kamar mandi.


Setelah beberapa waktu, dirinya keluar dari sana dengan keadaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


Arzan duduk di samping tempat tidur dan meraih ponselnya.


Mencari nama seseorang yang tak lain Ardi, asistennya sendiri.


Tut....


"Ya Bos"


"Ar, kamu dimana?"


"Gua di perjalanan menuju rumah sakit"


"Hah, kamu sakit apa?"


"Bukan gua, tapi Nyonya Zana"


Deg deg deg


"A-apa maksudnya?"


"Panjang ceritanya, kalau Lu dah baikan susul ke rumah sakit Suaka Insan. Gua bawa Nyonya ke sana"


Tutt


Ardi memutuskan panggilan.


Arzan linglung sendiri.


"Zana kenapa?" tanyanya.


Arzan meraih hoodienya kemudian menuju garasi.


...****************...


...POV Hutan....


Elvan tiba tak lama setelah Alya dan yang lainnya tiba di tempat kejadian.


Elvan keluar dari dalam mobil dan melihat Farzana di gendong oleh seseorang dengan baju di bagian perutnya seperti basah.


Elvan memperhatikan pria itu kemudian berpindah memandang Farzana.

__ADS_1


Pria itu membulatkan matanya saat dirinya sadar bahwa baju di bagian perut Farzana basah karena darah.


Alya berteriak saat melihat Farzana terkulai di gendongan asisten Arzan tersebut.


"NONA..." Alya berlari mendekati Ardi dan juga Farzana.


"Apa yang terjadi dengan Nona Zana Tuan?" tanya Alya kepada Ardi dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya.


Ardi menghela nafasnya "Nanti ku ceritakan, bisakah kau ikut denganku ke rumah sakit?" tanyanya.


Alya menganggukkan kepalanya berulang kali.


Ardi menuju mobilnya dengan Alya yang berada disampingnya.


"T-tunggu" ucap Elvan.


Ardi menoleh "Tak ada waktu, kalau kau mau bertanya nanti saja" ucapnya dingin.


Elvan terdiam. Dirinya hanya memandang dengan tatapan kosong.


Julio mendekat dan menarik tangan Elvan untuk masuk ke dalam mobil agar mengikuti asisten suami Farzana tersebut.


Sedangkan Alden dan Aidan pun mengikuti Ardi dari belakang.


Mau tak mau harus Aidan yang menyetir karena sedari melihat Farzana terkulai dengan sebuah tusukan di perut jiwa Alden serasa ikut merasakan apa yang di alami oleh perempuan itu.


Bahkan saat Ardi membawa Farzana keluar dari kamar Alden tak bergerak dari depan pintu alhasil Ardi harus berteriak "Minggir" pada lelaki itu agar dia bisa lewat.


Setelah Ardi membaringkan Farzana di dalam mobil penumpang dengan kepala di pangkuan Alya, pria itu kembali mendekati Arland ketua dari penculik istri bosnya itu.


Arland gugup saat pria itu mendekatinya lagi.


"Pak Arland, pulanglah kerumah dan jangan bekerja akan hal seperti ini lagi kedepannya. Kalau kau ingin mencari pekerjaan datanglah ke kantor, ini kartu namaku" ucap Ardi.


Ardi tersenyum kemudian berlalu pergi menuju mobilnya.


Sedangkan untuk Elena, gadis itu dan Baron di bawa oleh anak buah Arland menuju rumah sakit yang lain karena sama-sama mengalami tembakan dari Ardi.


Ardi fokus menyetir sesekali memandang lewat spion untuk melihat keadaan Farzana dan juga Alya.


Ada rasa yang lain dirasakan Ardi saat memandang wajah perempuan yang menangisi istri bosnya itu.


Drtt


Ponsel Ardi bergetar dan dilihatnya panggilan dari bosnya.


...****************...


POV MW


Setelah William melemparkan belati Misha, Toni pun luruh ke tanah.


Pria itu memang cukup peka hanya saja kejadian tertembaknya Misha dirinya membelakangi pria paruh baya itu dan William gagal fokus karena singa betinanya memeluk dirinya.


Semua anak buahnya hanya tersisa beberapa dan anak buah Toni mundur saat melihat bos mereka terkapar di tanah.


William memerintahkan anak buahnya untuk mengambil kembali belati yang tertancap di dada pamannya itu untuk di gunakarya kembali agar bisa mencongkel timah panas yang ada di punggung Misha.


William menggendong Misha masuk kedalam rumah menuju kamar dan menaruh gadis itu di atas ranjang.


William memerintahkan kembali anak buahnya mengambil perlengkapan kedokterannya di dalam mobil.


William berinisiatif melakukan pertolongan pertama untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh Misha sebelum membawa gadis itu ke rumah sakit.


Anak buah William yang tersisa berjaga di depan pintu kamar dan tersisa hanya dirinya dan gadis yang dicintainya itu.

__ADS_1


William menarik nafasnya dalam-dalam, entah mengapa dirinya begitu gugup untuk membuka pakaian dari gadis tomboy tersebut.


"Hahh, kamu bisa Liam. Ini semua untuk menyelamatkan singa betina mu ini" ucapnya.


Dengan perlahan dan menarik nafasnya berulang kali, William Akhirnya berhasil membuka pakaian gadis itu dan membalikkan badannya.


William kembali berkonsentrasi untuk mengeluarkan timah panas tersebut.


Dengan kesabaran dan konsentrasi yang tinggi akhirnya peluru tersebut pun bisa William keluarkan dari tubuh gadisnya itu.


Setelah mencoba untuk menghentikan pendarahan, William mengambil selimut untuk menutupi seluruh tubuh Misha dan membawa gadis itu menuju rumah sakit.


William masuk ke kursi penumpang dengan memangku Misha dan seorang anak buah William mengemudikan mobilnya.


...****************...


POV RS


Ardi sudah tiba di rumah sakit, dia meminta suster dan perawat membawa brangkar untuk Farzana.


Ardi kembali menggendong Farzana dan menaruh di atas brangkar yang di bawa salah satu perawat.


Ardi dan Alya ikut mendorong, Alden Aidan Elvan Julio serta Hoshi pun ikut turun dari mobil mereka dan mengikuti Farzana.


"Bapak dan Ibu tunggu disini ya, biar dokter yang menangani" ucap suster sembari menutup pintu ruangan tersebut.


Ardi mengangguk sembari menghela nafasnya sedangkan Alya hanya bisa terisak.


Tak berapa lama pun William juga tiba di rumah sakit yang sama dengan cepat keluar dari dalam mobil dan berlari kecil menuju ruang IGD.


Alya tanpa sengaja memandang ke arah dimana William berjalan dan melihat bosnya terkulai di gendongan dokter tersebut.


Alya berdiri dan berlari ke arah William dan Misha.


"D-dokter apa yang terjadi dengan Bos?" tanyanya.


"Misha tertembak, Aku sendiri yang akan mengoperasinya" sahut William kemudian beranjak masuk ke dalam ruang IGD.


Alya kembali terisak, mendapati kedua perempuan yang sangat di sayanginya harus mengalami kejadian yang hampir sama secara bersamaan.


Julio tak bersuara setelah mendengar perkataan dari William.


Pria gemulai itu tidak memiliki ekspresi apapun. Tidak sedih tidak bahagia tidak menunjukkan apapun. Hanya diam memandang ke arah depan.


Hoshi mendekap dan mengusap bahu Julio dengan lembut.


Ardi berjalan ke arah Alya, dan menangkap gadis itu sebelum luruh ke lantai.


Alya menangis dengan sesenggukan di dalam dekapan Ardi.


Alden pun hanya diam dengan tatapan kosong juga Elvan entah mengapa pria itu ada di sana tapi jiwanya seperti kembali ke masa lalu.


Kenangan kebersamaan dirinya dan Keisha kembali berputar di pikirannya.


Sedangkan Aidan, pria itu menatap Ardi dan Alya yang sedang berpelukan dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


"Ar..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Continue.


Untuk kakak-kakak semua yang sudah berkenan untuk mampir ke cerita receh ini ay ucapkan terima kasih banyak atas segala dukungannya 😚


...Salam hangat dari Aya ❤️...

__ADS_1


__ADS_2