Time Travel Farzana

Time Travel Farzana
Arzan Kenapa?


__ADS_3

Sebelumnya...


"Benar, tapi kenapose suaranya jadi lekong bingitz yess" bingung Julio karena yang menyahut panggilannya bukan suara dari Misha tapi suara seorang lelaki.


"Yess helo..."


...🍃🍃🍃...


POV Julio.


Pria gemulai itu menghubungi sahabat tomboy nya itu, tapi dirinya cukup terkejut bahwa yang mengangkat handphonenya seorang lelaki. Karena dia tahu bahwa Misha sendiri paling anti barangnya di sentuh oleh orang lain termasuk handphonenya.


"Yess Helo"


"Ya, bagaimana keadaan mu sekarang Jul?"


Mendengar ucapan dari seseorang di seberang telepon tersebut semakin membuat Julio heran.


"Yess, eyke sudah mendingan. Yeyy..." ucapan Julio terpotong saat mendengar suara seseorang yang dikenalnya berbicara di seberang sana.


"Siapa Liam?"


Julio semakin heran, Liam. Siapa? mengapa Misha begitu santai berbicara.


"Ini Julio menelpon mu"


"Oh kemarikan Aku ingin berbicara dengannya"


"Hah, Aku. Sejak kapan gadis tomboy itu menyebut dirinya dengan Aku" gumam Julio.


"Halo Jul"


"Dih, sama lekong itu yeyy lembut macam selimut bulu nekk. Lah ama eyke kasar macam telapak tangan keseringan nyuci" protes Julio.


"Hah jangan mulai Jul. Bagaimana keadaan mu sekarang?"


"Hem, dah mendingan nekk hanya wajah centong eyke bonyok huwaa" Julio mengadu pada Misha seperti seorang anak kehilangan boneka Barbie


nya uhukk.


"Hah. Maaf kalau anak buahku tidak becus menjaga kalian" sahut Misha sembari menghela nafasnya.


"Ah tak apalah nekk. Oh yess gimandosdos keadaan Zuardi? Dia.."


"Tenang aja dia gak apa-apa. Syukur gue datang sebelum semuanya terlambat"


"Syukurlah nekk. Oh yess yeyy harus jelasin sapose lekong yang tadi"


"Hem, ntar gue ceritain. Istirahatlah gue belom bisa jenguk Lo ya. Gue masih jagain Alya dia belum sadar"


"Yess"


Bip...


Panggilan antar keduanya pun terputus.


Setelah itu Julio lebih memilih untuk kembali berbaring dan memejamkan matanya.


*


*


*


*


*


POV Aezar.


"Dia sudah ingin kembali kesini. Kalau begitu saatnya Aku pulang hem" ucap Aezar sembari mengelus rambut panjang Davina.


"Ya, baiklah. Kamu hati-hati di jalan ya" sahut Davina kemudian mengecup bibir sang kekasih. Aezar tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dirinya meraih tengkuk sang kekasih dan akhirnya sebuah kecupan berubah menjadi lum*tan.


"Ah, kau nakal honey" ucap Davina setelah tautan bibir mereka terlepas.


Aezar tersenyum dan mengusap bibir seksi sang kekasih dengan ibu jarinya karena basah.


"Kau yang sangat menggoda baby" sahut lelaki itu.


Aezar membaringkan tubuh Davina kemudian dirinya beranjak pergi menuju pintu.

__ADS_1


*****


Setelah berada di dalam mobilnya. Aezar menyuruh seseorang melalui panggilan telepon.


"Halo Gas"


"..."


"Kita mulai rencananya. Hancurkan Arzan sampai ke akar-akarnya!"


"..."


Bip...


Aezar menyeringai memandang ke arah depan saat mobil Arzan sampai didepan rumah sakit.


Arzan keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam.


"Jalan Sur" perintah Aezar pada sang sopir.


"Baik Pak" sahut Surya.


*


*


*


*


*


POV AlZan


"Maaf membuat mu menunggu lama Nona" ucap Alden datang dengan beberapa pelayan resort tersebut dengan mendorong troli mereka masing-masing.


Farzana tersenyum "Tidak apa, Aku juga menikmati keindahan yang ada di resort ini Pak".


Alden menyuruh para pelayan untuk menghidangkan semua makanan di atas meja.


Setelah semua tersusun rapi semua pelayan pamit undur diri.


"Mengapa Bapak memesan makanan begitu banyak? Saya memang pemakan segalanya tapi tidak menghabiskan makanan banyak dalam sekali makan" ucap Farzana sembari menoleh ke arah pria yang duduk di sampingnya itu.


Alden tersenyum dan berkata " Aku tidak memintamu menghabiskan semua, tapi Aku ingin kamu mencoba semua makanan yang ada disini".


"Kenapa?" tanya Farzana.


"Agar Aku tau, makanan mana saja yang kamu sukai" sahut Alden tersenyum kearah perempuan disebelahnya ini.


"Baiklah kalau begitu. Kalau hanya disuruh mencicipi maka akan Aku lakukan Bos" ucap Farzana sembari memberikan hormat kemudian terkekeh.


Tanpa sadar Alden mengacak-acak rambut Farzana. Gadis itu terdiam sedangkan Alden tersadar.


"Maaf Nona Aku..."


"Tak apa, hanya saja Aku teringat waktu dulu, ada seseorang yang sangat suka mengacak rambutku juga, tapi itu dulu banget sekarang udah gak hehe" bibir Farzana memang tersenyum tapi siapa tahu dengan isi hatinya.


Alden merasa tidak enak hati melihat perubahan ekspresi wajah Farzana yang tadi sangat tersenyum bahagia menjadi sendu karena ulahnya.


"Apa Aku mengingatkannya dengan suami brengseknya itu. Ah God, mengapa?" Alden merasa sangat bersalah saat ini.


"Harusnya hari ini Aku pergi bersama Elvan tapi gara-gara suami Nyonya Zana datang jadi batal. Mana inget waktu dulu Elvan sangat suka mengacak-acak rambutku. Uhh sedih banget deh" gumam Farzana di dalam hati sembari menusuk-nusuk daging di depannya ini.


*


*


*


*


*


POV Abian.


Ceklek


Dokter keluar dari dalam ruangan tempat Abian di rawat.


"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Santo anak buah dari William yang membawa Abian ke rumah sakit tadi.

__ADS_1


Dokter Arya yang menangani Abian melepaskan maskernya.


"Ulu hatinya cedera parah, tulang di bagian dada juga patah. Sepertinya kita perlu waktu yang lama untuk menyembuhkannya" jawab dokter Arya menghela nafasnya berat.


"Lakukan hal yang terbaik menurut dokter saja" ucap Santo.


Dokter Arya menganggukan kepalanya kemudian pamit setelah itu melenggang pergi.


*


*


*


*


*


POV Arzan.


Ceklek


lelaki itu masuk kedalam ruangan kekasihnya.


Arzan menutup pintu kamar dan mendekati Davina dan duduk di kursi samping brangkarnya.


Lelah, yang dirasakan oleh lelaki itu.


"Mengapa semuanya jadi seperti ini? Mengapa saat Aku ingin seperti dulu tapi keadaan seperti tidak mengijinkannya".


Arzan berdiri dari kursi kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Setelah beberapa waktu, pria itu keluar dengan keadaan yang sudah fresh karena sehabis mandi.


Arzan beranjak duduk di sofa kemudian memandang langit-langit kamar.


"Oh Tuhan, ada apa sebenarnya dengan diriku? Mengapa Aku sangat marah saat Zana dengan orang lain?"


Arzan mencoba memejamkan matanya tapi nihil, bukannya terlelap malah bayangan Farzana muncul.


Arzan membuka kembali matanya duduk kemudian mengacak-acak rambutnya merasa frustasi sendiri.


Davina yang terganggu tidurnya karena Arzan menghentakkan kakinya di lantai.


"Sayang" panggil Davina.


Arzan menoleh dan mendapati kekasihnya terbangun.


Arzan menyugar rambutnya kemudian beranjak berdiri mendekati Davina.


"Ya, mengapa kamu bangun hem? Tidurlah kembali" ucap Arzan.


"Aku terbangun juga karena kamu. Ada apa sayang?" tanya Davina.


"Gak ada apa-apa. Tidurlah" sahut Arzan.


Setelah membaringkan Davina, Arzan kembali duduk di sofa.


Dirinya memandang lekat kearah Davina, Arzan ingin memastikan hati dan perasaannya apakah masih untuk Davina ataukah berpindah ke lain hati.


*


*


*


*


*


POV Ardi.


"Bangs*t, mereka ingin bermain-main rupanya. Kalau memang maunya seperti itu maka dengan senang hati gua layani Tuan Aezar yang terhormat" Ardi tersenyum sinis mendapati...


Continue.


...🍂🍂🍂...


Untuk kakak-kakak semua yang sudah berkenan mampir ke cerita receh ini ay ucapkan terima kasih banyak atas segala dukungannya.


...Salam hangat dari Aya ❤️...

__ADS_1


__ADS_2