Tolong. Lihat Andin Juga

Tolong. Lihat Andin Juga
11


__ADS_3

Arka membeli air putih sedangkan Andin dengan cepat menelan pil obatnya. Tanpa meminum air putih.


"Andin, tadi kamu minum obat apa?." Tanya Arka sambil menyodorkan minum


"Ah. Itu. Mm. Vitamin kak. Kemaren Andin ujan ujanan." Ucap Andin setelah meneguk minumnya.


"Mm. Sudah tau alergi sama air hujan. Masih aja." Ucap Arka


"Hehe." Andini tertawa garing.


Mereka pulang ke rumah mewah itu. Andin langsung menuju kamarnya, sedangkan Arka duduk di ruang tamu bersama Desi dan Anton.


"Pah. Mah. Andin sakit?." Tanya Arka pada orang tuanya.


"Mama gak tau." Ucap Desi.


"Mah. Mama itu juga punya Andin lo mah, jangan cuma Andana yang mama perhatiin." Ucap Arka pada Desi.


"Ya mama gak tau mau di apain." Ucap Desi.


"Sudahlah Arka, Andini itu sudah besar. Dia bisa mengurus hidupnya sendiri." Ucap Anton.


"Andini dan Adana itu umurnya sama pah. Sedangkan Andana selalu kalian perhatiin." Ucap Arka mulai membentak.


"Arka. Pelankan suara mu, nanti Andana bisa dengar." Ucap Desi.


"Andana aja yang ada di pikiran kalian tu." Ucap Arka masuk ke kamarnya.


Andini mendengar suara teriakan Arka pun merasa bersalah, karena memaksa Arka pulang dan lagi lagi harus berdebat dengan orang tuanya.


"Maafin Andin kak Arka." Ucapnya dengan nada sedih di bawa selimut.

__ADS_1


Andana selesai mandi dan turun ke bawah untuk makan malam.


"Mah kok piringnya ada banyak?." Tanya Andana pada Desi.


"Bang Arka pulang." Ucap Desi.


"Benar ma?." Tanya Andana dengan nada senang.


Andana langsung menuju kamar Arka. Langsung membuka pintu kamar dan memeluk Arka.


"Andana kangen sama bang Arka." Ucap adiknya itu.


Arka membalas pelukkan Andana.


"Abang juga kangen sama kamu. Gimana kesehatan kamu?." Tanya Andana.


"Baik. Andana udah punya ginjal baru." Ucap Andana dengan bangga.


Andini yang sudah di depan pintu kamar mengundurkan diri untuk makam malam. Perasaan iri sangat menumpuk di hatinya kepada Andana.


Arka satu satunya keluarga yang ia punya tapi tetap saja lebih memilih Andana ketimbang dirinya.


Andini menyelimuti seluruh badannya dengan selimut abu abu miliknya itu. Tidak lama tiba tiba perutnya terasa sakit, bahkan menjalar sampai ke punggung.


Andini menahan sakit itu, sampai akhirnya harus menangis di bawah bantal.


"Sakit bang Arka." Lirih Andini.


Beberapa menit merasakan sakit, akhirnya Andin tertidur. Tidak ada makan malam, tidak ada ucapan selamat malam. Hidupnya suram, bahkan lebih suram dari orang orang yang memang tidak memiliki keluarga.


Sedangkan di meja makan Arka mengambilkan nasi untuk Andana serta lauk pauknya.

__ADS_1


"Andin mana ma?." Tanya Arka.


"Dia jarang ikut makan malam, mungkin sudah tidur." Ucap Desi.


"Ooh. Baiklah." Ucap Arkan yang langsung menyuapi nasinya.


"Kapan bang Arkan balik ke Singapore? Masih lama kan?." Tanya Andana.


"Besok pagi, pesawat jam 8 abang berangkat." Ucap Arka.


"Ihh. Cepet banget. Datang udah sore pula." Ucap Andana.


"Abang nyampe Indo itu pagi. Terus jalan dulu sama Andin." Ucap Arka.


"Kok gak ngajak Andana?." Tanya Andana dengan nada sedih.


"Tadi kan daru bandara langsung jalan jalan. Kapan bang Arka pulang kita jalan ya." Ucap Arka.


"Gak usah." Bentak Andana yang marah dan langsung masuk ke kamarnya.


"Kamu juga Arka. Udah tau Andana lebih butuh kamu ketimbang Andini. Kamu malah sibuk bersama Andin." Ucap Desi.


"Bujuk Andana dulu sana." Ucap Anton.


Akhirnya Arka naik ke kamar Andana. Mengetok pintu kamar Andana yang berada di sebelah kamar Andini.


Andini terbangun dan merasa ada yang mengetok kamarnya.


"Andana. Buka pintunya dek. Abang tadi itu buru buru, makanya gak sempat ngajak kamu juga." Ucap Arka.


Andin yang langkahnya sudah sampai di depan pintupun kembali ke kasurnya dan kembali tidur.

__ADS_1


__ADS_2