Tolong. Lihat Andin Juga

Tolong. Lihat Andin Juga
22


__ADS_3

Dengan usilnya Gevin melempar air laut ke arah Andin, sebisanya Andin menghindar tapi ombak yang besar malah menghampirinya. Tubuh Andin lemas dan kakinya tidak lagi mampu menahan badannya. Andin mulai terhuyung huyung. Pandangannya menjadi kabur tak ada fokus. Hanya terdengar suara samar samar Gevin yang memanggil namanya.


Gevin cemas, melihat Andin yang mulai tak sadarkan diri di tubuhnya. Dengan sigap ia membawa Andin ke motornya dan membuat Andin seolah olah memeluk Gevin agar Andin tidak jatuh dari motor.


Gevin sampai di rumah sakit terdekat, rumah sakit yang cukup ternama juga. Menunggu setengah jam akhirnya dokter keluar.


"Bagaimana dok?." Tanya Gevin.


"Pasien harus segera melakukan cuci darah." Ucap dokter itu.


Gevin merasa bingung, cuci darah? Apa yang terjadi? Dan kenapa harus cuci darah? Semua fikiran itu ia simpan dan akan ia tanyakan pada Andin.


"Kapan dok?." Tanya Gevin lagi.


"Sampai alergi pasien mereda." Ucap dokter itu lalu pergi meninggalkan Gevin.


"Andin gak makan telur, jadi dia alergi apa?." Tanya Gevin pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Gevin masuk ke dalam ruangan Andini dengan banyak pertanyaan. Terlihat Andin yang sudah sadar duduk di ranjang pasien.


"Apa kata dokter?." Tanya Andin penasaran.


Perasaan takut mengahantuinya, takut Gevin akan mengetahui penyakitnya.


"Kata dokter lo akan cuci darah." Ucap Gevin jujur.


Andini menundukkan pandangannya. Padahal ia sudah berupaya sebisa mungkin untuk tidak alergi lagi seperti anjuran dokter Agung. Tanpa di sangka air matanya lolos jatuh begitu saja.


Andin tersenyum. Mengahapus air matanya yang tersisa di pipi.


"Gak usah, gue gak butuh siapa siapa buat nemenin gue." Ucap Andin.


"Kenapa lo egois banget sih? Andana itu sodara lo. Kenapa lo gak nganggep dia? Lo tau rasanya gak di hargai itu sakit." Bentak Gevin.


"Lo gak usah bicara sama gue tentang harga menghargai. Gue yang lebih gak di hargai, jangan pandang satu hal hanya dari satu sisi aja. Lo gak tau susahnya jadi gue itu gimana." Jawab Andin sambil teriak ke arah Gevin.

__ADS_1


Perutnya seketika sakit, sakit melebihi sebelumnya. Namun ia tahan karena masih ada Gevin di depannya.


"Lo gak tau, gimana rasanya jadi gue yang harus berkorban banyak, yang harus merasakan hidup sendiri tanpa kasih sayang orang tua." Tambah Andin lagi.


Gevin terdiam, ia bingung dengan keadaan yang menimpa Andini. Apa yang di sembunyikan gadis kecil itu. Kenapa dari sorot matanya ia seperti sedang tertekan.


"Oke gue salah. Gue minta maaf. Apa lo mau cerita yang sebenarnya sama gue?." Tanya Gevin dengan lembut.


Gevin berharap, ia akan bisa meringankan beban Andinu dengan cara bercerita dengannya. Namun, Andin hanya diam. Ia tidak ingin menambah beban untuk orang lain. Selama ini, semuanya telah ia pikul sendiri.


Rasanya begitu berat.


Tidak ada tempat baginya untuk bercerita. Bahkan Sindi dan Putri telah berubah kepadanya tanpa ia tau apa sebabnya. Semua yang dekat dengannya tiba tiba menjauh dan menjadi milik Andana.


Ia tidak membenci Andana. Tapi, apa salah ia iri atas apa yang di miliki Andana. Bahkan kedua temannya sekarang malah dekat dengan Andana.


Andini mengangguk. Berarti menyetujui permintaan Gevin untuk bercerita padanya.

__ADS_1


__ADS_2