
Andini yang tidak terima membanting meja kelasnya.
"Heh. Lo kalo belum tau kejadian sebenernya diem aja. Gak usah sok tau." Bentak Andini lagi.
"Pantes aja kak Gevin gak mau sama lo, malah lebih milih sama Andana. Sikap lo aja mines kayak gini." Ucap Putri ketus.
"Haha. Lo tau dari mana Gevin gak mau sama gue? Lo tau dari mana kalo sikap gue mines?." Tanya Andini yang mulai santai. Andini mencoba meredakan emosinya.
"Buktinya, lo terus tuh yang ngejar kak Gevin, tapi kayaknya kak Gevin sekarang mulai jijik deh sama lo, soalnya gak tau malu sih." Ucap Putri lagi.
"Kata siapa gue jijik sama pacar gue sendiri." Ucap Gevin merangkul Andini.
Andini kaget, dan langsung merubah ekspresi wajahnya sekarang menjadi bahagia.
"Gue gak pernah tuh deket sama Andana, dan lagi, seharusnya lo berdua yang ada di samping Andini lagi jatuh jatuhnya. Bukan malah ninggalin dia karena percaya sama omongan sampah sampah itu." Ucap Gevin membela Andini.
Putri merasa kalah omongan. Sedangan Sindi yang dari tadi tidak menanggapi mereka karena malas mengurus perdebatan yang katanya tidak penting.
"Lo bawain sarapan buat gue gak? Gue laper." Keluh Gevin pada Andini.
"Bawa sih, cuma gue juga laper." Ucap Andini sambil nyengir juga.
"Yaudah, makan bareng aja. Masih ada waktu kok 10 menit lagi." Ucap Gevin mengajak Andini makan di ruang OSIS.
"Nanti lo pulang bareng gue ya." Pinta Gevin yang masih menyuap nasi.
__ADS_1
"Iya." Jawab Andini tersenyum.
**
Pulang sekolah, Gevin mengajak Andini ke rumahnya. Sekalian makan siang dan berkenalan dengan mama papanya.
Awalnya Andini menolah, tapi karena di paksa Gevin, akhirnya ia menerimanya.
Sesampai di rumah mewah itu, Gevin menyuruh Andini mengganti baju di kamar kakaknya.
"Ganti baju gih. Masa mau pake itu terus." Ucap Gevin.
"Tapikan gue gak bawa baju." Jawab Andini.
"Oke." Jawab Andini.
Tidak lama Gevin datang membawa satu stel baju berwarna abu abu tua.
"Gue ganti dimana?." Tanya Andini pada Gevin.
"Di kamar kakak aja. Di situ." Ucap Gevin menunjuk kamar Riana.
Andini berjalan menuju kamar Riana itu. Dan mengganti pakaiannya. Bajunya terlihat sangat longgar, dan celana yang harusnya di atas lutut malah di bawah lutut.
Andini keluar dari kamar itu dan menuju ke ruang tamu tempat Gevin menunggu.
__ADS_1
"Gede banget." Keluh Andini pada Gevin.
"Haha. Lo keliatan lebih lucu tau." Jawwb Gevin sambil tertawa.
"Oh iya. Mana mama papa lo?." Tanya Andini celinga celingu.
"Bentar lagi pulang, pada kekantor semua. Adek gue bentar lagi juga pulang, seumuran tuh sama lo." Terang Gevin sambil memakan cemilan.
"Wah. Ganteng gak?." Tanya Andini dengan semangat.
"Yah gantenglah. Tapi masih gantengan gue." Ucap Gevin tidak mau kalah.
"Yee. PD banget lo." Ucap Andini tertawa.
"Harus PD dong. Lo gak tau ya. Banyak cewek cewek hits di sekolah yang ngejar ngejar gue. Cuma gue aja yang gak mau." Ucap Gevin membanggakan dirinya.
"Halah. Alesan lo." Ucap Andini.
"Ya kan gue maunya sama lo." Goda Gevin.
"Ih. Apaan sih, lo bikin gue takut aja." Ucap Andini mendelik ngeri.
"Gini gini lo naksir beratkan sama gue?." Goda Gevin lagi.
Andini melempar Gevin dengan bantal sofa itu, dan Gevin menangkapnya.
__ADS_1