
Bel berbunyi menandakan istirahat. Gevin berjalan keluar kelas menuju ruang OSIS bersama David dan Andres.
"Ehh tunggu dulu." Ucap Andin menghalangi langkah Gevin.
"Lo siapa?." Tanya David kepada Andini
"Hai. Gue Andini Salenia. Panggil Gue Andin yah." Ucap Andin dengan semangat.
"Anak baru?." Tanya Andres penasaran.
"Iya. Kelas IPA 5." Jawab Andin dengan semangat 45.
"Terus, lo ngapain di depan kita?." Tanya Gevin.
"Gue tau, lo belum sarapan kan? Nih." Ucap Andin menyodorkan bekal yang telah ia siapkan tadi.
"Gue ga butuh." Ucap Gevin datar.
"Buat gue aja." Ucap David meminta bekal.
"Enggak." ucap Andini menolak David.
"Tapikan gue siapinnya buat lo." Ucap Andin pada Gevin.
"Cabut yuk." Ucap Gevin kepada teman temannya.
Gevin, David, dan Andres pergi meninggalkan Andin dengan bekalnya. Tiba tiba Andin menepuk kepalanya.
"Yah. Gue lupa nanyain namanya." Ucap Andin.
"Tapi kenapa dia segeng sama anak OSIS sih, bakal susah buat dapetinnya." Ucap Andin.
Andin kembali ke kelas dengan muka yang memalas. Lagi lagi gagal memikat hatinya.
__ADS_1
"Waktu pulang, gak boleh gagal lagi." Ucap Andin sendiri.
"Gagal apa?." Tanya Putri.
"Kepo lo." Ucap Andin.
"Pelit bet lo." Ucap Putri.
"Pelitan elo. Minta anter pulang aja kagak mau." Ucap Andin tak mau kalah.
"Kan beda arah Andin. Kalo enggak pasti kita anter. Kan Put?." Tanya Sindi pada Putri.
"Iye Andini Salenia." Jawab Putri.
"Tumbenan lo bawa bekal." Ucap Putri lagi.
"Pengen hemat. Kan orang hemat pangkal kaya." Ucap Andin.
"Lo udah kaya juga Bambang." Ucap Putri kesal.
Pelajaran semua terlewati oleh Andin hari ini. Andin berencana buat menghadang calon pacarnya itu lagi kali ini.
"Harus bisa." Ucap Andin meninggalkan kelas.
"Lo gak mau kita anterin?." Tanya Sindi.
"Gak." Teriak Andin dari luar kelas.
"Lo kira ini hutan." Ucap Gevin yang datang dari arah kelasnya.
"Eh. Anteri pulang dong." Ucap Andin sambil menuruni celananya yang di lipat sedari tadi.
"Gue udah pakai celana ni, jadi jangan takut." Ucap Andin antusias.
__ADS_1
Gevin terus berjalan tanpa menanggapi Andin.
"Pelit banget sih. Anterin napa." Ucap Andin.
"Gue gak kenal sama lo." Ucap Gevin.
"Yaudah ayok kenalan." Ucap Andin menarik tangan Gevib hingga bersalaman.
"Nama gue Andini Salenia, kalo elo?." Tanya Andin.
"Gue gak mau kenalan sama lo." Jawab Gevin meninggalkan Andin.
"Gue pastiin, lo bakal jadi milik gue." Ucap Andin berteriak.
Andin sedang menjadi pusat perhatian siswa siswi yang belum pulang.
"Andin. Gak tau malu banget sih lo." Ucap Andin pada dirinya sendiri.
Andin pulang dengan kekecewaan lagi kali ini. Jangankan nomor WA, namanya saja tidak tahu.
Andin akhirnya menelepon pak Mamat.
"Pak, bisa jemput Andin gak?." Tanga Andin.
"..."
"Oke deh pak, Andin naik taxi aja." Ucap Andin dan mematikan telepon.
"Males banget pulang kalo ada mama di rumah. Jalan kaki mungkin memperlambat waktu pulang lah ya." Ucap Andin sendiri.
Andin nekat pulang dengan berjalan kaki. Padahal pakai mobil saja setengah jam lebih, apa lagi jalan kaki.
"Tuhan kayaknya sering banget gak seide sama gue." Ucap Andin yang mendengar suara petir pertanda akan hujan.
__ADS_1
Akhirnya Andin pulang dengan keadaan basah kuyup tapi raut wajahnya bahagia hari itu.