Tolong. Lihat Andin Juga

Tolong. Lihat Andin Juga
19


__ADS_3

Gevin masuk ke dalam ruangan dokter Agung, dan di persilahkan duduk di kursi pasien. Sekarang Gevin dan Agung sudah berhadap hadapan.


"Kamu sebenarnya siapa Andin?." Tany dokter Agung.


"Saya temennya dok, sepertinya dokter sangat mengenalnya?." Tanya Gevin.


"Tentu saja, saya adalah dokter keluarganya." Jawab Agung.


"Jadi bagaimana kondisinya dok, tadi saya dengar dari dokter sebelumnya Andin memiliki penyakit serius, dan harus di bicarakan dengan orang tuanya." Terang Gevin.


"Andin tidak akan mau membawa orang tuanya kesini." Jelas dokter Agung.


"Kenapa begitu dok?." Tanya Gevin lagi.


"Tidak semua orang bernasip sama. Mungkin Andin anak baik, tapi kita tidak tau lingkungannya juga baik atau tidak." Terang dokter Agung.


"Saya rasa kamu cukup dekat dengan Andin. Sebelumnya dia kesini selalu sendiri." Ucap dokter Agung.


Gevin hanya tersenyum, tidak ingin menjawab ucapan dari dokter itu.


"Baiklah dok. Kalo gitu saya permisi." Ucap Gevin.


Dokter Agung menganggukkan kepala, Gevin meninggalkan ruangan dokter itu. Ia bingung harus melangkah ke dalam ruangan Andin, atau meninggalkannya seorang diri.


Dengan pikiran yang matang, akhirnya Gevin kembali ke sekolah, meninggalkan Andin di rumah sakit sendiri. Gevin masih memikirkan tentang keadaan Andin, tanpa siapapun di sampingnya pasti akan sulit.


**

__ADS_1


Andin terbangun, badannya sudah mulai enakan dari pada sebelumnya. Ia mengingat Gevin yang tadi pagi ia usir.


"Ah ****** gue, malah tambah susah buat dapetin dia." Ucap Andin.


"Tapi, omongan Gevin tuh pedes banget. Hati gue sakit." Ucapnya sendiri.


"Apa gue mulai jaga jarak aja kali ya, Gevin bilang cewek itu gak rendahan. Apa gue rendahan ya di mata dia." Ucap Andin sendiri.


Andin melihat jam tangannya. Jam 3 sore. Tidak lama dokter Agung masuk ke dalam ruangan Andin.


"Sore Andin." Ucap dokter Agung dengan senyuman.


"Sore dok." Balas Andin.


"Gimana badannya, sudah enakan?." Tanya dokter Agung.


"Sudah mulai dok. Andin mau pulang ya dok, besok harus sekolah." Ucap Andin.


"Haha. Dokter bisa aja." Jawab Andin kikuk.


"Obatnya jangan telat di minum lagi yah, jangan kerja yang berat berat juga." Nasehat dokter Agung.


"Baik dok." Ucap Andin.


"Kalo gitu saya keluar dulu." Ucap dokter Agung meninggalkan ruangan Andin.


Andin hanya membalas dengan anggukan sambil tersenyum.

__ADS_1


**


Sesampai di rumah ternyata Putri dan Sindi berada di ruang tamu. Andin merasa senang karena ada yang menjenguknya.


"Hai Put, Sin." Sapa Andin dengan senyuman.


"Eh. Hai." Sapa mereka berdua.


Andana datang dari kamarnya dengan piyama berwarna pink.


"Lo sakit apa Andana?." Tanya Putri langsung mengalihkan pandangannya.


"Gak apa apa kok. Cuma ngecem bekas operasi aja." Ucap Andana ikut duduk di ruang tamu.


Andini yang menyaksikan itu langsung tidak suka dengan keadaan sekarang.


Andini langsung masuk ke kamarnya tanpa berbicara apa apa.


"Maaf ya. Mungkin kak Andin lagi capek." Ucap Andana.


Putri dan Sindi hanya tersenyum paksa melihat kelakuan Andini itu.


"Ini kami bawain buah buat lo." Ucap Sindi memberikan buah tangan itu.


"Makasih yah Sin, Put." Ucap Andana tersenyum.


"Iya. Santai aja. Kalo gitu gue pamit ya." Ucap Putri.

__ADS_1


"Oke. Hati hati ya." Ucap Andana tersenyum.


Putri dan Sindi melangkah keluar dari rumah mewah itu.


__ADS_2