Tolong. Lihat Andin Juga

Tolong. Lihat Andin Juga
7


__ADS_3

Andin hanya meminum air putih dan menuju kamarnya lagi. Melihat hp dan menelepon seseorang.


"Halo bang." Ucap Andin.


"Iya Andin." Jawab Arka.


"Abang, kapan pulang?." Tanya Andin dengan isakan tangis.


"Kenapa kamu nangis Andin?." Tanya Arka.


"Gak apa apa bang Arka. Andin cuma rindu sama abang." Ucap Andin.


"Kangen yah?." Tanya Arka.


"Banget tau." Jawab Andin.


"Yaudah. Minggu depan abang pulang deh." Ucap Arka


"Serius?." Tanya Andin bahagia.


"Iya. Nanti kita jalan jalan ya." Ucap Arka.


"Iya bang." Jawab Andin.


"Tidur Andin. Ini udah malam." Ucap Arka.


"Andin tidur ya bang." Ucap Andin.


"Oke tuan putri. Mimpi baik." Ucap Arka.


"Baik pangeran ku." Ucap Andin sambil mematikan telepon dan langsung tidur.


Arka adalah abang dari Andini dan Andana yang sedang kuliah di Singapore.


Arka jarang sekali pulang karena sibuk dengan kuliahnya.


Pagi ini seperti biasa Andin sudah rapi dengan seragamnya. Turun ke lantai bawah untuk sarapan, tapi moodnya berubah ketika melihat mama, papa dan Andana telah duduk di meja makan itu.

__ADS_1


"Kak Andin ayo sarapan bareng, udah lama kita gak makan bareng." Ucap Andana.


"Aku udah telat, bawa sarapan aja ya." Ucap Andin.


Bi Ani yang mengerti keadaan Andin pun segera mengambilkan bekal untuk Andin.


"Kamu gak sarapan dulu aja Ndin?." Tanya papanya.


"Gak usah deh, langsung ke sekolah aja, takut telat." Ucap Andin.


"Rencananya biar bareng, soalnya pak Mamat nganter Andana juga." Ucap mamanya.


"Oh kalo gitu Aku pake taxi online aja." Ucap Andin.


"Okelah." Ucap mamanya dan menlanjutkan makan.


Andin mengambil bekalnya dan bersaliman pada bi Ani agar bisa segera keluar dari rumah.


"Lama lama anak itu gak tau aturan ya sama orang tuanya sendiri." Ucap papanya.


"Sudah sudah, lanjutin aja makannya." Ucap mamanya.


Sekolah masih sepi karena Andin datang terlalu pagi, melihat cowok yang ia sukai dari belakang tambah membuat mood Anding menjadi sangat baik.


"Heiii." Teriak Andin.


Gevin masih terus berjalan dan berhenti di ruang OSIS. Membuka kunci ruangan itu dan langsung masuk ke dalamnya.


Sekolah masih sepi karena Andin datang terlalu pagi


"Anak OSIS ternyata." Ucap Andin yang hanya melewati ruangan OSIS itu.


"Punya kunci ruangan OSIS lagi." Ucap Andin sendiri.


Andin melanjutkan kakinya berjalan menuju kelasnya, belum ada orang, dan Andin memutuskan menunggu Gevin di depan kelasnya untuk memberikan bekal.


"Usaha dulu, siapa tau kali ini di terima." Ucap Andin.

__ADS_1


Tidak lama Gevin keluar dari ruangan OSIS dan menuju kelasnya yang melewati kelas IPA 5.


"Eh. Ini sarapan buat lo." Ucap Andin.


Gevin hanya melewati Andin tanpa rasa bersalah.


"Yah. Gagal lagi." Ucap Andin memasuki kelasnya.


Moodnya kembali rusak karena Gevin tidak menanggapinya.


Ketika kelas sudah mulai berdatangan orang tiba tiba hp Andin berbunyi.


"Halo bi." Ucap Andin.


"Keadaan non Andana parah non, sekarang semuanya pada ke rumah sakit." Ucap bi Ani.


"Apa pendonor ginjalnya udah ada bi?." Tanya Andin.


"Setau bibi belum non." Ucap bi Ani.


Andin mematikan teleponnya dan menuju kelas Gevin sambil membawa tasnya.


"Gue minta tolong banget. Anterin gue ke rumah sakit." Ucap Andin.


Kali ini bukan modus, karena Andin tidak punya orang yang di kenal dia memaksa Gevin untuk mengantarnya.


"Apaan si." Ucap Gevin.


"Tolong banget, habis ini gue janji, gak bakal ganggu lo lagi." Ucap Andin.


"Kemana?." Tanya Gevin.


"Ke rumah sakit X." Ucap Andin.


Gevin akhirnya mengantarkan Andin ke rumah sakit itu.


Gevin merasakan badan Andin bergetar seperti orang yang takut kehilangan seseorang.

__ADS_1


'Dia kenapa sih.' Ucap Gevin dalam hatinya.


Sedangkan Andin masih berusaha menenangkan tubuhnya yang terus bergetar.


__ADS_2