
Gevin melihat mata Andini, semakin dalam ia melihat semakin banyak terlihat kesedihan yang di pendamnya. Tiba tiba tanpa sadar Gevin mengangkat tangannya sehingga sekarang Andini berada di pelukannya.
"Lo kenapa tiba tiba meluk gue?." Tanya Andini yang masih berada di pelukkan Gevin.
"Gak apa apa. Pengen aja meluk lo gini. Kayak di film film." Ucap Gevin.
"Yee enak aja lo." Ucap Andini melepaskan pelukkannya.
"Gue gak pernah juga pacaran. Jatuh cinta aja baru sekali." Ucap Andin jujur.
"Jadi yang di Bandara waktu itu yang lo peluk siapa?." Tanya Gevin penasaran.
"Bang Aska." Ucap Andin.
"Eh tapi, lo liat gue juga? waktu itu gue juga liat lo sih, sama cewek." Ucap Andini lagi.
"Iya. Itu kakak gue tau." Jawab Gevin.
"Kandung?." Tanya Andin lagi.
"Enggak sih. Dia di rawat sama nyokap gue, di biayain sekolah, jadi udah gue anggep kayak kakak gue sendiri." Ucap Gevin.
"Ooh. Ke penginapan yok, gue udah capek, ngantuk." Ucap Andini.
"Oke deh. Ayok." Ajak Gevin sambil berdiri diikuti juga dengan Andini.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan mereka mengobrol ngobrol sambil memakan cemilan. Andini merasa sedikit lebih beruntung.
'Makasih Gevin. Lo udah coba hadir buat gue.' Ucap Andin dalam hati sambil melihat mata Gevin.
Gevin sudah meminta izin kepada Mila dan Dani bahwa ia akan menginap di luar. Sedangkan Andini, izinpun ia rasa tidak perlu. Buat apa juga.
Sesampai di penginapan, tiba tiba suasana jadi canggung, karena mereka hanya berdua. Zelin dan Gevin sama sama bingung mau membicarakan apa.
"Mmm... Kapan jabatan OSIS lo di gantiin?." Tanya Andini basa basi agar ada pembahasan.
"Secepatnya, lagi pengurusan sih. Kenapa? Lo mau nyalon?." Tanya Gevin.
"Ogah, gue gak suka sama anak OSIS, musuh murid murid." Terang Andini.
"Kan musuh murid murid nakal, buktinya lo sama gue gak musuhan." Goda Gevin tersenyum.
"Kalo jadi calon pacar gue mau gak?." Tanya Gevin tiba tiba.
Andini langsung terdiam. Suasana malah menjadi dingin.
#Andini Prov.
Gue kaget, waktu denger Gevin bilang gitu. Gila... Gue belum siapin mental, padahal niatnya malah gue yang mau nambak, gue bingung mau jawab apa. Ya tuhan demi Jamil yang udah jadi Jamilah, gue deg degan.
Gue mencoba melihat ke arah Gevin, doi kayaknya lagi nungguin jawaban dari gue. Duh, gue takut gak ke kontrol, kita di sini cuma berdua, dan gue yakin dedemit pasti banyak di sini buat ngehasut gue sama Gevin buat ngelakuin yang enggak enggak.
__ADS_1
"Jadi gimana? Mau sama gue?." Tanya Gevin lagi.
Gue spontan aja nganggukin kepala, karena ya siapa juga yang gak mau pacaran sama orang yang udah lo incer lama. Sayang dong kan kalo di tolak.
"Beneran?." Tanya Gevin dengan raut wajahnya yang kayaknya sih seneng.
"Iya." Gue jawab dengan nada yang malu malu. Ya tuhan, biasanya gue juga gak tau malu kalau udah di depan Gevin.
Gue kaget lagi, ternyata Gevin bangkit dari tempat tidurnya dan mengarah ke tempat tidur gue. Gue takut khilaf.
"Minum obatnya dulu, baru tidur." Ucap Gevin memberikan sebotol air mineral ke gue.
Gue mengambil botol itu dan beberapa buah obat dan langsung gue minum. Astaga pikiran gue jorok banget ya.
Gak lama setelah gue minum obat gue rebahan di kasur gue, posisinya belakangin kasurnya Gevin karena malu sama pikiran sendiri. Tiba tiba gue ngerasa ada yang meluk gue dari belakang. Gue kaget, ternyata itu Gevin. Pas pelukannya mau gue lepas, Gevin malah meluk gue semakin erat.
"Vin. Lo kenapa?." Tanya gue pada Gevin.
"Boleh yah, gue tidur meluk lo. Gue janji gak akan macem macem." Pinta Gevin yang sudah memejamkan matanya.
#Author Prov.
Andini mengangguk setuju dengan permintaan Gevin. Sudah lama ia tidak ada yang menemani tidur, bahkan itu dulu ketika ia masih sangat kecil.
"Tidur. Gue anter lo besok ke rumah, habis itu kita ke sekolah bareng." Ucap Gevin.
__ADS_1
Andini sangat senang mendengar permintaan Gevin. Ia memejamkan matanya dan tertidur sambil di peluk Gevin.