
Andini merasa muak dengan drama drama keluarganya ini. Ia memutuskan untuk meninggalkan ruang makan itu. Ketika Andini berdiri, Anton kembali menegurnya.
"Duduk dulu Andin, papa mau bicara." Bentak Anton.
"Tinggal bicara aja apa susahnya sih, dari tadi di tungguin malah drama dramaan." Ucap Andini.
"Papa dapat laporan kamu mencairkan duit, itu cek dari papa."
Andini merasa kaget. Ia takut kedua orang tuanya ini akan tau kalau dia yang mendonorkan ginjalnya untuk Andana.
"Mmmm." Jawab Andini gagu.
"Kamu diam diam ambil cek dari kamar papakan?." Ucap Anton menyela jawaban Andini.
Andini merasa tertegun, tidak menyangka papanya akan mudah melontarkan pikiran buruk kepadanya.
Andini diam, tidak membela diri. Percuma jika ia bicara, ia tidak akan di dengar juga.
"Apa yang selama ini kami kasih buat kamu tidak cukup? Kalau masih kurang kamu bilang, jangan jadi maling." Bentak Anton lagi.
__ADS_1
Andini hanya menunduk, ia merasa kesal da marah pada semuanya. Andini memberanikan diri untuk pergi dari ruang makan, dengan segera ia memesan taxi online dan pergi ke sekolah.
"Sudah pah, biarin aja. Mungkin Andini lagi butuh." Bela Desi.
"Butuh apa ma, duit sebanyak itu." Jawab Anton.
Sedangkan Andana masih santainya sarapan seperti tidak terjadi masalah.
***
Andini sampai di sekolah, ia tidak melihat motor Gevin terparkir seperti biasanya.
"Tumben belum dateng." Ucap Andini pada dirinya sendiri.
Andini duduk di mana biasanya ia duduk. Ingin memulai percakapan tapi bingung dan takut jika tidak di tanggapi.
"Kalo gue ada salah sama kalian bedua, seharusnya bilang langsung ke gue. Jangan jadi pengecut main diem dieman kayak begini." Ucap Andini tanpa basa basi.
"Seharusnya elo sadar diri Andini. Sikap lo yang bikin kita pada ngejauh dari elo." Ucap Putri.
__ADS_1
"Sikap gue? Gue masih gue yang pertama kalian kenal." Jawab Andini.
"Sikap lo pada keluarga lo yang bikin kita jijik sama lo." Ucap Putri lagi.
"Haha. Gue bingung. Apa yang salah sama sikap gue." Jawab Andini yang mulai membentak.
"Lo kira kita gak tau, lo gak bisa ngehargai keluarga lo, bahkan mama sama papa lo juga." Bentak Putri.
Andini mendengar perkataan Putri merasa hatinya sangat sakit. Bagaimana mungkin ia bisa mengahargai orang yang tidak menganggapnya.
"Gimana caranya gue ngehargai, orang yang gak pernah anggap gue ada." Ucap Andini mulai melunak.
"Lo yang gak pernah anggep keluarga lo ada. Seharusnya lo bersyukur masih punya kedua orang tua yang sayang sama lo. Ini malah gak di hargai. Dasar gak tau di untung." Ketus Putri.
Andini yang tidak terima membanting meja kelasnya.
"Heh. Lo kalo belum tau kejadian sebenernya diem aja. Gak usah sok tau." Bentak Andini lagi.
"Pantes aja kak Gevin gak mau sama lo, malah lebih milih sama Andana. Sikap lo aja mines kayak gini." Ucap Putri ketus.
__ADS_1
"Haha. Lo tau dari mana Gevin gak mau sama gue? Lo tau dari mana kalo sikap gue mines?." Tanya Andini yang mulai santai. Andini mencoba meredakan emosinya.
"Buktinya, lo terus tuh yang ngejar kak Gevin, tapi kayaknya kak Gevin sekarang mulai jijik deh sama lo, soalnya gak tau malu sih." Ucap Putri lagi.